Friday, September 12, 2008

Tragedi WTC, Persepsi Barat, dan Benak Warga Arab

Ask the Tribun Timur Editor
BAGI yang pernah ke Arab, apalagi pada saat Amerika Serikat (AS) sedang, pada saat, dan setelah menggulung Irak, laporan harian Kompas, Tragedi WTC di Benak Warga Arab, edisi Jumat (12/9), tidaklah mengagetkan.
Begitulah memang persepsi Arab pada umumnya: tidak percaya pada AS, bahkan sebaliknya, menganggap Osama Bin Laden sebagai pahlawan dan Al Qaeda sebagai organisasi perjuangan.
Saya tiga bulan di Timur Tengah dan merasakan benar alam berpikir itu. Saya sering mendengar ungkapan perasaan seperti itu, bahkan di dua negara Arab yang sangat pro-AS, Jordania dan Mesir.
Suatu malam, saya menyaksikan alam pikiran yang benar-benar berbeda. Menjelang peringatan 11 September, saya menonton HBO sepulang kantor lepas tengah malam. Saya lupa judul film itu. Seperti biasa saya memainkan remote TV hingga perhatian saya tertuju pada HBO. Cerita sudah mengalir, tentang WTC.
Film itu mengisahkan perjuangan polisi pelabuhan menyelamatkan korban di menara WTC. Saya sampai menitikkan air mata, terharu melihat polisi yang dengan sadar mempertaruhkan nyawanya demi apa yang mereka yakini sebagai kemuliaan, menolong orang lain.
Dua polisi terjebak di reruntuhan. Keluarga mereka dengan panik menunggu di rumah. Anak-anak mereka. Istri mereka. Mereka sedih dan gelisah. Menara kembar itu ditabrak pesawat, ribuan orang jadi korban, dan dua polisi pelabuhan yang terperangkap itu bisa saja memilih menyelamatkan diri dengan cara yang sangat sederhana: tidak usah menolong, toh menara kembar itu sedang terbakar dan runtuh. Menolong orang di menara kembar dalam kondisi seperti itu bukan saja nekat, tapi konyol.
Dua polisi itu memilih apa yang teman-temannya anggap sebagai perbuatan konyol untuk mengikuti naluri manusiawi mereka menolong sesama manusia. Kemuliaan, kemudian saya tahu, berarti apa yang bisa kita berikan kepada sesama manusia. Kita mungkin tidak memiliki harta, tapi bila bisa membantu sesama --dengan apapun yang kita punya (bakat, tenaga, bahkan senyuman)-- itulah manusia mulia.
Film itu begitu dalam pesannya hingga tanpa sadar saya menitikkan air mata. Saya memahami mengapa warga Amerika Serikat begitu marah, begitu sedih, begitu luka (lukanya bahkan begitu dalam) gara-gara gedung WTC ditabrak pesawat, gara-gara korban yang begitu banyak.
Kepada siapa mereka harus marah memang adalah soal yang muncul belakangan. Presiden George W Bush merumuskan apa yang terjadi sebagai "serangan teroris", mengumumkan siapa pelakunya sebagai "Osama bin Laden", berikut organisasi yang menggerakannya, "Al Qaeda".
Dalam suasana marah, sedih, dan terluka, mereka percaya pada apa yang dikatakan Bush. Dengan demikian, kesedihan dan kemarahan ditujukan kepada "teroris", "Osama bin Landen", dan "Al Qaeda". Kemarahan bahkan diperluas kepada "pendukung Al Qaeda" atau bahkan "simpatisannya".
Dan, ketika mesin perang Amerika Serikat menghancurkan kemanusiaan di Irak dan Afganistan, warga Amerika Serikat memaklumi, bahkan mungkin bertepuk tangan.
Tapi, saya pernah tiga bulan di Timur Tengah. Saya menemukan kesedihan dan luka dan saya menangis sama ketika menonton film tentang kisah heroik polisi pelabuhan di WTC.
Anak-anak kehilangan ayah. Ibu kehilangan suami. Suami kehilangan istri. Tangis bayi kelaparan. Pergilah ke Irak... temukanlah mereka di mana-mana, sampai hari ini.
Irak terus menangis, bahkan jauh hari setelah Saddam Hussein yang dianggap Bush sebagai musuh besarnya dipenggal kepalanya.
Di Irak, nyanyian dan tangisan sulit dibedakan. Mereka menari-nari, mendendangkan lagu perang, dan kemudian menangis. Ketika mereka sedang berdoa, dalam doa yang khusyuk, bom-bom berdentum, dan mereka selalu sadar bahwa kematian begitu dekat, begitu nyata, begitu sehari-hari.
Saya membaca laporan Kompas berikut ini, dan saya percaya, itulah memang yang ada di benak sebagian bangsa Arab.

Sumber: Harian Kompas
11 September 2001
Tragedi WTC di Benak Warga Arab
Jumat, 12 September 2008 | 00:38 WIB

Tujuh tahun setelah peristiwa 11 September berlalu. Peristiwa itu telah mengubah peta politik dan keamanan global cukup drastis. Namun, di mata warga Arab, keyakinan mereka tidak berubah, yaitu Osama bin Laden dan Al Qaeda tak ada kaitannya dengan serangan pada menara kembar World Trade Center (WTC) di New York.

Hal itu bukan kesimpulan dari sebuah penelitian ilmiah. Tetapi, itulah yang terungkap dalam percakapan sehari-hari bila topik 11 September dimunculkan, entah pada perbincangan di sebuah pusat perbelanjaan di Dubai, di sebuah tempat parkir di Aljazair, sebuah kafe di Riyadh, atau di berbagai tempat di Cairo.

”Saya tidak percaya apa yang dikatakan pemerintah dan pers Anda. Itu tidak mungkin,” ungkap Ahmed Issab (26), ahli teknik Suriah yang tinggal dan bekerja di Uni Emirat Arab, seperti dikutip International Herald Tribune (IHT).

”Untuk apa mereka mengatakan yang sebenarnya. Saya rasa AS merancang ini sehingga mereka punya sebuah alasan untuk menginvasi Irak demi minyaknya,” tambahnya.

Mungkin mudah sekali bagi warga Amerika mengatakan pandangan seperti itu ”keterlaluan”. Tetapi, itu artinya para pemimpin Barat mengesampingkan kenyataan bahwa pandangan seperti itu terus ada di benak banyak sekali warga Arab.

”Mungkin orang yang melakukan operasinya adalah orang- orang Arab, tetapi otaknya? Tidak mungkinlah. Peristiwa itu diorganisasikan oleh orang lain, Amerika Serikat atau orang Israel,” kata Mohammed Ibrahim (36), pemilik sebuah toko pakaian di Cairo.

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan WorldPublicOpinion.org di 17 negara, tidak semua orang memercayai Al Qaeda sebagai otak di balik penyerangan itu.

Secara rata-rata, hanya 46 persen yang memercayai penjelasan AS mengenai pelaku penyerangan itu. Sebanyak 15 persen lainnya mengatakan Pemerintah AS sendirilah yang merancang tragedi itu, 7 persen mengatakan Israel pelakunya, 7 persen lainnya mengatakan pihak-pihak lain sebagai pelakunya, dan satu dari empat mengatakan tidak tahu.

”Luar biasa karena tujuh tahun sudah tidak ada konsensus internasional mengenai siapa yang berada di balik peristiwa itu,” ungkap Steven Kull, Direktur WorldPublicOpinion.org.

Konspirasi

Ada banyak alasan mengapa warga Arab menganggap penyerangan 11 September merupakan bagian dari sebuah konspirasi melawan Muslim. Banyak orang mengatakan, hal itu tidak terkait dengan tindakan-tindakan Barat, tetapi lebih kepada kebijakan- kebijakan Barat.

Memang banyak desas-desus yang beredar luas segera setelah 11 September. Dan, informasi itu disebarluaskan oleh sejumlah televisi sehingga banyak yang memercayainya.

Desas-desus utama adalah warga Yahudi tidak pergi bekerja di WTC pada tanggal itu. ”Mengapa pada 11 September orang-orang Yahudi tidak pergi bekerja di gedung itu. Semua orang tahu mengenai ini. Saya melihatnya di TV dan banyak orang membicarakan ini,” kata Ahmed Saied (25), sopir seorang pengacara di Cairo.

Zein al-Abdin (42), ahli listrik yang ditemui di kafe Al Shahat di Cairo, menegaskan, yang utama adalah serangan 11 September itu merupakan serangan terhadap bangsa Arab.

”Mengapa mereka tidak pernah menangkap dia, Bin Laden? Mereka tidak menangkap dia karena dia tidak melakukannya. Apa yang terjadi di Irak menguatkan bahwa serangan itu tidak ada kaitannya dengan Bin Laden atau Al Qaeda. Mereka bermaksud menyerang Arab untuk menyenangkan Israel. Itulah penyebabnya,” ungkapnya.

Bagi banyak warga Arab, serangan AS ke Afganistan dan Irak, serta menghukum mati Saddam Hussein, semakin menegaskan niat AS untuk menyerang dunia Islam. Hal ini kian menumbuhkan kebencian mereka terhadap AS. (IHT/OKI)



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...