Showing posts with label Valens Doy. Show all posts
Showing posts with label Valens Doy. Show all posts

Tuesday, July 8, 2008

Tuan Guru Bajang, Gubernur Termuda dari NTB

Tuan Guru Bajang KH Zainul Majdi mengejutkan NTB dan dunia politik nasional. Usianya baru 36, penghafal Al Quran itu memenangkan Pilkada Gubernur NTB menurut perhitungan cepat PT LSI.

Tuan Guru Bajang akan menjadi gubernur termuda tidak saja di NTB, tapi juga di Indonesia.

Politisi PBB, yang menggandeng calon wakil gubernur dari PKS, itu mengkampanye pendidikan dan kesehatan gratis seperti halnya Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu'mang di Sulawesi Selatan.

Ia mengalahkan calon yang diusung partai besar secara nasional, Golkar dan PDIP.

Headline Tribun Timur, Makassar
edisi:

Selasa, 08-07-2008 
PBB-PKS Kalahkan Golkar di NTB
Hasil Quick Count PT LSI di Pilgub NTB, Zainul- Badrul Raup 36,7 Persen Suara; Ikuti Jejak Pilkada Jabar dan Sumut; PKS Sulsel: Ini Bisa Jadi Inspirasi di Pemilihan Wali Kota Makassar
 
Mataram,Tribun - Pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diusung koalisi Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Bulan Bintang (PBB), Tuan Guru Bajang Zainul Majdi-Badrul Munir, memenangkan pemilihan gubernur versi penghitungan cepat (quick count), Senin (7/7).
 
Hasil quick count yang dilakukan PT Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan pasangan yang diusung koalisi partai Islam ini mengantongi 36,72 persen suara.
"Jumlah suara yang kita peroleh berasal dari 96,88 persen TPS yang ada," kata staf LSI di Mataram, Deni.
Posisi kedua ditempati pasangan Lalu Serinata-M Husni Djibril yang diusung koalisi Partai Golkar, PDIP, PBR dan Partai Patriot dengan suara 28,75 persen.
Di posisi ketiga diisi pasangan Zaini Arony-Nurdin Ranggabarani dengan perolehan 19,97 persen suara. Pasangan ini diusung oleh PPP dan PKB.
Sementara diposisi terakhir (keempat), pasangan Nanang Samodra-M Jabir yang diusung PAN, PD, dan PKPB. hanya meraih suara 16,6 persen.



Jabar-Sumut
Pasangan Zainul-Badrul mengikuti jejak pasangan Achmad Heryawan-Dede Yusuf di Pilkada Jawa Barat (Jabar) yang diusung oleh PKS bersama PAN.
Selain di Jabar, PKS bersama koalisinya juga mememangkan Pilkada Sumatera Utara (Sumut) dengan mengusung paket Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho.
Di Pilkada Sumut, PKS berkoalisi dengan dua partai Islam lainnya, PPP dan PBR. Seperti halnya Jabar, Sumut juga dikenal sebagai basis PDIP dan Golkar.
Sementara di Pilkada Maluku Utara, jagoan PKS, Abd Thayb Armain-Abd Gani Kasuba, juga diklaim memenangkan pilkada gubernur. Namun hingga saat ini situsi konflik masih terus berlanjut di provinsi pecahan Maluku itu sehingga masih status quo.

PKS Sulsel
DPW PKS Sulsel menyambut baik hasil kemenangan duet Zainul-Badrul di Pilkada NTB. Ketua DPW PKS Sulsel, Nadjamuddin Mara Hamid, menyebut kemenangan tersebut sebagai inspirasi bagi kandidat yang diusung parrtainya pada sejumlah pemilihan wali kota dan bupati di Sulsel.
"Apa yang diperlihatkan oleh koalisi PKS-PBB di NTB, kita harapkan bisa menjadi motivasi kita di Sulsel. Kemenangan PKS dipersembahkan untuk umat," kata Nadjamuddin.
Khsusu di Pilkada Makassar, paket yang diusung PKS bersama koalisinya, Halim Abd Razak-Jafar Sodding, menjadi pasangan pertama yang resmi mendaftar di KPU Makassar.
"Kita terus mempersolid jaringanm kader di tingkat akar rumput, terutama menjelang Pemilihan Wali Kota Makassar. Kemenangan itu bisa diraih dengan kerja keras yang dibantu dengan doa," katanya.

Jumpa Pers
Zainul bersama Badrul berjanji melaksanakan semua visi dan misi yang disampaikan pada saat kampanye yang lalu. "Akan kami laksanakan dalam waktu sesingkat-singkatnya," ujarnya sewaktu menggelar jumpa pers di Hotel Grand Legi Mataram, kemarin petang.
Menurutnya, semua program yang dijanjikan, termaasuk bebas biaya pendidikan, akan dikomunikasikan dengan DPRD NTB. Pihaknya juga akan memprioritaskan program yang betul-betul menyentuh masyarakat.
Dia juga berniat untuk menjalankan kegiatan yang populis. "Kami ingin pemimpin di NTB ini betul-betul berpihak kepada rakyat," katanya.
Sebagai seorang ulama pemimpin Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan di Pancor Lombok Timur, Zainul menegaskan tidak akan terjadi peristiwa seperti pilkada di Maluku Utara bila memenangkan pemilihan gubernur.
Masyarakat diyakininya akan menjaga ketertiban daerah. Tidak karena pilkada dan kepentingan akan mengorbankan daerah. "Angan-angan saya adalah persaudaraan," ucapnya.
Setelah ditetapkan secara resmi oleh KPU NTB sebagai pemenang pilkada, dia akan mendatangi para pasangan calon lain yang dianggapnya sebagai orangtua.
Melihat kredibilitas lembaga quick qount selama ini, tidak pernah berbeda dengan hasil KPU, dia yakin akan dimenangkan secara resmi. "Saya merasa seperti air mengalir saja menyambut kemenangan ini," ujarnya kemudian.

Sumber: Tribun Timur, Makassar
http://www.tribun-timur.com/view.php?id=86776
Selasa, 08-07-2008 
Usia 36, Calon Doktor di Kairo
CALON Gubernur NTB yang diusung PBB-PKS, Tuan Guru Bajang (36), adalah kandidat doktor tafsir ilmu Al Quran di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Dia juga penghapal Al Quran.
 
Selain sebagai dai mudah, Bajang juga adalah politisi PBB yang duduk di kursi DPR RI. "Kemampuan kepemimpinannya juga sudah teruji bahkan sejak Bajang masih duduk di bangku sekolah dasar," begitulah profil Bajang yang dikutip di situs PKS.
Bajang disebut sebagai tokoh utama di balik suksesnya pengembangan organisasi Islam Nahdlatul Wathan (NW) Pancor. Di bawah kepemimpinannya, NW berkembang pesat.
Sebagai seorang ulama, Tuan Guru Bajang tidak termasuk dalam kalangan ulama yang inklusif, dalam arti menerima mentah-mentah seluruh warisan tradisi budaya yang telah ada dan tidak serta-merta menolak seluruh hal yang berbau "modern".
Ia memegang prinsip Almufahazatu `ala-Iqadimasholeh, wal akhdzu bil jadidil ashlan atau memelihara tradisi yang baik dan menerima hal baru yang baik. Bajang merupakan sosok ulama yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan.

Serifikasi Guru
Sewaktu menjadi anggota Komisi X DPR RI, Bajang bersama anggota dewan lainnya melahirkan undang-undang sertifikasi guru dan dosen.
Sedangkan wakilnya, Badrul Munir, seorang birokrat berpengalaman yang selama meniti karirnya banyak berkecimpung dalam bidang perencanaan pembangunan daerah.
Badrul juga seorang penulis dan akademisi. Badrul telah banyak melahirkan sejumlah buku yang menjadi pegangan sejumlah univeritas di Indonesia.
Badrul menyandang gelar pegawai negeri dengan prestasi luar biasa pada tahun 2002. Ia juga pernah meraih Citra Insan Pembangunan Indonesia, sebuah penghargaan nasional atas karya, dedikasi, dan loyalitas di bidang pembangunan nasional dan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas di lingkungan pemerintahan.


Links berita-berita www.tribun-timur.com mengenai Tuan Guru Bajang dan hasil Pilkada NTB:
http://tribun-timur.com/google.php?domains=tribun-timur.com&q=Tuan+Guru+Bajang&sa=Cari&sitesearch=tribun-timur.com&client=pub-6857802448089581&forid=1&ie=ISO-8859-1&oe=ISO-8859-1&safe=active&cof=GALT%3A%23008000%3BGL%3A1%3BDIV%3A%23336699%3BVLC%3A663399%3BAH%3Acenter%3BBGC%3AFFFFFF%3BLBGC%3A336699%3BALC%3A0000FF%3BLC%3A0000FF%3BT%3A000000%3BGFNT%3A0000FF%3BGIMP%3A0000FF%3BFORID%3A11&hl=in

--
Tribun Timur, Makassar
www.tribun-timur.com

Ask the Tribun Timur Editor
dahlandahi.blogspot.com

Monday, July 7, 2008

Pilkada Wali Kota Makassar, Calon PKS, Golkar, PDK, Demokrat, dan Calon Independen

Peta pertarungan di Pilkada Makassar mulai kelihatan. Calon dari PKS, Halim Razak dan Jaffar Sodding, sudah mendaftar di KPU Makassar, Senin (7/7/08) ini. Pasangan tersebut merupakan pasangan pertama yang secara resmi mendaftar.
Dua pasangan lainnya, Ilham Arief Sirajuddin-Supomo Guntur (IASmo) yang diusung Golkar Makassar, PDIP, dkk serta Idris Manggabarani-Adil Patu (PDK, Demokrat, dkk), akan menyusul. Sementara calon PPP Makassar, Ridwan Musagani, masih harus ditunggu perkembangannya.
Sementara itu, beberapa calon independen masih berlomba memenuhi persyaratan dukungan minimal. Beberapa calon potensial masih kekurangan sekitar 5.000 sampai 10 ribu surat dukungan lagi.

Berikut headline surat kabar Tribun Timur edisi Senin, 7 Juli 2008:
http://www.tribun-timur.com/view.php?id=86611&jenis=Front

Senin, 07-07-2008 
Halim-Jafar Pendaftar Pertama Pemilu Wali Kota
Diantar Massa PKS dan Koalisi Partai Pengusuang, Halim- Jafar Naik Truk Tronton ke KPU Makassar; Idris-Adil Daftar 10 Juli, Ilham-Supomo 12 Juli; Ridwan-Irwan Paturusi Sudah Ambil Formulir
 
Makassar, Tribun - Pasangan Halim Abd Razak-Jafar Sodding menjadi pendaftar pertama sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar, Minggu (6/7).
Pasangan yang diusung koalisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama Partai Merdeka, PNBK, PNI Marhaenisme, dan Partai Sarikat Indonesia (PSI) ini datang ke KPU dengan menggunakan mobil truk tronton.
Sekitar 1.000 pendukung pasangan ini, sebagian besar mengenakan atribut PKS.
 
"Ini adalah bagian dari kejutan yang pernah kami janjikan.
Masih akan ada kejutan-kejuatan berikutnya," kata Jafar usai mendaftar di KPU Makassar.
Partai pengusung Halim-Jafar mengantongi 15,82 persen suara dengan rincian PKS 13,06 persen (lima kursi), Partai Merdeka 0,94 persen, PNBK 0,69 persen, PNI Marhaenisme 0,52 persen, dan PSI 0,62 persen.
Sementara pasangan yang diusung Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), Partai Demokrat, dan Partai Patriot Pancasila, Idris Manggabarani-Adil Patu (idial), akan mendaftar pada 10 Juli nanti.
Kemudian disusul oleh pasangan yang diusung Golkar, PDIP, PBB, PBR, dan PDS, Ilham Arief Sirajuddin- Supomo Guntur (IASmo) pada 12 Juli.
Kedua pasangan ini juga menjanjikan mendaftar dengan diantar secara meriah oleh ribuan pendukung mereka masing-masing.
"Insya Allah, teman-teman dari partai pengusung dan simpul-simpul pendukung kami dari berbagai wilayah akan mengantar paket idial ke KPU," kata juru bicara tim Adil Patu, Syamsu Rizal MI.

Diantar Kader
Sejak pukul 11.00 wita, sekitar 1.000-an simpatisan PKS, PNBK, Partai Merdeka, PSI, dan PNI Marhaenisme, sudah berkumpul di halaman Masjid Nurul Aliyah, kompleks Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sulsel, Jl Pelita Raya, Makassar.
Jafar tiba sebelum salat Lohor. Sedangkan Halim yang datang menggunakan mobil Toyota Alphard hitam tiba saat hampir seluruh simpatisan menggelar salat berjamaah di masjid tersebut.
Usai salat, pasangan ini kemudian mengendarai truk tronton yang biasa digunakan untuk mengangkut beras menuju kantor KPU Makassar di Jl Toddopuli Raya, Makassar. Di atas truk seluruh pimpinan parpol pengusung berdiri dan berorasi sambil meneriakkan yel- yel Halim-Jafar.

Dalam perjalanan menuju KPU, iring-iringan kendaraan roda dua dan empat sempat membuat arus kendaraan di Jl AP Pettarani melambat. Kibaran bendera PKS dan partai pengusung lainnya menambah semarak suasana Minggu siang kemarin.

Tidak Muluk-muluk
Pasangan Halim-Jafar mengaku tidak akan muluk-muluk menjanjikan rakyat Makassar bila terpilih sebagai orang nomor satu dan nomor dua di Makassar periode 2009- 2014.
Keduanya hanya berjanji melanjutkan program Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang yaitu pendidikan dan kesehatan gratis.
Selebihnya, mereka berjanji menciptakan lingkungan yang sehat bagi seluruh warga Makassar dengan cara pengadaan air bersih yang memadai di seluruh Kota Makassar.
Argumen yang dilontarkan Halim, bila masyarakat mengonsumsi air bersih, maka mereka akan hidup dengan sehat dan dapat bekerja dengan baik.
Sebaliknya bila kualitas air yang dikonsumsi tidak memadai, akibatnya akan buruk bagi kesehatan masyarakat.
"Bila semua bisa terealisasi, Insya Allah masyarakat akan hidup dengan sejahtera," kata Halim, yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) ini.
Ketua DPC PKS Kota Makassar, Muhammad Taslim, mengatakan, upaya mengulur waktu mendeklarasikan pasangan Halim-Jafar merupakan salah satu strategi partainya untuk memenangkan pasangan tersebut.
"Sebenarnya sejak satu bulan lalu kami sudah menggadang-gadang pasangan ini. Demikian pula dengan koalisi partai pengusungnya. Cuma sekarang baru kita munculkan agar memberi kejutan bagi pasangan lain," kata Taslim.
Sedangkan Jafar menambahkan, keputusan memilih Halim sebagai calon wali kota juga merupakan salah satu strategi partainya untuk memenangkan pemilihan wali kota mendatang.
"Kita akan solid dari sekarang sampai selesai nanti. Strategi kami mendatangi rumah-rumah warga menawarkan visi misi dan figur. Jika ini bisa dilaksanakan dengan baik, kita akan menang," kata mantan Ketua DPC PKS Makassar yang juga Wakil Ketua DPRD Makassar ini.
Jafar juga mengatakan bahwa ia tidak ingin membuat akronim dari namanya dan Halim. Ia khawatir jika dibuat akronim, akan rawan diplesetkan oleh orang lain.

Komitmen Idial
Pasangan idial menyatakan kesiapannya merealisasikan aspirasi buruh, termasuk penetapan upah minimum kota (UMK) Rp 950 ribu.
Aspirasi lain yang mengemuka dari pasangan ini adalah upah minimum provinsi (UMP) sebesar Rp 740 ribu dan pelayanan jaminan sosial tenaga kerja bagi seluruh buruh juga siap direalisasikan.
Idris menyatakan itu dalam orasinya di acara Deklarasi Forum Federasi Serikat Buruh di Restoran Pualam Lantai I, kemarin.
Ia mengatakan, kesejahteraan buruh itu sudah menjadi kewajiban pemerintah sehingga perlu diakomodir. Hadir pula Ketua Partai Patriot Pancasila Sulsel Diza Rasyid Ali, elite PDK Makassar, dan sejumlah pimpinan serikat pekerja yang tergabung dalam federasi ini.

Militansi Kader
Sedangkan Ilham Arief Sirajuddin mengingatkan seluruh kader Golkar tetap waspada dan bekerja keras menghadapi Pemilu Wali Kota Makassar.
Hal ini disampaikan Ilham ketika berbicara di hadapan sekitar 200 peserta pembekalan dan pengendali lapangan tim IASmo Golkar di sekretariat Golkar Makassar, Jl Lasinrang, Makassar.
"Semua kandidat adalah lawan berat sehingga dibutuhkan militansi dan kerja keras untuk mencapai kemenangan," kata Ketua DPD II Golkar Makassar ini.
Ini adalah konsolidasi pertama Ilham dengan kader Golkar setelah mendapat lawan resmi. "Kader Golkar jangan terlena dengan wacana bahwa kita sementara unggul berdasarkan hasil survei. Seluruh kader maupun tim dan relawan tetap waspada dan aktif menjaga konstituennya," lanjut Ilham.
Selain Ilham, Ketua Bappilu Golkar Makassar, Zainuddin Sardjimin dan Farouk M Betta (sekretaris) juga menjadi pemateri.

Ridwan Musagani
Pasangan Ridwan-Irwan merancang jadwal pendaftaran ke KPU Makassar, Rabu (9/7). Agenda dan teknis pendaftaran sekaligus deklarasi partai pengusung dan pasangan calon dibahas di kediaman Ridwan, Jl Arief Rate, Makassar, tadi malam.
Hadir dalam rapat teknis tersebut adalah Irwan, mantan legislator Golkar Andi Patarai Wawo, dan Ketua DPC PPP Makassar terpilih Mardju Chair.
Sejumlah elite partai pengusung seperti Partai Syarikat Islam (PSI), Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI), dan sejumlah partai nonparlemen lainnya, juga hadir.
Ridwan mengatakan, usai deklarasi, pihaknya langsung menuju kantor KPU Makassar dengan diawali salat Lohor di Masjid Panakukang.

Pasangan ini mengakronimkan namanya dengan dua huruf RI (Ridwan-Irwan). "Karena akronimnya RI yang bisa dimaknai dengan negara kesatuan maka warna yang dipopulerkan, baik atribut dan kaos, berwarna merah putih," kata Tim Media RI Andi PataraiWawo.
Ditanya apa saja partai pengusung selain PPP, Patarai belum mau menyebutkan. "Nanti kita lihat di KPU, kita sepakat merahasiakan dulu," kata aktivis Pemuda Panca Marga ini.
Belum Lengkap
Kendati dari sisi dukungan suara partai sudah memenuhi syarat, namun KPU Makassar menyatakan berkas pasangan Halim-Jafar belum lengkap.
Masing-masing partai pengusung tidak melampirkan surat keputusan dari dewan pimpinan pusat (DPP) mereka.
"Syarat ini mutlak harus ada dan dilampirkan saat perbaikan nanti," kata Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Pendaftaran Calon Wali Kota-Wakil Wali Kota Makassar, Pahir Halim.
Dokumen lain yang belum dilengkapi antara lain, pas foto, visi misi, daftar kekayaan, dan daftar nama-nama tim sukses.

Berikut adalah headline Tribun Timur, Makassar, edisi Minggu, 6 Juli 2008, terkait berita yang sama:

http://www.tribun-timur.com/view.php?id=86443&jenis=Front
Minggu, 06-07-2008 
3 Paket Resmi Calon Wali Kota Makassar
Ditetapkan PKS, Halim Razak-Jafar Sodding Langsung Daftar ke KPU Hari Ini; Idris Manggabarani: Ini Pasangan Maut; Hasil Verifikasi PPK, Tak Satupun Calon Independen Penuhi Syarat; KPU Beri Waktu Perbaiki Dukungan
 
Makassar, Tribun - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) secara resmi menetapkan pengusaha Halim Abd Razak sebagai calon Wali Kota Makassar dan Jafar Sodding sebagai calon wakil wali kota.
 
"Kita sementara membahas persiapan deklarasi. Kemungkinan besar digelar dalam dua atau tiga hari ke depan," kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKS Kota Makassar, M Taslim, kepada Tribun, Sabtu (5/7), di Makassar.
PKS berkoalisi dengan PKPB melalui jalur norparlemen. Kedua partai memiliki suara sah hasil Pemilu 2004 sebesar 16 persen sehingga memungkinkan mengusung paket calon wali kota/wakil wali kota.
Dengan penetapan calon oleh koalisi PKS-PKPB, sudah tiga paket calon yang dipastikan bisa mengikuti pemilihan wali kota.
Sebelumnya, duet Ilham Arief Sirajuddin-Supomo Guntur (IASmo) yang diusung Golkar, PBB, PBR, resmi mendelarasikan diri kemudian disusul duet usungan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK)-Partai Demokrat, Idris Manggabarani-Adil Patu (Idial).
Sementara satu calon lainnya, Ridwan Syahputra Musagani, hampir pasti menggandeng Irwan Paturusi sebagai calon wakilnya.
Namun figur yang diusung oleh PPP ini masih menunggu koalisi dari partai lain karena persyaratan jumlah kursi minimal di DPRD Makassar belum terpenuhi.

Alasan PKS
Dihubungi via ponsel di Jakarta, Ketua DPW PKS Sulsel, Nadjamuddin Marahamid, membenarkan, DPP PKS sudah merestui paket Halim-Jafar.
Menurut Nadjamuddin, banyak pertimbangan yang dijadikan dasar DPP hingga memilih menetapkan Halim sebagai calon 01 partainya.
Awalnya PKS menyodorkan sejumlah figur ke DPP. "Dari sekian banyak figur yang disodorkan, DPP memilih Pak Halim dengan berbagai pertimbangan," katanya.
Tapi intinya, lanjut Nadjamuddin, hanya Halim yang melakukan komunikasi intensif dengan DPP PKS. "Yang namanya komunikasi politik itu tidak bisa hanya satu dua kali. Nah yang lanjut hanya Pak Halim. Tapi bukan cuma itu, kita juga sudah pelajari figur beliau dengan baik," ujarnya.
Menurut Nadjamuddin, PKS memang tidak melakukan survei ke Halim seperti partai lain yang menggunakan lembaga survei.
Namun PKS, mempelajari betul peta dukungan suara Halim di Pemilu DPD 2004 lalu. "Kami juga menghubungi orang-orang dekat beliau (Halim) menanyakan kepribadian dan peta dukungannya. Kita berharap pilihan inilah yang terbaik untuk masyarakat Makassar," katanya.
Kepada figur lain yang mendaftar di PKS, Nadjamuddin menyampaikan terima kasih. Menurutnya, tidak dipilihnya mereka bukan karena mereka tidak berkualitas.
"Sekali lagi, ini tergantung komunikasi politik dengan DPP . Kewajiban kita di daerah hanya memperlajari dan merekomendasikan figur ke DPP dan di sana yang menetapkan," tambahnya.
Sedangkan Sekretaris DPW PKS Sulsel, Ariady menjelaskan, salah satu figur yang pernah digadang PKS adalah Ketua Fraksi Golkar di DPRD Makassar, Haris Yasin Limpo.
Namun, adik kandung Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo ini menolak secara halus untuk maju di Pilawalkot Makassar.
Suara Riil
Taslim menjelaskan, suara riil PKS di Makassar lebih 79 ribu. Berdasarkan pengalaman, setiap kader PKS mampu menarik simpati maksimal 10 orang. "Apalagi kita sudah galakkan gerakan sejuta kartu anggota di Makassar," ujarnya.
Sedangkan Ketua DPW PKPB Sulsel Tadjuddin Renreng mengaku suara PKPB di Makassar mencapai 11.500. "Itu yang terdaftar di KPU sebagai suara sah kami di Makassar," tegasnya. Sementara Halim, pada Pemilu DPD 2004 lalu memiliki suara di Makassar mencapai lebih 30 ribu.
Siap
Dihubungi terpisah, Halim mengaku sudah dihubungi Nadjamuddin terkait penetapan namanya sebagai calon wali kota dan siap mengembang amanah tersebut.
"Ini merupakan amanah dan kejutan bagi saya. Saya sementara mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk untuk kelenglapan adminustrasi," kata Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) ini.

Pasangan Maut
Idris Manggabarani menyambut baik lahirnya pasangan Halim-Jafar. Ia menilai pasangan ini sebagai pasangan maut yang perlu diwaspadai.
"Saya kira pasangan ini cukup ideal juga untuk bersaing sebagai bakal calon wali kota dan wakil wali kota. Mereka itu adalah teman-teman saya juga," kata Idris kepada Tribun, tadi malam.
Menurut Idris, dengan hadirnya Halim-Jafar menandakan bahwa di Makassar ini banyak orang yang bisa memimpin Kota Makassar lima tahun ke depan.
Mengenai tingkat persaingannya, Wakil Ketua DPP Real Estate Indonesia (REI) ini menyatakan, kemungkinan hasilnya adalah imbang karena semua kontestan memiliki pendukung yang signifikan.


Calon Independen
KPU Makassar menerima seluruh hasil verifikasi faktual empat kandidat pasangan wali kota-wakil wali kota dari jalur independen, tengah malam tadi.
Hasilnya, tak satupun kandidat yang memenuhi syarat minimal dukungan yang disyaratkan KPU. Dari keempat kandidat perseorangan yang telah menjalani verifikasi faktual di 14 kecamatan, pasangan Firmansyah Mappasawang-Kasma F Amin tercatat paling paling tinggi dukungannya yang memenuhi syarat.
Jumlah dukungan Firmansyah-Kasma yang memenuhi syarat mencapai 34.640 dukungan. Disusul pasangan Ilham Alim Bachrie-Herman Handoko dengan jumlah dukungan yang memenuhi syarat 33.946 dukungan.
Pasangan Iriantosyah Kasim DM -Razak Jalle berada di urutan ketiga dengan jumlah dukungan yang memenuhi syarat mencapai 33.730.
Sedangkan pasangan Muh Akbar Amir-Syarifuddin Dg Punna hanya memenuhi 13.619 dukungan. Berdasarkan pengumuman KPU Kota Makassar No 270/05/P.KWK- MKS/V/2008 di media cetak 22 Mei lalu, disebutkan bahwa jumlah dukungan minimal yang dipersyaratkan untuk Kota Makassar bagi setiap pasangan bakal calon sebesar 1.310.214 jiwa per 29 April 2008 adalah tiga persen atau 39.306 pendukung.
Jika didasarkan pada syarat minimal tersebut, disebutkan bahwa tidak satupun pasangan kandidat dari jalur perseorangan yang memenuhi syarat verifikasi.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Verifikasi Faktual KPU Kota Makassar, Maqbul Halim, mengatakan setelah dilakukan verifikasi faktual di tingkat kecamatan, selanjutnya akan dilakukan verifikasi administrasi yang akan dilakukan oleh KPU Kota Makassar.
"Kalau dilakukan verifikasi administrasi, bisa jadi jumlah dukungan para kandidat ini malah akan berkurang. Karena bisa jadi ada dukungan dari luar daerah atau dukungan ganda," kata Maqbul.
Dihubungi terpisah, Ketua KPU Kota Makassar, Zulkifli Gani Ottoh, menjelaskan, setelah dilakukan verifikasi faktual, KPU memberi kesempatan kepada masing- masing kandidat untuk melakukan perbaikan selama tujuh hari.
"Kami memperlakukan antara kandidat yang melalui jalur perseorangan dengan jalur partai sama dan adil. Pasangan dari jalur partai juga akan diberi kesempatan memperbaiki dokumennya jika tidak memenuhi syarat verifikasi," kata Zulkifli.
Zulkifli merujuk pada UU No 12 Tahun 2008 Pasal 60 ayat 3 a yang memberi kesempatan kepada masing- masing kandidat untuk melengkapi berkasnya.
"Pada saat mendaftar nanti di KPU, kami akan jelaskan kekurangan mereka dan memberi kesempatan untuk memperbaikinya," ujar Zulkifli.

--
Tribun Timur, Makassar
www.tribun-timur.com

Ask the Tribun Timur Editor
dahlandahi.blogspot.com

Wednesday, July 2, 2008

Om Valens Doy

http://bechipersda.blogspot.com/2007/09/in-memoriam-valens-g-doy-jumat-29-april.html

Ini tulisan Mas Becki (Achmad Subechi, sekarang Pemred Tribun Kaltim) tentang Om Valens (Valens Doy).

Om Valens dikenal luas sebagai mantan wartawan Kompas, pendiri beberapa surat kabar, dan wartawan senior yang dihormati.

Buat kami di Persda, Om Valens adalah orang tua dan guru. Beliau sangat bijaksana, sabar, dan telaten membagi ilmu dan mendidik wartawan.

Secara pribadi, saya berutang pada Om Valens karena ketika menjadi Pemimpin Redaksi Surya, Surabaya, beliaulah yang ngotot mendorong Persda agar mengirim saya ke Irak.

"Anda harus siap sebagai wartawan multimedia," begitu ia berpesan pada saya. Saya diminta latihan sebagai reporter TV, radio, sekaligus surat kabar.

Itulah memang yang saya lakukan selama tiga bulan bertugas di Timur Tengah (Jordania, Mesir, dan Bagdad) menjelang, pada saat, dan setelah Perang Irak (awal 2003).

Sepulang ke Tanah Air, saya ditugaskan Pak Herman (Herman Darmo, Dirkel Persda), bersama Pak Centri (Centrijanto) dan Om Sjamsul (Sjamsul Kahar) ke Makassar. Di sini, saya membantu Pak Uki (Uki M Kurdi) mempersiapkan berdirinya koran baru, Tribun Timur.

Ketika itu, 2003, Om Valens sudah dalam kondisi fisik yang tidak prima lagi. Ia beberapa kali sakit. Kendati begitu, ia tetap membagi ilmu jurnalistik kepada calon-calon wartawan dan calon redaktur Tribun Timur pada masa-masa pelatihan.

Saya sendiri, sebagai calon Redaktur Pelaksana Tribun Timur, dipanggil khusus ke hotelnya. Di sana ia menjelaskan panjang lebar mengenai hakikat surat kabar, bagaimana menulis dan menyajikan berita, dan bagaimana memimpin organisasi redaksi.

Ilmu itu sangat berguna. Saya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan ilmu dari beliau secara langsung.

Saya menyesal tidak sempat ke Bali ketika beliau menghembuskan napas yang terakhir. Om Vallens, ilmu yang berguna selalu dikenang. Manusia mati meninggalkan ilmu. Ilmu yang diwariskan tetap hidup, kapanpun, kendati guru sudah meninggal. Semoga damai di alam sana.



Senin, 2007 September 24

In Memoriam Valens G Doy

JUMAT, 29 April 2005 tepatnya pukul 21.30 Wib malam lelaki setengah baya itu masih sempat meneleponku. "Apa you masih di Jakarta?" sapanya dengan lembut. Setelah bertanya kesana kemari, aku balik balik bertanya, "Apa Om... Valens saat ini ada di Jakarta?" "Iya... kebetulan Om bersama teman-teman dimintai bantuan untuk menerbitkan korannya RCTI bersama teman- teman. Ya banyak teman-teman lama yang bergabung kembali seperti Nanik Deyang, Heriyanto Prabowo, Azrul dan lain-lain," katanya.

SEBELUM menutup teleponnya, Valens G Doy, nama lengkapnya sempat berpesan agar saya berhati-hati dalam masalah keuangan. "You kan sudah ngambil rumah. Udah enggak usah macam-macam lagi. Tolong uangnya dihemat betul. Kasihan anak-anak...," pesannya.

Sesampainya di rumah aku sempat merenung, ada apa Om Valens memberikan nasihat seperti itu. Padahal selama ini antara saya dengan dia sudah cukup lama tidak saling kontak. Maklum, Om Valens, mantan Direktur Persda yang pertama dan mantan wartawan senior Kompas lebih banyak tinggal di Denpasar, Bali.

Minggu, 1 Mei 2005, beredar SMS yang isinya menyebutkan bahwa Om Valens dalam keadaan kritis dan kini sedang dirawat di RS Sanglah, Denpasar Bali. SMS itu dikirim dari mantan anak buah sekaligus murid-murid Om Valens yang saat ini bekerja di hampir semua media cetak dan elektronik yang ada di Jakarta maupun di kota-kota lain. Malam itu juga aku mencoba menghubungi istrinya.

Suara istrinya terdengar agak parau. Kata sang istri, suaminya memang baru pulang dari Jakarta hari Minggu yang lalu. Setelah itu tiba-tiba terkena serangan jantung. "Saya mohon bantuan doanya ya...," katanya.

Selasa, 3 Mei 2005 sore, ada SMS yang masuk ke HP saya. Isinya, kondisi Om Valens sudah mulai membaik, tapi ia belum bisa bicara. Tapi tak lama kemudian datang lagi SMS. Kali ini cukup mengagetkan, kondisi Om Valens droup lagi, mohon doanya. Sejak saat itu, ratusan SMS beredar kemana-mana khususnya di jaringan wartawan yang ada di Ibu Kota.

Nanik Deyang, orang dekat Om Valens yang sudah terbang ke Bali aku hubungi via telepon. "Om... kondisinya sedang kritis....," kata Nanik sambil menutup teleponnya. Setelah itu aku coba hubungi Om Dammy, Pemimpin Umum Pos Kupang. Dari gagang telepon terdengar suara orang menangis. Ternyata Om Valens, guru jurnalistik kami selama bertahun-tahun telah pergi menghadap Yang Maha Kuasa.

Ia meninggal tepat pukul 22.18 Wita di RS Sanglah, Denpasar, Bali akibat serangan jantung. "Dokter yang merawatnya sempat memberikan bantuan pernafasan, tapi akhirnya tak bisa berbuat apa-apa lagi. Mas Valens telah pergi meninggalkan kita," kata Om Dammy, sedikit terisak.

***

BAGI kami Om Valens bukan hanya dikenal sebagai wartawan senior. Ia adalah figur wartawan yang smart, punya intelektual lebih, dan telah mencetak kader-kader handal di dunia kewartawanan. Ketika menjadi wartawan Kompas, namanya cukup berkibar karena ia sangat piawai dalam menulis olah raga.

Selain itu, Om Valens juga dikenal sebagai penulis ekonomi. Pengalamannya di dunia jurnalistik itulah yang kemudian ia bagi-bagikan kepada wartawan-wartawan muda di Indonesia tanpa sekat atau batas. Ia amat tulus dalam memberikan ilmu jurnalistik kepada siapa saja.

Pernah suatu hari, saya bersama Dahlan –sekarang Wapemred Tribun Timur-- dipanggil Om Valens. Dahlan datang ke rumah petak saya sekitar pukul 02.00 dinihari. "Om Valens minta saya menjemput Mas Bechi. Ini perintah dari guru kita. Kalau Mas Bechi enggak mau saya enggak jadi berangkat ke Hotel Santika," kata Dahlan.

Malam itu juga dengan mobil butut kepunyaan Dahlan, kami berdua berangkat ke Santika. Celakanya, ketika tiba di samping gedung Gramedia Palmerah, mobil butut itu kehabisan bensin. Dahlan lalu saya minta beli bensin eceran dengan botol air mineral, sedangkan saya menunggu di mobil.

Dini hari itu juga, kami berdua menepati panggilan Om Valens di Hotel Santika. Setelah bertemu di hotel Santika, Om kemudian mengajak kami naik taksi ke Hotel Indonesia. Di sana kami diajak makan lebih dahulu. Setelah itu ia kembali mengajarkan ilmu-ilmu jurnalistiknya hingga pagi hari.

Pengalaman membagikan ilmu seperti itu bukan hal yang baru di mata para muridnya. Misalnya, suatu hari ketika ia di Jakarta, lagi-lagi Dahlan diminta menjemputku dan disuruh menunggu di Mie Gajah Mada yang ada di belakang Sarinah, Jakarta.

Kali ini, Om Valens meminta maaf karena ia tidak bisa menepati waktu. "Silakan kalian masuk ke Mie Gajah Mada dan makan sepuas-puasnya, nanti Om akan kesana karena Om masih menunggu mobil," pesannya. Karena kami berdua tak memegang uang, kami akhirnya nongkrong di warung kopi selama berjam- jam sambil menunggu Om Valens. Setelah bertemu dan diajak makan, kami kemudian diajak ke kantor Majalah Prospektif, di gedung birunya Probosutedjo. "Ini kantornya Nanik Deyang. Kita pinjam dulu ruang rapatnya," katanya.

Di ruang rapat itulah, kami berdua di breifing mengenai rencana kepergian Dahlan ke Irak untuk meliput perang. Tidak hanya dari sisi politik, sosial dan ekonomi saja yang harus digarap Dahlan jika ia berangkat ke Irak, tetapi soal urusan bagaimana cara mengurus paspor dan mentransfer uang juga ia ajarkan.

"Bung Dahlan... ini Om belikan kamus Bahasa Arab, mohon dipelajari biar Anda tidak mengalami masalah di Irak. Mas Bechi tolong urus semua kebtuhan dia sebelum berangkat ke Irak," katanya. Esoknya, ketika saya bertemu di kantor, Dahlan sudah mulai berbahasa Arab sambil memegang kamus.

***

PENGALAMAN paling berkesan saat bekerja dengan Om Valens adalah semangatnya dalam mendidik wartawan amat keras. Terus terang saja banyak wartawan muda yang terkaget-kaget ketika harus bekerja dengan dia. Saya sendiri pernah diancam akan dipecat alias dicopot dari jabatan Kepala Biro Persda jika tidak bisa melakukan wawancara khusus dengan mantan KSAD Jenderal R Hartono. "Jika besok Om tidak melihat wawancara Anda, kamu akan saya pecat," katanya. (pengalaman mewawancarai R Hartono akan ditulis tersendiri)

Soal ancaman pecat memang berkali-kali disampaikan Om Valens kepada saya. Justru dengan cara-cara seperti itu semangat profesionalisme teman-teman semakin tinggi. Di mata Om Valens, tidak ada sesuatu yang tak bisa dikejar kalau kita memang sungguh-sungguh untuk melakukan investigasi.

Valens juga sangat temperamental. Ia mudah marah, tetapi juga cepat melupakannya jika orang yang melakukan kesalahan kepadanya meminta maaf. Ia pun mudah meminta maaf jika menyadari bahwa dirinya melakukan kesalahan.

Itulah Valens. Ia selalu mempunyai cara sendiri dalam menunjukkan perhatiannya. Meskipun caranya itu tidak selalu dipahami oleh orang-orang yang berhubungan dengannya. Sebagai seorang wartawan, Valens sangat istimewa. Laporan dan tulisannya selalu menarik dibaca. Lewat laporannya ia tidak hanya menuliskan hasil dan jalannya pertandingan saja, ia juga mencoba merangkum suasana pertandingan serta emosi pemain dan penonton ke dalam laporannya. Dengan demikian, orang yang membaca laporan atau tulisannya serasa "ditarik" ke pertandingan yang dilaporkan atau dituliskannya. Ia selalu memperoleh Adinegoro, penghargaan tertinggi di bidang jurnalistik, jika ia mengikutsertakan laporan atau tulisannya dalam lomba penulisan untuk wartawan.

Kini sang guru yang pernah berjuang mendirikan Harian Surya dan Persda itu telah pergi. Semoga amal ibadahnya diterima Tuhan. Selamat jalan guru..... Kami selalu merindukanmu dan siap mengamalkan semua ilmu yang pernah engkau ajarkan kepada mereka-mereka yang benar-benar serius menjadi wartawan.... (achmad subechi)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...