Ask the Tribun Timur Editor
Tentang Pers Indonesia tahun 2008 menurut Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara:
Jumlah perusahaan media cetak: 1.008 perusahaan media cetak
Jumlah stasiun TV: sekitar 150 televisi
Jumlah stasiun radio: sekitar 2.000
Perusahaan penerbitan pers yang masuk kategori sehat: hanya sekitar 30 persen
Jumlah wartawan: sekitar 30.000 jurnalis Indonesia (hanya sebagian kecil memenuhi standar kompetensi profesionalitas)
Sumber: Kompas.com
Masyarakat Pers Perlu Berbenah Diri
/
Selasa, 5 Mei 2009 | 21:01 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Media memainkan peranan penting dalam perimbangan kekuasaan dan pilar demokrasi. Untuk menjalankan fungsi tersebut, kemerdekaan pers perlu diikuti dengan pembenahan kompetensi sumber daya manusia, penyehatan bisnis, penegakan kode etik, dan perlindungan memadai. Hal itu terungkap dalam diskusi yang diselenggarakan UNESCO dan Dewan Pers dalam rangka memperingati 10 tahun kemerdekaan pers, Selasa (5/5).
Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara mengatakan, terdapat 1.008 perusahaan media cetak, sekitar 150 televisi, dan sekitar 2.000 stasiun radio sampai ahun 2008.
"Untuk penerbitan pers hanya sekitar 30 persen berkategori sehat bisnis," ujarnya. Sehat bisnis dalam artian perolehan iklan signifikan dan sebagian besar berkategori media berkualitas yang atraktif, mencerahkan, taat kode etik, dan dibutuhkan khalayak.
Sebagian besar dari 70 persen media cetak yang berkategori tidak sehat bisnis mengoperasikan wartawan yang tidak memenuhi standar. Dari sekitar 30.000 jurnalis Indonesia, hanya sebagian kecil memenuhi standar kompetensi profesionalitas.
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Sasa Djuarsa Sendjaja mengatakan, liberalisasi ekonomi merubah struktur pasar media di Indonesia. Apalagi hambatan masuk ke pasar berkurang. Jumlah pemain media membesar. Persaingan ketat tersebut disikapi dengan merger dan akuisisi. Karena persaingan itu, tayangan cenderung ikut selera pasar yang diukur lewat rating. "Isi program televisi kemudian banyak dikeluhkan masyarakat mulai dari tayangan mengandung kekerasan, pornografi, pelanggaran norma agama, gosip, dan mistik," ujarnya.
INE
Selengkapnya...
Tuesday, May 5, 2009
30 Ribu Wartawan Indonesia
Wednesday, April 8, 2009
Pengantar Menulis
Ask the Tribun Timur Editor
Pengantar Menulis
Pengantar untuk diskusi pada Blogging and Writing di kantor PT Telkom, Makassar, 8 April 2009
Oleh:
Dahlan,
Pemimpin Redaksi Tribun Timur,
Makassar
Menulis
Menulis adalah berkomunikasi dengan kata-kata melalui proses menuliskan apa yang ditangkap panca indera. Secara proses, menulis adalah menuangkan apa yang ditangkap panca indera dalam bentuk tulisan.
Menulis seperti berbicara. Ia harus dilatih. Otak, sebagai pusat semua aktivitas menulis, harus senantiasa dilatih untuk menularkan apa yang hendak dikatakannya dalam bentuk tulisan.
Anda dilatih berbicara sejak kecil, karena itulah Anda pintar berbicara. Tapi Anda tidak dilatih menulis sejak kecil. Penulis yang baik adalah penulis yang rajin berlatih.
Pengembangan Tema: Panduan 5 W + 1 H
1. What (apa)
2. Who (Siapa)
3. Where (di mana)
4. When (kapan)
5. Why (mengapa)
6. How (Bagaimana)
Prinsip
1. Efektivitas (pesan sampai, tidak menimbulkan pemahaman yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis)
2. Efisiensi (ekonomi kata)
3. Keindahan bahasa, struktur, logika
Tips
1. Gunakan kalimat tunggal. Variasi perlu untuk keindahan bahasa, tapi jangan terlalu sering
2. Gunakan kalimat aktif, kalimat yang mengandung kekuatan berbahasa
3. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
4. Perhatikan audience. Audience yang berbeda memerlukan tulisan yang berbeda: tema, judul, diksi
5. Pelajari gaya tulisan penulis favorit: cara menempatkan kata, memilih kata (diksi), membangun struktur
6. Menulislah dan teruslah menulis selagi dunia belum kiamat
Selengkapnya...
Wednesday, April 1, 2009
Ribetnya Bertemu Jusuf Kalla
Ask the Tribun Timur Editor
Dari blog teman Achmad Subechi, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim
Ribetnya Bertemu Jusuf Kalla
Oleh Achmad Subechi - 20 Maret 2009 - Dibaca 435 Kali -
ISTANA adalah simbol kekuasaan. Hanya mereka-mereka yang dekat dan punya jaringan dengan sang penguasa yang bisa masuk ke rumah kekuasaan. Seumur-umur menjadi wartawan, baru dua kali saya menginjakan kaki ke Istana kepresidenan. Undangan berkali-kali tiba. Tapi ada rasa enggan melangkahkan kaki ke tempat itu, karena dulu saya ‘terprovokasi’ pidato seorang kyai dan intelektual Islam yang mengatakan, “Akan melahirkan fitnah bagi siapa saja yang datang ke tempat-tempat penguasa…”
Kedatangan kali pertama saya ke ruang Jepara Istana Presiden, ketika Gus Dur telah menjadi Presiden. Kira-kira dua pekan sebelum kekuasaan Gus Dur jatuh, saya tiba-tiba tergerak untuk masuk ke Istana hanya sekedar menemui Yenny Wahid, putri Gus Dur.
Sayang setelah menunggu sekian jam, Yenny tak bisa menemui saya karena ia ada acara mendadak. Kecewa? Tidak… Terasa nyaman berada di ruang Jepara. Baru duduk beberapa menit, petugas Paspampres menyajikan teh manis. Bahkan, selama berada di ruang itu, saya terkenang peristiwa masa lalu, detik-detik menegangkan antara BJ Habibie dan Soeharto menjelang kursi kekuasaannya runtuh. Kalau tidak salah, beberapa jam menjelang Soeharto menyerahkan tongkat estafet kepemimpinannya, BJ Habibie terlihat tegang lantaran Soeharto mulai bersikap lain.
Gagal bertemu Yenny, saya melangkahkan kaki pulang ke kantor. Malam harinya, rombongan Paspamres datang ke kantor saya di kawasan Palmerah Selatan. Ternyata, Yenny Wahid membawa dua ikat rambutan yang dibeli di Pasar Palmerah. Sebagai gantinya, Yenny saya belikan soto ayam yang ada di depan kantor.
***
KAMIS (19/3) siang handphone saya berdering. “Kak Bec… kita ditunggu Pak Jusuf Kalla di Istana Wapres siang ini. Jangan lupa bawa baju batik dan jangan pakai celana jean. Saya tunggu di kantor ya,” pesan Dahlan, Pemimpin Redaksi Tribun Timur. “Siaaapppp…..” kata saya.
Siang itu juga saya bergerak meluncur ke kantor mengenakan kaos, pakai topi dan celana jean. Dahlan yang sudah lama menunggu mendadak kaget melihat penampilan saya. “Mana batiknya? Kok pakai kaos” “Ah entar beli aja di pasar… ” “Lho kita mau ke Istana Wapres sama siapa saja?” tanya saya. “Ehmmm ada Pak Herman Darmo (Dirkel Persda), Mas Domu (Wakil Kepala Biro Persda) dan Kak Bec.” “Dalam rangka apa?” “Saya juga enggak tahu. Yang jelas Pak JK mau bertemu kita-kita,” tambah Dahlan.
Saya temui Domu yang lagi sibuk ngetik di depan komputer. “Dom.. lu udah beli batik belum?” “Ini bos… saya mau ke pasar. Mas Dahlan tadi sudah belanja. Beliau beli celana dan pakaian.” Wah gawat… “Okey Dom… Ayuk kita pergi beli pakaian…” Dari kantor kami cukup berjalan kaki menuju Pasar Palmerah yang lokasinya tak begitu jauh dari kantor.
Kami berdua kemudian membeli dua buah pakaian batik lengan pendek dan dua buah celana panjang serta sepotong sisir rambut. “Wah… untuk bertemu JK saja kita harus ngeluarin duit dulu ya Dom… beli ini itu…” canda saya.
Nah, ketika semua pakaian sudah terbeli dan kami hendak berangkat ke kantor, Domu lagi-lagi saya ingatkan. “Apa celana kamu enggak terlalu panjang? Postur tubuhmu kan tidak begitu tinggi.” “Siapppp bos… Saya lari saja ke tukang jahit pakaian di seberang.” Nah, di tempat jahit yang luasnya berukuran 1,5 meter kali satu meter, Domu meminta Pak Tua (sang penjahit) segera memotong bagian bawah celana panjangnya. “Mau ditunggu atau diambil besok?”
“Saya tunggu sekarang Pak. Saya mau menemui Pak Wapres Jusuf Kalla,” sahut Domu. Si tukang jahit tertawa lebar. “Hebatttt ya bisa bertemu wakil presiden…” Lima belas menit kemudian, celana panjang itu sudah kelar dipermak. Lalu kami berangkat ke kantor menjemput teman-teman yang lain.
Mobil meluncur ke Istana Wakil Presiden. “Mau bertemu siapa?” tanya Paspampres.. “Kami mau bertemu Pak Jusuf Kalla.” “Apa sudah mendaftar?” “Sudah….” “Okey silakan parkir lalu masuk ke gedung sebelah sana.”
Nah, saat hendak melangkahkan kaki menuju ruangan wapres, seorang wanita meminta kami agar lewat pintu depan dan Pak JK sudah menunggu. Di ruangan tamu pertama, terlihat 10 kursi dan meja panjang. Ada tiga buah lukisan terpanjang di dinding. Lukisan pertama adalah nuansa mirip Tanah Lot, Bali. Lukisan kedua seorang wanita sedang melamun dan lukisan tiga,, semacam mentari tapi di bawahnya terdapat ikan-ikan sedang berebutan makanan.
“Apa arti lukisan itu?” tanya saya kepada Bian, sang fotografer Persda. “Ehmmm… saya enggak tahu artinya. Yang jelas mentari itu seperti makanan ikan, kayak cacing yang digulung-gulung, trus ikannya sedang menanti makanan dari atas,” ungkap Bian.
Sambil merenung memikirkan apa makna dari lukisan itu, tiba-tiba muncul anak muda dari ruangan wapres. Namanya Erwin Aksa Mahmud. Kami sudah cukup lama kenal. Dia masih ada hubungan famili dengan Jusuf Kalla. Penampilannya sederhana, murah senyum dan santun. Sambil menunggu panggilan, ngobrolah kami di ruang tamu, sekali-kali bercanda. “Win… anak-anak ini tadi baru beli baju batik semua,” kata Herman Darmo setengah bercanda.
Erwin kemudian ikut ketawa ngakak karena mendengar kepolosan kami yang memang jarang pakai pakaian batik kalau tidak ada acara formil. Maklum, kami-kami adalah wartawan yang biasa di lapangan. Jadi pakai batik, rasanya kurang apa ya….
Ditengah obrolan itu seorang Paspampres wanita mendatangi kami. “Waktu yang diberikan bapak-bapak 20 menit.” Lagi-lagi… “Siaaappppppppppppp….” Tak lama kemudian, kami dipanggil masuk menuju ruang tamu kedua. “Apa nama ruang tamu ini Mas Yadi (staf wapres)?” tanya saya. “Kagak ada namanya Mas… Namanya ya ruang tamu,” jawabnya. Mendengar jawaban itu, semua ketawa. Sepuluh menit kemudian, ajudan mengingatkan. “Bapak mau masuk ke ruangan.”
Pak JK dengan wajah kelihatan lelah, menyambut kami. Ia lalu duduk, kemudian menebar senyum dan sedikit menghela nafas. Obrolan dimulai dari bagaimana caranya JK mengelola negeri ini. Kemudian berlanjut ke persoalan politik, pendidikan, SDM, SDA, isu-isu lokal dan masalah krisis global.
Sekilas saya menangkap kesan, JK benar-benar entpreneur sejati yang mengandalkan intuisinya dalam memanage negeri ini. Ia berani menantang arus, mengeluarkan kebijakan yang dinilai tidak populer walau menuai protes sekalipun. Ia juga bercerita panjang lebar tentang pengalamannya ketika menghadiri sebuah pertemuan di Jepang menyangkut pemanasan global.
Akhirnya, pertemuan kami harus berakhir setelah hampir satu jam bersama JK. Padahal, sesuai dengan jadwal yang dibuat protokoler, kami hanya diberi waktu 20 menit. Ternyata tembus sampai satu jam. JK terlihat puas, kami juga puas karena telah mendapatkan kesempatan khusus untuk melakukan wawancara dan hasilnya dinikmati pembaca esok harinya….
Share on Facebook
7 tanggapan untuk “Ribetnya Bertemu Jusuf Kalla”
1. Nufransa Wira Sakti,
— 20 Maret 2009 jam 9:12 am
Pengalaman yang menarik Mas Bec. Tidak semua orang punya kesempatan untuk menemui wapres. Liputan detil tentang materi pembicaraannya juga ditunggu nih. Batiknya jangan lupa disimpan di kantor, jadi kalau ada undangan lagi tidak perlu beli yang baru. :D
-Frans-
2. nathalia,
— 20 Maret 2009 jam 11:50 am
kalo sekarang gampang mas, tinggal buka aja blognya heee
3. Dion DB Putra,
— 20 Maret 2009 jam 12:43 pm
Haha…makanya Dom, Bech siap selalu batik. Liputannya great!
4. achmad subechi,
— 20 Maret 2009 jam 3:19 pm
Nufransa: Siappp mass… Perintah dilaksanakan. He.. he.. he.. Sukses selalu. Termasuk buat Nathalia dan Mas Dion..
5. rizaldo,
— 20 Maret 2009 jam 5:37 pm
luar biasa mas pengorbanannya. salut…
6. Bambang Darmanto,
— 21 Maret 2009 jam 6:41 pm
mas Bec dkk nggak diperiksa dulu sepatunya sama JK ? huehehehe
7. achmad subechi,
— 21 Maret 2009 jam 7:57 pm
Huaha.. ha.. ha… Dalam pertemuan itu beliau juga sempat menyinggung sepatu Cibaduyut. Untungnya saya pakai sepatu merk Indonesia yang murah meriah… he.. he.. he…
8. Dahlan, Your comment is awaiting moderation.
— 1 April 2009 jam 12:17 am
Mantap Pak Becki
Selengkapnya...
Mulai Hari Ini Tribun Sesuaikan Harga
Ask the Tribun Timur Editor
Mulai Hari Ini Tribun Sesuaikan Harga
MULAI tanggal 1 April 2009 hari ini, Anda akan membeli koran Tribun Timur seharga Rp 3.000 per eksemplar dari biasanya cuma Rp 2.000 per eksemplar. Harga langganan bulan ini pun akan menjadi Rp 70 ribu, bukan lagi Rp 50 ribu.
Sedih rasanya mengumumkan ini, tapi the show must go on. Ini harus ditelan, meskipun pahit. Mohon maaf karena itu.
Di luar kantor Tribun Timur, kami melihat loper-loper menjerit. Para loper itu menantang panas matahari Makassar, sepanas 35 derajat di siang hari, menerobos ancaman maut di tengah arus lalu lintas yang padat, kehausan, dan terkadang menahan lapar, untuk mencari sekeping demi sekeping uang dari menjual koran Tribun Timur.
Para loper mendapatkan marjin keuntungan yang sangat tipis, dan setelah Tribun Timur mencapai level pertumbuhan seperti saat ini, sudah waktunya memikirkan mereka: mempertinggi marjin keuntungan kawan-kawan loper itu.
Dengan harga Rp 2.000, marjin keuntungan mereka sangat tipis. Selama ini mereka sangat tertolong karena Tribun Timur laris manis. Mereka mendapatkan keuntungan yang sedikit, tapi sedikit dikali banyak, syukurlah, hasilnya menjadi banyak. Lewat kenaikkan harga ini, kami ingin mereka mendapatkan semakin banyak lagi.
Para agen, bosnya loper, pun juga kami harapkan mendapatkan keuntungan yang lebih. Dengan demikian, kesejahteraan loper dan agen, yang jumlahnya ratusan, juga ikut terangkat.
Kami berharap, dengan marjin keuntungan yang besar, loper dan agen bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi.
***
Tribun Timur menambah halaman, 12 halaman sekaligus, menjadi 36 halaman, sejak Oktober 2008. Artinya, kami hadir lebih tebal dalam lima bulan terakhir.
Dengan 36 halaman, Tribun Timur menjadi koran daerah Kompas Gramedia pertama yang "diizinkan" kantor pusat untuk terbit setebal itu.
Yang luar biasa pula, Tribun Timur terbit dengan 36 halaman tanpa harus membebani kantong pembaca. Harga tidak naik, sama saja dengan harga 24 halaman. Kami ambil beban itu, beban operasional yang tidak murah itu, selama hampir setengah tahun, demi pembaca yang terhormat.
Penambahan halaman itu, di satu sisi, membuat kami gembira karena ternyata, volume iklan juga naik cukup tajam. Sedihnya, sering muncul kritik, penambahan 12 halaman itu tidak bisa maksimal dinikmati pembaca, karena bukan jumlah beritanya yang bertambah, melainkan iklannya.
Kami, para pengelola koran, dalam posisi yang serba dilematis: berita (produk) yang bagus berarti koran laku, iklan juga laris. Koran laku membuat iklan laris: iklan yang laris mengambil porsi ruang untuk berita.
Lalu? Tambah saja halaman, simple, sederhana. Ternyata tidak. Menambah halaman berarti menambah biaya. Seterusnya, menambah biaya berarti harus menaikkan harga. Lalu, menaikkan harga berarti membebani pembaca. Opsi membebani pembaca ini sedapat mungkin kami jauhi.
Dari awal kami menyadari, keputusan untuk tidak menaikkan harga kendati beban biaya bertambah akibat penambahan 12 halaman, pada saatnya harus dievaluasi. Inilah saatnya kami melakukan itu.
Hasilnya? Kami melihat indikator-indikator ini: Harga bahan cetak naik seperti tinta, plat, film, dan bahan-bahan kimia. Harga kertas demikian pula. Semua di luar kendali kami.
Tambahan pula, penurunan harga BBM tidak disertai penurunan biaya transportasi. Ongkos kirim kertas dari Jawa maupun biaya distribusi koran di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat tetap tak mau kompromi. Lagi-lagi di luar kekuasaan kami.
***
ADA yang bisa kami atur, di dalam genggaman kekuasaan kami, demi untuk pembaca. Pertama-tama tentu produk, berita maupun cara penyajiannya.
Komitmen kami, Selalu yang Pertama: menyajikan berita-berita eksklusif, lebih cepat, lebih dalam, lebih simple, lebih praktis, lebih bermanfaat.
Inovasi dan kreativitas dalam produk, kami yakini, merupakan kunci untuk selalu memenangkan persaingan. Kalau mau jujur, itulah rahasia Tribun Timur mengapa mendapatkan kepercayaan pembaca dengan cepat sehingga koran ini menjadi Pemimpin Baru di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Kami senantiasa berusaha untuk relevan: Nasib koran ini, bahkan nasib produk apapun, sangat tergantung pada sejauh mana ia relevan dengan kebutuhan konsumen (pembaca). Itulah kiblat kami, itu arah kami berkarya.
Rekan-rekan kami di bisnis (departemen bisnis) membuat inovasi, juga untuk pembaca: Tribun Family Card (TFC) Mandiri Debit.
Ini terobosan, bahkan untuk ukuran surat kabar manapun di Indonesia. Pelanggan cukup membayar tagihan langganan melalui SMS, melalui ATM, dengan fasilitas SMS banking dari bank terbesar di Indonesia, Bank Mandiri.
Pelanggan mendapatkan asuransi kecelakaan. Dengan TFC pun, pelanggan mendapatkan fasilitas diskon di ribuan merchant di seluruh Indonesia.
Pemegang kartu TFC juga mendapatkan harga khusus pada sejumlah event yang digelar Tribun Timur. Satu kartu, manfaatnya banyak. Begitulah kira-kira TFC.
Sebagai barang baru, kami mohon maaf, masih ada beberapa kendala dari sisi teknis. Cuma, kami percaya, itulah masa depan. Ke sanalah kami menuju. Kami harus menyempurnakannya demi kenyamanan pembaca.
Tribun Timur merupakan koran di bawah naungan Kompas Gramedia, kelompok penerbitan surat kabar terbesar di Indonesia. Lebih dari 200 perusahaan, sebagian besar perusahaan penerbitan surat kabar dan majalah kelas satu, bernaung di grup ini.
Kami sudah memulainya, bahkan sejak awal, membagikan bonus majalah atau tabloid produk Kompas Gramedia kepada pelanggan. Bonus-bonus serupa akan terus dikembangkan agar pelanggan mendapatkan benefit (manfaat) lebih.
Akhirnya, terima kasih atas kepercayaan pembaca selama ini. Kami mohon maaf harus melakukan penyesuaian harga. Salam hormat! (dahlan)
Selengkapnya...
Tuesday, March 24, 2009
Tribun Jalin Kemitraan dengan Sun TV Makassar
Ask the Tribun Timur Editor
Tribun Jalin Kemitraan dengan Sun TV Makassar
Laporan : Taufik, taufiq75@yahoo.com
TRIBUN TIMUR
TRIBUN TIMUR, MAKASSAR
Selasa, 24 Maret 2009 | 18:19 WITA
Makassar,Tribun -- Guna memperluas jaringan usaha dan pemasaran, Tribun Timur dan Sun TV Makassar melakukan perjanjian kerjasama.
Perjanjian kerjasama tersebut ditandatangani masing-masing oleh pihak Tribun Timur diwakili H Ciptyantoro selaku pimpinan perusahaan Tribun Timur dan Husain Abdullah selaku Direktur Sun TV Makassar.
Kegiatan yang disaksikan Pimpinan Redaksi Tribun Timur Dahlan, Bagian Promosi Sun TV Sultan Makkawaru berlangsung di Kantor Tribun Timur, Selasa (24/3).(*)
Selengkapnya...
Tuesday, March 10, 2009
Syuting Walk to Talk di Kantor Tribun
Ask the Tribun Timur Editor
Trans7 Syuting Walk the Talk di Tribun
MAKASSAR, TRIBUN - Program acara untuk stasiun televisi Trans 7, Walk the Talk, melakukan pengambilan gambar di beberapa tempat di Makassar termasuk di redaksi Tribun Timur, Senin (9/3). Acara ini diproduksi oleh production house (PH) Paradigma Films, Jakarta, bekerja sama dengan Lembaga Bahasa dan Pendidikan Proffesional LIA.
Program ini bernuansa pendidikan dan hiburan (edutainment) yang dikemas dalam acara yang berbahasa Inggris dalam format menghibur. Walk The Talk akan mulai ditayangkan awal April 2009 nanti di jam prime time pukul 10.00 wita sebanyak 13 episode.
Kemarin, pengambilan gambar juga dilakukan di Pantai Losari . Syuting akan dilanjutkan hari ini, Selasa (10/3), dan mengambil tempat antara lain di komunitas olahraga di Lapangan Karebosi, komunitas BMX, komunitas skateboard, serta di mal.
"Program ini ingin menumbuhkan rasa brave to speak in English atau berani berbicara bahasa Inggris di kalangan masyarakat umum," kata Marketing Communications Manager Paradigma Films yang turut menyaksikan syuting di Tribun.(iku)
Selengkapnya...
Friday, February 27, 2009
Musim Gugur Surat Kabar AS
Ask the Tribun Timur Editor
INI kabar baru: The Rocky Mountain News bangkrut. The Rocky Mountain News adalah koran tertua di Colorado. Surat kabar itu sudah menjadi kelengkapan warga setempat sejak 1859, tulis kompas.com.
Krisis ekonomi adalah penyebab utama. Oplaq turun, omzet iklan merosot. Pada saat yang sama, biaya membengkak. Ini memang tipikal dampak krisis.
Tambahannya: Internet mengambil alih peran media massa cetak sebagai sumber informasi dan media iklan sekaligus.
Ini zaman baru. Tantangannya juga baru. Siapa yang bisa mengenali tantangan baru itu, lalu mampu merumuskan produk yang pas, dialah yang bertahan.
Sumber: Kompas.com
Mendung Kebangkrutan Surat Kabar Landa Abang Sam
Jumat, 27 Februari 2009 | 13:24 WIB
DENVER, JUMAT - Mendung kebangkrutan industri surat kabar tengah melingkupi Amerika Serikat. Minggu lalu, setelah The Philadelphia Inquirer dan The Philadelphia Daily News tutup buku, pekan ini, giliran The Rocky Mountain News terjerembab ke jurang yang sama. "Edisi Jumat adalah edisi terakhir kami," kata CEO E.W. Scripps Co penerbit koran tersebut, Rich Boehne, Jumat (27/2).
The Rocky Mountain News adalah koran tertua di Colorado. Surat kabar itu sudah menjadi kelengkapan warga setempat sejak 1859. Tahun lalu, koran ini gagal menanggung utang 16 juta dollar AS. "Kami menjadi korban dari perubahan waktu dan krisis ekonomi," kata Boehne.
Krisis finansial merambah ke dunia surat kabar di Negeri Abang Sam sejak perekonomian di negara itu anjlok. Sudah begitu, banyak warga masyarakat kini beralih mencari berita di internet. Perilaku ini pun diikuti oleh banyak pengiklan yang justru makin getol berpromosi di dunia maya.
Empat pemilik dari 33 surat kabar di seluruh AS sudah mengajukan kebangkrutan kepada pemerintah sejak dua setengah bulan lalu. Beberapa perusahaan surat kabar itu pun ada yang sudah dilego ke investor lain.
XVD
Sumber : AP
Selengkapnya...
Friday, February 13, 2009
Catatan HUT V Tribun Timur
Ask the Tribun Timur Editor
Sumber: Tribun Timur
Saatnya Berterima Kasih, Bukan Berjanji
Catatan HUT V Tribun Timur
Dahlan, Pemimpin Redaksi Tribun Timur
"INSYA Allah, Kapolda hadir nanti malam di Ultah ke 5 tribun di clarion..." Saya sudah bangun ketika Kepada Bidang Humas Polda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar), Kombes Hery Subiansauri mengirim pesan singkat (SMS), Rabu (11/2), beberap jam sebelum malam resepsi Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-5 Tribun Timur digelar di Hotel Clarion, Makassar.
Kapolda Irjen Pol Mathius Salempang baru saja duduk di kursinya. Kapolda belum sempat melakukan konsolidasi yang tuntas setelah mewarisi hubungan polisi-pers yang buruk dengan sebagian wartawan di Makassar.
Dan, beliau memutuskan hadir. Terima kasih, kata saya kepada Pak Hery via SMS. Saya segera mengabari panitia mengenai kehadiran kapolda karena kursi-kursi sudah disusun sejak jauh hari sebelumnya. Di mana kursinya Pak ini, di mana Pak itu.
Pembaca, inilah ulang tahun Tribun yang paling mengharukan. Lima tahun kami memimpin koran ini, sebagai pemimpin redaksi maupun sebagai redaktur pelaksana, dan inilah tahun ketika antusiasme publik dan tokoh menghadiri acara HUT Tribun begitu luar biasa.
Bantuan Pak Agus Fuad, Kepala Kantor Wilayah Bank Mandiri, bank terbesar di Indonesia dengan aset Rp 340 triliun yang mengelola kawasan Indonesia timur dan Pak Elvizar KH, General Manajer PT Telkom Divre VII, di luar dugaan kami.
Kami tidak memasang nama Pak Aksa Mahmud, salah satu pemegang saham di koran ini dalam daftar undangan. Maklumlah beliau sangat sibuk, sebagai Wakil Ketua MPR RI maupun sebagai calon anggota DPD.
Suatu malam, Pak Aksa menelepon: "Dahlan, saya ingin menghadiri ulang tahun Tribun. Undang, ya. Saya ingin memberi penghargaan kepada kalian, anak-anak Tribun atas prestasinya yang luar biasa." katanya. Saya terharu.
"Protokol, tolong catat agendanya, ya!" begitu Gubernur Syahrul Yasin Limpo mengeluarkan perintah kepada stafnya ketika pimpinan Tribun melakukan audiensi di Gubernuran. Kami ditemani pimpinan Pak Agus Fuad. Pak Gub ingin acara Tribun dicatat dalam agenda. Beliau ingin memastikan hadir.
Suatu waktu, beberapa hari sebelum puncak HUT Tribun di Clarion, handphone saya berdering. Andi Herry Iskandar (Wali Kota Makassar) menelepon: "Pak Dahlan," begitu Pak Wali Kota memanggil. "Sebenarnya saya sudah rencanakan check up kesehatan di luar kota. Saya tunda, karena saya ingin hadir di Clarion."
Terima kasih, terima kasih. Begitu selalu saya berkata. Kami terharu atas sambutan dan antusiasme yang luar biasa. Semula kami ragu mengundang beberapa pejabat penting -swasta, sipil, maupun militer--.
Kami khawatir: percuma saja, buang-buang undangan, toh yang hadir cuma wakilnya. Mending memberikan undangan kepada relasi yang benar-benar confirm akan hadir.
Kami keliru, rupanya. Dua-tiga hari menjelang acara, telepon teman-teman Tribun terus berdering menanyakan tiket, menanyakan undangan. Mereka semua pimpinan puncak di lembaganya masing-masing.
Beberapa teman dari tokoh warga Tionghoa mengirim SMS dan menelepon, menanyakan undangan. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Pak Gideon Purnomo, pimpinan Telkomsel Pamasuka, mengonfirmasikan kehadiran beliau via Facebook.
"SELAMAT ULANG TAHUN TRIBUN TIMUR. SEMAKIN DEWASA & TETAPLAH MENJADI MEDIA PEMERSATU SERTA PENDORONG KEMAJUAN MASYARAKAT INDONESIA TIMUR. DIRGAHAYU TRIBUN TIMUR. Besok malem sy ikutan gabung di clarion, bang. Mo nonton BCL jg ...he..he..he," begitu comment beliau di Facebook.
Ucapan selamat membanjiri Facebook dan SMS. Banyak sekali doa tapi juga harapan. Terima kasih.
Pada tanggal 9 Februari, tepat di hari ulang tahun Tribun yang ke-5, relasi dari hotel, Mall GTC, dan Malla Ratu Indah (MaRI) membanjiri Tribun dengan kue ultah yang lezat-lezat.
Manajemen Hotel Clarion bahkan membawakan sarapan pagi. Pak Anggiat Sinaga, bos di sana, datang dengan topi kerucut warna kuning yang lucu.
Manajemen Hotel Sahid, Imperial, MGH, Santika, Horison, Quality, dan Panitia Imlek juga datang memberikan ucapan selamat. Demikian pula dengan Manajemen hypermat GTC dan Matahari GTC ikut memberikan ucapan selamat, disusul dengan MTC Karebosi. Tak mau ketinggalan: pengelola Pasar Sentral Makassar juga datang ke kantor Tribun.
Pimpinan Indosat dan Telkomsel juga memberikan ucapan dukungan. Banyak lagi, banyak lagi. Terima kasih.
***
YANG juga terasa istimewa, Direktur Kelompok Divisi Koran Daerah Kompas Gramedia, Pak Herman Darmo dan Direktur Keuangannya, Pak Sentrijanto, ikut hadir.
Pada empat ultah sebelumnya, kami merayakannya secara sederhana saja. Tahun lalu agak besar di Hotel Sahid, dengan menghadirkan penyanyi Katon Bagaskara. Lumayan, seribuan undangan hadir.
Cuma, tahun lalu kami tidak mengundang pejabat. Pak Herman dan Pak Sentri pun tidak sempat hadir. Itu pula yang membuat suasana ultah tahun ini terasa berbeda.
Pak Herman dan Pak Sentri, dua nama yang tidak terlalu dikenal publik. Tapi kami di internal Persda mengenal keduanya, terutama Pak Herman sebagai Direktur Kelompok Divisi Koran Daerah Kompas Gramedia, berada di balik kisah sukses nan dramatis dari kelahiran koran-koran daerah Persda dengan bendera Tribun enam tahun terakhir ini.
Koran Tribun sukses di mana-mana secara bisnis, bahkan menjadi trendsetter serta memberi inspirasi bagi koran-koran daerah lainnya.
Di Kompas Gramedia, publik dan lebih 10 ribu karyawan di grup koran terkemuka di Indonesia bahkan Asia Tenggara ini mengenal tokoh puncak, Pak Jacob Oetama. Sekarang CEO datang dari generasi kedua, Pak Agung Adiprasetya.
Di Persda, tokoh utamanya adalah Pak Herman. Pak Sentri sebagai tangan kanan beliau ahli mengatur keuangan dan bisnis.
Kalkulator Pak Sentri hebat benar. Pak Herman melahirkan konsep koran, mengimplementasikannya sementara Pak Sentri yang mengatur kas.
Generasi pertama koran Tribun lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur. Namanya Tribun Kaltim. Sukses di Kaltim membawa inspirasi dan semangat baru di Persda.
Pada 9 Februari 2003, Pak Herman dkk membidik Makassar. Konsep produk ala Tribun rupanya juga menuai sukses di Makassar dengan nama Tribun Timur.
Sukses Tribun Kaltim dan Tribun Timur membuat tim Persda makin percaya diri. Lahirlah Tribun Batam, Tribun Pekanbaru, dan Tribun Pontianak.
Sementara Metro Bandung dilahirkan kembali dengan nama Tribun Jabar. Pada 2 Februari lalu, terbit Tribun Manado. Seperti koran dengan bendera Tribun lainnya, Tribun Manado juga sukses luar biasa. Edisi perdana saja dicetak 40 ribu eksemplar dan langsung ludes di pasar.
Sebelum generasi Tribun lahir, Persda mengelola sejumlah koran seperti Serambi Indonesia (Aceh), Banjarmasin Post (Banjarmasin), Bangka Pos (Bangka Belitung), dan Pos Kupang. Koran-koran tersebut merupakan market leader (pemimpin pasar) di daerahnya masing-masing, sampai saat ini.
Dengan sekitar 14 koran daerah induk, Pak Herman sekarang memimpin grup penerbitan koran daerah yang oplah keseluruhannya lebih dari 300 ribu eksamplar.
Dengan taget 10 koran baru hingga 2010, juga tetap dengan mengibarkan bendera Tribun, maka Persda atau Tribun Group nantinya akan menjadi salah satu kelompok koran daerah terbesar di Indonesia.
***
TAHUN 2008, Tribun Timur mencatat beberapa capaian penting. Sejak November, untuk pertama kalinya sejak terbit, Tribun meluncur ke pasar dengan 36 halaman.
Itu artinya menambah 12 halaman dari biasanya hanya 24 halaman. Ini merupakan koran pertama di lingkungan Persda yang diizinkan Pak Herman dan Pak Sentri terbit 36 halaman.
Kenaikan jumlah halaman menjadi 36 -yang terbit dalam enam sesi-tidak dibarengi kenaikan harga. Ini "gila", kata sebagian teman. "Tribun rusak kalkulatornya," kata teman yang lain.
Menerbitkan koran 36 halaman, dengan harga eceran "hanya" Rp 2.000, jelas sulit dimengerti kalkulator bisnis. Harga koran normal dengan tebal 36, mengingat harga kertas dan biaya lainnya yang terus naik, mestinya sekitar Rp 7.000-Rp 8.000 per eksamplar. Tribun hanya menjual Rp 2.000 per eksamplar saja.
Dari mana Tribun mengambil uang untuk subsidi pembaca. Tentu saja iklan, tidak ada cara lainnya. Saya mengutip hasil survei lembaga terpercaya berikut ini:
Budget iklan di Makassar naik sekitar Rp 100 miliar menjadi Rp 506 miliar pada periode Januari-September 2008 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode itu, masih menurut lembaga survei independen tersebut, perolehan iklan Tribun tumbuh 12 persen, sedangkan omzet iklan koran lain turun 11 persen.
Jadi, bila Tribun naik, yang turun. Saya bilang ke teman-teman di kantor, memberi semangat: Mestinya, masa depan adalah era Tribun.
Di sisi sirkulasi, jumlah oplah juga terus tumbuh, apalagi sejak Tribun terbit dengan 36 halaman. Membangun brand yang superior dalam tempo lima tahun tentu belum cukup, tetapi membangun oplah yang besar, yang terbesar dan memimpin pasar, kenapa harus menunggu 27 tahun. Lima tahun sudah cukup, bahkan sudah lebih dari cukup.
Pertumbuhan Tribun Timur, juga koran-koran dengan bendera Tribun maupun koran lainnya di bawah bendera Tribun lainnya, merupakan anomali, pengecualian dari trend global dan trend koran di Tanah Air.
Di Amerika Serikat dan Eropa, sekarang ini musim gugur surat kabar. Oplah turun, iklan juga turun. Sementara, krisis global menghantam begitu dahsyat, menumbangkan para raksasa, termasuk perusahaan otomotif terbesar di dunia, General Motor.
Akibat krisis itu, banyak surat kabar mencoba menyelamatkan diri dengan memecat karyawan di pos-pos yang tidak penting, melakukan efisiensi habis-habisan, dan me-review rencana bisnis.
Yang tidak bisa melakukan kiat efisiensi, apa boleh buat: menutup total perusahaan, menghentikan edisi cetak dan fokus ke online atau mengurangi oplah cetak dan membangun edisi online.
Bulan Desember lalu, pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan koran daerah Persda melakukan rapat di Jakarta. Saya diberi kesempatan untuk melaporkan "apa yang terjadi" di IFRA Expo di Amsterdam, Belanda.
Saya melaporkan kecemasan pengelola surat kabar di Eropa mengenai masa suram akibat krisis ekonomi global, kecemasan yang sekarang terbukti.
Tapi, yang luar biasa, semua pimpinan koran daerah melaporkan pertumbuhan dari sisi iklan maupun sirkulasi. Di IFRA saya melihat suasana muram, di raker Persda saya melihat optimisme.
***
BILA kemudian para relasi begitu antusias menghadiri acara ultah Tribun, kami merasa itu merupakan dukungan moral yang luar biasa.
Dengan itu semua, kami semakin optimistis melewati tahun 2009 dan tahun-tahun berikutnya. Setelah lima tahun, ini saatnya berterima kasih, bukan berjanji.
Terima kasih kepada pembaca, terima kasih kepada para relasi. Dukungan dan doanya sungguh tak ternilai harganya.
Akhirnya, pengelola Tribun Timur adalah manusia. Sebagai manusia, kami tidak luput dari kesalahan dari kekhilafan. Untuk itu semua, kami mohon maaf.***
Selengkapnya...

