Tuesday, July 29, 2008

Dari pertemuan kabila dan mimpi Indah Irak

Ask the Tribun Timur Editor
Ketika mencari-cari bahan untuk latihan penulisan feature, saya menemukan tulisan ini di folder saya. Sudah lama sekali tulisan ini saya buat, sekitar tanggal 19 atau 20 April 2003.
Rasanya baru kemarin saya pulang dari Bagdad. Masih teringat bagaimana rambut saya gondrong tidak pernah dicukur selama tiga bulan. Begitu dekat dalam ingatan bagaimana orang-orang Arab yang begitu ramah menyambut kami di sebuah perkampungan di pinggiran kota Bagdad, Irak.


Dari pertemuan kabila dan mimpi Indah Irak

SELURUH tamu berdiri. Seperti berbaris. Ruang pertemuan di tata begitu rupa membentuk barisan. Tidak ada meja moderator untuk rapat sepenting itu. Peserta rapat yang baru tiba mengelilingi hadirin, menyalami satu demi satu. Ada sekitar 30 tamu. Semua tamu disalami, sambil mengucapkan “assalammualaikum”. Tiga puluh kali.

Tersedia enam meja kecil. Dua asbak dari tembaga tergeletak di atasnya. Hadirian merokok, mengisap aroma rokok Sumer atau Hammurabi. Kedua merek itu adalah rokok khas Irak yang terseok-seok mengejar popularitas rokok Amerika dan Inggris seperti Fisher dan L&M.

Sebagian besar yang hadir mengenakan pakaian gamis. Tokoh shiah, yang memakai gamis warna hitam, menutup kepala dengan surban. Warna hitam dan putih. Yang sunni memakai kafayeh warna merah motif putih. Ada pula yang menutup kepalanya dengan kafayeh putih polos.

Begitu si tamu duduk di atas kursi sofa warna cokelat yang empuk, seorang pria langsung menghampiri. Membawa teh sloki kecil khas Arab yang habis sekali teguk. Di susul air putih. Semua tamu meminum air segar itu dari gelas yang sama. Puluhan bibir menyentuh bibir gelas itu. Tapi tidak ada masalah. Begitulah memang adat Arab.

Ruangan pertemuan Modif milik Sayed Jamal Abdul Thahi, pemimpin kabila Messara di pinggiran barat kota Baghdad, mirip aula. Udara segar mengalir dari pintu dan jendela.

Saat pertemuan berlangsung, dua helikopter Amerika terbang rendah melintas di atas gedung. Suaranya menggelegar. Pertemuan terhenti sejenak. Helikopter itu terbang rendah pertanda tidak ada lagi perlawanan berarti dari tentara Irak. Pagi yang cerah itu 16 April. Sembilan hari sudah tentara AS menduduki Baghgad.

Tetamu yang hadir semuanya orang penting. Semuanya pemimpin kabila, pemimpin etnik tradisional. Pengikutnya menyebar di seantero Irak. Sayed Jamal, pria tua dengan badan yang besar, bertindak sebagai tuan rumah. Para pemimpin kabila duduk berderet membicarakan masa depan Irak pasca jatuhnya Saddam Hussein, the Great Leader.

Letkol Polisi Faakh Hasan Ali Thaib nampak di antara hadirin. Ia kelihatan menonjol bukan hanya karena perutnya yang gendut. Thaib hadir dalam pakaian dinas lengkap. Bukan sebagai polisi, melainkan sebagai pemimpin kabila A'tai.

Ada pula Ahmad Mahdi Al Hamdani, pensiunan kolonel tentara dari rejim Saddam. Ia diberhentikan dari militer setelah dipecat sebagai anggota Partai Baath.

Sayed Ali Fawadi, tokoh muda dengan wajah yang segar, membuka pertemuan dengan ucapan “bismillahirrahmanirrahim”. Dengan pakaian hitam dan sorban putih serta kaca mata minus, ulama shiah itu tampak berwibawa. Saat berbicara, semua hadirin yang kebanyakan orang tua diam.

***

SAATNYA kita bersatu, seru Sayed Fawadi. Kita harus segera memulihkan keadaan. Jangan ada lagi penjarahan. Rumah sakit harus segera berfungsi. Jalan-jalan harus dibersihkan.

Sayed Zaher Salami, pemimpin kabila dari Kadzimiyah, tak mau kalah. Dengan berapi-api, ia menyerukan muslim suni, shiah, dan Kristen harus bersatu membentuk pemerintahan. Sambil menyitir ayat Al Quran, pemimpin kharismatik itu berkata, “Kita harus membantu pemerintah karena pemerintah menolong rakyat.”

Amir Abud, pemimpin kabila Kinani, menjelaskan, pemerintah yang dimaksud bukan rejim Saddam dan bukan pula pemerintahan Amerika. “Kami ingin pemerintahan yang dipimpin oleh Irak sendiri. Seorang Muslim, bukan kafir seperti Saddam Hussein,” tandasnya.

Syeik Jamal, tuan rumah, mengingatkan hadirin yang tampak semuanya bersemangat. Mereka seperti menemukan alam baru, dunia tanpa Saddam. “Kita sekarang punya kebebasan berbicara. Pemerintahan baru harus melibatkan semua kelompok di masyarakat,” ucapnya yang disambut anggukan hadirin.

Menurut Syeik Jamal, Irak membutuhkan demokrasi. Pemerintahan baru harus segera dibentuk melalui pemilihan umum. Rakyat Irak kini sedang bersemangat, kendati negeri mereka dijajah AS, karena menemukan udara kebebasan yang telah lama hilang.

Pemilihan umum disambut baik kelompok shiah. Mereka adalah mayoritas di Irak. Pemimpin kharismatik shiah, Syeik Husein Sadr, tidak hadir. Tokoh tua itu sedang terbaring sakit. Ia diperkirakan akan menjadi pesaing kuat Ahmad Chalabi, pemimpin Iraqi National Conggres dukungan Amerika, dan pemimpin Kurdi Masoud Barzani.

Setelah Saddam pergi, kelompok sunni kesulitan mencari figur pemimpin. Sebagian besar tokoh sunni direkrut Saddam memperkuat pemerintahannya. Ketika dia tumbang, tumbang pulalah generasi terbaik kaum sunni.

Figur Chalabi mengundang kontroversi di Irak. Intelektual Irak itu melarikan diri ke Inggris 20 tahun lampau. Belakangan saja ia muncul setelah AS mengkampanyekan penyerbuan Irak dan penggulingan Saddam.

Adapun Barzani tidak populer di Baghdad. Bagaimanapun, suku Kurdi -yang bermukim di Irak utara-- bukanlah bangsa Arab, etnis dominan bukan saja di Baghdad tapi di seluruh Irak tengah dan selatan. Untuk menghadang Barzani, sunni dan shiah kemungkinan akan bersatu.

Tokoh shiah, sebaliknya, akan mengancam kepentingan strategis Amerika di Timur Tengah. Umumnya kelompok shiah, seperti di Iran, membenci Amerika. Bersatunya pemimpin shiah di Iran dan Irak akan merepotkan AS.

Masalah itu bukannya tak disadari para pemimpin Irak. Di sela-sela pertemuan kabila, Amir Abud menjelaskan, rakyat Irak sekarang membutuhkan pemerintahan nasional. Pemerintahan yang melibatkan seluruh kelompok berpengaruh.

Rakyat Irak, katanya, terbiasa hidup toleran. Sunni, shiah, dan Kurdi serta minoritas Kristen akan elok kalau bahu membahu membangun Irak yang hancur berantakan.

Rejim Saddam, kata dia, bukan cuma menindas, tapi menghancurkan tatanan harmoni bangsa Irak. Suku Kurdi dan shiah ditindas. Ahmad Milhani, pemimpin shiah, tahu bagaimana kejamnya Saddam. Tiga anaknya di penjara. Sampai sekarang tidak pernah jelas di mana rimbanya.

“Kami punya mimpi tentang masa depan yang indah,” tutur Amir Abud. “Masa depan tanpa ada lagi kecurigaan antara sunni dan shiah. Kami semua bangsa Irak. Saddam Hussein telah membunuh mimpi kami.”


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...