Showing posts with label INSPIRASI. Show all posts
Showing posts with label INSPIRASI. Show all posts

Thursday, May 8, 2014

Rahasia Kecil: Don’t wait to be perfect. Just start.


Inovasi adalah melahirkan hal baru. Banyak orang yang tidak pernah melakukan inovasi bukan karena orang lain dan lingkungannya, tapi karena cara berpikir dia sendiri.

Saya menemukan kalimat yang powerfull ini ketika membaca sebuah artikel:

Don’t wait to be perfect. Just start.

Bila Anda memiliki ide, lakukan saja. Jangan menunggu kesempurnaan. Kesempurnaan milik Tuhan sedang kita hanyalah manusia biasa.

Jangan menyalahkan orang lain atau lingkungan kalau Anda tidak pernah melakukan inovasi. Jangan-jangan masalahnya ada di Anda, di cara berpikir Anda.

Jangan-jangan Anda selalu ingin hasil yang sempurna sampai Anda tidak pernah menghasilkan apapun.

Sebelum era online, media massa terbiasa memulai dengan "edisi terbatas" atau "edisi uji coba" sebelum menerbitkan koran.

Dengan mengatakan "edisi uji coba", terkandung pesan di sana bahwa media massa itu bukanlah media massa, melainkan media khusus, hanya terbit secara terbatas.

Di online, ada ayat baru:

Live is Beta.


Versi beta adalah "edisi uji coba". Bedanya, edisi beta langsung publish, jadi media massa.

Versi beta mengandung makna, hei.... ini belum sempurna, masih uji coba, silakan beri masukan.

Jadi, camkanlah:


Don’t wait to be perfect. Just start.



Saturday, April 5, 2014

Di Sebuah Kantor Camat: Apple Tapi Bukan Apple

Monitor komputer di Kantor Kecamatan Panakukkang, Makassar, ini terlihat aneh.

Mereknya sih buah apel digigit, Apple.

Tapi ini bukan monitor Mac buatan Apple.

Mereknya Apple tapi isinya monitor merek lain.

Inilah strategi plastic fruits: Seperti Apple tapi bukan Apple.


Friday, April 4, 2014

Keseimbangan dalam Kecepatan

Ikan bertahan hidup justru karena terus bergerak.

Sepeda terus berlari, tidak jatuh, justru karena terus bergerak.

Begitu juga sepeda motor: malah terasa ringan karena berlari.

Itulah titik keseimbangan.

Keseimbangan dalam gerak.

Organisasi yang bergerak cepat menemukan keseimbangannya dalam gerak, bukan dalam diam.

Ada tipe orang yang merasa perform justru karena terus melahirkan inovasi.

Ada tipe orang yang terpacu kecerdasannya karena terus berbicara, karena terus berkomunikasi, karena otaknya terus menerus mendapat rangsangan.

Dalam gerak, terkadang, justru kita menemukan titik diam, titik keseimbangan.

Pada organisasi, gerak ditentukan oleh people, culture, dan organization.

Interaksi ketiga unsur itu --pada level mana-- menentukan level yang bisa dicapai oleh organisasi itu.

Ada keindahan dalam gerak.










dahlandahi.com

Thursday, February 27, 2014

Pemenang Hari Ini: Simple is Good

Catatan 
Dahlan Dahi,
Pemimpin Redaksi Tribun Timur


Menjadi Penerobos Bersama Agung Adiprasetyo, CEO Kompas Gramedia

Pemenang Hari Ini: Simple is Good
    
AGUNG Adiprasetyo memulai karier di Kompas Gramedia sebagai tenaga keuangan dan tukang cap koran untuk bukti iklan.    

Selama 32 tahun bekerja di Kompas Gramedia, Agung menyelami hampir semua unit bisnis: dari Kompas, Bola, Kontan, The Jakarta Post, koran daerah,  hotel, hingga televisi. Semuanya terkait dengan marketing, baik memasarkan koran, iklan, maupun membangun brand.

Pada tahun 2006, si tukang cap koran menjadi Chief Executive Officer atau CEO. Suatu pekerjaan yang tidak mudah memimpin perusahaan dengan lebih dari 20 ribu karyawan, terlebih di tengah bayang-bayang kharisma dan kepemimpinan Jacob Oetama, pendiri dan pemimpin perusahaan yang produk-produknya menjangkau sekitar 70 juta penduduk Indonesia.

Pada Kamis (27/2) pagi ini, Mas Agung –begitu ia biasa dipanggil– akan membagi inspirasi kepemimpinan di Gedung IPTEK, Universitas Hasanuddin, Makassar. Format acaranya kuliah umum, terbuka untuk umum.

Penampilan Agung sederhana saja, cerminan dari cara berpikirnya. Salah satu CEO terbaik tahun 2009 ini adalah penggemar berat "aliran" simplisiti, melihat masalah rumit secara sederhana. 

Melihat masalah secara sederhana bukan berarti menyederhanakan persoalan. Tidak. Melihat masalah secara sederhana membawa dampak psikologis, membangkitkan rasa percaya diri. 

Lihatlah cahaya, kata Agung. Jangan melihat kegelapan. Pada cahaya ada sinyal jalan keluar.

Melihat atau cara melihat adalah masalah cara berpikir. Apa yang Anda lihat adalah hasil dari cara berpikir Anda.

Dalam bukunya, Memetik Matahari, Agung mengutip Marc Chemoff:

"Kalau kamu tidak suka sesuatu, ubahlah! Kalau kamu tidak bisa mengubahnya, ubahlah cara berpikirmu!"        

Mengubah cara berpikir adalah salah satu cara menemukan jalan baru, jalan inovatif. Ketika menjadi CEO, Agung fokus pada perbaikan sistem pengembangan karyawan, menciptakan indikator kinerja dan sistem insentif, serta merangsang munculnya inovasi di seluruh unit usaha.

Sistem mengukur kinerja karyawan dengan angka-angka yang terukur itu terlihat sebagai langkah sederhana namun sebenarnya merupakan inovasi strategis bagi Kompas Gramedia yang identik dengan gaya kepemimpinan Jacob Oetama yang humanis. 

Karya besar seringkali lahir dari satu langkah kecil, langkah sederhana. Agung percaya, langkah kecil adalah sesungguhnya langkah besar, karena itulah titik mulanya gagasan berubah menjadi inovasi.

Sepuluh tahun lalu, koran-koran Persda (kelompok koran daerah Kompas Gramedia baru tujuh). Hanya dua dari tujuh koran itu yang untung, lainnya rugi melulu.

Agung ingin mengembangkan koran daerah tapi beberapa orang berpendapat untuk apa dikembangkan, toh, banyakan koran daerah yang rugi.

Agung berpendapat, "Bagaimana mau untung kalau korannya itu-itu saja. Coba tambah, buka di berbagai daerah." Sekarang, koran-koran Persda (atau sekarang dikenal sebagai Tribun) menjadi 26 koran di 20 kota, menjadi salah satu penyumbang laba terbesar di Kompas Gramedia.

Sudah banyak diskusi mengenai koran daerah tapi Agung mewujudkan visinya dan mengeksekusinya.

Agung menulis:  "Keberhasilan tidak jadi nyata karena kita hanya banyak omong ..." 

Agung sangat peduli pada eksekusi keputusan, persis seperti filosofi kepemimpinan Jusuf Kalla.

Ketika mengeritik kinerja pemerintahan, Jusuf Kalla pernah mengatakan:

Pemerintah terlalu banyak rapat, sedikit keputusan. Di antara sedikit keputusan itu, sedikit sekali eksekusi. Di antara sedikit eksekusi, sedikit sekali pengawasan ...

Dalam bahasa yang lain, Agung mengatakan, suatu gagasan "harus dieksekusi, dijalani, dan ditekuni ..." Jika tidak, gagasan itu hanya menjadi omdo, omong doang!

Demikianlah, Agung melihat masalah yang menyertai perusahaan sebesar Kompas Gramedia yang begitu besar dan rumit dengan cara yang sederhana saja. Bangun sistem, dorong inovasi dengan standar kinerja yang terukur, dan.... eksekusi keputusan. 

Serdehana saja, simple saja, seperti dianjurkan oleh Albert Einstein (1879-1955), seorang jenius dan peraih hadiah Nobel.

Dia bilang: " If you can't explain it simply, you don't understand it well enough". Kira-kira artinya, jika Anda tidak bisa menjelaskannya secara sederhana, Anda sebenarnya tidak memahaminya dengan baik.

Pahami persoalan secara sederhana. Rumuskan langkah mengatasinya. Eksekusi. Awasi! That's simple.

***

PARA pemimpin perusahaan besar dunia juga membangun prinsip-prinsip cara berpikir sederhana, simplisiti, untuk menjadi pemimpin pasar.
 
Google, perusahaan internet raksasa, menggulingkan dominasi Yahoo! di bisnis mesin pencari (search engine) bukan karena dia rumit, melainkan hanya karena Google sederhana.

Yahoo! membangun portal yang rumit. Para perancangnya membuat Yahoo! seperti supermarket, menyediakan semua yang Anda cari, mulai dari kotak pencarian, email, berita, hingga horoskop.

Google, yang muncul sebagai penantang, membangun website-nya dengan sederhana. Lihatlah Google.com: Hanya ada satu kotak pencarian, lainnya ruang kosong warna putih.

Google berpendapat, user (Anda) cukup mengetik apa yang Anda inginkan, entah berita entah horoskop, dan Google akan membantu Anda secepat kilat menemukannya. 

Para ahli Google menghabiskan waktunya untuk membangun kesederhanan, sedangkan Yahoo! membuang-buang waktu karena kerumitannya.

Simple is good, begitulah prinsip Google menurut Jeff Jarvis, penulis buku What Whould Google Do?

Jonathan Ive, salah satu tokoh penting ahli desain di sisi Steve Jobs di balik karya-karya gemilang Apple, juga adalah penganjur simplisiti. 

iPhone, handphone andalan Apple, nyaris tanpa merek. Hanya buah apel yang digigit. Itupun diletakan di belakang. Di depan kosong. Sangat sederhana.

Prinsip simple is good membawa kita melihat masalah lebih kecil dari kita. Jika masalah itu lebih kecil dari kita, logikanya, kita bisa mengatasinya dengan mudah.

"Why do we assume that simple is good? Because with physical products, we have to feel we can dominate them."

Demikian Ive mengatakan, seperti dikutip dalam buku Steve Jobs karya mantan CEO CNN dan Managing Editor majalah Time, Walter Isaacson.

Pada 13 Maret 2013, CEO Google Larry Page menulis di Google Blog. Ini tentang Andy Rubin, pionir sistem operasi Android, dan penggantinya Sundar Pichai, tokoh di balik sukses Google Chrome dan aplikasi Google.

Dalam CEO letter itu, Larry Page mengemukakan tentang apa yang disebut user friendly, tentang simplisiti, tentang kesederhanaan. Bahwa teknologi adalah hal rumit tapi harus gampang digunakan. 

Tidak banyak insinyur di dunia, tapi semua orang sekarang memakai teknologi dengan riang gembira.
Bahwa teknologi bukanlah soal kerumitan tapi tentang kenikmatan. 

Sundar Pichai, seperti dijelaskan Larry Page, membuat produk yang secara teknis hebat tapi gampang dipergunakan.
Simplisiti membantu Anda menikmati, sedangkan kerumitan mendorong Anda mengidap vertigo.

Kita tahu, Google adalah pemenang di internet dan Apple adalah pemenang di smartphone dan tablet kelas premium.

Di Semarang, kota kelahiran Agung, ada Bakmi Djowo Pak Doel Noemani. Warung kaki lima ini menjual bak mi, tapi juga Nasi Ruwet --nasi yang akan membuat Google, Apple, dan Mas Agung marah karena dia ruwet, tidak simple.        

Demikianlah. Simpe is good.***

Dimuat di koran Tribun Timur edisi Kamis, 27 Februari 2014

Sunday, February 23, 2014

Rumah Sakit Rumah Gembira

Tuhan terasa dekat dengan rumah sakit karena banyak orang yang sedih.

Bila kita sedang sedih, kita susah, kita merasa lemah. Pada saat itulah Tuhan terasa dekat.

Ujian keimanan, kata seorang ahli agama, bukan pada saat kita lemah.

Tuhan terasa jauh, bahkan hilang, di tengah hinggar binggar musik riang gembira.

Tuhan terasa jauh bila kita merasa kuat, bila kita tidak membutuhkan bantuan dan pertolongan.

Tuhan seperti hanya milik orang-orang lemah.

Maka, kata pandai agama itu, bila Anda kuat, dan Anda tetap dekat dengan Tuhan, maka itu tanda iman Anda kuat.

Masuk ke rumah sakit seperti masuk ke alam lain, alam kesedihan. Di sana air mata, di sana orang meratap memohon bantuan.

Tidak di Siloam. Rumah sakit swasta ini mengubah konsep rumah sakit.

Bahwa rumah sakit adalah rumah gembira. Pasien dan keluarganya yang sedih justru harus dihibur.

Masuk lobi rumah sakit Siloam di Makassar seperti masuk mal. Ada toko roti. Ada toko buku. Ada piano. Musiknya mengalun, memancarkan suara indah ke seantero ruangan.

Musiknya piano, bukan lagu rock and roll. Mungkin karena itu Tuhan tetap terasa hadir di sana.

Friday, February 14, 2014

Catatan HUT Ke-10 Tribun Timur: Inovasi atau Punah



Kami Percaya Ini: Inovasi atau Punah

FOTO-foto WC Unhas yang jorok. Heboh! Sebelum fotografer Tribun Timur menghasilkan foto-foto itu, seperti biasa, kami berdiskusi.

Saya menggugah tim fotografer untuk menghasilkan foto-foto eksklusif, foto yang magnitude-nya tinggi, hanya Tribun yang mempublikannya.

Saya bilang:
“Seribu foto Anda hasilkan setiap hari. Jutaan foto Anda bidik setiap tahun. Hanya sedikit saja yang diingat pembaca. Apa yang diingat, apa yang menancap di benak pembaca, adalah foto eksklusif.”

Lalu, saya bertanya: “Mengapa kalian harus menghasilkan ribuan foto kalau hanya satu foto saja yang diingat pembaca?”

Demikianlah spiritnya, semangat untuk selalu berubah. Semangat untuk menyesuaikan diri dengan ekspektasi pembaca.

Internet memungkinkan pembaca dibanjiri informasi. Internet membuat informasi menjadi abundance, membeludak.

Era scarcity, era kelangkaan informasi di mana surat kabar sebagai pemegang monopoli, sudah runtuh.

Dalam keberlimpahan informasi, pembaca berubah perilakunya. Salah satu yang penting: makin kuatnya budaya visual thinking.

Pembaca lebih cepat menangkap informasi yang disajikan secara visual. Kata-kata semakin sulit dibaca, apalagi limpahan kata-kata yang berpanjang-panjang.

Power Point mengubah cara kita menjelaskan gagasan dengan presentasi. Power Point adalah alat berpikir visual.

Dosen hanya menarik didengar kata-katanya 5-10 menit. Setelah itu mahasiswa mengantuk. Power Point adalah obat anti-ngantuk yang mujarab.

Bagaimana surat kabar menyesuaikan diri?

Penuhi ekspektasi pembaca yang hidup di alam visual thinking. Kata-kata itu penting, tapi lebih penting visual. Foto (juga grafis) adalah elemen visual yang paling penting.

Jadi, foto-foto WC jorok tidak saja menarik content-nya, materi fotonya, melainkan juga itulah yang segera bisa dipahami pembaca generasi visual thinking.

Pembaca berubah, surat kabar juga harus berubah. Atau punah.

***

TRIBUN Timur terbiasa memulai inovasi rumit dengan cara yang sederhana. Ketika para wartawan terbiasa membuat berita pada malam hari di kantor untuk kepentingan edisi cetak, tahun 2008, kami ingin mengubahnya: wartawan harus menulis berita dari lapangan, pada saat itu juga, real time, dan mengirimkannya ke email redaksi.

Seluruh wartawan dikumpulkan, lalu saya memaparkan presentasi. Di akhir presentasi, ada satu slide berbunyi:

Bukan yang kuat yang bisa bertahan, melainkan yang bisa menyesuaikan diri.

Slide itu diberi ilustrasi gambar dinosaurus yang begitu besar dan kuat vs gambar semut yang kecil dan ringkih.

Itu visual yang sangat kuat untuk segera menjelaskan bahwa dinosaurus, yang gagal beradaptasi, kini punah.

Sebaliknya, kita masih digigit semut sampai hari ini bukan karena semut itu kuat, melainkan karena dia adaptif.

Ide itulah yang menjadi spirit dari tribun-timur.com, portal berita yang kini dibaca lebih 35 ribu orang setiap hari.

Para wartawan harus mengubah kebiasaan mereka, dari sekadar wartawan media cetak menjadi sekaligus wartawan media online.

Ini ide yang sederhana tapi, kita tahu, tidak semua newsroom (kantor redaksi) bisa melaksanakannya dengan baik dan konsisten.

Memang terasa berat bagi wartawan, untuk --pada saat yang sama-- menyandang misi di dua rejim sekaligus. Rejim print memiliki logika sendiri, demikian pula rejim online. 

Kami belajar pada China: mengelola politik mereka komunis tapi di ekonomi mereka kapitalis. Dan, ehem, China sukses.

Sosial media belum kami kenal pada 2008. Ketika itu hanya ada online atau portal, istilah yang kami pakai bila menyebut tribun-timur.com.

Sekarang, enam tahun kemudian, sosial media, terutama Facebook dan Twitter, berkembang sangat pesat.

Hampir 90 ribu user membaca berita tribun-timur.com melalui dinding Facebook, mengalahkan pembaca yang langsung (direct traffic) ke portal tribun-timur.com.

Sementara itu, lebih 48 ribu pembaca mengikuti berita Tribun lewat Twitter, @tribuntimur.

Jelas, ini soal serius, dan mulai tahun ini, kami sudah menugaskan dua editor sosial media untuk mengurusnya. Mereka tidak mengelola halaman surat kabar layaknya editor untuk platform print.

Dari mengelola online dan sosial media kami tahu, pembaca berita sepak bola lebih tinggi jumlah visitor dan tingkat engagement-nya (like, comment, share, dan retweet).

Itulah ide sederhana dari lahirnya koran harian Super Ball, yang semula adalah halaman sisipan di koran-koran Tribun.

Pergerakan perilaku pembaca juga terlihat dari informasi lowongan kerja dan iklan baris (properti, otomotif, dan fashion). TribunJualBeli.com hadir untuk menjawab perubahan tersebut.

Semakin jelas bagi kami, berubah atau punah.

***

DARI awal kami percaya bahwa Tribun Timur tidak sekadar menjual kertas berbentuk koran yang berisi kata-kata, foto, dan grafis.

Kami, para wartawan dan redaktur, percaya bahwa kami menjual kredibilitas dan trust (kepercayaan). Tidak ada gunanya kertas berisi kata-kata yang tidak bisa dipercaya.

Teman-teman bisnis juga terbiasa dengan keyakinan bahwa mereka bukanlah sales force, gerombolan tenaga penjual.

Mereka terbiasa melihat diri sebagai partner yang datang menemui klien untuk menawarkan benefit, memanfaatkan reach (jangkauan) Tribun Timur kepada pembaca, menawarkan Tribun Timur sebagai solusi bisnis.

Itulah, antara lain, spirit di balik kartu TFC, Tribun Family Card. Kartu ini memberi benefit bagi pelanggan untuk mendapatkan diskon di berbagai merchant, termasuk mendapat potongan harga saat membeli buku di Toko Buku Gramedia.

Tahun ini, kartu TFC mendapatkan manfaat tambahan. Bagi pemegang TFC Premium, Anda akan mendapatkan fasilitas gratis masuk di Phinisi Executive Lounge Bandara Hasanuddin (fasilitas yang biasanya diberikan kepada pemegang kartu kredit kelas premium), cuci mobil secara gratis di Auto Clean, dan mendapatkan potongan harga untuk taksi eksklusif Bosowa dengan mobil Alphard.

Dan satu lagi: TV internet. Ini ide sederhana untuk memanfaatkan koneksi internet guna menyebarluaskan pesan melalui layar televisi yang dipasang di berbagai pusat keramaian.

Tribun adalah medium, seperti halnya TV, seperti halnya portal, seperti halnya sosial media.

Kami ingin menyatukannya untuk membantu Anda menjangkau audience di manapun, kapanpun. Anytime, anywhere.

Tribun Timur, per 9 Februari 2014, genap berusia 10 tahun dan (tetap) menjadi koran dengan pembaca terbanyak di Makassar. Kami percaya, Tribun sampai di level itu karena spirit ini: Inovasi atau Punah (Dahlan Dahi, Pemimpin Redaksi).***

Monday, December 9, 2013

Hotel Cangkringan Jogja: Beda orang Kaya dari Orang Miskin

Konsepnya natural. Lantai kamar mandi dari kayu, daun jendela terbuka lebar.

Dinding dan lantai dibalut granit.

Bathtub besar. Seperti kolam renang mini.

Hotel ini terletak di dekat puncak Gunung Merapi, tempat Mbah Marijan, dulu, berprofesi sebagai juru kunci.

Alamnya asri, menebarkan kehangatan alam pegunungan.

Hotel Cangkringan Jogja bermain di wilayah ekspektasi, expectation --bukan lagi di domain want, apalagi need.

Biar jelas:

Need:
Kebutuhan, dasar, basic.
Saya butuh hotel.

Want:
Keinginan, setingkat di atas need.
Saya ingin hotel mewah.

Expectation:
Saya mengharapkan hotel mewah di puncak gunung bersejarah.

Expectation terkait harapan dan mimpi yang lebih spesifik.

Saya harap hotel mewah dengan kamar mandi besar, pemanas air, bisa leluasa merokok, ada piyama.

iPhone dan Galaxy Note bermain di pasar expectation.

Handphpne senter, yang harganya Rp 300-an ribu, menggarap pasar "need".

Segmentasi pasar, dengan demikian, bisa juga dilihat dari sisi level kebutuhan.

Coba cek: Produk Anda bermain di level yang mana.

Satu lagi: need, want, dan expectation terkait kemampuan finansial konsumen.

Orang kaya, pada dasarnya, adalah mereka yang memiliki peluang memilih yang luas. Makin kaya makin banyak pilihan.

Makin miskin makin sedikit pilihan.

Kita butuh makan. Orang miskin mungkin hanya bisa memilih warteg. Orang kaya bisa memilih apa saja.

Makin kaya makin banyak pilihan.

Pasar ekspektasi adalah pasar orang kaya.

Monday, December 2, 2013

Grand Indonesia: Seperti Lantai Kapal Laut

Dua hal.

1. Manipulasi persepsi 

Grand Indonesia adalah mal mewah di Jakarta. Suasana mewah bosan... Manipulasi menjadi suasana kapal: kayu tua, tebal.. tanpa cat.

2. Batas kepuasan 

Kepuasan tanpa batas. Orang desa ingin suasana kota. Orang kota merindukan suasana desa. Pekerja profesional berdasi rindu suasana kapal laut. Begitulah sebaliknya.

Lihat: Manipulasi Persepsi
Strategi Plastic Fruit: Seperti Pohon Bambu

Marche Restaurant: Membawa Suasana Pasar Tradisonal Swiss


Bagaimana suasana pasar tradisional Swiss?

Datang saja ke Marche di Grand Indonesia, Jakarta.

Marche adalah nama restoran yang didesain ala pasar tradisional Swiss.

Lihat: Manipulasi Persepsi
Strategi Plastic Fruit: Seperti Pohon Bambu

Tuesday, November 26, 2013

Kelas Menengah Indonesia, Sosok dan Perilaku (Survei Litbang Kompas 2012)

Siapa kelas menengah Indonesia? Bagaimana perilakunya, siapa mereka (pendapatan, pekerjaan, jumlah pengeluaran), bagaimana mereka mengonsumsi media massa?

Berikut laporan khusus harian Kompas.

 

Kelas Menengah – Fokus Kompas 08 Juni 2012

GAYA HIDUP

Konsumtif, tetapi Bisa Produktif


KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Pengunjung memilih gadget keluaran terbaru yang dipamerkan di Jakarta, Kamis (7/6). Kelas menengah yang terus tumbuh membuat Indonesia menjadi salah satu pasar potensial untuk produk-produk teknologi informasi.
Beberapa penggemar penyanyi pop Lady Gaga berunjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta, pada Minggu (3/6) lalu. Unjuk rasa dilakukan setelah penyanyi asal Amerika Serikat tersebut membatalkan kedatangannya ke Ibu Kota. Sebelumnya, muncul tekanan dari sekelompok masyarakat dengan ancaman kekerasan agar pertunjukan tidak diizinkan.
Reaksi Gaga membatalkan kunjungannya ke Jakarta dapat dilihat sebagai kegagapan penegak hukum dan pemerintah memastikan benar ada kebebasan berekspresi. Dalam konteks kelas menengah Indonesia, dapat juga dilihat sebagai kegagapan mempertahankan demokrasi substansial yang diandaikan merupakan perhatian kelas menengah.
Dika (24) yang sudah membeli tiket termahal untuk pertunjukan Gaga di Jakarta mengatakan, dia jengkel karena polisi tidak bisa bersikap tegas. Meski begitu, dia mengaku tidak melakukan apa-apa untuk menyatakan keberatannya. ”Apa ada gunanya? Kalau ada gunanya, mungkin saya mau mencoba,” kata dia.
Alih-alih memperjuangkan sungguh-sungguh agar Gaga tetap tampil di Jakarta dan polisi memberi perlindungan, penggemar penyanyi itu memilih terbang ke Singapura ketika ada penambahan hari pertunjukan untuk menampung penggemar dari Indonesia yang kecewa.
Bertambahnya jumlah dan daya beli kelas menengah di Indonesia menurut survei Litbang Kompas mewujud dalam bentuk konsumsi pada sesuatu yang bersifat material: ponsel, barang bermerek, mobil, rumah, dan menghabiskan waktu luang di mal. Konsumsi tersebut berhubungan dengan gaya hidup yang membentuk identitas.
Kejadian yang belum terlalu lama adalah antre ponsel BlackBerry seri Bellagio di mal Pacific Place pada November 2011 yang berakhir dengan dorong-mendorong hingga ada yang jatuh pingsan.
Meskipun suka membeli barang bermerek, tidak berarti kelas menengah bersedia membeli barang-barang mahal tersebut. Redaktur pelaksana sebuah media gaya hidup di Jakarta mengatakan dalam acara pembukaan butik baru barang kulit merek terkenal asal Perancis beberapa waktu lalu, beberapa pemilik tas bermerek terkenal ternyata menggunakan tas bermerek tetapi palsu. ”Mungkin saja mereka tidak tahu tas yang dibawa palsu karena barangkali diberi oleh teman,” kata dia mencoba memberi alasan perilaku tersebut.
Barang palsu tetapi asli sudah menjadi komoditas umum, dengan mudah bisa didapat di toko-toko dan gerai di mal atau melalui individu-individu. Barang tersebut biasanya ditawarkan dengan sebutan KW1 atau KW2 yang menunjukkan kualitas pengerjaan. Cara lain menyiasati harga yang mahal, model yang cepat berganti, serta menjaga gengsi agar tidak tampil dua kali dengan barang sama adalah membeli tas dengan berutang atau menyewa. Tujuannya, tampil berbeda saat foto mereka tampil di majalah gaya hidup.
Solvay Gerke (2000) dalam artikelnya, Global Lifestyles under Local Conditions: The New Indonesian Middle Class (Consumption in Asia. Lifestyles and Identities), menggunakan istilah lifestyling. Yang dimaksud, perilaku mencari identitas melalui gaya hidup mengonsumsi benda-benda yang dianggap mewakili kelas tertentu tanpa benar-benar mengonsumsi benda-benda tersebut karena tidak memiliki kemampuan ekonomi. Dalam surveinya di Yogyakarta dan Padang, Gerke menemukan perilaku tersebut pada kelas menengah yang tidak memiliki kemampuan cukup. Wujudnya, antara lain, anak-anak muda saling bertukar pakai kaus bermerek.
Kembali ke lokal
Meskipun perilaku menaikkan konsumsi seiring kenaikan penghasilan dianggap boros, tetapi negara mendorong konsumsi masyarakat sebagai sumber pertumbuhan ekonomi.
Pada saat yang sama, globalisasi menyeragamkan selera melalui kehadiran jaringan toko di ratusan kota dunia yang menjual produk merek mode tertentu. Hal tersebut menimbulkan reaksi pada sebagian kelas menengah-atas Jakarta untuk menggunakan produk lokal. Ketua Cita Tenun Indonesia (CTI) Ny Okke Hatta Rajasa, misalnya, mengatakan, pembinaan perajin tenun lokal bertujuan membangkitkan ekonomi masyarakat di daerah-daerah. Priyo Octaviano, perancang busana, bekerja bersama penenun di daerah Sidemen dan Nusa Penida, Bali, agar mendapat kain tenun berkualitas dan khas. ”Tenun kita kaya dan memberi nilai tambah pada produk mode kita,” kata Priyo, Rabu (6/3) malam.
Pengakuan UNESCO pada batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia berhasil menjadikan batik sebagai gaya hidup kelas menengah dan menghidupi perajin batik, termasuk Lasem, yang bangkit lagi produksinya sejak pertengahan 2000-an.
Peran perancang busana dan media menjadi penting karena memberi pencitraan tentang identitas yang dapat diraih semua orang melalui gaya hidup. Karena itu, industri pakaian batik tumbuh subur tiga tahun terakhir dengan berbagai segmen kualitas.
Kegandrungan akan konsumsi tersebut dari sisi lingkungan setidaknya memboroskan karbon lebih rendah daripada bila produk tersebut didatangkan dari negeri yang lebih jauh dan menumbuhkan ekonomi lokal. Karena itu, kalaupun pemerintah ingin mendorong konsumsi kelas menengah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, konsumsi tersebut diarahkan memberi nilai tambah pada ekonomi lokal.
Inovasi menjadi penting, tetapi inovasi memerlukan iklim kebebasan berpikir dan berbuat.(Ninuk Mardiana Pambudy)


KONSUMSI MEDIA

Kelas Penonton Panggung Media

KOMPAS/ALIF ICHWAN
Melalui reporternya, media massa menjadi mata bagi aspirasi kelas menengah untuk mengetahui isu-isu politik meskipun mereka enggan untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai organisasi sosial politik.
Oleh YOHANES KRISNAWAN
Media bukan hanya berfungsi sebagai alat kontrol sosial, melainkan juga menjadi cerminan dari gaya hidup. Respons dan cara masyarakat menggunakan media mencerminkan kelas sosialnya. Pertanyaannya, apakah masyarakat hanya memandang media sebagai hiburan atau teman seperjuangan dalam melakukan perubahan sosial?
Apa yang kurang dari pers Indonesia? Bukankah setiap hari televisi, surat kabar, internet, dan radio terus-menerus melakukan fungsi kontrol sosial? Tak henti memberitakan berbagai kasus korupsi dan arogansi aparat negara. Rajin melaporkan penderitaan rakyat dan kealpaan pemerintah dalam membangun daerah-daerah pelosok Tanah Air. Media juga terus-menerus mengingatkan publik pada tujuan awal berdirinya republik.
Membanjirnya informasi dari berbagai media alih-alih memberikan pencerahan, malah menciptakan kebingungan. Lupa arah tujuan berbangsa dan bernegara.
Televisi favorit
Hasil survei Litbang Kompas terkait kelas sosial dan pola konsumsi media menunjukkan, betapa hidup sehari-hari masyarakat, baik kelas sangat bawah, kelas menengah, maupun kelas atas, tak lepas dari pengaruh media. Baik media tradisional, seperti televisi, surat kabar, radio, majalah, dan tabloid, maupun media baru seperti internet yang hari demi hari makin mudah dan murah diakses oleh setiap orang. Namun, televisi menjadi media yang paling diandalkan responden dari semua kelas untuk memenuhi kebutuhan informasi.
Selain berita-berita terkini, berbagai tayangan hiburan merupakan acara favorit yang ditonton oleh mayoritas responden. Sinetron, komedi atau lawak, film, olahraga, musik, reality show, dan sebagainya nonstop mengisi waktu luang selama 24 jam. Jangan heran jika banyak ditemukan rumah tangga yang sepanjang hari menyalakan televisi. Tak sedikit responden yang mengaku menonton televisi selama satu hingga lebih dari tiga jam sehari.
Selain menonton televisi, mereka yang berada di kelas menengah atas dan kelas atas juga lebih terbiasa menjelajah dunia maya melalui internet dibandingkan dengan kelas menengah, kelas bawah, dan sangat bawah. Pada umumnya mereka menggunakan laptop dan ponsel pribadi, yang memang bukan lagi barang mewah untuk mengakses informasi atau berkomunikasi. Mereka sangat meminati situs-situs berita, jejaring sosial seperti Facebook, dan hiburan, tak jauh berbeda dengan bagaimana mereka mengonsumsi informasi dari televisi.
Surat kabar mendalam
Perbedaan mencolok terjadi pada pola membaca surat kabar. Mayoritas responden (62 persen) kelas atas biasa membaca surat kabar setiap hari, sedangkan di kelas sangat bawah hanya 5 persen. Sementara itu, yang membaca setiap hari di kelas menengah atas sebesar 35 persen, kelas menengah 33 persen, dan menengah bawah 16 persen. Semakin rendah kelasnya, cara mereka mendapatkan surat kabar pun cenderung membeli eceran atau meminjam.
Mengapa di tengah perkembangan industri media baru, seperti internet dan digitalisasi televisi, orang masih membutuhkan surat kabar? Bahkan sebagian besar pembaca kelas atas menyediakan waktu membaca satu hingga dua jam. Menurut responden, selain dapat dibawa ke mana-mana dan dibaca berulang kali, surat kabar juga memiliki kelebihan lain, yaitu menyajikan informasi lebih mendalam dibandingkan dengan media lain.
Survei ini juga mengungkapkan adanya perbedaan kebutuhan informasi di setiap kelas. Berita politik dan ekonomi tampaknya paling dibutuhkan kelas atas. Mereka yang tergolong kelas menengah lebih menyukai berita politik dan olahraga. Adapun kelas bawah dan sangat bawah senang membaca berita-berita olahraga dan kriminalitas.
Partisipasi politik rendah
Menyimak topik-topik berita atau informasi favorit di setiap kelas, tampak bahwa kelas menengah atas dan kelas atas memiliki kebutuhan untuk mengikuti wacana politik aktual yang menjadi agenda setting media. Bisa dipahami jika kelas atas juga begitu peduli dengan isu-isu ekonomi, yang mungkin akan berpengaruh terhadap kepentingan ekonomi dan gaya hidup mereka. Berbeda dari kelas atas, berita olahraga dan kriminalitas di surat kabar ataupun tayangan hiburan di televisi bagi kelas bawah dan sangat bawah merupakan sarana relaksasi untuk mengurangi tekanan sosial atau ekonomi.
Terkait persoalan sosial politik, sebagian besar kelas menengah enggan berpartisipasi aktif dalam berbagai organisasi sosial politik. Artinya, mereka kurang termotivasi untuk melakukan perubahan sosial melalui organisasi. Namun, mereka terus memantau berita-berita aktual, di mana isu-isu politik acap kali menjadi berita utama. Terlebih pada kasus-kasus yang melibatkan nama-nama tokoh besar, seperti kasus Bibit-Chandra, kasus ”Bank Century”, kasus ”Gayus Tambunan”, kasus ”Nazaruddin”, kasus ”Angelina Sondakh”, dan seterusnya. Ada tokoh, ada masalah, seolah ada alur cerita yang disajikan secara serial, terus-menerus menjadi berita utama, dan mereka berharap ada klimaks sebagai akhir penayangan kasusnya.
Kelas penonton
Jajak pendapat Litbang Kompas dua tahun lalu mengungkapkan penilaian publik bahwa berita-berita televisi disajikan lebih menarik dibandingkan dengan 2-3 tahun sebelumnya. Lebih mengutamakan sensasi daripada substansi, lebih mengedepankan rating daripada kualitas program, dan lebih bersifat menghibur.
Publik juga menilai bahwa media massa dalam pemberitaannya cenderung berorientasi pada kepentingan komersial daripada kepentingan masyarakat. Tampak di sini bahwa publik sesungguhnya mampu bersikap kritis terhadap media, tetapi di sisi lain mereka pun membutuhkan berita sebagai ”hiburan”.
Menurut dosen Filsafat STF Driyarkara, B Herry Priyono (2003), fenomena tersebut bukan lagi pemenuhan kebutuhan terhadap informasi hiburan, melainkan ”voyeurisme”, obsesi khalayak untuk ”mengintip” dan ”bergosip”, baik pada lingkup personal maupun sosial. Voyeurisme merupakan konsumerisme visual, yang mengultuskan selebritas dan dirayakan secara massal. Jangan heran jika para aparat negara, politisi, profesional, pengamat, atau akademisi kerap tampil dan ditampilkan media layaknya selebritas. Media mengonstruksi penampilan mereka sedemikian rupa agar khalayak bukan hanya terhibur, melainkan juga punya bahan ”gosip”.
Sesungguhnya media dan kelas menengah berada dalam pusaran kapitalisme global, di mana konsumerisme, komersialisasi gaya hidup, dan individualisasi tak bisa lagi dikontrol. Meskipun memiliki kesadaran kritis terhadap fenomena ini, tak ada gerakan perlawanan terorganisasi yang didukung oleh struktur yang kuat dan ideologi yang serius. Dalam media, ruang publik menjadi tempat pertunjukan, dan politik menjadi panggung tontonan (Haryatmoko, 2007). Generasi kelas menengah saat ini adalah kelas penonton yang cukup berkomentar atau mengumpat di jejaring sosial, sambil menikmati secangkir kopi di kafe atau berbelanja di mal-mal.(Litbang Kompas)

SOSOK KELAS MENENGAH

Makin Konsumtif, Makin Konservatif

KOMPAS/PRIYOMBODO
Oleh BAMBANG SETIAWAN
Kelas menengah Indonesia saat ini merupakan lapisan masyarakat yang gigih mengejar identitas kelas lewat gaya hidup, tetapi konservatif dalam ideologi dan memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap peran negara.
Kebangkitan kelas menengah dalam politik sempat menjadi kalimat penanda ketika Soeharto berhasil ditumbangkan dari tampuk kekuasaannya lewat demonstrasi besar tahun 1998. Terlebih, ketika demokrasi liberal kemudian diterapkan di Indonesia dengan pemilihan umum yang bebas tahun 1999, lalu diikuti pemilu langsung anggota parlemen dan presiden sejak tahun 2004, dan berikutnya pemilihan kepala daerah secara langsung sejak tahun 2005. Pengadopsian demokrasi dengan menerapkan prosedur-prosedur yang menjamin kebebasan memilih seolah menggambarkan pesatnya perubahan ideologi kelas menengah dari konservatif menjadi liberal.
Namun, 14 tahun setelah reformasi, pertanyaan sebaliknya justru layak diajukan. Apa yang terjadi dengan kelas menengah kita saat ini? Di tengah ketegangan sosial yang memburuk dan banyaknya pejabat yang korup, kelas menengah lebih suka antre mengejar diskon telepon genggam merek Blackberry daripada membentuk barisan menegakkan pilar demokrasi.
Survei Litbang Kompas yang dilakukan Maret-April 2012 memperlihatkan, semakin tinggi kelas sosial, semakin banyak mereka mengoleksi semua ornamen dan aktivitas gaya hidup. Di satu sisi, masyarakat berlomba menaikkan citra kelasnya dengan berusaha mengadopsi gaya hidup konsumerisme. Di sisi lain, mereka cenderung menanggalkan nilai-nilai demokrasi dan kembali menarik bandul politik ke arah otoritarianisme.
Membandingkan kelas menengah saat ini dengan hasil survei sejenis yang pernah dilakukan Litbang Kompas tahun 1997, gambaran yang tertangkap sungguh mengejutkan. Pada survei yang dilakukan setahun menjelang kejatuhan Soeharto tersebut, gambaran tentang demokrasi begitu menggembirakan. Semua kelas, termasuk kelas menengah, cenderung memandang pentingnya demokrasi.
Namun, sekarang gambaran yang tertangkap adalah masyarakat yang antidemokrasi yang mengharapkan negara lebih berperan dalam mengendalikan ”keliaran” demokrasi. Tirani mayoritas tumbuh subur di semua kelas, mengesampingkan minoritas.
Kecenderungan melakukan simplifikasi nilai demokrasi dengan hanya berpegang pada makna ”mayoritas” menang melawan ”minoritas” ekuivalen dengan perkembangan yang terjadi sejak reformasi bergulir hingga hari ini. Masyarakat, termasuk kelas menengah, kian tak peduli terhadap orang-orang yang termarjinalkan, minoritas yang tersingkirkan dalam tata kehidupan kenegaraan. Terhadap penganut Ahmadiyah yang dikejar-kejar dan dimusnahkan, mereka cenderung tidak ambil pusing. Mereka lebih suka berlindung aman di balik ideologi ”mainstream”.
Kelas menengah merupakan strata sosial dengan anggota terbesar saat ini yang terbentuk oleh mobilitas ke atas yang cukup besar, yakni berupa naiknya status sosial sejumlah orang yang tadinya berasal dari kelas bawah menjadi kelas menengah. Komposisinya juga dilengkapi oleh turunnya sejumlah orang dari kalangan atas dan menengah atas ke kelompok menengah.
Kelas menengah mencerminkan sebuah strata yang secara sosial ekonomi belum cukup kuat. Mereka dicirikan oleh rata-rata pendidikannya yang setingkat SMA dengan penghasilan sekitar Rp 1,9 juta dan pengeluaran Rp 750.000-Rp 1,9 juta per bulan.
Mereka juga dicirikan oleh luasnya variasi pekerjaan, mulai dari wirausaha perseorangan, pedagang, pegawai negeri rendahan, pegawai swasta setingkat supervisor dan karyawan biasa, serta mereka yang memilih profesi sebagai ibu rumah tangga, pelajar/mahasiswa, dan pensiunan. Jumlah mereka diperkirakan berada di kisaran 50 persen dari jumlah penduduk perkotaan yang disurvei.
Kelas menengah juga dicirikan sebagai kelas yang mulai melek teknologi dan lebih banyak pergi ke mal dibandingkan dengan kelas bawah. Mereka memiliki waktu luang lebih banyak dibandingkan dengan kelas menengah atas. Rata-rata pencari nafkah dari kelas ini bekerja 8 jam per hari, sedangkan kelas menengah atas bekerja 10 jam sehari.
Meskipun memiliki kecenderungan mengejar materi dan berusaha tampil modis demi mempertahankan identitas kelasnya, sesungguhnya kelas menengah lebih menampakkan gambaran psikologis tipe pemeluk teguh (believer) yang konvensional, memiliki kepercayaan tebal pada tradisi dan nilai-nilai keluarga, agama, masyarakat, serta kehidupan bernegara.
Kelas ini cenderung tidak berani mencoba sesuatu yang baru tanpa melihat terlebih dahulu bagaimana kelompok menengah ke atas melakukannya. Demikian juga dalam pembelian barang-barang, mereka cenderung memakai merek-merek yang sudah terkenal, dan baru mau coba-coba setelah betul-betul yakin banyak yang memakainya.
Gila karier
Sifat-sifat progresif dan keinginan untuk meraih kemajuan baru muncul di kelas menengah atas, tetapi sayangnya jumlahnya masih terlalu sedikit untuk dapat menjadi kekuatan pendorong perubahan sosial. Kelas menengah atas-lah yang sesungguhnya memiliki ciri-ciri paling menonjol dari sebuah kelas yang jauh berbeda dibanding kelas bawah, dan memiliki karakter khusus yang dapat dibedakan dengan kelas-kelas lainnya.
Kelas ini jumlahnya 1,7-5,5 persen, dan memiliki gaya hidup lebih mewah, menikmati kemakmuran setelah berjuang keras. Mereka adalah para pemilik usaha dengan jumlah karyawan 1-10 orang, para manajer, atau pegawai swasta setingkat supervisor tetapi bergaji besar. Pendidikan mereka rata-rata setingkat sarjana dan memiliki dorongan untuk selalu maju dalam karier.
Rata-rata kelas menengah atas termasuk ke dalam kelompok ”gila karier” (achiever). Tipe ini dicirikan oleh keinginan yang kuat untuk meraih kemajuan, berorientasi pada hasil, dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap keluarga. Dengan kemauan dan kebutuhan yang besar, mereka aktif berada di pasar barang-barang konsumsi kualitas atas. Bagi mereka, citra adalah penting sehingga kelas ini cenderung menyukai barang-barang yang dapat mengangkat prestise, dan menyenangi variasi dalam penggunaan waktu luangnya.
Kelompok profesional muda dari kelas menengah atas yang berusia di bawah 30 tahun menjadi pengunjung paling aktif pusat perbelanjaan. Mereka mendatangi mal beberapa kali dalam seminggu.
Sementara itu, kelas menengah atas yang berusia 46-55 tahun turut andil dalam menyumbang kemacetan di jalur-jalur wisata. Mereka menikmati hidup dengan rekreasi ke luar kota beberapa kali dalam sebulan. Kelompok usia ini pula yang paling banyak membaca koran setiap hari dengan cara berlangganan. Sebaliknya, kelompok muda 22 tahun ke bawah dari kelas ini hampir-hampir tidak suka mencari informasi dari televisi, tetapi mereka sangat aktif menelusurinya melalui internet.
Meskipun tampak menikmati kemewahan hidup dan rakus dalam mengonsumsi barang-barang penunjang gaya hidup kelas atas, pandangan politik kelas menengah dan menengah atas cenderung konservatif, menghargai otoritas dan ”status quo”. Terhadap berbagai permasalahan bangsa, mereka kritis menilai baik atau buruknya keadaan, tetapi belum tergerak untuk mengorganisasi diri untuk mengubahnya.
Kelas menengah dan menengah atas lebih menggantungkan harapan kepada kewenangan negara untuk memperbaiki apa yang buruk, mengambil jarak dengan problem-problem sosial, dan menempatkan dirinya sebagai ”penonton” berbagai peristiwa.
Kedua kelas ini hanya sebatas sebagai ”kelas penceloteh” yang ramai menanggapi sejenak tetapi ragu bertindak. Mereka adalah kelas pencinta sinetron yang selalu mengejar sensasi dan komedi. (Litbang Kompas)

Mozaik Itu Bernama Kelas Sosial


KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Puluhan ribu buruh pada 1 Mei lalu antara lain menyuarakan tuntutan agar sistem buruh kontrak dihapuskan. Dalam penggolongan yang dibuat Karl Marx, masyarakat terdiri atas dua kelas, yaitu kelas majikan dan kelas buruh. Survei Litbang Kompas membuat pengelompokan berdasarkan pengeluaran, terdiri dari kelas atas, menengah atas, menengah, bawah, dan sangat bawah.
Oleh BAMBANG SETIAWAN
Mendefinisikan kelas sosial ibarat mencari mozaik dan menebalkan garisnya di atas kehidupan masyarakat. Bagaimana mengelompokkan masyarakat, dan apa kepentingan di balik upaya memetakan stratifikasi itu?
Upaya pengelompokan strata sosial setidaknya terkait dengan tiga kepentingan. Pertama, kelas sebagai agregat politik. Perbedaan dalam pandangan ataupun sikap politik seseorang dipengaruhi oleh posisinya dalam strata sosial. Oleh karena itu, mengetahui karakteristik kelas dengan jumlah anggota terbesar adalah penting untuk menentukan strategi kampanye apa yang paling cocok dilakukan oleh kandidat calon pemimpin. Kelas terbesar juga menjadi perhatian utama ketika dikaitkan dengan perubahan sosial.
Kedua, berkaitan dengan segmentasi pasar. Sejak produksi barang-barang penunjang gaya hidup semakin banyak diciptakan, mengetahui karakteristik tiap kelas menjadi penting agar penetrasi pasar lebih efektif. Segmentasi terhadap penonton televisi, misalnya, akan membantu industri televisi menentukan jenis program apa yang cocok dengan karakter penontonnya. Pemetaan terhadap daya beli kelas menengah atau atas akan berguna untuk menentukan seberapa besar pasokan barang-barang mewah dapat terserap ke dalam pasar. Dalam dimensi pasar, kelas menengah ke atas menjadi perhatian serius karena menjadi potensi besar pasar komoditas gaya hidup.
Ketiga, berhubungan dengan persoalan kesejahteraan, yang urusannya kerap dikaitkan dengan kinerja pemerintahan. Dalam dimensi ini, yang paling penting adalah memperoleh informasi tentang kelas miskin, yaitu mengetahui seberapa besar jumlah orang miskin dan rawan miskin yang layak mendapat bantuan. Oleh karena itu, kelas miskin menjadi sorotan utama daripada kelas-kelas lain.
Upaya pengelompokan kelas sosial sejak awal sudah menjadi persoalan teoretis dan metodologis yang penuh perdebatan. Dari sisi metodologis, pertanyaan substansial muncul terkait definisi kelas: apakah kelas dibentuk secara subyektif ataukah obyektif? Jika kelas dibentuk secara subyektif, artinya definisi kelas seseorang tergantung pada pengakuan. Meskipun model ini cukup baik karena di sana ada kesadaran kelas, kerap kali ia juga memiliki kelemahan mendasar karena umumnya kelas menengah ke atas tidak mau menempatkan dirinya lebih tinggi daripada kelas menengah.
Jika pengelompokan dilakukan secara obyektif, apakah yang menjadi ukurannya? Apakah parameter ditentukan oleh seorang peneliti ataukah lewat kerja mesin yang dapat meminimalkan subyektivitas peneliti? Jika ditentukan peneliti, seberapa jauhkah obyektivitas dapat dijaga? Jika dilakukan oleh sebuah alat pemrograman, mampukah menghasilkan pemilahan yang memuaskan?
Kriteria penggolongan
Karl Marx (1867) menggolongkan masyarakat ke dalam dua kelas: majikan/borjuis yang menguasai alat produksi, keuangan, lahan, dan teknologi produksi serta buruh/proletar yang menjual tenaganya untuk mendapatkan upah. Sebagai alat ideologi, dikotomi Marx berpengaruh sangat besar terhadap upaya-upaya perjuangan kelas. Namun, penjelasan dialektika oposisi ini belum cukup memuaskan untuk melihat realitas. Pertanyaannya, di manakah letak kaum profesional yang berada di antara kepentingan buruh dan majikan berada?
Max Weber (1920) mengelaborasi kelas sosial dengan lebih luas ketika memandang persoalan kelas bukan hanya bagaimana kekuasaan (power) atas alat produksi terletak, tetapi juga menyangkut derajat ekonomi dan prestise. Tiga hal itu menjadi penentu untuk mengukur derajat kelas seseorang. Seseorang bisa saja berpenghasilan besar dan memiliki usaha dengan karyawan banyak. Namun, karena pendidikannya rendah, ia belum tentu masuk ke kelas atas. Sebaliknya, penyair atau sastrawan bisa masuk kelas menengah karena derajat pengetahuannya, meskipun ekonominya morat-marit dan tidak menguasai alat produksi kapitalistik. Ibu rumah tangga yang hanya mengurus keluarga bisa masuk ke kelas menengah atas karena status pendidikannya tinggi dan punya suami kaya.
Kini, pemetaan sudah lebih terukur dengan berkembangnya berbagai metode untuk mengklasifikasikan kelas sosial. W Lloyd Warner, ahli antropologi dan sosiologi dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, pada tahun 1949 memublikasikan acuan prosedur untuk pengukuran status sosial. Ia menggunakan ukuran derajat pekerjaan, pendapatan, kualitas rumah, dan area tempat tinggal. Berikutnya, klasifikasi AB Hollingshead (1971) lebih sederhana, dengan hanya menggunakan ukuran pekerjaan dan pendidikan untuk membentuk stratifikasi kelas atas, menengah atas, menengah, menengah bawah, dan bawah.
Selanjutnya, analisis yang dikembangkan John Goldthorpe mungkin paling luas dipergunakan dalam berbagai penelitian, termasuk penelitian komparasi kelas menengah di Asia Tenggara yang melibatkan sejumlah lembaga penelitian di Indonesia, Filipina, Thailand, dan Malaysia pada tahun 1996-1997. Ia mendasarkan pemilahan sosial atas dasar pekerjaan dengan membaginya ke dalam 11 strata untuk membentuk tiga kelompok besar, yaitu kelas atas, menengah, dan pekerja.
Penelitian Litbang Kompas terbaru yang dilakukan pada Maret-April 2012 pada dasarnya merupakan gabungan antara dasar-dasar pengelompokan yang dipergunakan Goldthorpe dan memadukannya dengan ukuran yang dilakukan Biro Sensus Amerika Serikat yang mengadopsi model Weberian, yaitu membuat stratifikasi sosial berdasarkan pekerjaan, pendapatan, dan pendidikan. Namun, Litbang Kompas melakukan modifikasi dengan menggunakan ukuran pengeluaran daripada menggunakan ukuran pendapatan (income). Ukuran yang kemudian menjadi dasar pengelompokan adalah pekerjaan, pendidikan, pengeluaran pribadi per bulan, dan pengeluaran keluarga untuk membayar listrik per bulan.
Kriteria penggolongan pengeluaran yang digunakan mengikuti standar kategorisasi Bank Dunia. Pengeluaran per hari di bawah 2 dollar AS dalam penelitian ini digolongkan sebagai kelas miskin atau sangat bawah, 2-4 dollar AS kelas bawah, 4-10 dollar AS kelas menengah, 10-20 dollar AS mencerminkan kelas menengah atas, dan di atas 20 dollar AS mewakili kelas atas. Nilai dollar yang dipakai adalah dollar yang dikonversi dengan mempertimbangkan keseimbangan kemampuan berbelanja (purchasing power parity/PPP). Dengan memakai dollar PPP, kelas miskin di Indonesia adalah golongan masyarakat yang membelanjakan uang sekitar Rp 12.500 ke bawah per hari atau sekitar Rp 375.000 per bulan.
Meski demikian, nilai pengeluaran bukan satu-satunya ukuran untuk menentukan kelas. Kelas seseorang ditentukan oleh skor akhir yang merupakan skor rata-rata dari pembobotan atas pengeluaran (pribadi dan pengeluaran listrik keluarga), pendidikan, dan okupasi.
Survei Litbang Kompas dilakukan terhadap 2.550 responden yang tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar. Responden adalah penduduk berumur 17 tahun ke atas yang diambil dengan metode penarikan multistage random sampling. Dengan tingkat kepercayaan 95 persen, kesalahan pencuplikan berkisar 1,9 persen.(Litbang Kompas)

KONSUMSI

Mulai Tumbuh, tetapi Rapuh

IGNATIUS KRISTANTO
Setiap kali ada produk dari merek terkenal yang diluncurkan, saat itu juga orang mengantre untuk mendapatkan yang pertama. Masyarakat pun menjadi pembelanja agresif.
Satu telepon seluler pintar tidak cukup. Kalau perlu mempunyai dua, tiga, atau bahkan lima ponsel sekaligus. Gambaran ini tidak fiktif, tetapi nyata, seperti temuan hasil survei Litbang Kompas yang dilakukan Maret-April lalu. Ada hubungan antara status kelas sosial dan kepemilikan ponsel pintar. Semakin tinggi kelas sosialnya, semakin banyak peranti ini dimiliki, makin terkenal mereknya, dan makin mahal harganya.
”Saya punya tiga supaya dapat dipakai untuk macam-macam. Maklum, selain untuk menambah jaringan, juga nggak ketinggalan sama teman-teman,” ujar Andi (43), manajer perusahaan komputer di Jakarta, yang mengaku sering berburu ponsel baru.
Apa yang dilakukan Andi menunjukkan sosok kategori kelas menengah atas. Hasil survei juga menunjukkan, sebagian besar mendapat statusnya melalui upaya meniti karier. Dengan latar belakang pendidikan dan jabatan, mereka mampu menunjukkan eksistensi dengan simbol ponsel pintar yang berkualitas dan harganya berbeda dari yang dipunyai kelas di bawahnya.
Gaya hidup kelas menengah seperti itu meniru kelas di atasnya yang mengonsumsi merek terkenal. Clifford Geertz (1989) menyebut, ciri khas gaya hidup kelas menengah adalah ”berkaki dua”. Di satu sisi, gaya hidupnya sudah mengonsumsi barang berkelas, tetapi di sisi lain dalam memilih produk masih meniru kelas atasnya. Ini karena karakter pembentukannya berasal dari kelas atas ataupun kelas di bawahnya sehingga ada percampuran di sana, seperti ditunjukkan hasil survei ini.
Dilema
Membanjirnya produk baru disertai respons antusias memang tidak seheboh dulu. Hal ini jarang dijumpai pada era sebelumnya. Inilah yang disebut era kebangkitan kelas menengah dalam dunia konsumsi yang terjadi dalam 10 tahun terakhir.
Menurut laporan Bank Pembangunan Asia (ADB), kelompok kelas menengah menunjukkan perkembangan jumlah menakjubkan dalam satu dasawarsa terakhir. Kelompok sosial yang pengeluaran hariannya 2-20 dollar AS ini meningkat dari 81 juta jiwa pada tahun 2003 menjadi 131 juta jiwa pada tahun 2010.
Inilah yang dimaksud kebangkitan kelas menengah baik dari jumlah maupun besaran pengeluaran konsumsi yang meningkat pesat. Peningkatan ini disebabkan pulihnya ekonomi Indonesia sejak krisis tahun 1998. Aktivitas ekonomi yang terus tumbuh di atas 5 persen membuat pendapatan masyarakat meningkat dan akhirnya status mereka pun naik kelas.
Konsumsi kelas menengah sangat ditunggu dunia usaha sehingga ekonomi bergulir cepat. Mereka mempunyai dana sisa di luar keperluan pokok. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, dana tersebut dapat mencapai sepertiga dari total pendapatan.
Dana sisa ini ternyata ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, dana ini membuat kelas menengah dapat memenuhi kebutuhan dasar yang lebih baik. Dampaknya pada ekonomi nasional juga signifikan karena akan memacu aktivitas ekonomi. Di sisi lain, hal itu juga memacu budaya konsumtif. Tanda-tanda ini sudah muncul dalam survei ini, salah satunya kepemilikan kartu kredit. Sebanyak 19,2 persen responden kelas menengah mempunyai dua atau lebih kartu kredit. Bahkan, proporsi ini meningkat pada kelas menengah atas, yang mencapai 29,9 persen.(Litbang Kompas)
DEMOKRASI

Perjuangan Primordialisme dalam Kelas

Pandangan konservatif dan ketergantungan yang tinggi kepada peran negara dalam mengatur kehidupan masyarakat menjadi ciri yang melekat pada masyarakat sekarang ini. Meskipun demikian, dalam tiap kelas sosial ada dinamika untuk merebut wacana dengan politik berbeda.
Terhadap sejumlah pandangan kontroversial yang mempertentangkan nilai-nilai konservatisme dan kebebasan, kelas menengah lebih memilih bersandar kepada ideologi konservatif. Mereka cenderung berpandangan bahwa pemerintah seharusnya berperan lebih banyak dalam menjaga moral masyarakat, dan masalah pornografi harus diatur dalam undang-undang.
Mereka juga setuju jika agama seharusnya menjadi prinsip yang melandasi negara Indonesia, tetapi tidak semua agama boleh turut campur dalam menata negara. Hal ini dikuatkan oleh pendapat mereka bahwa pelarangan Ahmadiyah di Indonesia adalah tindakan yang tepat. Selain itu, kelas menengah juga lebih condong untuk menganut paham patriarkat yang memandang laki-laki lebih mampu memimpin negara daripada perempuan.
Pendapat dari mayoritas masyarakat kelas menengah ini seolah menjadi kabut yang menutupi dinamika yang terjadi pada kelompok yang cenderung berpandangan bebas, mandiri, dan toleran. Siapakah kelompok demokratis, yang jumlahnya berada di kisaran 25-30 persen ini?
Kelompok demokratis
Berbeda dengan dengan sifat-sifat hedonis, yang di satu sisi ditularkan oleh kelas atas dan di sisi lain menjadi perjuangan kelas di bawahnya untuk meraih kemewahan kelas atas tersebut, survei Litbang Kompas menunjukkan, pandangan politik adalah persoalan aliran. Ia tidak semata ditentukan kelas sosial, tetapi bergantung pada bagaimana kultur etnis dan agama membentuk pandangan mereka.
Menyingkap pandangan politik kelas ibarat membuka lembar demi lembar labirin yang menutupi entitas terdalam dari jati diri. Di balik sifat konservatif yang muncul menyelimuti permukaan wajah masyarakat Indonesia ada dinamika yang membuat politik harus dipandang sebagai perjuangan primordialisme yang bermain di kelas sosial.
Melihat gambaran mereka tidak lain dari menyingkap lapisan-lapisan primordial. Persoalan demokrasi tidak langsung berhubungan dengan kelas, tetapi harus dikaitkan dengan kontestasi antarkelompok antar-aspek-aspek religi, etnis, dan gender dalam wacana persaingan ideologis.
Pandangan bahwa moralitas menjadi tanggung jawab individu atau anggota masyarakat daripada persoalan negara, misalnya, lebih banyak disuarakan oleh kelas atas yang berusia di bawah 30 tahun dan 46-55 tahun, juga menjadi tuntutan yang disuarakan oleh kelas menengah atas di bawah 22 tahun dan di atas 55 tahun.
Meski terjadi dinamika dalam merebut wacana, gambaran itu tidak cukup mengangkat citra keseluruhan kelas, terutama kelas menengah, menjadi strata sosial yang mencerminkan pandangan demokratis. Ini terjadi karena Indonesia adalah negara majemuk hegemonik, terbentuk dari berbagai komposisi etnik dan agama.(Bambang Setiawan/Litbang Kompas)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...