Showing posts with label Laporan Dahlan dari Jordania. Show all posts
Showing posts with label Laporan Dahlan dari Jordania. Show all posts

Friday, December 6, 2013

Bersama Salju di Amman, Jordania

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQiZXWZEbjz1t7aX4p6_0IyvYP-B_BGbp409tfauz6OiWtBTrIJioDqqHaU70ON9ZFXjgovtqBpF63k-lzTEmALMU1hmhxu_7a7bwEObpIzpwWFUy3RXOgwnV4B8blNKLwo_99gVonv54/s1280/salju%252520di%252520jordania.jpg

 Negara-negara Arab identik dengan panas menyengat. Suhu ekstrim bisa mencapai level di atas 40 derajat Celcius.

Tapi jangan lupa. Salju juga turun di tanah Arab.

Foto di atas adalah salju di Kota Amman, ibukota Jordania, negara kecil yang bertetangga dengan Arab Saudi, Iran, Irak, dan Suriah.

Warna-warni Dunia

Laporan dari Jepang (257) 
  Haji dan Umroh (112)  
Singapura (102)  
Laporan dari Moskow (93) 
  Laporan dari Kuala Lumpur (69)  
Laporan Dahlan dari Jordania (37)  
Tokyo Motor Show 2011 (28)  
Perang Irak (15) 
  Laporan dari Doha (13)  
Laporan dari Bagdad (12) 
  Laporan dari Cina (7)  
Laporan Dahlan Cairo (4) 
  Laporan dari Shanghai (4)  
Laporan dari Amsterdam (3)  
Laporan dari Hongkong (2)

Berfoto di Perbatasan Jordania-Irak

Friday, September 12, 2008

Tragedi WTC, Persepsi Barat, dan Benak Warga Arab

Ask the Tribun Timur Editor
BAGI yang pernah ke Arab, apalagi pada saat Amerika Serikat (AS) sedang, pada saat, dan setelah menggulung Irak, laporan harian Kompas, Tragedi WTC di Benak Warga Arab, edisi Jumat (12/9), tidaklah mengagetkan.
Begitulah memang persepsi Arab pada umumnya: tidak percaya pada AS, bahkan sebaliknya, menganggap Osama Bin Laden sebagai pahlawan dan Al Qaeda sebagai organisasi perjuangan.
Saya tiga bulan di Timur Tengah dan merasakan benar alam berpikir itu. Saya sering mendengar ungkapan perasaan seperti itu, bahkan di dua negara Arab yang sangat pro-AS, Jordania dan Mesir.
Suatu malam, saya menyaksikan alam pikiran yang benar-benar berbeda. Menjelang peringatan 11 September, saya menonton HBO sepulang kantor lepas tengah malam. Saya lupa judul film itu. Seperti biasa saya memainkan remote TV hingga perhatian saya tertuju pada HBO. Cerita sudah mengalir, tentang WTC.
Film itu mengisahkan perjuangan polisi pelabuhan menyelamatkan korban di menara WTC. Saya sampai menitikkan air mata, terharu melihat polisi yang dengan sadar mempertaruhkan nyawanya demi apa yang mereka yakini sebagai kemuliaan, menolong orang lain.
Dua polisi terjebak di reruntuhan. Keluarga mereka dengan panik menunggu di rumah. Anak-anak mereka. Istri mereka. Mereka sedih dan gelisah. Menara kembar itu ditabrak pesawat, ribuan orang jadi korban, dan dua polisi pelabuhan yang terperangkap itu bisa saja memilih menyelamatkan diri dengan cara yang sangat sederhana: tidak usah menolong, toh menara kembar itu sedang terbakar dan runtuh. Menolong orang di menara kembar dalam kondisi seperti itu bukan saja nekat, tapi konyol.
Dua polisi itu memilih apa yang teman-temannya anggap sebagai perbuatan konyol untuk mengikuti naluri manusiawi mereka menolong sesama manusia. Kemuliaan, kemudian saya tahu, berarti apa yang bisa kita berikan kepada sesama manusia. Kita mungkin tidak memiliki harta, tapi bila bisa membantu sesama --dengan apapun yang kita punya (bakat, tenaga, bahkan senyuman)-- itulah manusia mulia.
Film itu begitu dalam pesannya hingga tanpa sadar saya menitikkan air mata. Saya memahami mengapa warga Amerika Serikat begitu marah, begitu sedih, begitu luka (lukanya bahkan begitu dalam) gara-gara gedung WTC ditabrak pesawat, gara-gara korban yang begitu banyak.
Kepada siapa mereka harus marah memang adalah soal yang muncul belakangan. Presiden George W Bush merumuskan apa yang terjadi sebagai "serangan teroris", mengumumkan siapa pelakunya sebagai "Osama bin Laden", berikut organisasi yang menggerakannya, "Al Qaeda".
Dalam suasana marah, sedih, dan terluka, mereka percaya pada apa yang dikatakan Bush. Dengan demikian, kesedihan dan kemarahan ditujukan kepada "teroris", "Osama bin Landen", dan "Al Qaeda". Kemarahan bahkan diperluas kepada "pendukung Al Qaeda" atau bahkan "simpatisannya".
Dan, ketika mesin perang Amerika Serikat menghancurkan kemanusiaan di Irak dan Afganistan, warga Amerika Serikat memaklumi, bahkan mungkin bertepuk tangan.
Tapi, saya pernah tiga bulan di Timur Tengah. Saya menemukan kesedihan dan luka dan saya menangis sama ketika menonton film tentang kisah heroik polisi pelabuhan di WTC.
Anak-anak kehilangan ayah. Ibu kehilangan suami. Suami kehilangan istri. Tangis bayi kelaparan. Pergilah ke Irak... temukanlah mereka di mana-mana, sampai hari ini.
Irak terus menangis, bahkan jauh hari setelah Saddam Hussein yang dianggap Bush sebagai musuh besarnya dipenggal kepalanya.
Di Irak, nyanyian dan tangisan sulit dibedakan. Mereka menari-nari, mendendangkan lagu perang, dan kemudian menangis. Ketika mereka sedang berdoa, dalam doa yang khusyuk, bom-bom berdentum, dan mereka selalu sadar bahwa kematian begitu dekat, begitu nyata, begitu sehari-hari.
Saya membaca laporan Kompas berikut ini, dan saya percaya, itulah memang yang ada di benak sebagian bangsa Arab.

Sumber: Harian Kompas
11 September 2001
Tragedi WTC di Benak Warga Arab
Jumat, 12 September 2008 | 00:38 WIB

Tujuh tahun setelah peristiwa 11 September berlalu. Peristiwa itu telah mengubah peta politik dan keamanan global cukup drastis. Namun, di mata warga Arab, keyakinan mereka tidak berubah, yaitu Osama bin Laden dan Al Qaeda tak ada kaitannya dengan serangan pada menara kembar World Trade Center (WTC) di New York.

Hal itu bukan kesimpulan dari sebuah penelitian ilmiah. Tetapi, itulah yang terungkap dalam percakapan sehari-hari bila topik 11 September dimunculkan, entah pada perbincangan di sebuah pusat perbelanjaan di Dubai, di sebuah tempat parkir di Aljazair, sebuah kafe di Riyadh, atau di berbagai tempat di Cairo.

”Saya tidak percaya apa yang dikatakan pemerintah dan pers Anda. Itu tidak mungkin,” ungkap Ahmed Issab (26), ahli teknik Suriah yang tinggal dan bekerja di Uni Emirat Arab, seperti dikutip International Herald Tribune (IHT).

”Untuk apa mereka mengatakan yang sebenarnya. Saya rasa AS merancang ini sehingga mereka punya sebuah alasan untuk menginvasi Irak demi minyaknya,” tambahnya.

Mungkin mudah sekali bagi warga Amerika mengatakan pandangan seperti itu ”keterlaluan”. Tetapi, itu artinya para pemimpin Barat mengesampingkan kenyataan bahwa pandangan seperti itu terus ada di benak banyak sekali warga Arab.

”Mungkin orang yang melakukan operasinya adalah orang- orang Arab, tetapi otaknya? Tidak mungkinlah. Peristiwa itu diorganisasikan oleh orang lain, Amerika Serikat atau orang Israel,” kata Mohammed Ibrahim (36), pemilik sebuah toko pakaian di Cairo.

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan WorldPublicOpinion.org di 17 negara, tidak semua orang memercayai Al Qaeda sebagai otak di balik penyerangan itu.

Secara rata-rata, hanya 46 persen yang memercayai penjelasan AS mengenai pelaku penyerangan itu. Sebanyak 15 persen lainnya mengatakan Pemerintah AS sendirilah yang merancang tragedi itu, 7 persen mengatakan Israel pelakunya, 7 persen lainnya mengatakan pihak-pihak lain sebagai pelakunya, dan satu dari empat mengatakan tidak tahu.

”Luar biasa karena tujuh tahun sudah tidak ada konsensus internasional mengenai siapa yang berada di balik peristiwa itu,” ungkap Steven Kull, Direktur WorldPublicOpinion.org.

Konspirasi

Ada banyak alasan mengapa warga Arab menganggap penyerangan 11 September merupakan bagian dari sebuah konspirasi melawan Muslim. Banyak orang mengatakan, hal itu tidak terkait dengan tindakan-tindakan Barat, tetapi lebih kepada kebijakan- kebijakan Barat.

Memang banyak desas-desus yang beredar luas segera setelah 11 September. Dan, informasi itu disebarluaskan oleh sejumlah televisi sehingga banyak yang memercayainya.

Desas-desus utama adalah warga Yahudi tidak pergi bekerja di WTC pada tanggal itu. ”Mengapa pada 11 September orang-orang Yahudi tidak pergi bekerja di gedung itu. Semua orang tahu mengenai ini. Saya melihatnya di TV dan banyak orang membicarakan ini,” kata Ahmed Saied (25), sopir seorang pengacara di Cairo.

Zein al-Abdin (42), ahli listrik yang ditemui di kafe Al Shahat di Cairo, menegaskan, yang utama adalah serangan 11 September itu merupakan serangan terhadap bangsa Arab.

”Mengapa mereka tidak pernah menangkap dia, Bin Laden? Mereka tidak menangkap dia karena dia tidak melakukannya. Apa yang terjadi di Irak menguatkan bahwa serangan itu tidak ada kaitannya dengan Bin Laden atau Al Qaeda. Mereka bermaksud menyerang Arab untuk menyenangkan Israel. Itulah penyebabnya,” ungkapnya.

Bagi banyak warga Arab, serangan AS ke Afganistan dan Irak, serta menghukum mati Saddam Hussein, semakin menegaskan niat AS untuk menyerang dunia Islam. Hal ini kian menumbuhkan kebencian mereka terhadap AS. (IHT/OKI)



Tuesday, July 8, 2008

Lupakan perang, happiness is love

Atas: Ahmad (kiri) sedang bermain biliar. Anak muda Jordania bermain game.
 19 Februari 2003

Lupakan perang, happiness is love

SHOOT, shoot, teriak Lord Fada. Di kejauhan, ia melihat tentara musuh bersembunyi di balik tembok bangunan tua. Kota, dengan bangunan-bangunan lapuk tanpa penghuni, jalan-jalan yang dihiasi mobil rongsokan, sepi. Semua penduduknya telah mengungsi. Hanya ada tentara yang saling menembak. Perang kota.
Sambil mengisap rokok “American Brand” L&M, Lord Fada berteriak lagi, tembak, tembak.  Suara senjata semi otomatis machine gun terdengar menyalak.
Lord Fada atau Abu Shalah, 30, tidak sedang melakukan perang kota melawan tentara Amerika di Baghdad. Ia, bersama delapan temannya, sedang memainkan game Born to Kill, Lahir untuk Membunuh. Permainan online itu sedang digemari anak-anak muda di kota tetangga Irak, Amman, Jordania.
Menempati ruangan 3x12 meter di lantai empat sebuah bangunan di Seventh Circle, Snipers Games, tempat Lord Fada bermain perang-perangan, tak pernah sepi pengunjung. “Permainan ini mengasyikan,” kata Abu Shalah. Tarifnya pun cukup murah, hanya 1 Jordanian Dinar (JD) atau sekitar Rp 13.000 per jam. Jauh lebih murah, kata anak muda itu, dibanding ke night club yang entry ticket-nya mencekik, 50 JD (Rp 650.000!).
Ada empat atau lima jenis game yang ditawarkan Sniper. Salah satunya Counter Strike. “Tapi pengunjung lebih senang perang kota Born to Kill,” ucap Ahmad Sayed, pengelola, yang ikut bermain. Apakah laris karena Presiden Saddam Hussein ingin menerapkan taktik perang kota melawan Amerika? Sayed tersenyum. Ia tidak menjawab. Tangannya memencet mouse, dan terdengar suara letusan bazooka.
Terletak di samping night club, tempat wanita-wanita muda melepaskan malam dengan bir dan pakaian mini, Snipers Games buka mulai pukul satu siang. Klub itu, yang juga menyediakan meja dan kursi untuk bermain kartu. Klub ini, yang sering dipadati anak-anak ABG dan para profesional, memanjakan pengunjungnya. “Kami buka sampai pengunjung pulang semua,” tutur Sayed, ganteng dengan tubuh yang atletis. Jam sudah menunjukkan pukul 01.30 dinihari, Snipers Games masih sesak oleh pengunjung. Di luar, dari kaca tembus pandang, terlihat hujan turun.
“Anda dari Filipina,” tanyanya. Semua wajah Asia memang selalu dikira dari Filipina, karena pekerja dari negerinya Arroyo ini cukup banyak di Amman dibanding orang Indonesia yang cuma sekitar 3.000 orang diantara 5,3 juta penduduk Jordania.
Dari televisi, channel Music Now menampilkan Alycia Kely yang melantunkan “Girl Friends”. Suaranya yang empuk seolah berlomba dengan bunyi dar der dor dari pengeras suara komputer game. Kely tampil dengan baju merah yang dadanya terbuka, sesuatu yang tidak tabu ditonton di negeri Arab kosmopolitan seperti Jordan. Setiap saat, jaringan televisi “MTV”-nya orang Arab, MBC dari Lebanon, menayangkan video klip dimana penyanyi Arab, lengkap dengan penari latar, tampil seperti video klip musik Barat: berani, liar, sensual.
Tapi, tidak ada bir. Anak-anak muda itu, sambil terus memencet mouse untuk menyalakkan machine gun, sniper, atau bazooka, meminum teh atau kopi Arab. Ada Pepsi dan Cocacola, merek yang identik dengan budaya Barat.
Bukan berarti, minuman alkohol tidak dijajakan. Brosur-brosus pariwista Jordania, negeri yang miskin sumber daya alam dan menggantungkan pendapatan negara dari tourisme, tidak malu-malu mempromosikan kedai-kedai dimana para wisatawan dengan leluasa menenggak bir.
Snipers Games seperti milik kaum Adam. Tak terlihat ada seorangpun wanita, ya pengunjung, ya pengelola. Padahal, di sebelah Snipers Games, yang cuma dipisahkan sekat kayu ukiran yang transparan, terdapat Riley Billiard.
“Di sini bukan tempat wanita. Gadis-gadis ada di mall, lantai disko, dan night club,” jelas Wawa. Ia bermain game, ditemani secangkir teh, sebungkus biskuit, dan rokok Malboro. Di mejanya tergeletak handphone Nokia 5510, jenis yang ngetrend di kalangan anak-anak muda Amman, laki ataupun perempuan.
***
JAM dua dinihari, Rabu (19/2).  Ahmad dan Mansur bergegas pulang. Keduanya bekerja di sebuah hotel.  Mereka harus cepat-cepat pulang karena pada jam 10 pagi, mereka harus masuk kantor seperti biasa. Hari Selasa jelas bukan akhir pekan. Di Arab, malam Minggu adalah malam Jumat. Mereka libur para hari Jumat, jalan-jalan sepi. Orang Yahudi di Israel sana libur pada hari Sabtu. Indonesia, yang mengikuti tradisi Kristen, libur pada hari  Minggu.
Ahmad menghampiri kasir, seorang lelaki berbadan gemuk yang tampak malas bicara. Dua lembaran pecahan satu JD dikeluarkan dari kantong. Si kasir memberikan uang kembalian, berupa koin pecahan piastres-an. Ahmad hanya perlu membayar harga minuman dua cangkir kopi dan secangkir teh, satu setengah JD.
“Kami memenangkan 30 game,” kata Ahmad, 24, tentang permainan biliar yang dimainkannya hampir empat jam. Ahmad dan Mansur ke Riley Billiard, meninggalkan hotel tempatnya bekerja, jam 10 malam setelah berdinas.
Karyawan hotel seperti Ahmad tak bisa menikmati night club. Sebulan, gajinya hanya berkisar 200 dolar AS, kurang dari dua juta rupiah. Padahal, biaya hidup di Amman dikenal mahal, salah satu yang termahal di Arab. Kurang lebih, empat lima kali lipat biaya hidup di Jakarta. Barang-barang merek impor sangat mahal. Seporsi Kentucky Fried Chicken (tiga potong ayam, kentang, dan sekaleng Pepsi) , misalnya, dilego 5 JD (Rp 65.000).
Ahmad lima bersaudara, tiga perempuan. Ayahnya –seorang yang dilukiskannya ganteng dan berwibawa-- meninggal tiga tahun lalu. Orang tua Ahmad terusir dari tanah Palestina setelah Perang Arab-Israel tahun 1948. Bersama ibu dan empat saudaranya, Ahmad tinggal di sebuah apartemen di luar kota. Saudara-saudaranya menganggur, bagian dari 1,5 juta penduduk Amman yang hidup di bawah garis kemiskinan.
“Saya yang membayar listrik, air, membeli bahan makanan,” ucap Ahmad. Seperti sebagian besar pengungsi Palestina lainnya, sekitar 65 persen dari penduduk Jordania, Ahmad tidak mengenyam pendidikan tinggi. Ia bekerja sejak usia 17 tahun untuk menghidupi keluarganya. Ia menjadi asisten manajer setelah lima tahun bekerja.
Seminggu sekali ia ke rumahnya. Ke sana, ia harus membayar taksi 5 JD. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan dengan tidur di hotel, sembari sesekali bermain biliar.
***

RODA kehidupan di Jordania, negeri bekas jajahan Inggris yang berbatasan langsung dengan Irak, biasa-biasa. Tak ada kepanikan mengantisipasi rencana serangan militer AS ke Irak. Anak-anak muda memenuhi mall, yang ukurannya jauh lebih kecil dibanding mal-mal megah di Jakarta, juga kedai-kedai kehidupan malam.
“Saddam tidak pernah, dan tidak akan pernah menyerang kami,” komentar Ahmad. Pada Perang Teluk tahun 1991, Saddam meluncurkan rudal Scud-nya ke negara-negara musuhnya seperti Kuwait, Arab Saudi, dan Israel. Tidak ke Jordania.
Jordania, yang sejak 1999 dipimpin Raja Abdullah yang lulusan pendidikan militer AS, adalah salah satu sekutu Bush di Timur Tengah. Cuma, dalam sejarahnya, sejak Raja Hussein almarhum yang memimpin negeri mungil ini selama 46 tahun, Jordania senantiasa memainkan peranan dinamis dalam kancah politik Timur Tengah. Raja Hussein bersahabat dengan para pemimpin Eropa, Uni Soviet (kemudian Rusia), dan Amerika.
Sumber daya alam yang terbatas adalah faktor utama mengapa Jordania tidak memusuhi Barat, yang menyediakan bantuan ekonomi, dan Saddam, yang menyuplai kebutuhan minyak Jordania.
Secara geopolitik, Jordania bertetangga langsung dengan negara-negara yang terus bergolak. Negeri ini dikelilingi Irak, Palestina (West Bank), dan Israel. Konflik Israel-Palestina melahirkan pengungsi ke Jordania sejak tahun 1948, hingga sebagian besar penduduknya berdarah Palestina. Sementara, Perang Teluk melahirkan pengungsi Irak yang masuk lewat daerah perbatasan di Ruweysed.
Bolehlah dibilang, Jordania tanah air kedua Palestina. Istri Raja Abdullah II, Ratu Rania, pun berdarah Palestina. Ketika Perang Teluk meletus, bangsa Palestina, termasuk Yasser Arafat, mendukung Saddam.
“Saddam orang pintar. Tatapan matanya tajam, berwibawa,” komentar Ahmad. Orang-orang Irak, kata dia, pintar-pintar. Sambil tertawa, ia berkata, “Buktinya mereka mampu membuat senjata pemusnah massal.”
Irak,  Mesir, Jordania, dan Palestina memang dikenal sebagai sumbernya orang-orang terdidik bangsa Arab. Mereka bekerja di berbagai negara, seperti Eropa bahkan Amerika. Mesir, misalnya, sampai membentuk kementerian tenaga kerja asing, saking banyaknya tenaga terdidik yang bekerja yang di luar negeri.
“Amerika tidak senang karena orang-orang Irak pintar. Mereka juga kaya minyak. Amerika mengincar petroleum (minyak) bangsa Arab,” sambung Ahmad.
Toh, ia tak mau terlalu memikirkan perang. Ahmad lebih senang bermain biliar, dua kali sepekan, di Riley. “Lupakan perang,” serunya, sambil mengambil stik biliar. Mungkin ia paham betul, apa maksud kata-kata yang tertera dalam kalender yang tergantung di dinding Riley: Hapiness is love.
(Wartawan PERSDA, Dahlan, melaporkan dari Amman, Jordania).

Orang-orang kecil korban perang Irak


Pengungsi Perang Irak di Ruweished, dekat Iraqi-Karama Border di wilayah Jordania, awal 2003.

Orang-orang kecil korban perang

GEORGE Walker Bush barangkali tidak pernah tahu dimana Ruweished. Ini kota kecil. Bush hanya tahu Baghdad, tempat Saddam, musuh utamanya, menyembunyikan diri sembari mengendalikan perlawanan sengit.

Ruweished adalah sampahnya ambisi Bush. Di sebuah gurun pasir yang terik membakar di siang hari dan dingin menusuk tulang kala malam datang, sekitar 20 km dari kota ujung barat Jordania itu, ratusan orang terpaksa menjalani kehidupan yang pahit di tenda-tenda nan mungil. Sebagian besar dari pengungsi perang Irak itu tidak mengenal Bush secara pribadi, kecuali tahu satu hal: karena ulah Bush, mereka terpaksa hidup sebagai pengungsi.

Thana Zera Ali bersama suaminya, Muhammad Ali, sempat bertahan sembilan hari di Baghdad, ketika kota Seribu Satu Malam itu siang malam dihantam bom. Hingga suatu waktu, mereka tidak kuat lagi. “Kami mengkhawatirkan keselamatan anak kami,” tutur Thana, ibu tiga anak. Bersama suaminya, ia berasal dari Palestina, negeri yang tak pernah damai sejak Inggris mensponsori berdirinya negara Israel di atas tanah Palestina tahun 1948.

Nenek moyang Thana terusir dari tanah air mereka. Israel, sekutu terdekat AS di Timur Tengah, menang perang. Negeri zionis itu lalu memanggil semua pengungsi Yahudi di seluruh dunia untuk mencaplok tanah Palestina.

Di pengungsian, Thana dan Ali bertemu dan menikah. Israel tidak pernah mau menerima pengungsi Palestina seperti Thana dan Ali kembali ke Palestina. Padahal, resolusi PBB mengharuskan negara Israel itu menerima pengungsi Palestina seperti Thana. Israel berkeras, dan Amerika diam saja. Padahal, terhadap Irak, Amerika ngotot luar biasa agar Saddam mematuhi resolusi PBB.

Seperti wanita Palestina lainnya, Thana lumayan cakep. Tubuhnya langsing, kulit putih, dengan hidung yang mancung. Rambutnya dibalut jilbab. Ia nampak cerdas. Dengan lancar ia menjawab semua pertanyaan wartawan asing lewat penerjemah, Rana Sidani, aktivis Palang Merah Internasional. Rana seorang wanita Libanon, tampak kebarat-baratan dengan celana jins warna biru dan switer ketat membalut tubuhnya yang padat berisi.

Sementara Ali berkulit gelap. Selama wawancara di depan tenda pengungsi mereka, lelaki pendiam ini lebih banyak tutup mulut. Hanya sesekali ia menyela pembicaraan istrinya. Tiga anak mereka tampak shock, terguncang, menjalani roda kehidupan yang berliku di zaman perang.

Berpindah-pindah kendaraan dari Baghdad, sambil membawa ketiga anaknya melewati ibu kota Irak yang panen bom, Thana dan anak-anaknya sempat menginap di pemukiman badui di sebuah gurun menjelang perbatasan Irak. Mereka hendak bertahan di sana, bersama suku badui yang hidup nomaden.

Bagi keluarga sederhana ini, anak-anak adalah segalanya. Tak peduli nyawa mereka, yang penting anak-anak, pelanjut hari depan. Akhirnya Thana dan suaminya memutuskan meninggalkan kamp badui.

Di kamp pengungsi, keluarga itu bergabung dengan 267 pengungsi lainnya. Sebagian besar pengungsi berasal dari Somalia, negeri yang dilanda perang saudara. Entah sampai kapan, Thana bertahan di kamp tersebut.

“Kami sedang menunggu solusi,” tuturnya seperti berbisik. Matanya terlihat memerah, menahan haru. Perang di Irak diperkirakan akan berlangsung lama. Selama itulah, Thana dan keluarganya hidup dalam ketidapastian.

“Kami kira, setelah Irak dilanda perang, keadaan di sana lebih berbahaya. Ternyata keadaan di sini jauh lebih berbahaya. Pulang ke tanah air kami tidak bisa, sementara di sini, saya amat mengkhawatirkan masa depan anak-anak saya,” kata Thana.

Di kamp pengungsi, anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka bermain-main, berlarian. Tapi mereka tidak bisa menonton film teletubies Arab. Tidak ada pesawat televisi.

“Bagaimanapun, kami lebih beruntung,” ujarnya dengan suara yang terasa berat. “Ada janda satu anak di sini, anaknya sakit asma. Untung palang merah menyediakan dokter gratis.”

***

SAULA Josef berasal dari Jordania, tetangga Irak di barat. Wanita 33 tahun tidak seberuntung Thana. Ketika perang meletus, suaminya, seorang Palestina, pindah tugas ke Yaman.

Dia mengungsi bersama tiga anaknya. Sebenarnya, Saula masih punya banyak famili di Amman, ibu kota Jordania. Hanya saja, sebagai wanita yang bersuamikan orang Palestina, ia tidak bisa membawa anaknya masuk Amman. Sehingga, bila ia mau tinggal di rumah keluarganya, ia harus meninggalkan tiga anaknya, termasuk yang masih berumur lima tahun, di kamp pengungsi.

“Saya tidak mungkin meninggalkan anak-anak saya. Makanya saya tetap tinggal di sini,” ujarnya, di depan tenda 2x2 meter tempatnya menginap. Mereka tidur di atas kasur tipis yang diletakkan di atas pasir gurun.

Tadinya, Saula merasa beruntung mengungsi ke Jordania. Bagaimanapun, negara kerajaan ini adalah tanah airnya. Dia ingin menengok makam ayahnya yang meninggal dua bulan lalu.

“Saya ingin. Tapi, saya tidak mungkin meninggalkan anak-anak saya di sini,” katanya lagi. Keinginan untuk melihat kuburan ayahnya terpaksa ia pendam.

Dari Karama Border, perbatasan Jordania-Irak, Kerajaan Jordania mendirikan lebih dari lima check point. Semua kendaraan yang masuk dari arah Baghdad diperksa. Sulit bagi mereka yang tak memiliki dokumen keimigrasi lengkap menembus Amman.

Saula berharap segera mendapatkan visa untuk mengunjungi suaminya di Yaman. Negeri Islam ini memberikan harapan, karena beda dari kebanyakan negara Arab, negeri asal Abu Bakar Ba’asyir ini mendukung Irak.

“Mudah-mudahan saya bisa segera mendapatkan visa. Anak-anak kangen sama bapaknya,” ia menambahkan.

Lebih dari 60 persen dari sekitar 5 juta penduduk Jordania berasal dari Palestina seperti Saula. Namun, negara kerajaan ini, seperti Mesir, menjalin hubungan mesra dengan Israel. Jordania adalah penerima bantuan terbesar AS di kawasan Timur Tengah setelah Cairo.

Kendati Rania, istri Raja Abdullah II, berdarah Palestina, namun sebagian besar warga Palestina di Jordania merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua. Jabatan puncak pemerintah, militer, dan polisi tidak pernah digenggam. Karena itu, warga Palestina lebih banyak menjadi pengusaha, dokter, atau pengacara. Yang tidak berpendidikan bekerja sebagai sopir taksi atau pedagang kaki lima di kawasan Balad City.

Hidup di tanah Arab, yang penuh konflik, mengorbankan orang-orang seperti Saula. “Saya bahkan tidak bisa melukiskan perasaan saya,” ucapnya tertawa lirih ketika ditanya wartawan Portugal. Penderitaan, memang, terkadang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Apalagi kalau derita itu muncul akibat ulah Amerika, negara yang selalu mengkhutbahkan demokrasi, sebuah cara mengelola pemerintahan secara damai, ke seluruh dunia.

***

ABDIRIZAK Omar adalah potret lain korban perang. Tiga tahun silam, pria 30 tahun ini meninggalkan negerinya, Somalia, menuju Baghdad. Anak tertua dari delapan bersaudara ini harus berpisah dengan adik-adiknya karena di negerinya tidak ada perguruan tinggi.

Di Baghdad, ia diterima menjadi mahasiswa kedokteran umum Baghdad University, tempat mantan Presiden Gus Dur dulu menimba ilmu. Seperti umumnya mahasiswa asing di ibu kota Irak itu, Omar menikmati beasiswa dari pemerintahan Saddam.

Perang merampas masa depan Omar. Ia, bersama 105 warga Somalia lainnya, sebagian besar mahasiswa, terpaksa mengungsi dan kini ditampung di kamp Ruweished. Omar dan kawan-kawan sebangsanya, bagaimanapun, ingin kembali ke tanah air mereka. Kata pepatah, hujan emas di negeri orang, masing lebih bagus hujan batu di negeri sendiri.

Di Somalia, tidak ada hujan batu, apalagi hujan emas. Yang ada “hanya” hujan peluru. Negeri Afrika itu, sampai sekarang, dicabik-cabik perang saudara.

“Kami tidak mau pulang ke Somalia. Di sana lebih berbahaya lagi karena sedang berkecamuk perang saudara,” ucap Omar. Rekannya, Julied, 25, menambahkan, “Di negeri kami tidak ada perguruan tinggi. Jadi untuk apa pulang?”

Omar, yang cukup mengenal Indonesia, memahami benar apa artinya perang. Ayahnya, Omar Abdi, meninggal akibat perang saudara di Mongadishu, Somalia Selatan, tahun 1991.

Omar dan Juliet bersama rekan-rekannya menunggu usainya perang di Irak, entah kapan. “Saya berharap bisa diterima bekerja pada lembaga kemanusiaan di sini. Saya ingin mengabdikan ilmu yang saya miliki,” tuturnya. Palang Merah Internasional mempekerjakan lebih 200 relawan asing.
Ditanya pendapatnya soal perang Irak, Omar berusaha mengelak. Dia enggan berbicara politik. Tapi kemudian ia berkata, mencoba netral: “Di manapun, perang selalu mengorbankan orang sipil. Kenapa perang ini tidak dihentikan?”

Omar berbicara di padang pasir. Suaranya tak akan didengar Bush nun jauh di Washington sana. Namun, bagaimanapun, kisah tentang Thana, Saula, dan Omar sekali lagi menunjukkan perang bukanlah miliknya orang-orang kecil. Dia milik orang besar yang berebut kekuasaan, pengaruh, dan uang. (Dahlan melaporkan dari Amman, Jordania)

Duta Besar RI belum akan tinggalkan Baghdad

Mana Dahlan yang asli? Begitu kami selalu berkelakar dengan Pak Duta Besar, Dachlan Abdul Hamid. Orangnya ramah, menyenangkan. Sebagai politisi, ia merakyat (he he he, bukankah begitu Pak Dubes?). Saya sekarang di Makassar setelah lima tahun tak pernah berjumpa lagi dengan Pak Dubes. Di manakah beliau sekarang?


9 Maret 2003.

Duta Besar RI belum akan tinggalkan Baghdad

Amman,

Kendati ancaman perang semakin nyata, Duta Besar Indonesia untuk Irak Dachlan Abdul Hamid dan lima diplomat Indonesia lainnya memutuskan tetap bertahan di Baghdad sambil menunggu perkembangan sikap Amerika Serikat dan PBB. “Belum ada rencana keluar. Kami terus memonitor perkembangan,” tegas Abdul Hamid ketika diwawancara wartawan PERSDA, Dahlan, via telepon dari Amman, Jordania, Minggu (9/3).

Dubes Abdul Hamid mengeritik AS dan sekutunya karena tidak menghargai hasil kerja tim inpeksi senjata PBB pimpinan Hans Blix dan Muhammad El Baradei. Seharusnya, kata dia, AS menghormati hasil kerja tim PBB yang menyatakan tidak menemukan senjata pemusnah massal di Irak.

“Amerika dan Inggris kan anggota PBB. Laporan Blix dan Baradei merupakan laporan PBB. Seharusnya mereka menghormati itu,” tegasnya, dan mengatakan, akan meninggalkan Baghdad setelah perang dimulai.

Dubes menambahkan, target AS sebenarnya bukan melucuti senjata pemusnah massal Irak melainkan menggulingkan Saddam Hussein. Tindakan itu dianggapnya tidak adil dan melanggar norma internasional.

“Seharus Amerika adil. Israel melanggar lebih dari seratus resolusi PBB, tapi Amerika tidak melakukan apa-apa terhadap Israel,” tandasnya. Salah satu resolusi PBB yang sampai saat ini tidak diindahkan Israel adalah pemberian hak kembali ke tanah airnya bagi pengungsi Palestina.

Dikatakan, rakyat Irak sekarang ini pasrah sambil bersiap menghadapi serangan darat AS. “Kalau orang Arab sudah terdesak, mereka pasrah, dan menyerahkan semuanya pada Allah,” tambahnya.

Rakyat Irak, menurut Abdul Hamid, akan bertempur habis-habis demi kehormatan dan kedaulatan negaranya. “Semua kekuatan di Irak, rakyat dan tentaranya, terkoordinasi dengan baik,” ujarnya membandingkan dengan situasi di Afganistan. Di Afganistan, jelasnya, rakyat dan tentara terpecah ke dalam beberapa kelompok. Sedangkan di Irak, terutama di daerah pendukung Saddam di Irak tengah, rakyat bersatu dengan tentara dalam koordinasi yang rapi.

“Kalau perang darat terjadi, kita tidak tahu mana korban yang banyak, orang Amerika atau orang Irak,” ujarnya, dan menggambarkan, perang darat nanti akan berlangsung seru dan lama, tidak seperti yang dibayangkan Amerika.

Kegelisahan Menjelang Perang Irak

Perang Irak semakin dekat. Semua gelisah.


12 Maret 2003.

WNI ancang-ancang tinggalkan Baghdad

Amman,

Sebanyak 46 Warga Negara Indonesia (WNI), termasuk masing-masing dua wartawan SCTV dan Metro TV serta dua orang Indonesia yang bekerja di tim inspeksi senjata PBB (UNMOVIC), mengambil ancang-ancang meninggalkan Baghdad. Sebanyak enam pejabat Pertamina yang bertugas di negeri penghasil minyak terbesar kedua di dunia itu akan meninggalkan Baghdad hari ini (12/3).

“Wartawan SCTV dan Metro TV akan pulang hari Jumat,” ungkap Duta Besar RI untuk Irak Dachlan Abdul Hamid dalam wawancara dengan wartawan PERSDA, Dahlan, Selasa (11/3). Sebanyak 25 mahasiswa, yang tadinya sudah dievakuasi ke Damaskus, Suriah, tapi kembali lagi ke Baghdad, kemungkinan akan segera meninggalkan negeri itu berkaitan dengan ancaman serangan militer sebelum atau setelah deadline perang tanggal 17 Maret.

Tadinya ada empat orang Indonesia yang bekerja sebagai staf administrasi UNMOVIC, lembaga PBB pimpinan diplomat Swedia Hans Blix yang begitu popular berkaitan dengan krisis Irak. Namun dua diantaranya sedang cuti. Yang tersisa sekarang dua orang, dan “keduanya berasal dari Garut seperti saya,” kata Dubes Abdul Hamid.

Inggris dan Spanyol, yang didukung AS, mematok deadline 17 Maret kepada Irak untuk melucuti seluruh senjata pemusnah massalnya atau menghadapi ancaman perang. Batas waktu itu diartikan sebagai sinyal terakhir persiapan perang.

Diantara 46 WNI terdapat sembilan orang staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), termasuk Dubes Abdul Hamid dan lima diplomat lainnya. Kendati WNI lainnya siap-siap pulang, Dubes menegaskan, “Kami (diplomat Indonesia) belum akan pulang. Irak adalah sahabat kita. Kita tidak akan meninggalkan kawan kita di saat dia sedang menghadapi kesulitan.”

“Dalam soal lain, kita biasanya menjadi imam. Tapi dalam soal evakuasi, sebagai sahabat, kita akan menjadi makmun saja,” tambahnya sambil tertawa. Posisi diplomatik seperti itu diambil Indonesia untuk menghormati Irak.

Sembilan negara, sebagian besar dari Eropa, telah mengosongkan kedutaannya sejak beberapa hari lalu. Staf tidak penting PBB juga telah diperintahkan meninggalkan Irak. Dubes akan memutuskan evakuasi segera setelah mengetahui para pejabat kunci PBB di Irak telah dievakuasi.

“Patokan kita adalah UNMOVIC dan pada duta besar Asean,” ujar Abdul Hamid tentang ancang-ancang evakuasi seluruh WNI dari Baghdad.

AS mengirim sinyal yang membingungkan ke seluruh dunia saat mengatakan, pasukan Bush bisa saja memutuskan serangan sebelum atau setelah deadline 17 Maret, dengan atau tanpa persetujuan PBB. Hal ini meningkatkan keresahan di Irak, bukan saja bagi warga asing tapi bagi rakyat Irak sendiri. Bahkan sempat tersiar desas desus bahwa AS akan mulai menyerang Selasa kemarin.

Sumber PERSDA di Press Office pemerintah Jordania di Hotel Intercontinental, Amman, mengungkapkan ada sekitar 700 wartawan asing yang saat ini bertugas di Baghdad dan masuk ke negeri itu melalui Jordania. Sebanyak 300 wartawan asing lainnya saat ini berpos di Amman sambil menunggu visa ke Irak. Sebagian besar wartawan diperkirakan akan segera angkat kaki dari Baghdad lewat jalan darat ke Amman begitu mengetahui serangan akan segera dimulai.
Dari markas human shields (perisai hidup) di Amman diperoleh informasi, pemerintah Saddam tidak lagi mengeluarkan visa untuk aktivis tameng hidup dari manca negara. Para aktivis yang nekat mengajukan visa turis, tapi harus menunggu berpekan-pekan, dan harus membayar biaya 500 dolar AS. Itu pun belum tentu bisa mendapatkan visa. Dalam prakteknya, pemerintah pusat di Baghdad mensortir satu demi satu pemohon diantara tumpukkan ribuan bahkan belasan ribu berkas permohonan visa.

Seorang wisatawan Jepang, Masasi, yang ditemui di markas human shields kemarin mengatakan terpaksa mengalihkan rute misi kemanusiaannya ke Damaskus setelah gagal mendapatkan visa turis ke Baghdad. “Saya ingin membantu pengungsi di sana,” kata pria berambut gondrong ala artis F4 itu, yang telah menghabiskan rute wisata darat dari Afrika Selatan ke Mesir di Afrika Utara sebelum “terdampar” di Amman.

Hari-hari Menjelang Perang Irak

Laporan jurnalistik ini coba merekam kegelisahan menjelang Perang Irak.


26 Februari 2003.

Rakyat Irak khawatir AS akan segera menyerang

Amman,-

Tanda-tanda perang semakin kelihatan. Saat para non essential staff Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mulai ditarik secara bertahap, rakyat Irak, yang tadinya tenang-tenang saja, kini mulai dihinggapi perasaan risau. Dikhawatirkan, dalam beberapa hari lagi, pasukan Amerika Serikat (AS) akan segera menghantam negara itu dengan aneka persenjataan udara yang canggih.
”Keadaan di Irak sekarang makin sulit. Anda tahu, AS akan menyerang kami beberapa hari lagi,” ucap seorang warga Irak yang tinggal di Baghdad saat dihubungi via telepon, Rabu (26/2). Menolak disebutkan namanya, sumber itu, seorang pemuda, menolak menjelaskan lebih rinci apa yang dimaksudkannya sebagai “tanda-tanda perang”.

Dengan suara yang terkesan hati-hati, dalam bahasa Inggris ia berkata, “Anda tahu, saya khawatir dengan intelijen di sini.” Ia tidak mau membeberkan lebih jauh karena takut dianggap membocorkan rahasia negara kepada pihak asing. Demikian wartawan PERSDA, Dahlan, melaporkan dari Amman, Jordania.

Seorang diplomat di Amman mengatakan kepada PERSDA, non essential staff Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah ditarik dari beberapa kota di Irak akhir pekan lalu. “Mereka ditarik secara bertahap,” katanya. Biasanya, kalau PBB sudah melakukan tindakan evakuasi, itu pertanda keadaan emergensi sedang mengintip. Pada Perang Teluk tahun 1991, pasukan sekutu pimpinan AS membobardir Irak hanya sehari setelah seluruh staf PBB ditarik dari negara itu.

Inggris, yang didukung AS dan Spanyol, mengajukan resolusi baru kepada Dewan Keamanan PBB. Itu merupakan trik terakhir meminta stempel PBB untuk menggempur Irak. Kendati Perancis, Jerman, dan Rusia menentang resolusi itu, Inggris dan AS berharap akan mendapatkan jawaban dua pekan lagi. Para diplomat menduga, kalau kedua negara gagal mendapatkan mandat PBB, pasukan Bush dan Blair akan menyerang secara unilateral.

Sumber tadi mengatakan, cuaca di Baghdad sekarang sedang hangat, tidak terlampau dingin. Sementara Jordania, negara tetangga Irak, diselumuti salju tebal. Di Amman, ibu kota Jordania, ketinggian salju mencapai 40-80 cm. Sejak Selasa (25/2), kantor pemerintah, swasta, sekolah, dan kampus tutup. Keadaan lebih parah kemarin. Toko-toko tutup semua, kecuali yang menjual kebutuhan pokok seperti sayur, buah-buahan, terigu, dan beras. Surat kabar tidak terbit, beberapa saluran televisi terganggu.

Lalulintas lumpuh total. Satu dua mobil mencoba keluar, tapi kemudian terjebak salju yang tebal. Mobil-mobil tersebut ditinggalkan pemiliknya begitu saja. Jarak pandang hanya mencapai 20-an meter. Keadaan diperkirakan normal kembali hari Sabtu nanti.

Kendati amat dingin, suhu udara diperkirakan sampai minus 2 derajat, suhu politik di Jordania tetap panas. Seorang diplomat, yang terputus dari informasi dunia luar setelah tak mendapatkan koran dan seluruh saluran televisi terganggu akibat salju, mengungkapkan, beberapa negara Barat seperti AS, Inggris, dan Kanada telah menarik non essential staff-nya dari Amman. Australia termasuk yang mengambil tindakan darurat tersebut. Negara-negara tersebut mengkhawatirkan dampak perang dan meningkatnya “tindakan terorisme”.

Lewat iklan tiga kolom berbahasa Inggris di Jordan Times, Kedutaan Besar Sri Langka meminta warganya melaporkan keberadaan mereka. Tindakan ini dilakukan kantor perwakilan lainnya untuk memudahkan evakuasi.

Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) juga akan melakukan tindakan serupa dengan memasang iklan dalam dua bahasa sekaligus, Arab dan Inggris. Diperkirakan 4.000 WNI, sebagian besar TKI, bermukim di berbagai kota di Jordania. “Pengumuman terutama akan ditujukan kepada para majikan yang memperkerjakan pekerja asal Indonesia,” kata Mushrifun Lajawa, Kabid Penerangan KBRI. Dengan sekitar 70 mahasiswa Indonesia, KBRI Jordania tidak merasa kesulitan untuk mengumpulkan mereka dalam keadaan darurat, karena sering menjalin komunikasi. Beberapa mahasiswa Indonesia juga dilengkapi sarana komunikasi modern seperti handphone.

Sumber diplomat mengatakan, pemerintah Kerajaan Jordania, yang mendapatkan bantuan dua baterries anti rudal Scud Irak dari AS, berusaha menyakinkan kantor-kantor perwakilan asing bahwa negara ini aman. Kendati begitu, kedutaan asing tetap merumuskan langkah-langkah emergency (darurat). Negara tetangga Irak ini, bagaimanapun, diperkirakan akan tetap mendapatkan ekses perang.

Beberapa diplomat dilaporkan memilih Aqaba, kota yang terletak 324 km dari Amman, sebagai wilayah pengungsian. “Ada yang sudah membooking apartemen atau hotel,” kata sumber tersebut. Aqaba dipilih karena dekat dengan wilayah perbatasan dengan Arab Saudi dan Mesir. Kedua negara bisa ditempuh lewat jalan darat. (Dahlan dari Amman, Jordania)

Mereka yang Rela Mati untuk Irak


Laporan jurnalistik tentang semangat berjihad melawan mesin perang Amerika Serikat. Belakangan terbukti, semangat saja tidak cukup melawan kecanggihan mesin perang. Dalam tempo sangat singkat, pasukan pendudukan Amerika Serikat berhasil menduduki Irak dan menggulingkan Saddam Hussein.


20 Maret 2008.


Pejuang Mesir, Jordania, berjihad ke Irak

Amman,-

Perang telah dimulai, Irak dibombardir. Tapi sama sekali tidak membuat rakyat Irak mengungsi. Sebaliknya, rakyat Irak, terutama kaum laki-laki, berbondong-bondong ke Baghdad untuk berjihad melawan Amerika Serikat. Relawan jihad pro Irak juga datang dari Jordania dan Mesir.

Hal itu terlihat di Mahata, terminal mobil jurusan Amman-Baghdad di pinggiran kota Amman, Jordania, Kamis (20/3). Di terminal itu, hanya tampak satu dua kendaraan saja yang datang dari Baghdad mengangkut pengungsi. Yang banyak justru ke Baghdad mengangkut pejuang jihad. Demikian dilaporkan wartawan PERSDA, Dahlan, dari Amman.

Sebuah mobil GMC yang baru tiba dari Baghdad kemarin pagi terlihat mengalami kerusakan. Kaca depan dan samping hancur. Sementara kaca depannya remuk. “Mobil ini, bersama sebuah mobil lainnya, rusak karena getaran bom Amerika,” ungkap Moh’d Nazir Abu Gharbieh, seorang Jordania yang menjadi penerjemah wartawan Korea. Tidak dilaporkan ada korban jiwa.

Begitu pengungsi tiba di terminal, orang-orang segera berkerumun mendengarkan kabar dari Baghdad. “Sangat buruk, sangat buruk. Bom di mana-mana,” ujar seorang pria berusia 50 –an tahun, yang mengungsi dengan istrinya yang pincang, dengan nada emosional. Sesekali terdengar teriakan “Allah Akbar, Allah Akbar” dari kerumunan itu.

Di wilayah perbatasan Jordania-Irak, arus pengungsi dilaporkan belum terlihat deras. Satu dua kendaraan yang mengangkut pengungsi memasuki kota Amman, sekitar 400 km dari Karama Border, perbatasan Jordania-Irak. Kamp pengungsi yang dibangun Badan Pengungsi PBB (UNHCR), Palang Merah Interasional (ICRC), dan Bulan Sabit Merah sekitar 50-60 km dari perbatasan belum juga rampung.

Di Baghdad, rakyat dilaporkan bersembunyi di rumah-rumah atau bungker yang disediakan pemerintah. Setiap kali serangan bom datang, bunyi sirene meraung-raung pertanda harus segera menyelematkan diri. Pemerintah meminta rakyat menghindari gedung tinggi. Bagi yang tinggal di gedung bertingkat, disarankan agar bersembunyi di lantai bawah.

Di Kuwait, negara yang diserang rudal Irak, terkurung puluhan ribu Warga Negara Indonesia (WNI). Berdasarkan petunjuk sebelumnya, sekitar 48.000 WNI diminta mengamankan diri ke tempat-tempat perlindungan yang disediakan pemerintah setempat. Hubungan telepon ke Kuwait City, saat kota itu diserang, terputus total.

Suasana kota Amman, tengga Irak, berlangsung normal. Toko dan sekolah tetap buka, kendaraan, yang memutar siaran radio berita perang, tetap memadati jalan-jalan utama dalam kota. Rencananya, hari Jumat, setelah shalat Jumat, masyarakat Jordania akan menggelar demonstrasi ke kedutaan AS, kantor yang luasnya melebihi lapangan sepakbola yang sejak dua bulan lalu dijaga panser.

Saat diberitakan adanya serangan udara di wilayah perbatasan Irak-Jordania, sebuah helikopter militer Jorania terbang rendah di tengah kota. Namun tidak disusul dengan bunyi sirene tanda bahaya. Pemerintah Jordania sendiri, yang merasa aman, tidak menganjurkan warganya membeli masker pelindung diri dari serangan senjata biologis dan kimia.

Masyarakat Jordania mengikuti perkembangan perang melalui siaran-suaran televisi Arab. Mereka juga masih bisa menyaksikan siaran TV Irak yang berisi program lagu-lagu perjuangan. Saat Presiden Saddam Hussein tampil di televisi kemarin pagi, yang menyerukan jihad melawan AS, para pemuda terlihat bergetar. “Jihad, jihad,” teriak Mansyur yang menonton pidato itu dari café sebuah hotel di Amman.

Di Israel, pemerintah zionis segera mengumumkan kepada warganya untuk memakai masker, berdiam di tempat-tempat perlindungan, begitu AS memulai perang Kamis dinihari. Tapi PM Sharon mengatakan, hanya satu persen saja kemungkinan Irak menggempur Israel. Kendati begitu, Israel berjanji akan membalas setiap serangan Irak, hal yang dikhawatirkan akan menyeret seluruh kawasan Timur Tengah ke dalam kancah perang regional.


Jihad

Abu Ahmad Ali, 43, bersama lima temannya mengendarai taksi dari Mesir ke Amman, dengan tujuan jihad. Perjalanan panjang itu ditempuh 24 jam, sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Baghdad.

“Saddam Hussein berjuang untuk bangsa Arab,” ujar lelaki berkulit cokelat itu berapi-api saat ditemui di Mahata. “Amerika mau menumbangkan Saddam? Tidak. Terlalu banyak orang yang mencintai Saddam,” katanya lagi.

Saad Muhammad Hasan, orang tua Irak yang mengenakan kafayeh warna merah motif putih, tak kalah semangat. “Amerika harus dihancurkan. Allah bersama kita,” teriaknya di samping mobil GMC, kendaraan yang bertarif 100 dolar AS yang akan mengantarkannya ke medan jihad di Baghdad bersama empat temannya.

Salah Abu Muhammad, anak muda Jordania berusia 23 tahun tak kalah semangatnya. “Saya berangkat untuk berjihad. Insya Allah, kami menang,” ujarnya sembari memasukan barang bawaannya, tas-tas berisi pakaian dan selimut, ke dalam bagasi mobil.

“Kami punya senjata,” kata Hasan. Senjata api itu, kata dia, akan didapatkan di Baghdad. Sebanyak tujuh juta pasukan fidahi Saddam, sebuah milisi siap mati untuk Saddam, dilaporkan telah mendapatkan suplai senjata dari Partai Baath untuk menghadapi perang darat.

“Insya Allah, Amerika akan menghadapi medan perang seperti di Vietnam,” ujar seorang pria pejuang jihad yang mengaku bernama Muhammad sambil membisikan sesuatu: “Saya anggota Ikhwanul Muslimin.” Organisasi garis keras ini bergerak di bawah tanah setelah dilarang pemerintah Mesir.
Saad mengatakan, bangsa Irak dan Palestina menderita puluhan tahun karena ulah Amerika dan Israel. Karena itu, ia bertekat akan berjuang hidup mati bersama rakyat dan tentara Irak.

Menanggapi propaganda Presiden AS George W Bush bahwa negara adikuasa itu akan mempromosikan demokrasi di Timur Tengah, ia berkata, dengan nada tinggi: “Siapa yang percaya Bush. Ia memerangi Irak untuk minyak dan Israel.”

Duta Besar tinggalkan Baghdad, KBRI ditutup


Berikut adalah laporan Jurnalistik dari Amman, Jordania, menjelang invansi Amerika Serikat ke Irak.
* Gadis Karawang belum ditemukan
Duta Besar tinggalkan Baghdad, KBRI ditutup
Amman,-
Akhirnya, Duta Besar RI Dachlan Abdul Hamid dan 25 mahasiswa serta seluruh diplomat Indonesia meninggalkan Baghdad, Senin (17/3) siang. Keputusan itu diambil kurang dari 24 jam sebelum deadline Amerika yang mungkin akan menggempur Irak dengan atau tanpa dukungan PBB.
Mengendarai sedan dinas jenis Mercy, Dubes Abdul Hamid dan rombongan, termasuk seluruh 25 mahasiswa dan empat wartawan TV Indonesia yang menumpang mobil GMC, meninggalkan Baghdad pukul 12.00. Rombongan akan menempuh perjalanan darat 12 jam menuju Damaskus, ibukota Suriah.
Seluruh aktivitas KBRI, yang dijaga seorang staf lokal asal Irak, kini ditutup total. Penarikan seluruh diplomat itu dilakukan di tengah ketidakpastian nasib Naning Nurul Arofa, 23, gadis asal Karawang, yang dilaporkan masih berada di Irak. Demikian dilaporkan wartawan PERSDA, Dahlan, dari Amman, Jordania.
“Kami sudah mencari gadis itu, tapi tetap tidak ketemu,” ujar Walid, staf lokal KBRI asal Irak. Dengan bahasa Indonesia yang lumayan fasih, Walid dihubungi via telepon beberapa jam sebelum rombongan evakuasi meninggalkan KBRI. Wisma Nusantara, rumah dinas duta besar, juga dijaga seorang staf lokal.
Keberadaan Naning di Irak dilaporkan orang tuanya ke Departemen Luar Negeri Jakarta. Dikatakan, Naning mengikuti majikannya yang pindah kerja dari industri perkapalan di Dubai menuju Basra, kota di Irak selatan, dua tiga pekan lalu. Mendengar informasi itu, KBRI mengutus stafnya, termasuk Walid, untuk mencari Naning.
“Kami juga mencarinya di sebuah kota bernama Al Jamaiya, namun tidak ada seorang pun warga Indonesia di sana. Kami juga sudah cek ke imigrasi,” tambah Walid. Bila benar Naning ada di Irak, TKW itu akan kesulitan mencari bantuan. Kedutaan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Filipina, telah ditutup.
Duta Besar Abdul Hamid mengungsi bersama dua diplomat dan dua staf KBRI, termasuk sopir pribadi dubes bernama Dadang. Tiga diplomat lainnya telah mengungsi lebih dulu ke Damaskus, kota yang akan dijadikan markas KBRI memantau perkembangan Irak.
Tadinya, dua staf KBRI orang Indonesia akan ditugaskan menjaga KBRI dan Wisma Indonesia, dua simbol kedaulatan Indonesia di Irak. Namun, penjagaan dua bangunan itu diserahkan kepada staf lokal karena alasan keamanan.
AS diperkirakan akan memulai serangan udara yang intensif dan gencar, suatu pertanda tidak ada sejengkal tanah pun yang aman di Irak. Kebanyakan fasilitas militer, yang akan menjadi sasaran serangan udara, berada di dekat rumah sakit, sekolah, dan perkampungan penduduk. Saat ini masih ada sekitar 100 orang aktivis human shields (perisai hidup) di Baghdad, termasuk beberapa orang diantaranya dari Amerika Serikat.
Irak sendiri siap siaga mengantisipasi perang. Televisi Irak yang dipancarkan lewat satelit terus mengumandangkan pekik perlawanan, nyanyian lagu-lagu perjuangan, dengan sorak-sorakan “birruh, biddam, li ajlik ya Saddam” (dengan jiwa, dengan darah, demi kamu ya Saddam). Televisi juga menampilkan gambar latihan militer warga sipil di gurun. Diperkirakan tujuh juta rakyat Irak kini telah dipersenjatai dan siap bertempur hidup mati mempertahankan tanah airnya.
Kendati ancaman perang semakin dekat, para wartawan asing di Amman terus berharap mendapatkan visa. Namun, amat sulit. Saat ini, berdasarkan data di Press Room Kementerian Informasi Jordania, tercatat lebih 500 wartawan asing yang berada di Amman, menunggu visa menuju Irak.
Badan-badan kemanusiaan terus berdatangan ke Amman untuk memberikan bantuan kepada pengungsi yang mungkin akan memasuki Jordania dan ditampung di wilayah perbatasan. Diantara lembaga itu adalah World Vision dari Kanada dan MerC dari Malaysia, selain badan-badan dunia seperti UNHCR dan Palang Merah Internasional.

Jelang Perang Irak: Duta Besar tinggalkan Baghdad, KBRI ditutup


Saya (tengah) dan aktivis human shield di Amman, Jordan. Para aktivis ini mengkampanyekan slogan antiperang. Mereka datang dari berbagai negara. Nakasone (kanan), misalnya, berkewarganegaraan Argentina namun orang tuanya dari Jepang.


Berikut adalah laporan Jurnalistik dari Amman, Jordania, menjelang invansi Amerika Serikat ke Irak.

* Gadis Karawang belum ditemukan

Duta Besar tinggalkan Baghdad, KBRI ditutup

Amman,-

Akhirnya, Duta Besar RI Dachlan Abdul Hamid dan 25 mahasiswa serta seluruh diplomat Indonesia meninggalkan Baghdad, Senin (17/3) siang. Keputusan itu diambil kurang dari 24 jam sebelum deadline Amerika yang mungkin akan menggempur Irak dengan atau tanpa dukungan PBB.

Mengendarai sedan dinas jenis Mercy, Dubes Abdul Hamid dan rombongan, termasuk seluruh 25 mahasiswa dan empat wartawan TV Indonesia yang menumpang mobil GMC, meninggalkan Baghdad pukul 12.00. Rombongan akan menempuh perjalanan darat 12 jam menuju Damaskus, ibukota Suriah.

Seluruh aktivitas KBRI, yang dijaga seorang staf lokal asal Irak, kini ditutup total. Penarikan seluruh diplomat itu dilakukan di tengah ketidakpastian nasib Naning Nurul Arofa, 23, gadis asal Karawang, yang dilaporkan masih berada di Irak. Demikian dilaporkan wartawan PERSDA, Dahlan, dari Amman, Jordania.

“Kami sudah mencari gadis itu, tapi tetap tidak ketemu,” ujar Walid, staf lokal KBRI asal Irak. Dengan bahasa Indonesia yang lumayan fasih, Walid dihubungi via telepon beberapa jam sebelum rombongan evakuasi meninggalkan KBRI. Wisma Nusantara, rumah dinas duta besar, juga dijaga seorang staf lokal.

Keberadaan Naning di Irak dilaporkan orang tuanya ke Departemen Luar Negeri Jakarta. Dikatakan, Naning mengikuti majikannya yang pindah kerja dari industri perkapalan di Dubai menuju Basra, kota di Irak selatan, dua tiga pekan lalu. Mendengar informasi itu, KBRI mengutus stafnya, termasuk Walid, untuk mencari Naning.

“Kami juga mencarinya di sebuah kota bernama Al Jamaiya, namun tidak ada seorang pun warga Indonesia di sana. Kami juga sudah cek ke imigrasi,” tambah Walid. Bila benar Naning ada di Irak, TKW itu akan kesulitan mencari bantuan. Kedutaan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Filipina, telah ditutup.

Duta Besar Abdul Hamid mengungsi bersama dua diplomat dan dua staf KBRI, termasuk sopir pribadi dubes bernama Dadang. Tiga diplomat lainnya telah mengungsi lebih dulu ke Damaskus, kota yang akan dijadikan markas KBRI memantau perkembangan Irak.

Tadinya, dua staf KBRI orang Indonesia akan ditugaskan menjaga KBRI dan Wisma Indonesia, dua simbol kedaulatan Indonesia di Irak. Namun, penjagaan dua bangunan itu diserahkan kepada staf lokal karena alasan keamanan.

AS diperkirakan akan memulai serangan udara yang intensif dan gencar, suatu pertanda tidak ada sejengkal tanah pun yang aman di Irak. Kebanyakan fasilitas militer, yang akan menjadi sasaran serangan udara, berada di dekat rumah sakit, sekolah, dan perkampungan penduduk. Saat ini masih ada sekitar 100 orang aktivis human shields (perisai hidup) di Baghdad, termasuk beberapa orang diantaranya dari Amerika Serikat.

Irak sendiri siap siaga mengantisipasi perang. Televisi Irak yang dipancarkan lewat satelit terus mengumandangkan pekik perlawanan, nyanyian lagu-lagu perjuangan, dengan sorak-sorakan “birruh, biddam, li ajlik ya Saddam” (dengan jiwa, dengan darah, demi kamu ya Saddam). Televisi juga menampilkan gambar latihan militer warga sipil di gurun. Diperkirakan tujuh juta rakyat Irak kini telah dipersenjatai dan siap bertempur hidup mati mempertahankan tanah airnya.

Kendati ancaman perang semakin dekat, para wartawan asing di Amman terus berharap mendapatkan visa. Namun, amat sulit. Saat ini, berdasarkan data di Press Room Kementerian Informasi Jordania, tercatat lebih 500 wartawan asing yang berada di Amman, menunggu visa menuju Irak.

Badan-badan kemanusiaan terus berdatangan ke Amman untuk memberikan bantuan kepada pengungsi yang mungkin akan memasuki Jordania dan ditampung di wilayah perbatasan. Diantara lembaga itu adalah World Vision dari Kanada dan MerC dari Malaysia, selain badan-badan dunia seperti UNHCR dan Palang Merah Internasional.

Dari Bagdad dengan Madu Arab

Suasana terminal Amman (Jordania)-Bagdad. Terminal ini berfungsi sebagai satu-satunya penghubung antara Jordania dengan Irak sebelum dan saat Perang Irak 2003 sebelum Bandara Internasional Bagdad beroperasi.

Laporan jurnalistik ini ditulis di Amman, Jordania, awal 2003.


Dari Baghdad dengan madu

AZIS menyantap roti. Bukan seperti roti Indonesia yang berbentuk bulat atau lonjong. Roti yang disantap sopir truk asal Irak itu seperti handuk kecil berwarna susu, lebar dan tebal. Lembaran roti itu digulung, diisi telur, daging, tomat dan timun yang diiris-iris kecil. Tangan kirinya memegang gelas plastik kecil warna putih berisi teh hangat.

Truk yang dia kendarai sangat besar, 18 ban. Ia mengangkut kontainer. Dari Baghdad, lelaki berusia 45 tahun itu membawa madu dan kurma ke Amman, Jordania. Sebaliknya, dari Amman, ia membawa barang-barang elektronik dan mainan anak-anak ke Baghdad.

Begitulah seterusnya, Azis melewati hari-harinya dengan pemandangan gurun pasir sepanjang perjalanan 12 jam Baghdad-Amman. Saban hari.

Matahari sangat terik. Tapi udara tetap dingin. Azis membungkus tubuhnya dengan jaket warna hitam. Di sana sini terlihat ada sobekan. Kepalanya dibungkus sorban warna merah, motif putih, penutup kepala “kebanggaan” Jordania. Warna sorban itu tenggelam oleh debu padang pasir.

Wajahnya nampak letih. Dia istrihat di kota Sofawi, Jordania, tidak jauh dari perbatasan Irak-Jordania. Di sini memang banyak warung. Aneka makanan dan minuman dijual. Santapan yang terbilang lezat adalah ayam panggang dan roti plus syai (teh) sebagai minuman penutup.

Satu porsi sekitar 2 Jordanian Dinar (JD) atau sekitar 500 Dinar Irak. Harga yang teramat mahal bagi kantong seorang sopir truk. Juga, sebenarnya, bagi ukuran dompet orang Indonesia. Dua JD kira-kira sama dengan Rp 26 ribu.

Tampak sekali lelaki berkulit agak gelap itu menikmati santapannya. Ia duduk di kursi dekat pintu masuk sebuah warung. Sama sekali ia tidak terusik dengan orang yang lalulalang ke luar masuk warung. Truknya diparkir di depan warung.

Sofawi, sekitar 200 km dari perbatasan, memang kota istrihat bagi sopir truk dan sopir mobil angkutan penumpang Baghdad-Amman. Selain makan dan beristirahat, para sopir itu sering mengisi bahan bakar yang dijual di jerigen-jerigen di tepi jalan, bukan di pompa bensin.

Minyak tersebut berasal dari Irak. Jordania bukan penghasil minyak. Di negeri kerajaan tetangga Irak ini, lima liter minyak dilego dengan harga 1 JD. Penjualnya adalah orang-orang Jordania keturunan Palestina.

***

IRAK sebenarnya negara yang kaya. Buminya mengandung minyak, prospat, dan sulfur. Perang membuat rakyat menderita. Selama delapan tahun, 1980-1988, pasukan Saddam memerangi saudara mereka, Iran. Belum hilang rasa letih melewati hari-hari masa perang, tahun 1990, Saddam menyerang Kuwait. Sejak 1991, negeri itu diembargo, dikucilkan masyarakat dunia, dan saban waktu dibombardir AS dan Inggris, terutama di wilayah zona larangan terbang di utara maupun selatan.

AS mungkin girang karena telah membuat Saddam tak berdaya. Tapi, bagi rakyat kecil seperti Azis, embargo atau pun ancaman perang tidak cuma menghukum Saddam, tapi terutama rakyat Irak.

Rakyat Irak sekarang ini seolah identik dengan kemiskinan. Mobil-mobil angkutan umum dari Baghdad rata-rata sudah berumur. Mirip pemandangan angkutan pedesan di Indonesia. Pemandangan itu amat kontras dengan penampilan elegan mobil-mobil baru dari Eropa dan Asia yang menghiasi jalan-jalan di kota Amman.

Azis dan rekan-rekannya sesama sopir kini menyongsong penderitaan yang mungkin akan lebih berat. Mereka percaya, tiga pekan lagi, akhir Februari atau awal Maret, negaranya akan digempur AS.

“Sekarang, situasi di Irak masih normal,” kata rekan Azis. “Rakyat gelisah menunggu datangnya perang. Kalau perang benar-benar terjadi, mereka sudah siap mengungsi ke perbatasan.”

Pemerintah Jordania melarang pengungsi Irak memasuki wilayahnya. Negara ini, yang berpenduduk sekitar 5 juta, terlanjur dipadati orang-orang Palestina. Pada perang Arab-Israel tahun 1967, Arab kalah. Akibatnya, orang-orang Palestina terpaksa meninggalkan tanah airnya. Sebagian besar mengalir ke Jordania.

Pendatang Palestina menguasai sektor bisnis. Tokoh-tokoh besar di Amman sebagian besar milik keturunan Palestina. Persis seperti perantau keturanan Tionghoa yang mengendalikan roda perekonomian hampir seluruh kota penting di Indonesia. Kini, penduduk Jordania keturunan Palestina diperkirakan sekitar 60 sampai 65 persen. Sisanya penduduk lokal dan pendatang dari negara-negara Arab lainnya.

Dengan komposisi penduduk seperti itu, wajar kalau Raja Abdullah mengunci rapat pintu perbatasannya dengan Irak. Dia tentu tidak ingin negaranya dibanjiri pengungsi.

Para pengungsi Irak rencananya akan ditampung di zona netral perbatasan Irak-Jordania. Tenda-tenda untuk pengungsi, kata sumber-sumber diplomat di Amman, sudah disiapkan pemerintah dan Badan Pengungsi PBB, UNHCR.

Semakin perang membayang, Azis dan kawan-kawannya semakin resah. Berdasarkan pengalaman Perang Teluk tahun 1991, jalur Baghdad-Amman rawan terkena bom. Sudah pasti, mereka harus berhenti bekerja, dan menjadi pengungsi. (Wartawan PERSDA, Dahlan, melaporkan dari perbatasan Jordania-Irak)

Wednesday, July 2, 2008

Antara Paman Saddam, Tuan Bush, dan Sharon


18 Februari 2003

Anak muda Palestina yang mengenakan kafiyeh Jordania sedang mengisi bensin ke tangki sebuah taksi di sebuah kota dekat perbatasan Jordania-Irak. Pemerintah Israel mencabut hak kembali anak-anak muda Palestina ke tanah air mereka sendiri. Mereka berharap banyak pada Saddam Hussein, salah satu pemimpin Arab yang ditakuti Israel. (Foto: Dahlan)

Antara Paman Saddam, Tuan Bush, dan Sharon


PERANG memisahkan Jaber Muhammad dengan sanak familinya. Ia terpaksa meninggalkan tanah airnya Palestina, menuju Jordania, setelah bangsa Arab kalah perang dari Israel tahun 1967. Tiga puluh lima tahun sudah, ia tak pernah melihat Hebron, tanah kelahirannya. Setiap kali hendak kembali, penguasa Israel mengunci pintu perbatasan.

“Saya dianggap masih muda,” kata Jaber. Begitulah, Israel –yang mengusir orang-orang Palestina dari tanah airnya— menentukan hampir segalanya, termasuk usia seseorang. Jaber sebenarnya tak muda lagi. Lahir tahun 1962, pria gemuk itu kini berusia 41 tahun! Pemerintah Israel melarang setiap “pemuda” yang dipaksa angkat kaki dari Palestina setelah perang kembali ke Palestina. Israel hanya memberi keleluasaan kepada orang-orang tua, yang tak bisa lagi mengangkat sepotong batu, yang tak bisa lagi melawan tentara pendudukan.

Walhasil, jutaan anak muda Palestina yang terusir dari tanah kelahirannya mengembara di berbagai negara Arab, termasuk Eropa dan Amerika. Hak mereka kembali ke Palestina dicabut secara sepihak oleh pemerintah Israel yang menguasai setiap jengkal tanah pendudukan di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Jaber selalu kangen dan ayah dan adik-adiknya di Hebron. Tapi ia tidak bertemu dengan adik-adiknya. Mereka masih muda. Kalau mereka ke luar negeri, ke Jordania bertemu Jaber, mereka tak akan bisa kembali lagi. Jaber hanya sering bertemu ayahnya, yang sudah tua, di Amman, ibu kota Jordania. “Hanya orang-orang tua Palestina yang boleh ke luar masuk negaranya sendiri. Sebab mereka sudah terlalu tua untuk melawan tentara Israel,” ujar Jaber, seorang sopir taksi.

Suatu waktu, cerita Jaber, dia membawa seorang wanita Irak. Rambut yang panjang, tanpa jilbab, hidung yang mancung, membuat Jaber terkesan. Wanita itu membeli tabung gas, dimasukannya ke dalam taksi, dan Jaber harus membantu wanita itu mengangkat benda berat itu.

Dan, handphone Jaber yang ditinggalkan di dalam taksi berdering. Wanita itu membiarkan telepon itu berdering. “Saya takut, istrimu yang menelepon,” kenang Jaber, sembari tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian wajahnya berubah serius, ketika teringat, wanita itu adalah korban perang seperti dirinya.
”Dia hidup terpisah dari suaminya. Mungkin suaminya ke Eropa atau kemana. Yang saya tahu, mereka meninggalkan Irak setelah Perang Teluk (1991),” katanya. Wanita itu tinggal sendirian di Amman, terpisah dari suami dan anak-anaknya.

Di Amman, para pemuda Irak bekerja sebagai buruh bangunan. Di dalam negeri, mereka tak menemukan sumber kehidupan. Sanksi ekonomi PBB 12 tahun terakhir membuat perekonomian Irak hancur berkeping-keping. Mata uangnya jatuh ke titik terendah, dari sebelumnya lebih kuat tiga kali lipat dibanding dolar AS.

Sebenarnya, negeri 1001 malam itu begitu kaya sumber daya alam. Penghasil minyak terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi. Memiliki dua sumber mata air dari Sungai Tigris dan Eufrat, sehingga Irak selalu hijau, beda dari negara-negara Arab lainnya yang tandus. Pertanian subur. Bandingkan misalnya dengan Arab Saudi, yang kaya minyak, tapi tidak memiliki sumber air sama sekali.

Perang menghancurkan kehidupan orang-orang kecil. Seperti Jaber, Abu Bakar meninggalkan tanah Palestina setelah perang 1967. Ia mengungsi ke Kuwait. Mereka sudah hidup tenang di negeri kaya minyak itu. Namun, malapetaka datang, ketika Presiden Saddam Hussein memerintahkan pasukannya menginvasi Kuwait tahun 1990.

“Orang Palestina di Kuwait mendukung Paman Saddam. Setelah Paman Saddam kalah, kami semua, sekitar setengah juta orang Palestina, angkat kaki dari Kuwait ke sini,” ujar Abu Bakar yang, seperti Jaber dan orang-orang Palestina lainnya, berprofesi sebagai sopir taksi di Amman.

***

SELAIN Yasser Arafat, bangsa Palestina mengidolakan Saddam. Bagaimanapun, Saddam dianggap konsisten melawan Amerika, ketika para pemimpin Arab lainnya bertekuk lutut kepada Tuan Bush. Saat Perang Teluk meletus, tatkala hampir seluruh negara di dunia mendukung pasukan sekutu pimpinan Amerika, Arafat, seperti juga Abu Bakar dan kawan-kawan, mendukung Saddam.

Irak, bersama Iran, adalah salah satu negara yang ditakuti Israel, musuh bangsa Palestina. Kedua negara memiliki kekuatan militer yang tangguh. Dalam kaca mata Israel, Irak dan Iran adalah bahaya paling besar. “Ancaman nyata adalah Iran dan Irak. Mereka harus dihentikan. Oleh Amerika Serikat,” tulis Micah D Halpern, seorang penulis Israel, dalam artikelnya di Insideisrael pada Februari tahun lalu.

Ia mengutip pidato Bush yang memasukan Irak dan Iran, bersama Korea Utara, kedalam “Poros Kejahatan”. Halpern sama sekali tidak menghitung Korea Utara. Pemilik senjata nuklir itu nun jauh terletak di Semenanjung Korea.

Filipina, katanya, juga berbahaya. Tapi gerakan Abu Sayyaf di sana, yang dikaitkan dengan Al Qaeda, “hanya berjuang di dalam negeri.” Dengan kata lain, ideologi perjuangannya mustahil mencapai sasaran Israel. Tidak seperti Irak dan Iran yang membenci negara zionis dan mampu dengan cepat menjangkau Tel Aviv.

Pada Perang Teluk, Saddam membuktikan dukungannya pada bangsa Palestina. Tidak lupa ia mengirim 39 rudal Scud ke Israel, di saat negaranya sedang digempur habis-habisan oleh pasukan sekutu pimpinan AS. Saat ini, Saddam memiliki tentara Al Quds (Jerusalem), yang sebagian besar adalah para pejuang Palestina.

“Saya tidak tahu banyak tentang Saddam. Saya tidak tahu apa yang ada di balik perlawanannya terhadap Amerika. Tapi dia orang baik,” kata Ali Hussein, pria Palestina yang menjual dinar Irak di kawasan Roman Aphiteater, Amman.

Dia menyalahkan negara-negara Teluk kaya minyak seperti Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar. “Mereka punya banyak uang, tapi tidak memberikannya kepada bangsa Arab,” katanya. Keempat negara, kata dia, memperkaya Amerika dengan “menyimpan uangnya di bank-bank Amerika,” dan menyediakan wilayahnya sebagai pangkalan militer Bush dalam persiapan menggempur Irak.

Penderitaan panjang bangsa Palestina barangkali membuat mereka mengimpikan kehadiran tokoh kuat anti AS seperti Saddam. Tahun 1948, ketika negara Israel diproklamirkan David Ben Gourion di atas wilayah Palestina, Amerika dan Inggris membelakangi Palestina. Mereka mendukung Israel, posisi yang senantiasa dipertahankan sampai kini.

Ribuan rakyat Palestina meninggal di tangan tentara Israel sejak tokoh garis keras Ariel Sharon menjadi perdana menteri Maret 2001. Ia mengalahkan Ehud Barak, calon dari Partai Buruh yang pro perdamaian, sekaligus mengubur proses perdamaian.

Sharon menarik perhatian dunia ketika pada Maret tahun lalu mengerahkan pasukan secara besaran-besaran menginvasi kota-kota Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dan, Amerika, seperti biasanya menyalahkan rakyat Palestina, yang melawan dengan batu. Di tanah Palestina, melawan tentara “penjajah” Israel disebut teroris.

Bush saat ini menekan Irak untuk memenuhi resolusi PBB nomor 1441. Bangsa Palestina tentu tidak lupa, PBB pernah mengeluarkan resolusi nomor 194. Keputusan PBB itu mengharuskan Israel memberikan hak kembali kepada jutaan pengungsi Palestina seperti Jaber atau Mahmud atau Ali Hussein.

Namun, Israel tak pernah mematuhi resolusi tersebut, tanpa Amerika mengerahkan ratusan ribu pasukannya untuk menekan Sharon. Padahal, penolakan terhadap resolusi tersebut bukan hanya mencabut hak orang-orang Palestina yang terusir dari tanah air untuk kembali. Lebih dari itu, sikap keras kepala Israel merupakan salah satu penyebab gagalnya perundingan damai Camp David II, Juli 2000.

Sejak itu, proses perundingan damai Israel-Palestina macet total. Dan, pasukan Sharon, dengan leluasa, menembaki rakyat Palestina yang tak berdosa. Pada saat yang sama, ironisnya, Bush mengancam menyerang Irak untuk memenuhi resolusi PBB.

Perhatian dunia tertuju ke Irak. Palestina terlupakan. Kekerasan tentara Israel terus berlangsung, tanpa ada yang mau menghentikannya. Senin (16/2) lalu, enam tokoh senior Hamas, gerakan perlawanan Palestina, dibunuh tentara Israel di Gaza City.

Salah satu korban adalah Abu Zaid. Ia calon pengganti pemimpin Hamas Salah Shehade yang dibunuh tentara Israel akhir Juli tahun lalu. Satu persatu, pemimpin Hamas dibunuh sejak meletusnya gerakan Intifadah dua tahun terakhir. Rumah-rumah rakyat Palestina dibolduser tentara Israel.

Dengan nada marah, juru bicara Hamas Abdel Azis Rantissi berteriak, “Kami akan membalas kejahatan ini; katakan para Sharon dan teroris (Menteri Pertahanan Shaul) Mofaz mereka akan membayar mahal kejahatan yang telah mereka lakukan.” Tapi, suara Rantissi seperti tenggelam dalam hinggar binggar persiapan AS menggempur Irak. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang mau mendengar.

***

HOROR di Palestina belum akan segera berakhir. Barusan, Sharon memenangkan pemilu secara meyakinkan. Para pengamat menilai, kemenangan Sharon pertanda rakyat Israel mendukung kebijakannya yang keras, yang menghancurkan proses perdamaian.

Ironisnya, Israel semakin kuat, Palestina semakin terpojok. Hari Jumat pekan lalu (14/2), Presiden Palestina dipaksa mengumumkan akan menunjuk perdana menteri untuk menjalankan pemerintahan sehari-hari. Semua itu menandakan kemenangan diplomasi Sharon. Ia memakai tangan AS dan Uni Eropa untuk menekan Arafat, agar muncul pemimpin Palestina yang gampang dikendalikan.
”Di bawah tekanan intensif AS dan Uni Eropa, Arafat mengumumkan akan menunjuk perdana menteri…,” tulis Israel Daily Newsmagazine. Dua tokoh disebut-sebut sebagai kandidat kuat pengganti Arafat. Satunya, Ahmed Qurei (Abu Ala), juru bicara parlemen Palestina. Satunya lagi, Mahmoud Abbas alias Abu Mazen, deputi Arafat di organisasi pembebasan Palestina, PLO.

AS dan Israel ingin pengganti Arafat orang moderat agar bisa dengan gampang disetir. Menurut Israel Daily Newsmagazine, Bush dan Sharon lebih memilih Fayyad, ketimbang dua kandidat versi Arafat tersebut. Fayyad, seorang ekonom yang memimpin reformasi finansial, dianggap tidak terlibat dalam “internal politik” Palestina. Ia buta politik.

Israel ingin memastikan, kekuasaan Arafat benar-benar harus bisa dipangkas. Menteri Pertahanan Shaul Mofaz menyatakan penolakannya atas kecenderungan Arafat menunjuk tokoh yang bisa dikendalikannya dari balik layar.

Bersamaan dengan itu, seperti simponi, Israel menginginkan AS segera melucuti, Saddam. Timur Tengah pasca Saddam adalah Timur Tengah yang dikendalikan AS. Kondisi ini diimpikan Israel untuk memaksakan agenda perdamaian dengan Palestina.

Dua isu utama menggagalkan KTT Camp David II, Juli dua tahun lalu. Israel menolak hak kembali pengungsi Palestina. Sementara Arafat bersikukuh, Palestina memegang kedaulatan atas Masjid Al Aqsa, tempat suci ketiga umat Islam. Seluruh negara Arab mendukung posisi Arafat.

Namun, dengan jatuhnya Irak ke dalam pelukan AS dan kemenangan tokoh garis keras semacam Sharon di satu pihak, dan melemahnya posisi Arafat di sisi lain, Israel akan semakin mendiktekan formula perdamaiannya. Boleh jadi, Al Aqsa akan jatuh ke tangan Israel.

Sekarang ini, setelah gagalnya KTT Camp David II, sedang diupayakan formula perdamaian “road map”. Formula ini diusung pemerintahan Bush, yang didukung PBB. Untuk sementara, jantung proses perdamaian berhenti berdetak, karena Bush sedang sibuk membereskan Saddam terlebih dahulu. Dan, Saddam melawan, pertanda harapan bangsa Palestina masih ada, walau cuma secuil. Demikianlah, Israel berharap kepada Bush, Palestina berharap Saddam. (Wartawan PERSDA, Dahlan, melaporkan dari Amman, Jordania)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...