Tuesday, July 1, 2008

Perang Irak: Saddam, Bush, dan Sharon di Masjid Al Hussein

28 Januari 2002

Saddam, Bush, dan Sharon di Masjid Al Hussein

TIDAK sulit mencari Saddam Hussein di Masjid Abdullah Al Hussein di kota Balad, Amman, Jordania. Arak, misalnya, tahu benar siapa Presiden Irak itu. “Dia orang hebat. Ana oheb Saddam (Saya suka Saddam),” kata pengemis tua itu, sembari mengangkat tangan, dan berteriak, “Allahu Akbar.”

Tahun 1991, ketika pasukan sekutu pimpinan Amerika Serika (AS) membobardir Irak, Arak sedang bersenda gurau di rumahnya bersama istri dan delapan anaknya. Situasi yang kacau memaksanya meninggalkan Basra, kampung halamannya, ke perbatasan Irak-Iran. Dia pergi seorang diri, meninggalkan anak-anak dan istrinya.

Di perbatasan itulah, sebuah bom milik AS meledak. Kaki kanannya diterjang ledakan, dan dia harus pincang untuk selama-lamanya. Beberapa tahun ini, Arak menyambung hidup dengan menjadi pengemis di depan Masjid Abdullah Al Hussein. Rumah suci itu ibaratnya menjadi saksi hidup kekejaman AS di Timur Tengah. Orang-orang Irak berkumpul saban hari, bersama orang-orang Palestina, untuk menjual cincin perak, kain sorban, atau tasbih.

Dari para pengungsi itulah, serta dari orang-orang Jordania-Palestina yang lalu lalang di sana, Arak menggantungkan hidup. “Saya ingin berkumpul dengan anak-anak saya di Basra,” Arak mengungkapkan keinginannya.

Tapi, lelaki itu seperti mengiggau. Bila George W Bush memerintahkan pasukannya menggempur Irak, Arak harus menanggalkan impiannya menghabiskan sisa hidupnya bersama keluarga. Perang telah meghancurkan hidup orang-orang kecil seperti Arak.

Toh, kendati menderita seumur hidup, Arak tetap mencintai Saddam. Bagi dia, Saddam adalah pahlawan. Kaki kanannya hilang bukan karena Saddam, tapi karena AS. “Saddam berjuang untuk kehormatan tanah Arab,” katanya.

***

PENGEMIS seperti Arak, atau penjual tasbih seperti Abu, seorang Palestina, cukup paham perkembangan politik Timur Tengah. Perang di Timur Tengah seolah menjadi mata kuliah rutin dalam kehidupan sehari-hari selama lebih dari setengah abad.

“(Ariel) Sharon akan kembali menjadi Perdana Menteri Israel. Ia akan membunuh lagi lebih banyak orang Palestina,” kata Abu, yang terusir dari kampung halamannya, dan mengadu nasib di Jordania, negeri yang penduduknya mayoritas keturunan Palestina,

Harun, seorang muslim asal Sudan, bercerita bak seorang pengamat politik ketika ditanya pendapatnya tentang rencana serangan AS ke Irak. Padahal, dia cuma seorang penjual tasbih, bergabung dengan orang-orang Irak dan Palestina di depan Masjid Al Husein.

Tinggi, besar, dengan kulit hitam legam, Harun berkata, “Israel punya senjata nuklir dan senjata biologis. Mengapa PBB dan AS tidak menghukumnya seperti Irak.” Dia kemudian berkata lagi, sambil meminum kopi yang disajikan dalam sloki kecil, “This is unjustice world. Kalau kamu mendiskusikan ini, kamu akan gila.” Kemudian ia berkata, ia senang bertemu dengan orang Indonesia, negeri yang dilukiskannya pro Palestina dan diketahuinya sebagai negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Arak atau Harun tentu tidak mengenai Ken Nichols. Anak muda asal Inggris ini juga mendefinisikan dunia sebagai unjustice world, dunia yang tidak adil. Dalam wawancara dengan televisi BBC, kemarin (28/1) waktu Jordania, ia bilang, AS adalah teroris yang membahayakan seluruh dunia. Pasukan Bush barusan menyerbu Afganistan, membunuh rakyat tak berdosa, dan kini ia akan melakukannya lagi di Irak,

Karena itu, Nichols bersama kawan-kawan Inggris-nya akan membentuk perisau hidup, semacam relawan berani mati, di Baghdad ketika AS dan Inggris membobardir ibukota Irak itu.

Semakin Irak ditekan, semakin ia mendapatkan simpati. Ibrahim, warga Irak yang bekerja sebagai tenaga sekuriti di sebuah hotel Amman, mengatakan, Saddam dicintai rakyat Irak. Bagi orang-orang seperti Arak dan Ibrahim, bahkan Abu yang Palestina, Saddam adalah simbol perlawanan Arab.

“Saddam sangat berwibawa. Matanya tajam. Bila ia menatapmu, kamu akan gemetar,” kata Ibrahim, yang juga menggemari pemain sepakbola Turki seperti Hakan Sukur atau Okan Buruk. Ia juga mengaggumi Zinedine Zidane, pemain sepakbola Perancis, yang bermain di Real Madrid (Spanyol). Kebetulan saja, Perancis, bersama Jerman, Rusia, dan China, menentang rencana agresi militer AS ke Irak.

Ibrahim tetap mencintai Hakan Sukur, kendati ia kini bermain di klub Inggris. Padahal Inggris adalah sekutu kunci AS dalam rencana serangan ke Irak. “Hakan Sukur hebat. Sayang ia tidak bermain bagus di Inter Milan,” tuturnya.

Tapi, ada juga yang membenci Saddam. Dialah Said, warga suku Kurdi yang bermukim di Turki. Said dan beberapa etnis Kurdi lainnya setiap hari bergerombol di depan Masjid Al Hussein, menjajakan cincin permata dan tasbih yang cantik-cantik.

“No comment,” katanya ketika ditanya tentang Saddam Hussein. Bagi warga suku Kurdi di Irak Utara, Saddam adalah monster. Dia bertindak kejam terhadap warga Kurdi, karena melakukan oposisi terhadap Saddam.

Suku Kurdi, dimanapun, merasa bersaudara. Dengan bangga, Said menceritakan saudara-saudara Kurdi-nya hidup di berbagai negara, termasuk di sejumlah negara Eropa seperti Perancis dan Jerman,

Orang-orang kecil dari Irak, Palestina, dan Kurdi itu bercerita tentang Saddam, Bush, dan Sharon, di depan Masjid Al Husein. Kebencian dan rasa cinta seolah menyatu. Arak, yang pincang dan terpisah jauh dari keluarganya karena perang, tentu mengerti makna kata-kata itu. (Dahlan, Laporan dari Amman, Jordania)


* Laporan ini dimuat di harian Surya, Surabaya, dan sejumlah koran daerah Kompas Gramedia yang dikelola Persda. Saya berangkat ke Timur Tengah menjelang Perang Irak atas biaya Persda. Sejak 2004, sepulang dari Irak, saya ditugaskan Persda di surat Tribun Timur, Makassar, www.tribun-timur.com

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...