Showing posts with label PELATIHAN JURNALISTIK. Show all posts
Showing posts with label PELATIHAN JURNALISTIK. Show all posts

Monday, June 28, 2010

TIPS PENULIS: Pentingnya Konteks

Pengelola hotel, terkadang, lebih tahu hukum menulis daripada wartawan.

Pada tempat-tempat yang diperlukan, misalnya di pintu kamar, dipasang pengumuman "You are here (Anda di sini)".

Lalu dipasang gambar "konteks": di sini itu di mana posisinya, kirinya apa kanannya apa. Mukanya apa, belakangannya apa.

Persis seperti itulah salah satu hukum menulis. Satu fakta tidak berarti apapun tanpa dilengkapi konteks.

Bahkan, parahnya, sepotong fakta tanpa konteks tak jarang menyesatkan.

Seorang ibu mengomeli anaknya karena nilai rapor bahasa Inggrisnya 73. Wajar ia naik pitam karena si anak sudah ikut les mahal tapi nilai rapornya tidak lebih dari 80.

Faktanya adalah nilai rapor si anak 73. Apa maknanya? Konteks memberi makna.

Tengok ke belakang: berapa nilai bahasa Inggrisnya semester lalu. Setelah dicek ternyata 65. So, 73 artinya bagus. Angka 73 artinya prestasi.

Lihat ke samping. Berapa nilai anak-anak lainnya yang sekelas atau dalam konteks yang lebih luas, satu sekolah.

Konteks membantu pembaca menemukan makna. Konteks di pintu hotel itu memberi gambaran agar Anda tidak tersesat.

Merugilah orang-orang yang tersesat. Dan sungguh berbahaya seorang penulis yang menyesatkan pembacanya.

Maka, wahai penulis, belajarlah pada pengelola hotel. You are here.

Newmedia, Surat Kabar, Internet, Berita Online 



Laporan dari Kuala Lumpur (68).
Laporan dari Cina (7) 
Laporan dari Doha (13) 

T

Wednesday, April 8, 2009

Pengantar Menulis

Ask the Tribun Timur Editor

Pengantar Menulis
Pengantar untuk diskusi pada Blogging and Writing di kantor PT Telkom, Makassar, 8 April 2009
Oleh:
Dahlan,
Pemimpin Redaksi Tribun Timur,
Makassar




Menulis
Menulis adalah berkomunikasi dengan kata-kata melalui proses menuliskan apa yang ditangkap panca indera. Secara proses, menulis adalah menuangkan apa yang ditangkap panca indera dalam bentuk tulisan.
Menulis seperti berbicara. Ia harus dilatih. Otak, sebagai pusat semua aktivitas menulis, harus senantiasa dilatih untuk menularkan apa yang hendak dikatakannya dalam bentuk tulisan.
Anda dilatih berbicara sejak kecil, karena itulah Anda pintar berbicara. Tapi Anda tidak dilatih menulis sejak kecil. Penulis yang baik adalah penulis yang rajin berlatih.

Pengembangan Tema: Panduan 5 W + 1 H
1. What (apa)
2. Who (Siapa)
3. Where (di mana)
4. When (kapan)
5. Why (mengapa)
6. How (Bagaimana)


Prinsip
1. Efektivitas (pesan sampai, tidak menimbulkan pemahaman yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis)
2. Efisiensi (ekonomi kata)
3. Keindahan bahasa, struktur, logika

Tips
1. Gunakan kalimat tunggal. Variasi perlu untuk keindahan bahasa, tapi jangan terlalu sering
2. Gunakan kalimat aktif, kalimat yang mengandung kekuatan berbahasa
3. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
4. Perhatikan audience. Audience yang berbeda memerlukan tulisan yang berbeda: tema, judul, diksi
5. Pelajari gaya tulisan penulis favorit: cara menempatkan kata, memilih kata (diksi), membangun struktur
6. Menulislah dan teruslah menulis selagi dunia belum kiamat






Friday, November 14, 2008

Perencanaan Liputan

Ask the Tribun Timur Editor
Ini merupakan bahan pelatihan wartawan dan redaktur Tribun Manado. Semoga bermanfaat untuk semua.


Perencanaan Liputan

Oleh:
Dahlan,
Pemimpin Redaksi Tribun Timur, Makassar)

(Bahan pelatihan wartawan dan redaktur Tribun Manado, 17-20 November 2008)
Dari segi asal usulnya, berita terbagi dua: berita by design dan berita by accident.
Berita by design adalah berita yang lahir dari perencanaan. Mula-mula tidak ada berita, wartawanlah yang membuat berita. Merencanakannya, meliputnya, menulisnya, dan melaporkannya.
Sedangkan berita by accident adalah berita yang muncul begitu saja, turun dari langit, tanpa direncanakan. Orang yang beragama percaya, kecelakaan, bencana alam, dan musibah tidak terjadi begitu saja, melainkan direncanakan dari Atas. Perencananya bukan manusia, bukan pula wartawan. Berita yang lahir dari kecelakaan, bencana alam, dan musibah merupakan berita by accident.
Masalahnya, koran terbit tiap hari, ada atau tidak ada bencana. Sudah begitu, koran tidak hanya terbit satu halaman, melainkan banyak halaman. Dengan mengandalkan berita by accident saja, rasanya, sulit bagi surat kabar untuk selalu tampil sempurna setiap hari.
Surat kabar juga harus berisi berita yang bermutu. Beritanya dirancang, direncanakan, didesain.
Untuk semua itu, berita by design merupakan solusi. Berita seperti itu lahir dari perencanaan. Direncakan topiknya, anglenya, narasumbernya, fotonya, grafisnya, bahkan deadlinenya.
Tidak berarti bahwa berita by accident tidak perlu perencanaan liputan. Perlu, bahkan harus, demi mutu laporan yang bagus.
Karena itu, perencanaan liputan tidak hanya perlu untuk liputan by design, melainkan juga liputan by accident.
Di mana merencanakan liputan? Di newsroom, di lapangan, dalam perjalanan menuju lokasi liputan, di lokasi liputan, di mana saja.
Perencanaan liputan bisa dilakukan seorang diri, bisa ramai-ramai, terutama untuk liputan keroyokan.

Konteks Manajemen
Perencanaan adalah salah satu aspek dari manajemen. Aspek lainnya adalah pembentukan tim (organizing, siapa mengerjakan apa), pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi.
Perencanaan tidak ada artinya bila hanya perencanaan saja. Banyak redaktur merasa sudah cukup dengan membuat perencanaan liputan, lalu menunggu hasil kerja reporter. Idealnya, setelah perencanaan --yang biasanya diikuti dengan penunjukkan reporter yang bertugas-- diikuti dengan controlling (pengawasan atau pengendalian) liputan.
Kontrol bermakna negatif, seolah-olah tidak percaya pada reporter. Konteksnya sebetulnya bukan tidak percaya, melainkan memastikan liputan berjalan sesuai rencana atau untuk mengetahui masalah riil di lapangan atau bisa juga untuk mengecek apakah timnya perlu diperbesar, diperluas, atau malah diperkecil.
Controlling juga efektif menjadi alat untuk mengetahui apakah angle liputan yang dipilih sudah tepat, narasumber sudah tepat, data-data yang diperlukan tetap relevan, foto yang direncanakan tetap up to date atau perlu perombakan total.
Dengan demikian, kontrol dalam konteks liputan lebih tepat disebut pengendalian liputan.
Koordinator liputan biasanya bertugas merencanakan liputan. Tapi sebenarnya, key performance indicator-nya bukan cuma berapa banyak perencanaan liputan yang dibuat, melainkan outputnya, misalnya, berapa berita eksklusif yang dihasilkan. Ke dalam output itu terlihat proses, yakni proses mengendalikan liputan. Biasanya, liputan yang dikendalikan dengan baik akan menghasilkan bahan liputan yang bagus.
Konteks Kerja Wartawan
Wartawan bekerja mencari, menulis, dan melaporkan berita. Itu merupakan tiga keterampilan dasar wartawan. Skill politisi adalah berpidato, membujuk publik, merebut kursi. Skill wartawan hanya tiga: mencari, menulis, dan melaporkan berita.
Perencanaan liputan akan lebih baik kalau diterapkan pada tiga level tersebut: perencanaan pencarian berita, perencanaan penulisan (tulisan pokok, tulisan pendamping, data-data yang diperlukan, bahan grafis), serta perencanaan melaporkan atau desain liputan atau design halaman.

Tips (How to)
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan liputan:
1. Topik liputan
2. Angle liputan
3. Lokasi liputan (perjalanan, logistik, pengiriman berita/foto)
4. Team work (lapangan, newsroom)
5. Deadline
6. Alokasi halaman

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan penulisan:
1. Alokasi halaman
2. Team work (siapa menulis apa, anglenya apa. Siapa redakturnya)
3. Materi tulisan (sudah cukup atau perlu pengembangan)
4. Pembagian tulisan (overall, sidebar)
5. Deadine (Per tulisan?)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan halaman (desain halaman):
1. Space (ruang) yang tersedia
2. Desain halaman (page architecture, dll)
3. Tulisan (overall, side bar)
4. Foto
5. Grafis/Infografis
6. Deadline halaman

Semoga bermanfaat!
Makassar, 14 November 2008




Wednesday, July 30, 2008

Kompetensi Wartawan, Kesan Calon Wartawan

Ask the Tribun Timur Editor


Rabu (30/07/08) ini hari keenam pelatihan calon wartawan Tribun Timur, Makassar.
Ini in house training singkat saja, sekitar dua pekan.

Kami melatih tiga calon wartawan yang baru saja lulus dari kampus. Dua calon wartawan benar-benar baru dalam dunia jurnalistik. Sedangkang satunya sudah lumayan karena telah belajar jurnalistik di penerbitan kampus identitas, Unhas.

Pada hari keenam, setelah mendapatkan sejumlah materi dasar pelatihan jurnalistik dan melakukan liputan di lapangan, saya bertanya kepada mereka: siapa sebenarnya wartawan?

Mengejutkan. Ada lebih 30 jawaban.

Jawaban itu secara umum dapat dikategorikan sebagai hard competence dan soft competence wartawan.
Wartawan itu, kata mereka, seorang yang gigih, fighter, pekerja keras, bahkan tanpa mengenal kata libur.
Mereka juga melihat wartawan sebagai pejuang masyarakat, bahkan seperti guru, pahlawan tanpa tanda jasa.


Wartawan harus kritis, kata salah satunya. Yang lain menambahkan, wartawan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.


Ditambahkan pula, wartawan harus memiliki wawasan yang luas, serba tahu. Mengetahui banyak hal tapi tidak mendalam.


Wartawan mesti memiliki relasi yang luas, mudah bergaul, familiar.


Wartawan bekerja untuk profesinya, untuk masyarakat, tidak menerima pemberian apapun dari narasumber.


"Itulah soft competence," kata saya setelah meminta mereka menyebutkan secara spontan "siapa sih wartawan?".

Hard competence terkait dengan keterampilan menulis dan melaporkan berita. Wartawan harus pintar menulis, bukan pintar berpidato. Syukur-syukur kalau wartawan jago berpidato, tapi keterampilan utamanya adalah mencari dan menulis berita.


Akhirnya saya bilang, "Begitu tinggi kualitas emosional dan intelektual yang harus dimiliki wartawan. Sayang sekali kalau masyarakat hanya mengenal wartawan sebagai manusia tanpa malu yang ke mana-mana mencari amplop."


"Hormatilah profesi ini," kata saya kepada mereka. "Bangun kredibilitas. Dengan kredibilitas, Anda akan bisa membuat laporan jurnalistik yang bisa membantu masyarakat."



Newmedia, Surat Kabar, Internet, Berita Online 



Laporan dari Kuala Lumpur (68).
Laporan dari Cina (7) 
Laporan dari Doha (13) 


Thursday, July 24, 2008

EMPAT HAL YANG MEMANDU KERJA WARTAWAN

Ask the Tribun Timur Editor



1. Fungsi pers
2. Unsur-unsur berita
3. Nilai-nilai berita
4. Konsep product

Fungsi Pers
1. Menyajikan informasi
2. Mendidik
3. Menghibur
4. Kontrol sosial

Unsur-unsur Berita
5W 1H
1. What
2. Where
3. When
4. Who
5. Why
1. How

12 Nilai Berita
1. Baru
2. People
3. Konflik
4. Ikon kota
5. Komunitas
6. Seks
7. Proksimitas
8. Unik
9. Glamour
10. HIS
11. Peristiwa
12. Bencana

Konsep Produk
Konsep internal perusahaan pers Anda mengenai berita dan design


Artikel Terkait:
* Eksplorasi 5W 1H
* Nilai-nilai Berita


Eksplorasi 5 W 1 H

Ask the Tribun Timur Editor


Selain dengan pendekatan nilai-nilai berita, suatu berita yang bagus dapat pula ditemukan dengan mengeksplorasi unsur-unsur berita 5W 1H.
Eksplorasi dan temukan angle yang kuat:


1. What
2. Where
3. When
4. Who
5. Why
6. How

Mobil menabrak becak (WHAT) bukanlah berita yang memiliki nilai berita yang terlalu kuat.
Bila wartawan menghentikan jiwa kritis dan semangat ingin tahu, lalu tidak mengembangkan 5W 1 H, bisa saja ia kehilangan berita besar.
Mari kita eksplorasi unsur-unsur 5W 1H. WHO, siapa pengemudi mobil. Mungkin saja ia sopir, bukan pejabat atau pengusaha. Tapi bagaimana kalau sopir itu ternyata adalah anggota DPR. Pasti lain ceritanya.
WHO, siapa pengemudi mobil -–katakanlah memang hanya orang biasa, ordinary people, tidak ada nilai beritanya. Gali lagi, di mana dia tinggal, siapa dia, sekolahnya di mana. Ooo, dia drop out dari Unhas, misalnya. Satu unsur yang cukup kuat sudah ketemu, unsur komunitas, yakni Unhas.
Wartawan harus terus bertanya, mengumpulkan data, sebelum memutuskan menghentikan pelacakan.
Gali lagi identitas tukang becak. Di mana dia tinggal, siapa dia, dari mana. Bayangkan kalau Anda menemukan fakta ini: si sopir dan si tukang becak sama-sama berasal dari Palu. Pasti nilai beritanya akan berbeda daripada sekadar “mobil menabrak becak”.
Di Makassar, becak biasanya dimiliki juragan. Pengayuh becak hanya menyewa setiap hari. WHO, siapa pemilik becak itu. Satu kampung lagi dengan penabrak?
Seringkali, bila rajin membimbing langkahnya dengan sikap kritis dan rasa ingin tahu, wartawan akan menemukan fakta-fakta yang mencengangkan, fakta-fakta yang mengandung nilai berita yang kuat.
Marilah terus berandai-andai dengan WHO. Mungkin saja becak itu milik si pengayuh, tukang becak. Coba cek, bagaimana perjuangan tukang becak itu mengumpulkan sen demi sen uang untuk memiliki becak. Pastilah juga ada cerita yang menarik.
Mungkin dia menggadaikan cincin kawin, utang kanan-kiri, atau malah mungkin mendapatkan pemberian dermawan untuk membeli sebuah becak. Wow, ceritanya juga seru.
Kalaulah WHO sudah dieksplorasi sebegitu rupa dan Anda tidak menemukan nilai berita yang kuat, masih ada peluru cadangan: WHERE, WHY, HOW. Gali terus, usut terus. Pergunakanlah daya kritis dan spirit rasa ingin tahu Anda.
Soal WHERE: tabrakan terjadi di depan kantor gubernur? Di koridor rumah sakit? Di depan tempat hiburan malam?

WHY: Pengemudi mobil mengantuk (kenapa dia mengantuk)? Pengemudi keasyikan memencet tombol handphone ber-SMS ria (dengan siapa)? Pengemudi mobil terpana melihat cewek yang berboncengan sepeda motor? Atau, pengemudi panik setelah rombongan pejabat dengan mobil sirene lewat?
HOW: Bagaimana jalannya tabrakan? Mobil meliuk-liuk? Dan seterusnya.
Ini dia kunci eksplorasi 5W 1 H: Gunakan daya kritis dan semangat rasa ingin tahu Anda. Itulah dua senjata ampuh yang membimbing wartawan menemukan berita yang memiliki nilai berita yang tinggi.
Selamat mencoba!

Artikel Terkait:
* Nilai-nilai Berita



Nilai-nilai Berita

Ask the Tribun Timur Editor

Menarik tidaknya suatu berita tergantung nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Makin banyak nilai yang terkandung dalam berita tersebut, makin menarik beritanya.
Ada sedikitnya 12 nilai berita.




1. Baru
Berita yang baru tentu lebih bernilai daripada berita yang sudah basi. Makin aktual suatu berita, makin menarik berita tersebut.


Inti dari berita adalah baru. Walau semua nilai berita terpenuhi tapi tidak lagi merupakan hal baru maka nilai beritanya langsung anjlok.

"Baru" bisa juga dimaknai secara kontektual. Jusuf Kalla berkunjung ke Myanmar (hal baru). Profil Jusuf Kalla (hal lama). Profil Jusuf Kalla bisa untuk memperkaya berita kunjungan Jusuf Kalla ke Myanmar.


2. People
Berita tentang manusia (people) lebih menarik, misalnya, dibanding dengan angka-angka statistik yang membosankan.


People dibagi dua: welknown people (public figure) atau ordinary peole (orang biasa).


Public figure seringkali menciptakan berita yang menarik. Madonna melahirkan, Madonna sakit, Madonna berbelanja adalah berita. Tapi si Anu melahirkan, si Inu sakit, atau Si Itu berbelanja bukanlah berita, setidaknya bukan berita yang memiliki nilai yang tinggi.


Ordinary people sering menarik menjadi berita kalau dia terkait dengan suatu peristiwa, bencana, prestasi. Tanpa itu, ordinary people biasanya diangkat dari sisi humannya, human interest story.

3. Konflik
Konflik –-apalagi yang melibatkan public figure-- sering melahirkan berita bersambung, running story. Publik ingin tahu mengapa, siapa, bagaimana, dan mengapa terjadi konflik. Publik ingin tahu kelanjutan (ending) ceritanya.
Konflik ordinary people yang komunal, apalagi menelan banyak korban atau kekerasan yang khas, juga memiliki nilai berita yang tinggi.

4. Seks
Dari zaman purba, seks selalu memiliki daya tarik. Kadang-kadang cerita seks sama sekali tidak penting, tapi menarik.

5. Ikon kota
Bila Anda hidup di suatu kota, Anda membutuhkan kebanggaan. Monas bagi warga Jakarta, Pantai Losari bagi warga Makassar -–itulah ikon kota. Public selalu merasa tertarik karena merasa bagian dari ikon itu.

6. Komunitas
Penggiat pencak silat lebih tertarik pada berita pencak silat ketimbang golf, demikian sebaliknya. Berita-berita terkait komunitas memiliki daya tarik yang kuat untuk anggota komunitas tersebut. Demikianlah, cerita tentang blog akan menyita perhatian para blogger.

7. Proksimitas
Kedekatan atau proksimitas (proximity). Anda merasa dekat secara geografis, emosional (psikografis), atau demografis.


Berita komunitas memiliki dimensi kedekatan emosional (psikografis) daripada geografis. Berita pencak silat, di manapun dia, tetap menarik bagi komunitas pencak silat.


Kedekatan dari geografis, daerah, juga menarik. Warga Makassar lebih senang membaca berita kemacetan di Makassar daripada banjir yang melumpuhkan Jakarta. Makassar yang macet mempengaruhi kehidupan warga Makasssar sehari-hari, bukan banjir yang melumpuhkan Jakarta.


Tidak jarang, pembaca pria lebih tertarik membaca berita tentang pria. Berita mengenai kesehatan pria akan lebih banyak dibaca pria ketimbang wanita. Itulah salah satu unsur dari kedekatan secara demografi.

8. Unik
Unik, tidak biasa, bizarre, jarang terjadi, jarang terlihat. Nilai beritanya tinggi. Wanita di Balikpapan mengeluarkan kawat dari perutnya menjadi berita terpopuler (paling banyak diklik di kompas.com selama berhari-hari).

9. Glamour
Pesta yang mewah, yang menghabiskan duit banyak, yang dihadiri tokoh-tokoh public adalah berita besar.

10. Human interest
Cerita tentang manusia selalu memiliki daya tarik. Seorang tunanetra mampu mengetik di papan keyboard laptop orang normal dengan kecepatan 60 kata per menit -–wow, itu cerita human interest story yang luar biasa.

11. Peristiwa
Becak bertabrakan dengan becak adalah peristiwa. Dia memiliki nilai berita. Apalagi kalau becak bertabrakan dengan mobil BMW –-lebih tinggi lagi nilai beritanya.

12. Bencana
Bencana tsunami di Aceh menghiasi halaman depan surat kabar selama lebih satu bulan. Di sana banyak drama yang mengharu biru, banyak korban jiwa, banyak cerita heroik, banjir air mata.

Nilai-nilai berita itu membimbing wartawan dalam pekerjaan jurnalistiknya sehari-hari.
Wartawan harus terlatih atau peka terhadap nilai-nilai berita tersebut ketika meliput berita apapun.
Bayangkanlah satu berita mengandung sekaligus 12 nilai berita tersebut. Pastilah beritanya memiliki daya tarik yang sangat kuat.


Kadang-kadang satu berita mengandung beberapa unsur saja, seperti baru, people, dan proksimitas.
Tidak jarang pula berita hanya mengandung satu nilai saja.


Redaktur biasanya menyeleksi berita-berita untuk ditempatkan di posisi yang menonjol atau kecil saja di pojok tergantung pada kandungan nilai beritanya.


Wartawan harus senantiasa melatih kepekaannya terhadap nilai-nilai berita tersebut. Kepekaan itu akan memudahkan kerja wartawan menentukan angle berita, judul, dan lead.


Di lapangan, sering kali wartawan harus segera memutuskan angle mana yang akan diambil. Keputusan mengenai angle mana yang akan diambil akan mempengaruhi keputusan berikutnya: data apa yang perlu dilengkapi, siapa yang harus diwawancarai, fakta-fakta mana yang perlu diperdalam.




Newmedia, Surat Kabar, Internet, Berita Online 



Laporan dari Kuala Lumpur (68).
Laporan dari Cina (7)
Laporan dari Doha (13) 





Saturday, July 12, 2008

Jenis-jenis Berita (News)

Sambil menunggu teman-teman pengelola surat kabar kampus "identitas" Unhas di kantor, saya merampung tulisan "Berita, Berita dalam Dunia Jurnalistik". Saya lanjutkan dengan topik "Jenis-jenis Berita" untuk mengantar mereka pada meteri penulisan feature.


Artikel ini belum selesai ketika mereka, sekitar delapan orang, akhirnya sampai di kantor. Diskusi penulisan feature dimulai dan tulisan ini belum rampung.

Jenis-jenis Berita

Kita sering mendengar soft news, hard news, straight news, news feature, reportase, indepth reporting, dan investigative reporting. Bagaimana mengklasifikasikannya?

Pada dasarnya berita dibagi dua: hard news  dan soft news.

Hard news mengacu kepada berita langsung –lurus, tidak perlu berbelok-belok, langsung menukik ke pokok persoalan. Contoh:

Seorang pembantu ditemukan tewas terbunuh di Makassar, Kamis (10/7).

Karena itulah, hard news sering pula disebut sebagai berita langsung atau berita lurus (straight news).

Di luar berita hard news --setidaknya dari segi cara menulis yang tidak perlu langsung ke pokok persoalan-- sesungguhnya adalah soft news: feature, reportase, indepth reporting, investigative reporting.

Berita (News) dalam Dunia Jurnalistik

Hari Kamis (10/7), saya diundang teman-teman pengelola surat kabar kampus "identitas" Universitas Hasanuddin, Makassar, untuk memberikan pembekalan kepada anak-anak magang mengenai penulisan feature (feature news). Saya diundang ke markas mereka, kampus Unhas.

Hanya saja, karena soal waktu, saya minta sekiranya bisa agar diadakan di kantor Tribun Timur, Jl Cenderawasih, Makassar. Mereka bersedia. Jam sepakat, pukul 16.00 --persis bertepatan dengan jam rapat budgeting berita di Tribun.

Mereka telat sekitar 30 menit. Sambil menunggu, saya menulis materi ini, "Berita, Berita dalam Jurnalistik". Penting sekali memahami substansi berita sebelum mempelajari feature. Materi pelatihan jurnalistik mengenai penulisan feature bisa dicek di arsip blog ini atau bisa juga melalui Search This Blog yang disediakan Google. Semoga bermanfaat!



Berita, Berita dalam Jurnalistik
News dalam bahasa Inggris artinya kabar, berita, warta.
Dalam dunia jurnalistik, “berita” mengacu pada satu konsep, bukan “kabar, berita, atau warta” dalam percakapan sehari-hari.
News atau berita yang dimaksud adalah hasil karya jurnalistik berupa informasi atau warta atau kabar yang dicari, diolah, dan disajikan kepada publik melalui media massa (multi platform atau pun single platform).
Dari rumusan tersebut terlihat bahwa “berita” atau “news” mengandung unsur-unsur:
1.    Karya jurnalistik
2.    Kabar, informasi, warta
3.    Disajikan kepada publik melalui media massa (multi platform maupun single platform)
Sebagai karya jurnalistik, berita dihasilkan oleh wartawan atau reporter. Berdasarkan jenis pekerjaannya, wartawan atau reporter bekerja mencari, mengolah, dan menulis atau melaporkan berita.
Dari sisi ini, tidak semua berita adalah berita. Berita dalam konteks jurnalistik adalah berita yang dihasilkan oleh wartawan.
Dalam menjalankan pekerjaanya, wartawan dituntun oleh sejumlah etika. Misalnya, harus jujur mengungkapkan identitas diri saat menjalankan tugas mencari dan mengumpulkan informasi.
Etika lain, wartawan harus setia kepada fakta, bukan fiksi. Bahwa laporan wartawan harus dihindarkan dari praduga dan prasangka.
Fakta-fakta harus dikumpulkan secara teliti dan dilaporkan secara jujur, obyektif, dan adil.
Beberapa nilai etika wartawan itu masuk dalam kode etik profesi wartawan. Masih banyak nilai lainnya, tapi nilai-nilai tersebut sudah cukup untuk menunjukkan bahwa tidak semua “berita” adalah “berita” bagi dunia jurnalistik.
Berita, dengan demikian, adalah karya jurnalistik, yang karenanya, tunduk pada etika jurnalistik.
Unsur kedua dari dari “berita” atau “news” adalah kabar, informasi, atau warta.
Kabar, informasi, atau warta merupakan karya jurnalistik, dan karena itu diproduksi oleh wartawan.
Sebelum kabar, informasi, atau warta itu disajikan ke publik tentu harus melalui proses editorial di new room (ruang redaksi).
Proses itu, antara lain, mencakup: penentuan angle liputan, penulisan judul, penulisan tubuh berita, dan seterusnya.
Dari reporter, berita yang dihasilkan wartawan masuk ke redaktur untuk menjalani proses editing. Proses ini mencakup layak tidaknya suatu berita, verifikasi data, dan terakhir: keputusan dari redaktur untuk menempatkan berita tersebut pada posisi yang relevan sesuai desain halaman (pada surat kabar cetak) atau desain ruang dan waktu (pada media audio, visual, maupun internet).
Penjelasan di atas menunjukkan bagaimana proses suatu informasi, kabar, atau warta menjadi berita sebagai karya jurnalistik: dari reporter ke redaktur.
Selanjutnya, berita yang akhirnya dipublikasikan, yang menjadi konsumsi publik, itulah yang disebut “berita” dalam dunia jurnalistik.
Unsur ketiga dari “berita” menurut konsep jurnalistik adalah disajikan kepada publik melalui media massa (multi platform maupun single platform).
Dulu, media massa bermain di single platform. Berita dipublikasikan hanya melalui satu panggung. Koran melalui koran, TV melalui TV, dan radio melalui radio.
Kemajuan teknologi informasi mengubah segalanya. News room koran menghasilkan tidak hanya berita untuk media cetak tapi juga media online (portal, website). Demikian juga news room televise menghasilkan audio untuk radio, teks untuk online, bahkan teks, suara, dan gambar sekaligus di media online. Itulah era multi platform atau multi media.
Melalui media-media itulah, berita sebagai karya jurnalistik, yang dihasilkan melalui proses jurnalistik, dipublikasikan (dahlan).
Makassar, 10 Juli 2008

Thursday, July 10, 2008

Jurnalisme Narasi, Jurnalisme Sinetron

Konsep Jurnalistik

Jurnalisme Narasi, Jurnalisme Sinetron

(untuk redaktur surat kabar harian)

Oleh

Dahlan

Wakil Pemimpin Redaksi II

Tribun Timur

(Disampaikan di Batam, 13 Februari 2007, pada pendidikan/latihan calon redaktur untuk proyek koran Persda di Riau)

Konsep

  • Dikenal di AS dengan nama new journalism
  • Terus berkembang. Ada yang menyebutnya sebagai narrative reporting, passionate journalism, explorative journalism, narrative journalism, jurnalisme sastra
  • Ini tentang cara menulis, bukan cara mencari berita
  • Disebut jurnalisme baru karena berbeda dari “jurnalisme lama” dalam hal: detail pada adegan demi adegan (scene by scene construction) suatu peristiwa, reportase yang dipenuhi deskripsi, dialog, karaktekter tokoh
  • Mirip cerita novel atau cerpen, tapi ia bukan novel atau cerpen, karena ia dibangun berdasarkan rangkaian fakta, bukan fiksi (tokoh, plot cerita, setting peristiwa, waktu, dan seluruh unsur dari jurnalisme narasi adalah fakta, bukan karangan). Inilah perbedaan mendasar antara jurnalisme narasi dengan novel atau cerpen. Tapi dari segi penceritaan, novel atau cerpen sama saja dengan jurnalisme narasi. Karena itu, ada yang menyebut genre jurnalisme ini sebagai jurnalisme novel.
  • Panjang berita hasil jurnalisme narasi bisa setebal buku. Inilah yang lazim. Untuk surat kabar harian, gaya jurnalisme ini bisa diadopsi dalam berita hard news maupun feature atau human interest story (HIS)

Eksplorasi Unsur-unsur Berita

Pada jurnalisme biasa, unsur 5 W 1 H sangat dangkal. Jurnalisme narasi datang untuk mengeksplorasi unsur-unsur menarik dari 5 W 1 H.

Roy Peter Clark, seorang guru menulis dari Poynter Institute, Florida, seperti dikutip Andreas Harsono (ISAI), mengembangkan pedoman standar 5W 1H menjadi pendekatan baru yang naratif:

Who: karakter

What: plot atau alur cerita

Where: setting cerita, konteks cerita

When: Kronologis

Why: motivasi

How: narasi

Sebagai karya jurnalistik, jurnalisme narasi patuh pada etika jurnalistik dan unsur-unsur menarik suatu berita.

Ahli lain (Robert Vare) memberi tujuh pertimbangan bila Anda hendak menulis narasi.

Pertama: fakta. Jurnalisme membangun kata-kata berdasarkan fakta

Kedua: konflik. Berita menjadi menarik karena ada unsur konflik

Ketiga: karakter. Inilah salah satu yang khas dari jurnalisme narasi. Tokoh dalam berita dihadirkan tidak sekadar nama dan umurnya, tapi karakternya yang hidup, yang mendukung plot cerita dan membuat cerita menjadi menarik. Dekripsi mengenai who merupakan salah satu unsur penting dalam jurnalisme narasi

Keempat: akses. Akses ke karakter tokoh-tokoh yang ada dalam berita memudahkan kita membangun cerita yang menarik

Kelima: emosi. Emosi tokoh dalam cerita memberi warna pada cerita. Cinta, rindu, benci, kesetiaan politik, penghianatan

Keenam: perjalanan waktu. Andreas Harsono bagus sekali melukiskan ini: Snap shot. Klik. Klik. Klik. Laporan panjang (jurnalisme narasi) adalah sebuah film yang berputar. Video. Ranah waktu jadi penting. Ini juga yang membedakan narasi dari feature. Narasi macam video. Feature macam potret. Sekali jepret.

Bisa ditambahkan, jurnalisme narasi seperti film yang utuh. Feature atau HIS seringkali hanyalah sebuah fragmen dari suatu babak kehidupan, sebuah episode sinetron.

Ketujuh: unsur kebaruan. Seperti jurnalisme biasa, jurnalisme narasi juga harus mengandung unsur-unsur kebaruan, mengedepan aktualitas.

Narasi dalam Hard News

· Banyak wartawan kita ke lapangan untuk berburu wawancara dengan narasumber. Sepulang ke kantor, ia menulis berita “kantanya”, “katanya”. Tidak ada deskprisi suasana. Tidak ada plot cerita. Berita tersusun berdasarkan siapa yang bicara, bukan berdasarkan alur cerita. Sangat sulit dibedakan mana wawancara per telepon dan mana wawancara yang dilakukan di lapangan

· Jurnalisme narasi mendorong perlunya ada plot dalam berita: mula-mula bagaimana, lalu bagaimana, dan akhirnya bagaimana. Wawancara dengan banyak narasumber diperlukan bukan untuk memperbanyak kutipan, melainkan untuk membangun plot dihiasi banyak detail.

· Komentar atau penilaian atas fakta harusnya dipisahkan dari plot cerita. Biasanya, struktur berita hard news yang bersifat naratif sebagai berikut:

1. Highlights (unsur-unsur paling menarik dari suatu peristiwa. Idealnya dua atau tiga paragraf saja)

2. Plot cerita (awalnya)

3. Plot cerita (lalu)

4. Plot cerita (akhirnya)

5. Komentar (penilaian atas fakta. Bisa juga berupa kesaksian)

6. Next (kadang-kadang bagus juga disertai langkah penangangan selanjutnya, rencana, dan seterusnya)

Detail dalam Hard News

· Dengan jurnalisme narasi, kita membutuhkan detail. Detail what. Detail who. Detail when. Detail why. Detail where. Detail how.

· Detail-detail itu nanti akan memudahkan wartawan membangun plot cerita.

· Mengingat space yang sering tidak luas untuk laporan surat kabar harian, tentu saja tidak seluruh detail harus berjubel dalam satu berita. Detail yang relevan, yang memperkuat “duduk perkara” suatu peristiwa atau masalah, mendapat hak untuk diprioritaskan masuk dalam tubuh berita.

Narasi dalam HIS

· Saya lebih senang menyebutnya human interest story (HIS) dari pada feature. HIS bercerita tentang manusia. Feature bercerita tentang masalah.

· Narasi dalam HIS adalah detail picture dari suatu masalah yang besar (big picture). HIS membuat angka-angka lebih bermakna, lebih warna-warni. Kecelakaan lalu lintas, 30 orang tewas. Bila kita bisa memotret lebih detail tentang satu atau dua orang korban, lengkap dengan emosi (cinta, benci, rindu, kasih sayang, keluarga, kekasih), maka angka 30 itu menjadi tambah bermakna.

· Jurnalisme narasi mengharuskan kita mengeksplorasi siapa dia secara lebih mendalam. Bagaimana dia dalam konteks dan setting cerita. Bagaimana plot ceritanya.

· Tentu saja kita agak sulit memindahkan satu laporan jurnalisme narasi setebal novel 100 halaman ke dalam surat kabar harian. Maka, jurnalisme narasi sehari-sehari adalah jurnalis HIS. Jurnalisme sinetron, bukan jurnalisme film.

Lead dalam HIS

  • HIS bukan hard news. Bagi kebanyakan orang yang sibuk, pertama kali dia membaca hard news. Bila ada waktu, barulah dia membaca HIS
  • HIS segera kehilangan daya pikatnya bila tokoh-tokoh dalam HIS bukan orang terkenal

Demikian. Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Makassar, 8 Februari 2007

Bahan Pelatihan Calon Redaktur: Indepth Reporting dan Investigative Reporting

konsep jurnalistik
(Catatan: Materi untuk pelatihan internal ini sudah diedit)

Indepth Reporting dan Investigative Reporting
(untuk redaktur surat kabar harian)
Oleh
Dahlan
Wakil Pemimpin Redaksi II
Tribun Timur
(Disampaikan di Batam, 13 Februari 2007, pada pendidikan/latihan calon redaktur untuk proyek koran Persda di Riau)
Statemen
Ini bukan kuliah tentang konsep jurnalistik. Ini pengantar tentang cara kerja jurnalistik di surat kabar harian.
Sikap Dasar
  1. Sebelum memilih topik liputan, harus benar-benar dicamkan bahwa Anda tidak membuat laporan untuk diri Anda sendiri, tapi untuk pembaca. Tempatkanlah diri Anda pada posisi pembaca untuk mengetahui topik liputan apa yang mereka inginkan, bagaimana cara menyajikannya
  2. Indepth reporting dan investigative reporting, sebagai produk jurnalistik, dihasilkan oleh sikap kritis, rasa ingin tahu, dan idealisme seorang wartawan. Kedua alat jurnalistik ini juga merupakan cara surat kabar mempertahankan eksistensinya di tengah serbuan jurnalisme flash news yang menjadi kekuatan media audio, audio visual, dan internet.
Indepth reporting (indepth news)
  • Laporan jurnalistik (dikerjakan berdasarkan prinsip-prinsip jurnalistik: menyucikan fakta, memakai prosedur check and recheck, menulis secara berimbang, dst)
  • Mendalam (lebih dari sekadar hard news, diperkuat data yang lengkap)
  • Multiangle (satu topik, digarap dari berbagai sudut pandang: 5W 1 H )
Obyek Liputan
  • Semua obyek liputan jurnalistik

Angle Liputan:
  • People
  • Masalah mikro
  • Masalah makro
  • Community
  • Kedekatan geografi (proximity)
  • Kedekatan demografi (seks, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dst)
  • Kedekatan psikografis (lifestyle)

Berapa Lama
Tergantung. Bisa untuk edisi besok maupun untuk edisi beberapa hari kemudian yang akan disajikan dalam liputan khusus satu atau dua halaman maupun tulisan bersambung.
Cara Penggarapan
Liputan indepth selalu rumit dari segi isi (content) maupun design (perwajahan, tampilan). Karena itu, ada baiknya, biasakanlah membuat organisasi kerja. Buat rencana (desain) liputan dan rencana (design) halaman.
Bersyukurlah bila Anda memiliki reporter yang memiliki kualifikasi mampu membuat design liputan. Bila tidak, Anda harus membuatnya sendiri.

  1. Content
  1. Tentukan angle liputan (lihat Angle Liputan).
  2. Foto-foto apa saja yang diperlukan.
  3. Siapa narasumbernya.
  4. Data bisa diperoleh di mana.
  5. Kapan deadline. Apakah deadline bersamaan ataukah deadline per bagian laporan (deadline grafis biasanya lebih dulu karena harus melibatkan design grafis. Proses pembuatannya juga lebih lama).
  6. Siapa mengerjakan apa. Bentuk tim.
  7. Evaluasi bahan yang diperoleh. Buatlah dalam bentuk listing. Cek bahan apa yang kurang dan masih mungkin dikembangkan sebelum deadline.
  8. Setelah semua oke, buatlah perencanaan halaman berdasarkan listing bahan berita yang tersedia (naskah, foto, bahan grafis).
B. DESIGN
Buatlah desain halaman

Beberapa Panduan Penyajian
Dalam liputan indepth, banyak bahan berita yang hendak disajikan. Semua terasa menarik. Pada situasi seperti ini, langkah sederhana yang harus dilakukan adalah membuat skala prioritas berdasarkan pertimbangan kelengkapan berita dan kebutuhan pembaca.

Investigative Reporting
* Investigasi adalah cara kerja. Indepth reporting adalah hasil kerja.
* Indepth reporting bersifat membeberkan. Hasil investigative reporting melaporkan siapa yang salah, siapa yang jahat, siapa yang curang, dst.
* Boleh dikata, tulisan mendalam merupakan salah satu batu pijakan sebelum memulai investigasi.
* Investigative reporting memerlukan hipotesa. Investigator mencari fakta untuk menguji hipotesa lalu membuat kesimpulan sebagai laporan.
Dalam melakukan investigasi, wartawan bekerja layaknya detektif: mencari data, fakta, dokumen, kesaksian dengan tujuan mencari siapa yang salah dengan aneka teknik seperti penyamaran bahkan pencurian dokumen.
Masalahnya, dalam etika jurnalistik disebutkan, dalam mencari bahan berita, wartawan harus memperkenalkan diri secara jujur. Wartawan harus menggunakan cara-cara yang tidak melanggar hukum dan etika dalam mencari dan mengumpulkan bahan berita.
Berikut beberapa pertanyaan etis dan hukum: Bolehkan wartawan yang sedang melakukan investigasi melakukan penyamaran? Bolehkan mencuri dokumen? Bolehkan berbohong mengenai identitas kita sebagai wartawan saat mencari dokumen, data, keterangan, dan kesaksian?
Ada yang bilang boleh atas dasar tujuan mulia suatu investigasi. Bahwa investigasi dilakukan untuk kepentingan publik.
Pertanyaannya, apakah tujuan yang baik harus dilakukan dengan cara melanggar hukum? Apakah tujuan yang baik harus dicapai dengan cara yang melanggar norma dan etika? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini masih jadi bahan perdebatan.
Di Indonesia, investigative reporting masih jarang dilakukan. Satu karena biaya yang mahal. Dua, waktunya yang lama (bulanan, bisa tahunan). Tiga, risiko: jurnalisme investigasi harus menghasilkan kesimpulan: si ini bersalah, si ini curang, dst. Karena itu, keempat, penulis laporan investigasi harus berkonsultasi dengan pengacara sebelum menurunkan laporannya.
Istilah investigative reporting juga belum lama benar. Andreas Harsono (ISAI, 1999) menulis, istilah itu mulai populer di AS tahun 1975. Ke Asia, mula-mula mampir di Filipina, 1989. Salah seorang tokohnya, yang juga "men
ularkan" ilmunya ke beberapa kota di Indonesia, adalah Sheila Coronel.
Coronel secara singkat membagi proses investigasi ke dalam dua bagian. Pembagian ini untuk mempermudah seorang investigator dalam mengatur sistematika pekerjaannya. Bagian pertama merupakan bagian penjajakan dan pekerjaan dasar. Sedangkan bagian kedua sudah berupa penajaman dan penyelesaian investigasi:

Bagian Pertama
• Petunjuk awal (first lead)
• Investigasi pendahuluan (initial investigation)
• Pembentukan hipotesis (forming an investigative hypothesis)
• Pencarian dan pendalaman literatur (literature search)
• Wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli (interviewing experts)
• Penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail)
• Wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi (interviewing key informants and sources)

Bagian Kedua
• Pengamatan langsung di lapangan (first hand observation)
• Pengorganisasian file (organizing files)
• Wawancara lebih lanjut (more interviews)
• Analisa dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data)
• Penulisan (writing)
• Pengecekan fakta (fact checking)
• Pengecekan pencemaran nama baik (libel check)
Demikian. Terima kasih. Semoga bermanfaat.
Makassar, 6 Februari 2007

--
Tribun Timur, Makassar
www.tribun-timur.com

Ask the Tribun Timur Editor
dahlandahi.blogspot.com


Newmedia, Surat Kabar, Internet, Berita Online 



Laporan dari Kuala Lumpur (68).
Laporan dari Cina (7) 
Laporan dari Doha (13) 

Thursday, July 3, 2008

Kompentensi Wartawan

Kompetensi Wartawan *

(Disajikan pada peluncuran buku Pengkhianatan Jurnalis, Sisi Gelap Jurnalisme Kita, karya Upi Asmaradhana, di Kampus LPTV Indonesia, Makassar, 10 Mei 2008

Dahlan

Pemimpin Redaksi Tribun Timur, Makassar

WARTAWAN bekerja mencari, menulis, dan melaporkan berita. Tujuan akhir dari berita adalah masyarakat. Kepada masyarakat pulalah, dan bukan kepada pemerintah, wartawan mengabdi.

Surat kabar atau media massa lainnya tempat wartawan menyajikan hasil karya jurnalistiknya merupakan panggung terbuka. Penontonnya banyak.

Karena itu, banyak pihak yang tergiur memanfaatkan panggung tersebut. Pemasang iklan, misalnya, berkepentingan dengan panggung tersebut untuk mempromosikan produknya. Sedangkan politisi dan pemerintah membutuhkan panggung untuk tujuan politik dan sosialnya.

Masalahnya, karena keterbatasan ruang maupun waktu di media massa, tidak semua yang ingin tampil di atas panggung bisa tampil sesuai dengan keinginan.

Ada faktor lain yang membatasi siapa yang boleh naik di panggung, siapa yang boleh menggunakan ruang dan waktu media massa. Sebutlah masalah etika, norma, dan hukum. Pornografi, misalnya, tidak boleh tampil di panggung. Menghina orang atau memberitakan kabar bohong tidak memiliki ruang dan waktu di media massa.

Siapakah yang memutuskan siapa yang boleh tampil di panggung siapa yang tidak boleh? Dialah wartawan. Mereka menilai mana berita yang bagus untuk masyarakat, mana yang tidak.

Tidak selalu gampang untuk memutuskan mana berita yang perlu diliput mana yang tidak. Lebih tidak gampang lagi memutuskan mana berita yang bagus untuk publik mana yang sebaliknya.

Keterampilan apa yang dibutuhkan wartawan agar misi utamanya memberikan informasi, mendidik, menghibur, dan memberikan kontrol sosial dapat berjalan dengan baik?

Kemampuan emosional seperti apa yang dibutuhkan agar berita dicari, ditulis, dan disajikan dengan mengedepankan nilai-nilai independensi, idealisme, dan etika?

Secara sederhana, kemampuan mencari, menulis, dan melaporkan berita merupakan keterampilan teknis seorang wartawan. Itulah hard competence wartawan.

Sedangkan keterampilan mencari, menulis, dan menyajikan berita dengan menjunjung tinggi nilai independensi, idealisme, dan etika --baik pada proses kerja jurnalistik maupun hasilnya-- merupakan keterampilan moral, keterampilan emosional, atau soft compentence.

***

Pada prakteknya, wartawan sejati seharusnya memiliki dua kompentensi itu sekaligus. Keterampilan mencari, menulis, dan menyajikan berita saja tidak cukup. Sebab, tulisannya yang baik akan semakin baik menipu masyarakat manakala tidak dilandasi semangat dan nilai independensi, idealisme, dan etika.

Sebaliknya, soft competence saja tidak cukup. Prinsip independensi dan idealisme, misalnya, tidak akan bekerja dengan sempurna pada wartawan yang tidak bisa menulis berita.

Banyak yang mengabaikan soft compentence. Di pelatihan-pelatihan jurnalistik untuk pemula, misalnya, porsi untuk etika jurnalistik hanya dibahas dua jam dari katakanlah lima hari pelatihan jurnalistik. Yang banyak diasah adalah hard compentence, sementara soft competence cenderung diabaikan.

Padahal, sebenarnya, soft competence merupakan pelajaran paling sulit bagi wartawan.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi wartawan untuk mengidentifikasi mana berita yang menarik mana yang bukan. Selanjutnya, tidak perlu waktu yang lama untuk mencari, menulis, dan menyajikan berita yang bagus. Biasanya wartawan muda hanya membutuhkan waktu dua-tiga tahun untuk melewati proses ini.

Tidak demikian halnya dengan soft competence. Melatih diri untuk senantiasa independen, dengan katakanlah tidak menerima amplop, merupakan latihan yang terus menerus, setiap hari, sepanjang Anda tetap menjadi wartawan.

Godaan kepada independensi terus menerus berevolusi, dari mulai amplop berisi puluhan ribu menjadi ratusan bahkan jutaan rupiah. Modusnya pun makin canggih, dari sekadar amplop hingga penyamaran dalam bentuk fasilitas gratis.

Makin senior wartawan, makin “senior” pula godaan terhadap independensi dan idealismenya.

Sekali atau dua kali wartawan bisa lolos dari godaan tersebut, tapi mungkin tidak di saat yang lainnya. Jelas sekali bahwa mempertahankan prinsip independensi merupakan perjuangan yang tanpa henti, terus menerus, sepanjang masih menyandang profesi wartawan.

Keterampilan untuk selalu lolos dari godaan itu dalam segala situasi merupakan soft competence. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan, katakanlah, kemampuan menulis berita yang merupakan salah satu unsur keterampilan teknis (hard competence).

Seringkali, keterampilan teknis wartawan tidak berkembang seiring dengan dengan soft competence. Makin lama, wartawan makin jago menulis, tapi dalam banyak kasus, makin tidak cerdas dari sisi soft competence.

***

Masyarakat memberikan penghargaan yang tinggi pada karya jurnalistik bermutu. Karya seperti itu merupakan produk hard compentence. Pulitzer adalah penghargaan masyarakat pers Amerika Serikat untuk karya jurnalistik bermutu. Indonesia mengadopsinya dengan Adinegoro.

Tahun 1994, Kevin Carter meraih penghargaan Pulitzer untuk fotonya yang luar biasa di Sudan: Seorang bocah berkulit hitam, yang nampak kurus kering, tersungkur kelaparan. Seekor burung pemakan bangkai terlihat menunggu beberapa meter dari bocah malang itu.

Begitu foto itu dipublikasikan, dunia terguncang. Kelaparan di Sudan begitu nyata. Tidak ada yang tahu bagaimana nasib bocah kecil itu, termasuk si fotografer, Kevin Carter, apakah dia akhirnya mati lalu dimakan burung pemakan bangkai. Carter meninggalkan bocah malang itu segera setelah memenuhi ambisinya sebagai fotografer.

Tiga bulan kemudian, Kevin Carter bunuh diri setelah mengalami depresi.

Itu gambaran bahwa jurnalisme tidak hanya berbicara tentang hasil karya, tapi proses berkarya. Dalam proses berkarya, ada begitu banyak nilai.

Hard competence Carter luar biasa sebagai seorang fotografer. Tapi soft competence dia, penghargaan dia terhadap manusia dan kemanusiaan, begitu rendahnya. Dia jago memotret tapi amat nista dari sisi etika kemanusiaan. Tapi bagaimanapun, sejarah mencatat Carter sebagai penerima Pulitzer tahun 1994.

Begitulah, memang, penghargaan untuk keterampilan teknis jurnalistik ada di mana-mana.

Pertanyaannya, adakah penghargaan kepada wartawan yang sepanjang hidupnya terus menerus konsisten menjaga nilai-nilai independensi, idealisme, dan etika profesi kewartawanan? Sangat jarang atau mungkin tidak ada.

Padahal, penghargaan untuk kategori itu bukan saja seharusnya ada, tapi juga nilai penghargaannya haruslah sangat tinggi. Tidak sedikit wartawan yang memilih hidup sederhana dengan menolak segala godaan kenikmatan materi dan nonmateri demi untuk satu prinsip luhur kewartawanan yang ia yakini.

Celakanya, beda sekali karya jurnalistik yang baik, yang merupakan produk hard competence, dengan keterampilan moral menjaga independensi: bila karya tulis bisa dilihat dan dinikmati masyarakat maka wartawan yang berjuang mempertahankan nilai-nilai independensi, idealisme, dan etika tidak dilihat oleh publik, bahkan kadang tidak juga diketahui oleh teman-teman dekatnya sesama wartawan.

Tidak banyak wartawan yang senang bercerita tentang perjuangannya menolak amplop, misalnya. Dan sudah pasti, cerita seperti itu tidak layak menjadi berita, yang memungkinkan kisah heroik itu diketahui publik.

Padahal, cerita-cerita itu sungguh indah, penuh drama, dan kadang-kadang menyentuh kalbu. Seorang wartawan, misalnya, menolak amplop dan ketika tiba di rumah ia menyaksikan anaknya yang menangis karena dicubit tetangga yang tidak senang kursinya dikencingi saat si bocah menonton TV. Wartawan yang menolak uang itu tidak memiliki pesawat TV di rumahnya sehingga anak-anaknya terpaksa ke rumah tetangga untuk menonton TV. Bagi keluarga wartawan yang idealis ini, menonton TV sungguh-sungguh merupakan barang mewah.

Adakah penghargaan untuk mereka? Tidak ada.

Seperti halnya upaya meningkatkan hard competence, adalah tugas wartawan untuk terus menerus meningkatkan soft competence.

Tetapi mestinya wartawan, dengan tugasnya yang mulia, tidak bisa dibiarkan untuk sendirian memikul beban berat itu. Pengelola media, pemerhati pers, masyarakat, kaum intelektual, organisasi profesi, dan pada akhirnya, pemerintah, haruslah bersama-sama mendorong, member iklim yang kondusif, serta memberi insentif bagi muncul dan berkembangnya wartawan sejati: tinggi hard competence-nya, tinggi pula soft competence-nya.

Itu semua perlu dilakukan demi untuk mencegah munculnya apa yang disebut “pengkhianatan jurnalis, sisi gelap jurnalisme kita”.

·

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...