Thursday, July 10, 2008

Bahan Pelatihan Calon Redaktur: Indepth Reporting dan Investigative Reporting

konsep jurnalistik
(Catatan: Materi untuk pelatihan internal ini sudah diedit)

Indepth Reporting dan Investigative Reporting
(untuk redaktur surat kabar harian)
Oleh
Dahlan
Wakil Pemimpin Redaksi II
Tribun Timur
(Disampaikan di Batam, 13 Februari 2007, pada pendidikan/latihan calon redaktur untuk proyek koran Persda di Riau)
Statemen
Ini bukan kuliah tentang konsep jurnalistik. Ini pengantar tentang cara kerja jurnalistik di surat kabar harian.
Sikap Dasar
  1. Sebelum memilih topik liputan, harus benar-benar dicamkan bahwa Anda tidak membuat laporan untuk diri Anda sendiri, tapi untuk pembaca. Tempatkanlah diri Anda pada posisi pembaca untuk mengetahui topik liputan apa yang mereka inginkan, bagaimana cara menyajikannya
  2. Indepth reporting dan investigative reporting, sebagai produk jurnalistik, dihasilkan oleh sikap kritis, rasa ingin tahu, dan idealisme seorang wartawan. Kedua alat jurnalistik ini juga merupakan cara surat kabar mempertahankan eksistensinya di tengah serbuan jurnalisme flash news yang menjadi kekuatan media audio, audio visual, dan internet.
Indepth reporting (indepth news)
  • Laporan jurnalistik (dikerjakan berdasarkan prinsip-prinsip jurnalistik: menyucikan fakta, memakai prosedur check and recheck, menulis secara berimbang, dst)
  • Mendalam (lebih dari sekadar hard news, diperkuat data yang lengkap)
  • Multiangle (satu topik, digarap dari berbagai sudut pandang: 5W 1 H )
Obyek Liputan
  • Semua obyek liputan jurnalistik

Angle Liputan:
  • People
  • Masalah mikro
  • Masalah makro
  • Community
  • Kedekatan geografi (proximity)
  • Kedekatan demografi (seks, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dst)
  • Kedekatan psikografis (lifestyle)

Berapa Lama
Tergantung. Bisa untuk edisi besok maupun untuk edisi beberapa hari kemudian yang akan disajikan dalam liputan khusus satu atau dua halaman maupun tulisan bersambung.
Cara Penggarapan
Liputan indepth selalu rumit dari segi isi (content) maupun design (perwajahan, tampilan). Karena itu, ada baiknya, biasakanlah membuat organisasi kerja. Buat rencana (desain) liputan dan rencana (design) halaman.
Bersyukurlah bila Anda memiliki reporter yang memiliki kualifikasi mampu membuat design liputan. Bila tidak, Anda harus membuatnya sendiri.

  1. Content
  1. Tentukan angle liputan (lihat Angle Liputan).
  2. Foto-foto apa saja yang diperlukan.
  3. Siapa narasumbernya.
  4. Data bisa diperoleh di mana.
  5. Kapan deadline. Apakah deadline bersamaan ataukah deadline per bagian laporan (deadline grafis biasanya lebih dulu karena harus melibatkan design grafis. Proses pembuatannya juga lebih lama).
  6. Siapa mengerjakan apa. Bentuk tim.
  7. Evaluasi bahan yang diperoleh. Buatlah dalam bentuk listing. Cek bahan apa yang kurang dan masih mungkin dikembangkan sebelum deadline.
  8. Setelah semua oke, buatlah perencanaan halaman berdasarkan listing bahan berita yang tersedia (naskah, foto, bahan grafis).
B. DESIGN
Buatlah desain halaman

Beberapa Panduan Penyajian
Dalam liputan indepth, banyak bahan berita yang hendak disajikan. Semua terasa menarik. Pada situasi seperti ini, langkah sederhana yang harus dilakukan adalah membuat skala prioritas berdasarkan pertimbangan kelengkapan berita dan kebutuhan pembaca.

Investigative Reporting
* Investigasi adalah cara kerja. Indepth reporting adalah hasil kerja.
* Indepth reporting bersifat membeberkan. Hasil investigative reporting melaporkan siapa yang salah, siapa yang jahat, siapa yang curang, dst.
* Boleh dikata, tulisan mendalam merupakan salah satu batu pijakan sebelum memulai investigasi.
* Investigative reporting memerlukan hipotesa. Investigator mencari fakta untuk menguji hipotesa lalu membuat kesimpulan sebagai laporan.
Dalam melakukan investigasi, wartawan bekerja layaknya detektif: mencari data, fakta, dokumen, kesaksian dengan tujuan mencari siapa yang salah dengan aneka teknik seperti penyamaran bahkan pencurian dokumen.
Masalahnya, dalam etika jurnalistik disebutkan, dalam mencari bahan berita, wartawan harus memperkenalkan diri secara jujur. Wartawan harus menggunakan cara-cara yang tidak melanggar hukum dan etika dalam mencari dan mengumpulkan bahan berita.
Berikut beberapa pertanyaan etis dan hukum: Bolehkan wartawan yang sedang melakukan investigasi melakukan penyamaran? Bolehkan mencuri dokumen? Bolehkan berbohong mengenai identitas kita sebagai wartawan saat mencari dokumen, data, keterangan, dan kesaksian?
Ada yang bilang boleh atas dasar tujuan mulia suatu investigasi. Bahwa investigasi dilakukan untuk kepentingan publik.
Pertanyaannya, apakah tujuan yang baik harus dilakukan dengan cara melanggar hukum? Apakah tujuan yang baik harus dicapai dengan cara yang melanggar norma dan etika? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini masih jadi bahan perdebatan.
Di Indonesia, investigative reporting masih jarang dilakukan. Satu karena biaya yang mahal. Dua, waktunya yang lama (bulanan, bisa tahunan). Tiga, risiko: jurnalisme investigasi harus menghasilkan kesimpulan: si ini bersalah, si ini curang, dst. Karena itu, keempat, penulis laporan investigasi harus berkonsultasi dengan pengacara sebelum menurunkan laporannya.
Istilah investigative reporting juga belum lama benar. Andreas Harsono (ISAI, 1999) menulis, istilah itu mulai populer di AS tahun 1975. Ke Asia, mula-mula mampir di Filipina, 1989. Salah seorang tokohnya, yang juga "men
ularkan" ilmunya ke beberapa kota di Indonesia, adalah Sheila Coronel.
Coronel secara singkat membagi proses investigasi ke dalam dua bagian. Pembagian ini untuk mempermudah seorang investigator dalam mengatur sistematika pekerjaannya. Bagian pertama merupakan bagian penjajakan dan pekerjaan dasar. Sedangkan bagian kedua sudah berupa penajaman dan penyelesaian investigasi:

Bagian Pertama
• Petunjuk awal (first lead)
• Investigasi pendahuluan (initial investigation)
• Pembentukan hipotesis (forming an investigative hypothesis)
• Pencarian dan pendalaman literatur (literature search)
• Wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli (interviewing experts)
• Penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail)
• Wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi (interviewing key informants and sources)

Bagian Kedua
• Pengamatan langsung di lapangan (first hand observation)
• Pengorganisasian file (organizing files)
• Wawancara lebih lanjut (more interviews)
• Analisa dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data)
• Penulisan (writing)
• Pengecekan fakta (fact checking)
• Pengecekan pencemaran nama baik (libel check)
Demikian. Terima kasih. Semoga bermanfaat.
Makassar, 6 Februari 2007

--
Tribun Timur, Makassar
www.tribun-timur.com

Ask the Tribun Timur Editor
dahlandahi.blogspot.com


Newmedia, Surat Kabar, Internet, Berita Online 



Laporan dari Kuala Lumpur (68).
Laporan dari Cina (7) 
Laporan dari Doha (13) 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...