Showing posts with label TAMU Tribun Timur. Show all posts
Showing posts with label TAMU Tribun Timur. Show all posts

Wednesday, September 24, 2008

Ibadah Sepakbola Raja Isa

Ask the Tribun Timur Editor
"Saya tidak bisa berkhutbah seperti kiai. Tapi saya bisa melatih sepakbola. Saya ingin beribadah dengan melatih sepakbola."
Itulah kata Raja Isa, Pelatih PSM Makassar. Warga Malaysia yang kakeknya orang Palopo ini berkunjung ke kantor Tribun Timur sehabis buka puasa (24/09/08). Kami berdiskusi. Beliau orang yang enak diajak diskusi, terlebih karena Raja memang penggemar kopi. Cuma, beda dari penggemar kopi lainnya, Raja tidak merokok.
Raja melatih PSM setelah meninggalkan Persipura. Di sana ia dikontrak Rp 600 juta semusim dan berhasil mengangkat prestasi Mutiara Hitam.
Ia ke PSM dalam kondisi klub ini sedang kesulitan keuangan. "Saya belum terima gaji, saya belum disodori kontrak. Tapi saya merasa tertantang di PSM. Saya ingin tetap melatih sampai mereka (pengelola) memecat saya," katanya dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar.
Lewat sepakbola, Raja melihat ada sesuatu yang bisa disumbangkan untuk umat manusia. Sepakbola menyihir masyarakat penggila bola. Di Papua, kantor tutup kalau Persipura akan bertanding. Di Makassar, lebih 20 ribu orang memadati stadion setiap saat Tim Ayam Jantan berlaga. Dengan menikmati bola, kata Raja Isa, masyarakat --terutama generasi muda-- bisa digiring untuk meninggalkan sisi buram seperti narkoba dan pergaulan bebas.
"Saya senang melihat pemain-pemain muda penuh bakat. Saya ingin membantu mereka membangun karier profesional," katanya.
Di PSM, ia memberi kesempatan kepada delapan pemain muda di tim inti. Pemain-pemain muda itu berusia 19-22 tahun.
"Mereka itu masa depan sepakbola Makassar. Saya ingin mereka bermain di tim nasional. Saya ingin mereka bermain di Sea Games," begitu obsesinya.
Di Persipura, ia menyumbangkan tujuh pemain untuk tim nasional setelah menangani klub tersebut selama dua musim. Tujuh pemain itu sebelumnya tidak dikenal sama sekali di Papua, apalagi di dunia bola nasional.
"Insya Allah, saya kuat menangani PSM kendati saya tidak digaji satu tahun. Tabungan saya masih cukup. Lagi pula, saya hidup sederhana," katanya.
Bila mau, Raja sebenarnya bisa saja hengkang ke klub lain yang siap memberi gaji lebih besar. PSMS, contohnya. Klub Medan itu sangat berambisi untuk berkibar lagi di pentas sepakbola nasional dan mereka membutuhkan pelatih sekelas Raja Isa.
"Saya senang di PSM. Tantangannya lebih besar," katanya.***



Friday, August 22, 2008

Rizal Mallarangeng di Kantor Tribun Timur

Ask the Tribun Timur Editor
Kantor Tribun Timur, Jumat (22/8/08) sore. Sekitar 10 motor gede menderu-deru di halaman kantor. Sebuah mobil pengawal polisi menyertai. Tamu yang dikawal mengendarai mobil Toyota Fortuner. Dari dalam mobil keluar seorang pria tinggi, rambut rapi, cukup langsing: Dialah Rizal Mallarangeng.

Sehari sebelumnya, manager kampanye Rizal menelepon saya, mengabarkan RM09 (begitu "inisial" Rizal Mallarangeng), rencana bertandang ke kantor Tribun. Ini kunjungan satu-satunya ke koran di Makassar, selain serangkaian aktivitas Rizal di kota ini.
Rizal anak muda, lahir di Parepare, kota dagang 155 kilometer dari Makassar. Usia 43, doktor dari Amerika Serikat, konsultan politik, presenter, akademisi, staf ahli di Kementerian Koordinator Polkam dan Kementerian Kesra.
Iklannya menghiasi sejumlah media massa, mengkampanyekan calon presiden muda dan perubahan. Dia calon presiden.
Bertemu dengan kru Tribun Timur, Rizal merasa seperti di rumah sendiri. Sewaktu kuliah di UGM Yogyakarta, Rizal mengungkapkan, dia menjadi redaktur opini dan politik harian Bernas, koran yang dikelola Kelompok Kompas Gramedia (kini Kompas Gramedia, KG).
Tribun Timur adalah satu 11 koran daerah yang dikelola PT Indopersda Primamedia (terkenal dengan nama "Persda"), divisi koran daerah KG. Selain Tribun Timur, ada Tribun Kaltim, Tribun Batam, Tribun Pekanbaru, dan Tribun Pontianak. Menyusul Tribun yang lain.
Koran daerah lain yang dikelola Persda tapi tidak memakai merek Tribun adalah Serambi Indonesia (Aceh), Banjarmasin Pos (Banjarmasin), Bangka Pos (Bangka), dan Pos Kupang (Kupang).
Harian Surya dan Warta Kota juga masuk dalam KG tapi secara organisasi tidak masuk ke Persda. Dua koran itu dikelola langsung oleh Kompas.
Mengenang Bernas, yang kini tidak lagi dikelola Persda, Rizal seolah terbang ke masa lalu. Masa ketika honor penulis opini cukup besar, Rp 75 ribu satu tulisan, ketika SPP UGM hanya Rp 40 ribu per semester.
"Sekali saya menulis opini, saya bisa melunasi SPP dan mentraktir teman-teman," katanya.
Dia bercerita tentang mengapa orang muda harus tampil sebagai calon presiden dan betapa ia tidak berambisi untuk memenangkan pertarungan riil dan cukup puas bila bisa mengkampanyekan perlunya orang muda tampil, pentingnya sirkulasi elite politik yang bagus.
Ia mengakui mendapatkan sejumlah celaan karena dia "nekat" menjadi calon presiden, tapi tidak sedikit yang memberikan apresiasi.
"Sirkulasi udara kita 10 tahun terakhir tidak berubah, itu-itu saja. Saya datang seolah memberi hawa baru dan harapan baru," katanya.
Tulisan mengenai diskusi dengan Rizal akan dimuat di Tribun Timur edisi hari Sabtu, 23 Agustus 2008.


Berita Terkait:
* Rizal Ingin Pemimpin Muda

Saturday, August 16, 2008

Bertemu Bung Eddy dari AJI Indonesia

Ask the Tribun Timur Editor
Tadi malam (Sabtu, 16 Agustus 2008), Tribun Timur kedatangan tamu dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Eddy Suprapto. Sehari-hari Bung Eddy, mantan wartawan Kontan, bekerja sebagai Produser Eksekutif TPI.

Diskusi berlangsung seru. Tentang AJI, AJI Makassar, dan dunia pers secara umum. Semakin malam, peserta diskusi semakin banyak, sekitar delapan orang. Ruangan kerja saya sudah tidak lagi menampung. Kami pindah ke ruang rapat di lantai satu.
AJI memang sedang menghadapi masalah besar. Bagaimana organisasi wartawan ini merumuskan posisi dan perannya di tengah dunia pers dan masyarakat yang berubah.
Masyarakat pers sudah jauh berubah dibanding ketika AJI pertama kali lahir.
Beberapa di antara perubahan itu:
- Pers multimedia dan multiplatform
- Fenomena citizen reporter
- Maraknya blogger (wartawan maupun bukan wartawan)
- Kecenderungan makin kuatnya kepemilikan silang media massa cetak, elektronik, dan internet
- Masuknya modal asing dalam industri pers
- Muncul organisasi pers baru selain PWI dan AJI
- Pemerintah makin demokratis. Korupsi makin merajalela
- Satu lagi, munculnya generasi wartawan pasca-Orde Baru yang spirit perjuangannya seringkali sudah berbeda jauh dengan generasi sebelumnya.
Siapakah AJI, peran apa yang mesti dimainkan. Teman-teman pengurus AJI harus menemukan jawaban atas dua pertanyaan pokok tersebut atau punah. Atau tidak relevan lagi.


Tuesday, August 12, 2008

Pak Onny ke Kantor Tribun Timur Membawa Bibit Pohon

Ask the Tribun Timur Editor

PAK Onny, begitu Pimpinan Cabang Bank Panin Makassar ini akrab disapa. Nama lengkapnya, Onny Tenri Gappa. Ia pemimpin bank sekaligus aktivis lingkungan yang giat. Beliau datang ke kantor Tribun Timur, Jl Cenderawasih, Makassar, sambil membawa bibit pohon bitte (?) dan trambesi.


Bibit itu kami kembangkan di halaman belakang kantor Tribun yang masih cukup luas. "Cukup untuk pembibitan sekitar 10 ribu pohon," kata Onny.
Hari Rabu ini merupakan hari kedua bagi rubrik baru Tribun, yakni Tribun Green. Terbit sekali sepekan setiap Rabu, rubrik ini bermaksud mendorong gerakan penghijauan untuk tujuan yang begitu indah dan mulia namun sekaligus berat: menyelamatkan bumi, menyelamatkan lingkungan, menyelamatkan kehidupan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, yang dipimpin Gubernur Syahrul Yasin Limpo, mencanangkan Sulsel Go Green beberapa waktu lalu.
Tribun Green didukung Pemprov Sulsel. Panin Bank juga ikut menjadi salah satu sponsor.
Dibanding Pak Onny, Tribun belum melakukan apa-apa. Pak Onny telah lama membudidayakan jutaan bibit, menanamnya di lokasi-lokasi strategis, membangun gerakan penghijauan termasuk menggandeng TNI di jajaran kodam hingga korem, menggalakkan penghijauan di sekolah-sekolah, dan tanpa kenal lelah mengkampanyekan pentingnya memelihara bibit, menanamnya, dan merawatnya.
Kadang-kadang saya mendengar Pak Onny mengeluh. Mengeluhkan betapa tidak banyak yang mau peduli pada gerakan penghijauan. Di kalangan pemerintah lebih-lebih.
Ia sedih betapa pohon-pohon harus tumbang karena bangunan baru. Lebih sedih lagi, pohon-pohon harus dikorbankan hanya karena menghalangi papan reklame pengusaha.
Tapi, yang luar biasa, gairahnya untuk menggalakan penghijauan tak pernah padam.


Saturday, August 9, 2008

Erwin Aksa Berdiskusi dengan Redaksi Tribun Timur

Ask the Tribun Timur Editor

SETELAH sehari sebelumnya berdiskusi dengan pimpinan Bank Niaga Makassar, redaksi Tribun Timur berdiskusi dengan Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa, Sabtu (9/8/08) di ruang rapat lantai satu kantor Tribun, Jl Cenderawasih, Makassar.
CEO Bosowa Corporation yang baru berusia 32 tahun itu membawa sejumlah pengurus Hipmi Sulsel maupun Hipmi Makassar.
"Ini kunjungan pertama saya ke Makassar setelah tiga pekan terpilih menjadi Ketua Umum Hipmi," kata Erwin, pengusaha muda pewaris kerajaan bisnis Bosowa Group.
Setelah terpilih, Erwin dan pengurus baru Hipmi sibuk melakukan serangkaian pertemuan dengan pejabat pemerintah, termasuk menteri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Terakhir kami bertemu dengan Bapak Wapres (Jusuf Kalla), tapi merupakan audiensi paling lama," kata Erwin tentang pertemuan tertutup selama dua jam.
Dalam diskusi, Erwin memaparkan betapa Hipmi merupakan organisasi kader yang menjadi salah satu sumber pemimpin nasional. Alumninya antara lain Menko Kesra Aburizal Bakrie, Ketua DPR Agung Laksono, dan sejumlah menteri seperti Fahmi Idris.
Ayah kandung Erwin, Aksa Mahmud (Wakil Ketua MPR), juga merupakan mantan pimpinan Hipmi.
Hipmi beranggotakan sekitar 30 ribu pengusaha muda, sebagian terbesar sangat tergantung pada proyek pemerintah yang didanai APBD dan APBN.
Karena itu, Erwin ingin mendorong semangat dan keterampilan wirausaha di kalangan pemuda agar melahirkan pengusaha yang tidak hanya menyandarkan diri pada proyek pemerintah.
Mengenai peluang bisnis, Erwin menyebut sektor pertanian memiliki prospek cerah, terutama di luar Jawa. Pengusaha muda sebaiknya memanfaatkan peluang ini.
Materi diskusi dengan Erwin akan disajikan di edisi cetak Tribun Timur mulai edisi Senin, 11 Agustus 2008.


Tentang Erwin Aksa, Hipmi, dan berita Tribun Timur

Friday, August 8, 2008

Diskusi di Tribun Timur dengan Pimpinan Bank Niaga Makassar

Ask the Tribun Timur Editor
Diskusi rutin hari Jumat (8/8/08) menghadirkan narasumber praktisi perbankan, Rahmat A Haris. Sehari-hari, Pak Rahmat menjabat Area Manager Indonesia Timur Business Area Bank Niaga yang berkedudukan di Makassar.
Saya mencandai Pak Haris: Wilayah kerja Bapak sama dengan wilayah empat panglima kodam (pangdam) sebab meliputi Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Makassar memang menjadi pusat Indonesia timur, antara lain dalam soal itu. Banyak kantor swasta, pemerintah, maupun militer berkedudukan di Makassar tapi wilayah kerja mencakup Indonesia timur.
Kompas, misal. Surat kabar nasional ini menempatkan kepala biro di Makassar untuk wilayah kerja Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Operator selular seperti Telkomsel dan Indosat juga begitu.
Seorang kepala regional di Makassar harus mutar dari Kalimantan, Nusantara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Terbayang sudah betapa luasnya Indonesia.
Penerbangan dari Makassar ke Jayapura, misalnya, memakan waktu sekitar enam jam dengan dua kali transit. Itu hampir sama dengan penerbangan Jakarta-Shanghai.
Jakarta-Makassar dua jam atau sama dengan Jakarta-Singapura, hanya beda sedikit dengan Jakarta-Kuala Lumpur. Itulah juga, antara lain, yang menjelaskan mengapa orang Jakarta lebih senang berlibur ke Singapura atau Kualalumpur yang menyajikan wisata modern ketimbang Sulawesi Selatan, misalnya, yang menyajikan wisata tradisional. Sudah penerbangannya melelahkan, daya tariknya itu-itu saja.
Mau ke Toraja? Aduh! Dari Jakarta ke Makassar dua jam lalu beranikah Anda menempuh perjalanan enam-tujuh jam dengan mobil ke Toraja? Hanya turis bule yang mau.
Pak Haris memaparkan sejumlah indikator ekonomi, berikut sejumlah peluang bisnis yang menyertainya. Tribun Timur rencana menerbitkan hasil diskusi secara bersambung mulai edisi Sabtu, 9 Agustus 2008, besok.
Anda juga bisa mengaksesnya melalui www.tribun-timur.com pada sesi "edisi cetak".


Thursday, August 7, 2008

Makassar-Malaysia Makin Mesra

Ask the Tribun Timur Editor


Hubungan Malaysia-Makassar makin akrab. Hari ini, kami menerima tamu para pimpinan tertinggi Petronas Indonesia dan Petronas Makassar. Pertaminanya Malaysia ini memasarkan oli di Sulsel. Ada rencana, mungkin tahun depan, untuk memasarkan solar untuk industri.

Para tamu itu, antara lain, Mohd Ibrahimnuddin Mohd Yunus (Presiden Direktur PT Petronas Niaga Indonesia), Yusri Anuar Ahmad (GM Lubricant Business) Petronas, Noor Azizi Azman (Manager Marketing and Sales Petronas), serta David Gozal (Direktur CV Mandiri yang memasarkan produk Petronas di Makassar).

Noor berkantor di twin tower Petronas Kualalumpur, sedangan Yunus dan Yusri berkantor di Menara Rajawali, Kuningan, Jakarta.

Sebelumnya, Malaysia-Makassar dihubungkan AirAsia lewat penerbangan murah Makassar-Kualalumpur. Yang terbaru, Maleo Air juga menggarap penerbangan ke rute yang sama dengan target utama TKI.

Hubungan kedua daerah secara histroris memang sangat kuat. Wakil Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak berdarah Makassar. Ia mendapat gelar bangsawan di sini.

Cukup banyak TKI dari Sulsel di Malaysia. Demikian pula, cukup banyak mahasiswa asal Malaysia yang menempuh studi di Universitas Hasanuddin, Makassar.


Sumber: Tribun Timur, Makassar
Rabu, 06-08-2008
Maleo Air Tertarik Angkut Penumpang ke Makassar
Makassar, Tribun - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) membuat terobosan baru untuk mensukseskan program pengiriman 2.000 tenaga kerja Indonesia ke Malaysia. Sebuah maskapai penerbangan dari Nusa Tenggara Barat (NTB) diajak bekerja sama mengantar tenaga kerja Indonesia (TKI) asal NTB untuk diberangkatkan ke Malaysia melalui Bandar Udara Sultan Hasanluddin.

Meski kerja sama tersebut belum diikat dalam bentuk nota kesepahaman (memorandum of understanding, MoU) namun Pemprov Sulsel telah memberi kesempatan kepada Maleo Air, perusahaan penerbangan lokal yang yang mengangkut penumpang antarpulau di Indonesia.
Saat bertemu dengan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (5/8), Direktur Utama Maleo Air Hengki Putranto mengatakan, pihaknya memiliki dua pesawat baling-baling dengan 20 kursi yang siap pulang-pergi dari Makassar ke Bima mengantar penumpang.

Rencananya, penerbangan perdana dari Makassar-NTB akan dimulai akhir tahun ini. Selain Bandar Udara Sultan Hasanuddin, Maleo Air juga akan melayani penerbangan dari NTB ke bandara-bandara kecil yang ada di Sulsel.
Menurut Hengki, target utama Maleo air sebenarnya adalah wisatawan asing yang sedang berlibur di NTB, demikian juga dengan wisatawan asing yang ada di Makassar bisa diangkut ke NTB.
Soal TKI, Hengki mengatakan jika NTB memberangkatkan melalui Bandara Juanda Surabaya atau Cengkareng Jakarta, biaya yang ditanggung terlalu berat. Namun jika melalui Makassar, biaya bisa lebih ringan apalagi setelah dibukanya jalur Makassar ke Kualalumpur, Malaysia dengan menggunakan maskapai Air Asia.

Berita Terkait
* Enam Mahasiswa Malaysia ke UIN Makassar


Tuesday, August 5, 2008

Tamu Tribun, Pak Wali dan Pak Somad

Ask the Tribun Timur Editor

Hari ini (Selasa, 5/8/08), Tribun Timur kedatangan tamu Pak Herry (Andi Herry Iskandar, pjs Wali Kota Makassar).
Beliau tinggi, besar, dengan nada bicara yang tegas. Pak Herry datang bersilaturahmi dengan kru redaksi, sembari mengobrol. Beberapa topik dinyatakan off the record.

Pak Herry menyinggung pembangunan Makassar yang pesat, jumlah uang yang beredar yang banyak, dan beberapa proyek strategis.
Katanya, "Makassar maju sangat pesat. Triliunan rupiah dana yang berputar di proyek-proyek strategis." Yang dimaksud adalah Bandara Hasanuddin, jalan tol, flyover, dan pelebaran jalan.
Sehari sebelumnya, Tribun Timur kedatangan tamu dari Jakarta. Namanya Pak Somad. Beliau menggeluti promosi wisata.
Beberapa proyek dikerjakannya. Antara lain, promosi wisata India dan Bangkok. Hingga suatu waktu ia bertanya, "Kapan bisa mempromosikan wisata Indonesia yang begitu kaya."
Pertanyaan itu menggiringnya ke kantor Persda, perusahaan yang mengelola 12 koran daerah Kompas Gramedia, di Jakarta.
Kesepatan dicapai. Proyek pertama, promosi wisata Makassar dan Bangka Belitung. Di Makassar, ia menggandeng Tribun Timur. Sejumlah sponsor akan dilibatkan. Sedangka di Bangka, Pak Somad melibatkan Bangka Pos.


Sunday, August 3, 2008

Tamu dari Hypermart dan Smart Shopping

Ask the Tribun Timur Editor

Akhir pekan ini (Jumat-Minggu, 1-3/8/08), Tribun Timur seperti biasa kedatangan sejumlah tamu penting.
Salah satunya, Pak Joosje dan Pak Gerry. Keduanya dari kantor pusat hypermart Jakarta.
Joosje Tatipata, begitulah nama lengkap Pak Joosje. Alumni jurusan ilmu politik yang menggeluti marketing ini menjabat Vice President Marketing and Promotion Matahari Food Bussines PT Matahari Putra Prima Tbk.
Soal Mas Gerry --nah, jangan kaget. Panggilannya sama sekali tak berhubungan dengan nama anak muda yang pernah bekerja di Kuala Lumpur ini. Namanya Yoelius Saputra, Advertising Manager PT Matahari Putra Prima.
Buat Pak Joosje, ini kunjungan keenam di Makassar. Tapi, katanya, "Rute saya dari bandara, hotel, kantor hypermart, lalu balik lagi ke bandara. Begitu terus."
Mas Gerry baru kali ini ke Makassar. So, ini pengalaman pertama menginjakkan kaki di kota terbesar di Indonesia timur.
hypermat mengelola sekitar 40 toko di Indonesia, dua di antaranya di Makassar (Mal Panakkukang dan Mall GTC). Pesaing terkuat mereka tentu saja Carrefour, yang memiliki satu outlet di Panakkukang Square.
Pak Joosje menyempatkan waktu berdiskusi dengan awak redaksi dan tim bisnis Tribun. Ide-idenya soal retail dan shopping lumayan mencerahkan. Tribun Timur memuat ulasannya secara bersambung mulai edisi Minggu, 3 Agustus 2008 ini.


Sumber: Tribun Timur, Makassar
Link: http://tribun-timur.com/view.php?id=90718

Minggu, 03-08-2008
Saatnya Belanja Tanpa Kantong Plastik

VICE President Marketing and Promotion Matahari Food Bussines PT Matahari Putra Prima Tbk, Joosje Tatipata, bersama Advertising Manager PT Matahari Putra Prima Yoelius Saputra berkunjung ke kantor harian Tribun Timur, Sabtu (2/8). Joosje menyempatkan diri berdiskusi dengan awak Tribun. Berikut ulasannya.

DI Jakarta saat ini produksi sampah mencapai kurang lebih 30 ribu meter kubik atau seluas tiga hektar dengan tumpukan tinggi satu meter.
Sampah yang dihasilkan dari aktivitas masyarakat Jakarta itu sebagian besar merupakan sampah nonorganik yang susah hancur atau terurai secara alami. Tentunya ini menjadi masalah besar.
Realitas itu saya kira tak akan lama lagi akan terjadi di Makassar. Disadari atau tidak, sampah nonorganik berasal dari kantong plastik belanjaan yang diperoleh dari pusat- pusat perbelanjaan.
Maka, kami kira sudah saatnya konsumen mulai memahami dan menyadari akan kondisi tersebut bahwa lama-lama sampah makin sulit dikendalikan.
Untuk mengendalikan produksi sampah itu, kita bisa kita melakukan dari hal terkecil dan biasa, misalnya dari aktivitas berbelanja (shopping).
Jika diperhatikan, pusat-pusat perbelanjaan saat ini sangat royal dengan penggunaan kantong plastik untuk kemasan barang. Konsumen atau ibu-ibu pun akan ngambek dan bilang toko tersebut kikir jika tidak diberi kantong khusus masing-masing untuk setiap item belanjaannya.
Padahal konsumen tidak sadar bahwa industri ritel atau manajemen pusat perbelanjaan mengeluarkan biaya yang tak sedikit khusus untuk menyediakan kantong plastik itu.
Untuk penyediaan kantong plastik belanjaan biayanya secara tak langsung dibebankan ke konsumen. Harga produk yang dijual di pasar modern itu ada sekian rupiah dipakai untuk menyediakan kantong plastik.
Seandainya konsumen tak "memaksa" pusat perbelanjaan untuk selalu menyediakan kantong plastik, lalu biaya berkurang, dan tentunya harga produk yang dibeli oleh konsumen akan bisa lebih murah lagi.
Selain itu tentunya, ancaman akan bahaya sampah plastik bisa semakin dikurangi. Bagaimana hal ini bisa dilakukan?
Tentunya antara lain dengan kembali ke kebiasaan para ibu-ibu dulu yang pergi ke pasar dengan membawa keranjang atau kantong sendiri dari rumah yang bisa selalu dipakai berulang setiap berbelanja.
Maka kita tidak perlu lagi membeli atau meminta kantongan plastik baru dari pusat perbelanjaan. Akan lebih baik kantong plastik atau keranjang itu kita pakai lagi dari pada dapat lagi.
***
Untuk mendukung gerakan lingkungan pengurangan sampah nonorganik itu, hypermart saat ini telah membuka tempat khusus penjualan produk-produk daur ulang trash fashion (Trashion).
Itu merupakan kerja sama dengan Unilever. Unilever memberikan pembinaan kepada kelompok ibu-ibu agar bisa memiliki keahlian mengolah sampak plastik menjadi produk-produk yang bisa digunakan lagi.
Produk itu dijual melalui hypermart. Tentunya harga produk-produk daur ulang itu masih mahal karena biaya yang dikeluarkan besar dan produksinya tidak massal.
Produk daur ulang yang bisa diperoleh di hypermart seperti tas laptop, dompet, hingga celemek.
Sementara ini baru enam gerai hypermart di Jakarta yang merealisasikan program kepedulian usah kecil dan menengah (UKM) dan lingkungan tersebut.
Sedangkan di kota-kota lain di Indonesia, termasuk Makassar, baru memasuki tahap sosialisasi. Semoga rencana tersebut juga bisa dinikmati warga Makassar dalamwaktu yang tidak terlalu lama.



Tuesday, July 22, 2008

Calon Artis Ketika Cinta Bertasbih ke Tribun

Ask the Tribun Timur Editor

Hari ini, Tribun Timur kedatangan tamu delapan artis film Ketika Cinta Bertasbih.

Siang hari sampai menjelang Magrib, saya kebagian melakukan tes wawancara terhadap delapan calon wartawan Tribun Timur.

Mereka masih muda-muda, penuh semangat.



Sumber: tribun-timur.com
Selasa, 22-07-2008 | 22:46:11
Calon Artis Ketika Cinta Bertasbih ke Tribun
Laporan: Muhammad Taufiq, taufiq75@yahoo.com

Makassar, Tribun - Delapan calon artis film Ketika Cinta Bertasbih audisi Makassar berkunjung ke redaksi Tribun beberapa saat lalu. Mereka selanjutnya akan mengikuti audisi di Jakarta pada 4-5 Agustus 2008.

Delapan orang itu adalah Andi Arsyil Rahman Putra, Mudrikan Hidayat Nacong, Ria Karini,
Andi Diah Masita Arsyad, Latifah, Nurfadillah A Parewe, M Taufik Akbar,
dan Riska Damayanti

"Sebenarnya, tim juri yang terdiri dari Haerul Umam (Sutradara) dan Neno Warisman (artis) mencari 20 calon artis untuk film tersebut disetiap kota. Namun yang lolos dan memenuhi kreteria hanya delapan orang. Hal ini, disebabkan karena peserta Audisi di Makassar sangat minim, dibanding kota-kota lain yang rata-rata mencapai 1000-an orang," kata Manajer sekaligus pelatih Etal saat berkunjung ke redaksi bersama delapan calon bintang film tersebut.(*)



Monday, July 21, 2008

Tamu dari TVone

Ask the Tribun Timur Editor



Hari ini, Tribun Timur kedatangan tamu dari TVone, Jakarta, Mas Denny dari bagian promosi off air dan Mbak Sandra dari bagian produksi.

Teman-teman TVone memang seringkali ke Tribun bila memiliki kegiatan on air maupun off air di Makassar. Tribun dan TVone (dulu Lativi) sudah sering bekerja sama dengan Tribun Timur.

Bagi Tribun Timur, kerja sama dengan TV nasional bukan hal baru. Tribun Timur, antara lain, bekerja sama dengan Indosiar ketika menggarap Akademi Fantasi Indosiar (AFI), dengan SCTV --televisi dengan pemirsa terbanyak saat ini-- kami bekerja sama dalam acara karnaval di Makassar.

Kali ini, TVone menggarap program Menuju Bintang Ramadhan sebagai ganti dari acara Pildacil.

Mereka memburu anak-anak berbakat, memiliki pengetahuan agama dan pengetahuan umum yang bagus, di tujuh kabupaten/kota di Sulsel, termasuk Makassar.

Sudah ketemu 46 anak, namun akan diseleksi lagi. Sukses ya!



Wednesday, July 2, 2008

Tanribali Lamo, Caretaker Gubernur Sulsel


http://www.tribun-timur.com/view.php?id=71676&jenis=Front

Sabtu, 05-04-2008
Bawa Istri dan Rantang ke Jakarta
"BAPAK saya itu gubernur terlama, hampir 13 tahun. Saya ini gubernur tercepat, hampir tiga bulan."
Caretaker Gubernur Sulsel, Ahmad Tanribali Lamo, tertawa mengawali pembicaraan saat bertandang ke redaksi Tribun, Jumat (4/4), sekitar pukul 15.10 wita.
Bapak Tanri, Ahmad Lamo, adalah Gubernur Sulsel yang menggantikan Andi Ahmad Rivai. Ia menjabat gubernur dari tahun 1966 hingga 1978.
Sedangkan Tanri menjabat gubernur mulai 19 Januari hingga 8 April atau tepatnya 79 hari.
Tanri mengistilahkan penjabat gubernur itu adalah tugas dari negara dan langsung ditunjuk oleh Presiden, Panglima TNI, Kasad, dan mendagri.
"Saya ini penjabat, bukan pejabat. Bedanya hanya N. Itu adalah, no money, no campaign, dan no baliho," katanya seraya melepas tawa.
Di Tribun, Tanri terlihat beberapa kali tertawa lepas. Plong. Pembicaraan pun mengalir lancar.
Beberapa kali ia mengeluarkan lelucon yang membuat yang mendengarnya spontan tertawa.
Kelakarnya soal huruf N tadi mengingatkan istilah, "saya ini gubernur tanpa baliho", saat bersilaturahmi ke Tribun di awal menjabat, akhir Januari lalu.
Kemarin, Tanri diterima dengan hangat oleh Pemimpin Redaksi Tribun, Dahlan, Wakil Pemimpin Redaksi Tribun, Ronald Ngantung, dan sejumlah kru redaksi.
Tanri hanya ditemani dua ajudannya dan Kabag Humas Pemprov Sulsel, M Rizal Saleh.
Tanri berbagi banyak kisah dengan awak redaksi. Mulai cerita soal setahun sebelum dilantik menjadi penjabat gubernur, detik-detik penugasannya langsung dari Presiden SBY, soal rekonsiliasi Amin- Syahrul, hingga pengalaman yang paling mengesankan dengan wartawan di hari keempat penugasannya di Sulsel.
Semuanya mengalir ringan, dan selalu diselingi tawa lepas.
"Saya dua bulan hampir tiga bulan di Sulsel, tapi baru kali ketawa lepas," ujarnya sebelum naik ke Toyota Prado hitam, DD I.
Dia juga menyebutkan nomor induk pegawai (NIP)-nya; 0102739999 sebagai staf ahli mendagri bidang politik dan keamanan.
Dengan Wartawan
Soal tertawa dan pengalamannya dengan wartawan, Tanri begitu membekas.
Saat sebelum duduk di jok mobilnya, dia melemparkan senyum.
"Awal saya datang ke sini (Tribun) dengan tawa, sekarang saya sudah mau pamitan, juga dilepas dengan tawa," ujar Tanri mengenang kunjungannya ke Tribun, Selasa (22/1), atau tiga hari setelah dilantik Mendagri Mardiyanto di Jakarta.
Tanri juga kembali menegaskan masa jabatannya di Sulsel hanya seumur jagung.
Suasana di lingkup pemprov sudah kondusif. "Mereka sudah bekerja sama, makan bersama, dan membersihkan bersama. Ini yang saya coba bangun selama 76 hari," ujarnya.
Menurutnya, sebagai perwira yang digembleng lama di militer, dia selalu berprinsip, semakin cepat masalah selesai itu semakin baik. "Saya tidak akan lama di sini. Saya bukan gubernur definitif. Saya mencoba bekerja secepat mungkin. Kalau satu jam masalah ini bisa selesai, saya akan tinggalkan," katanya.
Pernyataan serupa juga ditegaskan, saat ia dan istrinya, Ny Rastina, di Bandara Hasanuddin Makassar saat baru tiba di Jakarta, 20 Januari lalu.
Dia menegaskan tak punya agenda selain menjalankan tugas pokoknya, menjalankan roda pemerintahan dan rekonsiliasi.
Dia kemudian menceritakan, kabar saat dia pindah dari Wisma Perwira Tinggi Kodam VII ke Kompleks Gubernuran, akhir Februari lalu.
"Waktu itu Kasad mau datang, ya saya pindah ke gubernuran. Saya perbaiki rumah pribadi, yang memang sudah rusak di Jl Haji Bau," ujarnya.
Di kompleks Gubernuran, dia dan istrinya tinggal di bagian belakang, bukan di bagian depan, rumah utama.
"Saya tinggal di kamar kecil di belakang, satu kamar saya, kamar makan, dan satu buat barang. Satu lagi di (lantai) atas untuk ajudan."
Soal kinerja selama menjabat gubernur, dia menceritakan masih banyak yang harus dilakukan, dan meminta seluruh komponen masyarakat memberi dukungan ke pemerintahan Syahrul-Agus, hingga 2013 mendatang.
Dalam kurun waktu 56 hari, Tanri mengunjungi 16 kabupaten/kota di Sulsel.
"Bahkan ada kabupaten yang saya datang dua kali, seperti Wajo dan Soppeng," ujarnya.
Dia juga banyak melakukan kunjungan insidentil dengan mendatangi dinas-dinas, rumah sakit, dolog, dan instansi lainnya.
"Tadi saya ketemu dengan pejabat di kamar lima, saya dialog, saya diskusi dengan mereka, saya bilang, ini persiapan, sebab nanti juga saya akan ke kamar lima," ujarnya.
Tanri menjelaskan, pemerintahan daerah-dearah itu sudah bekerja dengan maksimal dan efektif untuk menyejahterakan rakyat.
Dalam perjalanan dan dialognya dengan aparat di daerah yang dikunjunginya, dia banyak mengidentifikasi ide dan harapannya.
Dia mengistilahkan potensi daerah masih perlu digarap dengan baik, dengan pemurnian kembali potensi dan komoditas daerah, laiknya gagasan pengwilayahan komoditas di era gubernur Prof Dr Ahmad Amiruddin.
"Harapan ini masukan untuk semua. Ini tugas pemerintah, tugas rakyat yang masalahnya harus kita pikul bersama-sama," katanya.
Workholic

Tanri mengidentifikasi dirinya yang workholic, tipologi lelaki pekerja yang tak senang menghabiskan waktu dengan hal-hal yang santai.
"Saya sebenarnya orang yang bawa masalah. Makanya, saya ini pekerja, tidak gampang melupakan pekerjaaan. Saya ndak pernah ke mana-mana di hari Minggu. Paling hanya di rumah," ujar bapak tiga anak dan kakek dua cucu ini.
Saat menjabat di pusat pendidikan TNI Angkatan Darat di Jawa Barat, dia mengisahkan, meski bajunya masih basah karena keringat, pukul 07.00, ia sudah duduk di meja kerja, dan baru pulang pukul 17.00.
Kesibukan dan aktivitasnya selama lima tahun menjabat Asisten Personalia (aspers) Mabes TNI AD, dia ukur dengan tingginya komunikasinya dan kinerja telepon selular (ponsel).
"Di Jakarta, ponsel saya ini charge dua kali sehari. Eh, di sini sekali dua hari," katanya lagi-lagi tertawa.
Tanri juga berjanji, saat di Jakarta nanti, dia akan membaca buku soal pemerintahan dan UU No 31 tentang pemerintahan daerah.
Selama menjabat gubernur, ia mengaku tak memiliki waktu untuk membaca.
"Sesudah dilantik saya mendapat wejangan dari bekas caretaker, dia bilang tak perlu pusing, soal pemerintahan baca saja UU 32, kalau soal PNS, kembalikan ke sekda. Tapi sampai hari ini, kerena kesibukan, melirik buku itupun tidak," katanya seraya menunjukkan tebalnya buku- buku yang masih dibungkus rapi itu.
Hingga saat ini, Tanri terus mengupayakan rekonsiliasi dengan mempertemukan Amin-Syahrul.
Namun, katanya, karena ada persoalan kultur, yang masih harus harus diselesaikan, dan banyaknya tugas Amin selaku Ketua DPD Golkar Sulsel, dia kesulitan dan masih terus menunggu. "Ini hanya persoalan waktu," katanya.
Berziarah
Sebelum meninggalkan Sulsel, sesudah serah terima, Tanri mengatakan akan menziarahi makam kampung orangtua dan kampung istrinya, Bontonompo, Gowa.
"Habis itu nyekar ke Enrekang, nenek dari bapak, saya juga akan Bontonompo," ujar, pria yang di masa mudanya disapa Gito ini.
Dan setelah itu, "karena saat datang ke Makassar hanya bawa istri dan rantang, saya juga kembali ke Jakarta bawa istri dan rantang," katanya, lagi-lagi membuat tawa berderai.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...