Showing posts with label Perang Irak. Show all posts
Showing posts with label Perang Irak. Show all posts

Friday, December 6, 2013

Di Kantor Al Jazeera di Bagdad, Irak

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMvRAFC5WhvZFMKBo1TGzUt1a5rTg5xFVjkkSi4CkaqftyemszVQpByAIMHah1uf79UKy5Kh0oJ7SF8GC4p0qlsfUqbNCa10aisOWBVoCF71ixtQtiRxINZ7bdjn4H8wsR5FQJyl9Om3M/s1280/Foto_Dahlan.jpg


Numpang foto di lantai atas kantor Al Jazeera di Bagdad, Irak, setelah tentara Amerika Serikat menjatuhkan rezim Saddam Husein, 2012.

Helikopter Amerika Serikat menembak wartawan Al Jazeera asal Jordania di tempat ini.


Warna-warni Dunia

Laporan dari Jepang (257) 
  Haji dan Umroh (112)  
Singapura (102)  
Laporan dari Moskow (93) 
  Laporan dari Kuala Lumpur (69)  
Laporan Dahlan dari Jordania (37)  
Tokyo Motor Show 2011 (28)  
Perang Irak (15) 
  Laporan dari Doha (13)  
Laporan dari Bagdad (12) 
  Laporan dari Cina (7)  
Laporan Dahlan Cairo (4) 
  Laporan dari Shanghai (4)  
Laporan dari Amsterdam (3)  
Laporan dari Hongkong (2)

Berfoto di Perbatasan Jordania-Irak

Wednesday, July 2, 2008

Orang-orang kaya Irak mengungsi ke luar negeri

1 Maret 2003


Orang-orang kaya Irak mengungsi ke luar negeri

Belum diketahui pasti kapan Amerika Serikat (AS) akan menyerang Irak. Namun, orang-orang kaya Irak memilih mengungsi lebih dulu memboyong seluruh keluarganya ke luar negeri. 

Sebagian dari mereka memilih Amman, Jordania. Kota yang hanya 12 jam ditempuh dengan perjalanan dengan mobil dari Baghdad itu dipilih dengan harapan bisa kembali ke negaranya setelah perang.

“Tentu saja tidak ada yang ingin tinggal di Baghdad pada saat perang. Tapi Anda tahu, tidak semua orang Irak punya uang yang cukup untuk mengungsi ke luar negeri,” ungkap seorang wanita anak pengusaha yang ditemui di sebuah apartemen di Amman, Sabtu (1/3). 

Gadis berusia 24 tahun itu mengaku bernama Nur tanpa mau menyebut nama keluarganya. Ia mahasiswa kedokteran tingkat akhir di Universitas Baghdad.

Tinggal di suit room apartemen bertarif 20 Jordanian Dinar (sekitar Rp 260.000 sehari), Nur mengungsi dengan ayah, ibu, dan dua adik laki-lakinya. 

Keluarga ini mengungsi sebulan lalu dengan hanya membawa pakaian seperlunya dan meninggalkan seluruh harta benda mereka di Baghdad. Demikian dilaporkan wartawan PERSDA, Dahlan, dari Amman.

“Rasanya sedih meninggalkan seluruh harta benda dan kenangan di Baghdad. Tapi ibu saya trauma mendengar desingan peluru dan bunyi mesin perang,” ujar gadis berambut panjang, dengan hidung yang mancung, dan tanpa jilbab. 

Keluarga ini, terutama Ibu Nur, trauma dengan gempuran AS secara membabi buta pada Perang Teluk tahun 1991.

“Sebagian besar orang kaya di Baghdad tentu saja mengungsi. Sebab mereka, seperti ayah saya, punya tabungan di luar negeri. Tapi rakyat biasa tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tinggal di Baghdad,” ujar Nur yang mengaku tidak tertarik sama sekali dengan politik, tapi dia harus menerima risiko pergolakan di negerinya.

Nur menghabiskan waktu di Amman dengan bermain internet, sesuatu yang jarang di Baghdad, bermain dengan dua adiknya, atau sesekali ke supermarket membeli tomat, kentang, dan roti.

Selama mengungsi, Nur dan dua adiknya (satunya di SD, satunya lagi di SMP) harus meninggalkan sekolah. Mengapa tidak mengungsi ke Eropa agar bisa melanjutkan sekolah? 

Sambil tersenyum, Nur yang ditemui sebuah cafĂ© internet saat mengirim email kepada teman-temannya di Bagdad berkata: “Semua orang mencintai negaranya. Saya ingin pulang dan melanjutkan sekolah di Baghdad. Saya ingin membantu wanita dan anak-anak Irak korban perang.”

Fathar Ahmad, pemilih Al Habaib, restoran Irak di kawasan Balad, mengaku akan mengungsikan seluruh keluarganya (istri dan empat anak) segera sebelum AS melancarkan serangan ke Irak. 

“Tapi saya belum membawa mereka ke sini, karena saya belum tahu kapan perang,” ujar Fathar disela kesibukannya menerima 10 orang aktivis human shields (tameng hidup) dari AS, Spanyol, Argentina, dan Jepang. Para aktivis perdamaian yang akan berangkat ke Baghdad untuk melindungi wanita dan anak-anak Irak menyantap sate dan daging rebus di Al Habaib.

Nur menjelaskan, keluarganya mengungsi karena melihat ada dua bahaya di Irak. Yakni, pada saat perang dan pasca perang. Pada saat perang, ancaman datang dari mesin perang Amerika, katanya. Setelah perang, negara itu terancam perang saudara.

“Anda kan tahu, suku-suku di Irak akan berperang setelah Amerika pergi. Menurut saya, ini akan lebih berbahaya daripada serangan Amerika,” tuturnya, yang mengaku belum tahu kapan akan kembali ke Baghdad untuk melanjutkan sekolahnya.

LAINNYA
Berita-berita Terpopuler Indonesia

Digital Trending Now

TKI Menuju Kuwait



Dalam penerbangan dari Jakarta ke Amman, Jordania, yang transit di Kuwait, kami satu pesawat dengan belasan TKI. Mereka semua wanita.

Soal TKI, ada yang aneh dengan teman saya, seorang wartawan Indonesia. Di bandara, ia tak pernah mau melepas jasnya, kendati sedang gerah. Saya bertanya, ada apa?

"Kalau tidak pakai jas, nanti saya dikira TKI". Ooooo

Koran Arab Jelang Perang Irak


Foto Osama bin Laden di koran Arab menjelang invasi Amerika Serikat ke Irak. Pemimpin Al Qaeda itu orang Saudi, tapi sangat populer di seluruh Arab.

TV Irak Menjelang Perang


Sulit mencari informasi tentang kondisi dalam negeri Irak menjelang perang. Televisi setempat sulit dipantau dari negara tetangga. Ini beda sekali dengan TV lainnya di tanah Arab. TV Lebanon dengan gampang bisa diakses dari Jordania. Begitu juga TV Saudi dan Mesir, lebih Al Jazeera yang bermarkas di Qatar nun jauh di teluk sana.

Radio? Tidak mungkin. Ada harapan: Internet. Ah, itu pun sangat terbatas datanya. Website-website Irak jarang atau tidak ada yang bisa diupdate dengan baik dan teratur.

Suatu waktu, ketika lonceng perang semakin dekat, saya bisa menyaksikan siara TV Irak. Berbahasa Arab tentu saja, dengan teks yang juga Arab.

Saya tidak terlalu mengerti bahasa Arab. Saya juga menyaksikan, sepanjang malam, isi TV hanya nyanyian-nyanyian perang. Di Indonesia, kira-kira macam lagu Halo-halo Bandung, Indonesia Raya, dan semacamnya.

Lagu televisi Arab itu, disertai teriak-teriakan massa, selalu berbunyi: Birruh, bidam, li ajlik ya Saddam. Darah kami, jiwa kami, untukmu ya Saddam.

Piramid Mesir Asli, Bukan Piramid di Shenzhen, dan Visa ke Irak

Piramid di Mesir

DI sela-sela liputan ke Irak, saya ke Cairo, Mesir. Tujuannya mencari visa ke Irak. Waktu itu, dua bulan sebelum Irak jatuh ke tangan pihak yang tidak berhak, Amerika Serikat, pemerintah Irak irit mengeluarkan visa.

Dapat dimaklumi. Pemerintah Saddam Hussein harus mewaspadai seluruh upaya infiltrasi ke negaranya yang sedang terancam.

Dari Jakarta, saya sudah coba mengurus visa. Gagal. Saya memutuskan berangkat lebih awal ke Amman, Jordania. Harapannya, di Amman, tetangga Irak, bisa lebih mudah mendapatkan visa.

Saya coba ke Kedubes Irak di Bagdad. Waduh, ternyata sulitnya minta ampun.

Jalur langsung kandas, dicoba lewat KBRI di Amman. Pak Musrifun Lajawa. juru bicara KBRI, coba membantu. Kami berharap lebih gampang karena hubungan diplomatik Bagdad-Jakarta yang secara historis terbangun dengan baik. Belum lagi hubungan sesama negara yang mayoritas penduduknya Muslim, sama-sama Suni lagi.

Ternyata itu semua tak berguna. Irak tetap waspada, termasuk tamunya dari Indonesia. Maklumlah, suasananya sedang genting. Washington tiap hari mengeluarkan ancaman perang, sementara mesin-mesin perang Amerika Serikat sudah bergerak ke Teluk, dideploy di Kuwait, Arab Saudi, dan Turki. Hanya Iran dan Suriah, dua negara yang berbatasan langsung dengan Irak, yang sulit ditembus Presiden Bush.

Namanya wartawan tidak boleh kehabisan akal. Saya coba jalur bawah tanah Ada kabar, bisa lewat calo. Kebetulan saya bertemu dengan seorang wartawan lokal di Amman. Dia janji bisa membantu. Uang dolar AS sudah dia ambil tapi visa yang ditunggu hanya janji-janji saja.

Baiklah, saya terbang ke Cairo, Mesir. Di sini negeri Afrika Utara ini ada Mustafa Abdul Rahman, wartawan senior Kompas yang sudah lama bertugas di negerinya Anwar Sadat.

Di bandara, saya dijemput Pak Mustafa --ketika itu kandidat doktor di Universitas Beirut, Lebanon. Saya nginap di apartemennya.

"Saya juga sedang mengurus visa," katanya. Kebenaran. Kami pun sama-sama mendatangi Kedubes Irak di Cairo. Ternyata malah lebih sulit.

Pikiran saya, Bagdad agak curiga dengan Mesir dan Jordania. Soalnya, dua negara itu dikenal sohibnya Amerika Serikat di tanah Arab.

Lewat Turki? Teori ini bagus juga. Turki tidak terlalu welcome pada Amerika Serikat, tapi juga tidak bermusuhan. AS mengincar Turki sebagai salah satu pintu masuk ke Irak.

Berbatasan dengan Turki, ada Irak utara. Kawasan ini basisnya kaum Kurdi, musuhnya Saddam Hussein. Rezim Saddam pernah membantai ribuan suku Kurdi. Kalau di Indonesia, Irak bagian utara seperti Aceh sebelum damai. Mereka ingin memisahkan diri.

Bagdad menolak, hanya memberikan otonomi khusus. Artinya, ada jalan masuk dari Irak utara yang bagus buat tentara sekutu sebelum menjangkau jantung kekuasaan Saddam, Bagdad.

Mengurus visa ke Irak lewat Turki agaknya sulit juga, begitu pikir saya ketika itu. Turki bukanlah negara yang sepenuhnya bisa dipercaya Bagdad.

Arab Saudi? Jelas paling sulit. Saudi, juga Kuwait, terkenal sebagai mitra AS di Teluk. So, jalan masuk masuk akal tinggal lewat Suriah atau Iran.

Mustafa, yang sudah mengenal Timur Tengah lebih satu abad, memilih lewat Kuwait. Di sana ada pasukan AS dan --siapa tahu-- Saddam menyerang negara kecil itu lagi bila perang benar-benar meledak. Artinya, banyak kemungkinan berita di sana, selain kemungkinan bisa masuk Bagdad lewat Kuwait.

Saya balik ke Amman, Jordania, beberapa hari kemudian setelah menyempatkan diri mengunjungi Piramid Mesir.

Lima tahun kemudian, saya bertemu lagi piramid itu, tidak di Mesir, tapi di Shenzhen, Cina, lima tahun kemudian. Kok bisa?

Ya, memang. Shenzhen membangun seluruh miniatur bangunan terkenal di dunia, termasuk Candi Borobudur dan rumah adat Tana Toraja, Tongkonan. Kawasan wisata mirip Taman Mini Indonesia Indah itu diberi nama Window of the World.

Tuesday, July 1, 2008

Perang Irak: Letusan senjata di rumah Tareq Azis, suatu siang

Letusan senjata di rumah Tareq Azis, suatu siang

 

KEDIAMAN Wakil Perdana Menteri Irak Tareq Azis terletak di kompleks perumahan pejabat tinggi di Jl Masbah, tepi jalan layang. Bangunannya cukup luas, menempati areal sebesar lapangan sepakbola.

Rumahnya dirancang dengan gaya modern, dua lantai. Di bagian belakang ada taman yang hijau, di lengkapi kursi santai. Pada saat rehat, tuan rumah menikmati pemandangan Sungai Tigris yang terkenal itu.

Dapurnya dua, di lantai dasar dan lantai atas. Ada sebuah ruangan cukup luas untuk perpustakan pribadi. Rumah itu menyimpan foto-foto Tareq Azis yang gemar menembak. Di lantai bawah ada lift 1x1 meter warna kuning muda, diduga sebagai penghubung ke bunker, tempat persembunyian.

Saat Saddam masih berkuasa, rakyat biasa tidak bisa lewat di depan rumah itu. Hanya para pejabat tinggi saja yang bisa menikmati pemandangan di kompleks perumahan tersebut.

Setelah perang, dan AS menguasai titik-titik strategis di kota Baghdad, rumah besar itu tak lagi meninggalkan wibawa sama sekali. Rakyat Irak yang lapar menjarahnya, mengambil semua barang berharga: kursi tamu, meja makan, ranjang dan kasurnya, semuanya.

Ketika PERSDA berkunjung ke rumah bekas penguasa yang disegani itu, suatu siang, yang tampak hanya kertas-kertas berserakan, sampah, kaca-kaca jendela yang pecah. Rumah itu bukan saja dijarah, tapi dihina ketika para penjarah bahkan membuang berak di salah satu sudut ruangan.

PERSDA sedang berada di dalam ruangan ketika letusan senjata terdengar. Rupa-rupanya, penjaga kawasan perumahan itu, tiga orang milisi bersenjata AK 47, salah satunya dari Sudan, terpaksa melepaskan tembakan untuk menghalau Ali Baba, penjarah, yang hendak menguras lagi isi rumah tersebut.

Masyarakat dunia mengenal wajah Tareq Azis, pria tua dengan kaca mata besar. Orang kepercayaan Saddam itu, seperti bosnya, selalu tampil dengan seragam militer.

Pada Perang Teluk 1991, Azis menjabat menteri luar negeri. Ia dikenal sebagai diplomat ulung. Sebagai Wakil Perdana Menteri pada perang sekarang ini, Azis ditugasi Saddam untuk melobi Vatikan.

Seusai bertemu Paus Johanes Paulus II, Azis menggelar jumpa pers. Satu persatu wartawan yang bertanya memperkenalkan diri berikut nama medianya. Ketika seorang wartawan Israel mengajukan pertanyaan, dengan tatapan dingin, Azis memperhatikan wartawan itu. Dan, ia tidak mau menjawab pertanyaannya. Karena dia orang Israel.

Irak memang memusuhi Israel. Pada Perang Teluk, Saddam meluncurkan 39 rudal ke Tel Aviv. Saddam kini bersembunyi di suatu tempat entah dimana tanpa pernah lagi bisa menyerang negeri zionis itu.

 

***

 

MARKAS Fidayi Saddam (Fedayeen Saddam) terletak di Zayuna City. Kantor kelompok milisi pro Saddam binaan Uday itu, seperti kantor pemerintah lainya yang penting, kini diduduki tentara Amerika.

Sebagian bangunanya telah hancur. Puin-puing bangunan berserakan.  Bekas-bekas tembakan menghiasi bangunan yang masih utuh. Tampaknya terjadi pertempuran sebelum kompleks perkantoran bercat cokelat itu dikuasai musuh.

Rakyat bersuka cita di sebuah lapangan di samping markas. Di sana ada tiga buah tangki berisi bensin dan solar ditimbun pasir. Tadinya, tangki-tangki itu akan diledakan manakala serangan datang untuk mengacaukan konsentrasi pasukan musuh.

Fidayi Saddam keburu kabur sebelum tangki-tangki itu diledakkan. Walhasil, rakyat yang kesulitan mencari pompa bensin, membuka tangki itu secara paksa dan menguras isinya.

Diantara mereka ada Zasimah, wanita berusia 30 tahun warga negara Malaysia. Ia berasal dari Sabah. Wanita berkulit cokelat itu merantau ke Kuwait sebelum pindah ke Baghdad setelah bertemu dengan pria Kuwait, seorang sopir mobil angkutan umum.

Mahir berbahasa Arab dan lancar berbahasa Inggris, Zasimah bekerja sebagai guru di Baghdad International School (BIS), sekolah khusus untuk orang asing di kawasan Bifrat. Sekolah itu tutup jauh sebelum perang dimulai. Murid-muridnya mengungsi ke negaranya masing-masing mengikuti orang tua mereka. Suami Zasimah, wanita berambut ikal yang energik, bekerja sebagai sopir antar jemput murid BIS.

Pada saat perang dimulai, ibu dua anak itu mengungsi bersama suaminya ke sebuah kampung yang aman di dekat Basra, Irak selatan. Ia kembali ke Baghdad setelah merasa aman.

"Saya tidak yakin Amerika akan disambut baik oleh rakyat Irak," katanya saat ditemui di atas tangki yang dikamuflase sebagai gundukan tanah, sambil menuangkan timba berisi bensin ke dalam jerigennya. Suaminya menunggu di mobil.

"Amerika terlanjur menyakiti hati rakyat Irak. Semua orang Irak sedang susah. Tidak ada listrik, telepon, dan air bersih," tutur Safar Zubar, seorang insinyur yang berdiri di samping Zasimah. Profesional muda itu ikut-ikutan menjarah. (Dahlan, Laporan dari Bagdad, Irak) 

 

 --

Tribun Timur, Makassar

www.tribun-timur.com

Ask the Tribun Timur Editor
dahlandahi.blogspot.com

Perang Irak: Kaki lima setelah perang


 

 

 

Kaki lima setelah perang

 

MUHAMMAD Hasim tidak sabaran lagi keluar rumah. Ia sudah cukup lama bersembunyi bersama istri dan dua orang anaknya. Perang sudah selesai, saat Amerika mulai berhasil melumpuhkan perlawanan rejim Saddam Hussein. Memang, perlawanan sporadis masih berlangsung di beberapa tempat, tapi praktis, setidaknya untuk sementara, Saddam sudah selesai.

Dengan membawa Mustafa, anak pertamanya yang berusia tujuh tahun, pagi-pagi Hasim berangkat ke supermaket di kawasan Karrada. Ia membeli 20-an kaleng Pepsi, minuman khas Amerika, dan sekardus orange. Di depan ruko yang belum dibuka pemiliknya, ia menggelar jualan bermodalkan sobekan kardus sebagai tempat duduk.

"Sebenarnya saya bekerja di restoran. Tapi restorannya belum buka, sementara saya harus segera mencari uang untuk menghidupi keluarga saya," tuturnya.

Perang yang berlangsung sebulan amat meletihkan. Lebih dari itu, menguras isi tabungan sebagian besar keluarga di Irak. Selama perang, praktis gaji tidak dibayarkan. Pada saat yang sama, rejim Saddam tidak lagi membagikan bahan makanan gratis untuk orang-orang miskin seperti Hasim.

Saat perang, keluarga Irak tinggal di bunker. Sebuah ruangan bawah tanah yang gelap gulita sejak Amerika menghancurkan jaringan listrik. Shalah Madi, seorang sopir mobil penumpang jeep GMC, bercerita, lebih 20 hari ia bersembunyi di bunker dekat rumahnya bersama istri, ibu, dan empat orang anaknya. Tiap kali ledakan bom terdengar, "Kami berteriak Allahu Akbar, Allahu Akbar".

Perang sudah selesai. Tapi masalah belum selesai. Justru sedang dimulai. "Listrik masih padam sampai sekarang. Tanpa listrik, kami tidak memompa air. Sementara air bersih dari instalansi pemerintah tidak lagi menetes sama sekali," tutur Hasim.

Kota Baghdad berangsur normal. Pedagang kaki lima mulai berani menggelar dagangan di tepi jalan, di tengah kekhawatiran dirampok atau dijarah.

Saat Hasim menjual, seorang anak muda berpakaian hitam dengan muka yang kusut karena belum mandi sekian hari, mencoba mendekat. Saat anak muda itu melihat seseorang membawa sawarma (makan khas Arab berupa roti dan daging ayam campur tomat segar), ia tidak segan-segan memintanya. "Saya lapar," kata dia, sambil membungkuk.

Hasim hanya manggut-manggut. Raut wajahnya menunjukkan rasa pedih yang mendalam. Kepedihan orang-orang yang tidak berdaya. Dengan suara pelan, ia berkata: "Perang ini menyengsarakan rakyat Irak. Kami tidak tahu kapan Irak akan benar-benar aman. Tapi kami rindu kehidupan normal seperti bangsa-bangsa lainnya di dunia."

 

***

 

DI halaman Palestine Hotel, lima orang tentara AS mengelilingi Husamaddin. Anak muda 23 tahun itu duduk jongkok di tepi sebuah tembok. Ia tidak sedang menghamba, melainkan mengipas teka, sate kambing khas Baghdad.

Inilah "warung kaki lima" pertama yang muncul di Palestine Hotel sejak 9 Maret ketika tentara AS menduduki Baghdad. Penjual teka itu muncul pada hari ketujuh pendudukan.

Pada hari pertama, Husamaddin, seorang lelaki tinggi langsing dengan kumis tipis, menggelar dagangan bersama kakaknya, Ahmad, 38. Teka terbuat dari daging kambing, mirip sate kambing di Indonesia. Tusuk sate Baghdad adalah besi putih mengkilat, bukan bambu (karena di negeri gurun ini, bambu adalah barang langka). Ditaburi bubuk garam sebelum dibakar, teka dimakan dengan selembar roti bakar warna cokelat, bawang Bombay (sekarang kota di India itu bernama Mumbay) warna putih, tomat Irak yang berwarna kemerahan, dan daun srei warna hijau segar.

Husamuddin membawa sepotong paha kambing. Lalat-lalat hijau mengerubungi daging itu, tapi tidak ada yang peduli. Jualan Husamuddin laris dalam tempo singkat, sekitar satu jam. Maklumlah, ribuan orang yang menginap di Palestine Hotel dan Sheraton Hotel tidak mendapatkan makanan di restoran hotel bintang lima yang hanya buka pada jam-jam tertentu.

Satu paket teka dijual satu dolar, cukup murah dibanding makanan hotel satu porsi yang dilego lima dolar. Pembeli membentuk antrian cukup panjang.

Saat pembeli sedang asyik menyantap teka, berlomba dengan lalat, rentetan tembakan terdengar sore itu, 15 April, tak jauh dari Palestine Hotel. Disusul kemudian dengan bunyi dentuman bom, satu kali, dua kali, tiga kali. Orang-orang sudah terbiasa mendengar dentuman bom dan Husamuddin tetap saja membakar satenya. Ia tidak peduli. Urat kagetnya telah putus.

Sersan Wiesar dan Sersan Lemay, anggota marinir AS, dengan tergopoh-gopoh mendatangi penjual teka. Rupanya, lezatnya teka Husamuddin telah beredar dari mulut ke mulut.

"Finish," tutur Husamuddin kepada dua tentara itu. Wajah Wiesar dan Lemay terlihat kecewa. "Oh my God," terdengar Wiesar  berkata, sambil balik kanan, pergi.

Tidak lama kemudian, datang lagi Sersan Frescar. Ia pun harus kecewa. Stok daging Husamuddin telah habis.

"Insya Allah, saya akan datang lagi besok," tuturnya, sambil memperlihatkan lembaran-lembaran dolar dan dinar Irak yang memenuhi kantong bajunya. (Dahlan, Laporan dari Bagdad, Irak)


 * Laporan ini dimuat di harian Surya, Surabaya, dan sejumlah koran daerah Kompas Gramedia yang dikelola Persda. Saya berangkat ke Timur Tengah menjelang Perang Irak atas biaya Persda

--
Tribun Timur, Makassar
www.tribun-timur.com

Ask the Tribun Timur Editor
dahlandahi.blogspot.com

Perang Irak: Ali Baba dan Milisi


Makassar, 18 Februari 2005

Dahlan

Wartawan Tribun Timur,

Bertugas Tiga Bulan

di Irak, Jordania,

dan Mesir

KESAN‑KESAN TENTANG IRAK

Ali Baba dan Milisi

KEMARIN, publik di Indonesia geger oleh berita hilangnya reporter Metro TV, Meutya Hafid, dan kameramen Budiyanto.

Laporan sementara menyebutkan, kedua jurnalis itu hilang di Ramadi, kota gurun sarangnya milisi bersenjata, 162 kilometer barat Bagdad, ibu kota Irak.

Kapan? Sejauh ini belum jelas. Keduanya menyewa mobil milik warga Jordania, 15 September. Sempat ada kontak sebentar sesampai di Karama Border, perbatasan Jordania-Irak. Setelah itu, hilang kontak sama sekali.

Jordania, negeri kecil berpenduduk 5,6 juta, selama ini memang menjadi tempat transit wartawan dari berbagai penjuru dunia sebelum meliput ke Irak.

Negeri kerajaan ini membuka akses seluas-luasnya kepada wartawan asing. Beda dari negara tetangga Irak lainnya seperti Kuwait, Suriah, apalagi Arab Saudi, Jordania tidak mengharuskan wartawan memakai visa jurnalis. Cukup visa turis.

Karena itulah, ketika Presiden Amerika Serikat George W Bush menyerbu Irak, April 2003, ribuan wartawan internasional berlomba-lomba menjadikan Jordania sebagai pangkalan. BBC, misalnya, menyewa salah satu hotel di Kota Amman sebagai tempat melaporkan perkembangan Irak dari menit ke menit.

Dari Jordania ke Irak, ada dua akses. Satu, lewat pesawat. Penerbangan pendek saja, sekitar satu jam. Lebih aman, kendati ada risiko ditembak jatuh oleh milisi Irak.

Cuma, sejauh ini, milisi tidak menyerang penerbangan sipil. Hanya helikopter AS saja yang sejauh ini menjadi sasaran.

Cara kedua, lewat jalan darat. Untuk ini, wartawan biasanya mencarter mobil yang biasa mangkal di terminal di pinggiran Kota Amman, ibu kota Jordania. Sewanya ketika itu sekitar 1.000 dolar AS atau Rp 9 juta (kurs Rp 9.000).

Meutya dan Budiyanto memilih menyewa mobil milik warga Jordania. Biasanya, mobil yang disewa jenis GMC, seperti Land Cruiser kalau di Indonesia. Cukup nyaman untuk perjalanan jauh.

Dilaporkan, mereka meninggalkan Amman pukul 02.00 dinihari waktu setempat (di musim panas, Amman-Jakarta beda waktu empat jam).

Pastilah, Meutya dan Budiyanto memikirkan aspek keamanan mengapa memilih berangkat pukul 02.00 dinihari.

Dari Amman ke Karama Border, perbatasan, ditempuh sekitar empat-lima jam, tergantung seberapa sering polisi Kerajaan Jordania melakukan pemeriksaan. Ada beberapa check point, tempat wartawan diperiksa identitasnya, sebelum sampai ke perbatasan.

Berangkat pukul 02.00 dinihari disertai perhitungan bahwa mereka akan sampai di perbatasan, dengan jalan agak santai, pukul 06.00 pagi, sambil menunggu petugas perbatasan Jordania maupun Irak mulai bekerja.

Melewati jalan yang tidak terlalu lebar, cukup untuk berpapasan dua mobil, serta di kiri-kanan jalan dihiasi gurun, jalan Amman-perbatasan relatif aman. Jarang ada peristiwa kriminal di sini (orang Arab sangat takut mencuri, takut tangannya di potong).

Tiba di perbatasan, Meutya-Budianto masih harus menempuh perjalanan sejauh 1.000 kilometer sebelum sampai di Kota Bagdad. Kira-kira sama jauhnya dengan perjalanan Jakarta-Surabaya.

Dari perbatasan ke Bagdad, jalanannya cukup lebar dan mulus. Seperti jalan tol Jagorawi kalau di Jakarta, namun highway Irak itu lebih lebar dan mulus. Konon pesawat tempur bisa menggunakan jalan itu sebagai tempat landing (mendarat dalam situasi darurat).

Saking mulusnya, sopir-sopir Bagdad-Amman sering menyeduh teh --minuman kegemaran di sana-- sambil menyetir mobil.

Dengan tiba pagi hari di perbatasan, Meutya dan Budianto ingin melewati perjalanan perbatasan-Bagdad pada siang hari.

Sebenarnya, perjalanan pada siang hari pun sangat rawan, apalagi pada malam hari. Dalam perjalanan menuju Bagdad, yang melewati gurun pasir tak bertuan, jarang ada pemukiman apalagi kantor polisi. Maut mengintai kapan saja.

Dan, bila kita mati, kita akan mati seperti kambing. Jangankan berharap ada yang mengusut siapa sang pembunuh, mayat pun mungkin tidak ada yang mengurus.

Memang, ratusan ribu tentara AS dan polisi Irak saat ini mengamankan wilayah itu. Namun, mereka hanya menguasai teritori tertentu (bahkan, kadang-kadang, markas mereka pun juga diserang).

Boleh dikata, sebagian besar wilayah Irak adalah kawasan tak bertuan, dan di situlah wilayah "kerajaan" pasukan milisi dan Ali Baba.

***

RAMADI, kota tempat wartawan itu dilaporkan hilang, sering disinggahi sopir-sopir dari Jordania. Ada warung yang menjual kabab, sate kambing yang lezat, yang dimakan dengan roti ala Arab. Kadang-kadang diselingi sup kacang.

Di tepi jalan kota ini pun ada sebuah pompa bensin, terletak di sisi kiri jalan poros perbatasan-Bagdad. Pompa bensin ini seperti bangunan aneh di tengah gurun. Tak ada pemukiman di sana.

Bersama rombongan wartawan Kompas, TV7, dan wartawan Indonesia lainnya, serta ratusan wartawan asing dari berbagai penjuru dunia, kami pernah melewati kota ini, 10 April 2003, satu hari setelah patung Saddam Hussein dijatuhkan massa dan tentara AS.

Patung itu terletak di Firdaus Square, Bundaran Firdaus, persis di depan Palestine Hotel yang terkenal itu. Kejatuhan patung itu dianggap sebagai perlambang jatuhnya Kota Bagdad ke tangan tentara pendudukan AS, yang masih bercokol sampai sekarang.

Itu juga dianggap perlambang kejatuhan rezim Saddam yang berkuasa di negeri itu lebih dari 20 tahun.

Ketika itu, iring-iringan mobil kami singgah mengisi bensin. Sekalian istirahat, setelah menempuh perjalanan panjang dari perbatasan.

Saat mobil-mobil sedang antre mengisi bahan bakar, tiba-tiba datang segerombolan milisi. Berpakaian sipil, menutup wajah dengan kain, dan ini yang paling menakutkan: menenteng senjata AK-47.

Apa yang kami khawatirkan akhirnya terjadi di siang bolong itu: milisi itu melepaskan tembakan ke udara. Mendengar letusan senjata, para wartawan yang tadinya ke luar mobil untuk sekadar meluruskan punggung berlarian masuk ke mobil, dan tancap gas.

Sialnya, antrean begitu panjang dan terjebak di jalan masuk menuju pompa bensin.

Dengan susah payah, dan dalam kepanikan tingkat tinggi, mobil-mobil itu menjauh dari para milisi. Dalam upaya menyelamatkan diri itu, sebagian mobil mengarah ke jalan kembali menuju Jordania, sebagian lainnya mengarah ke jalan menuju Bagdad.

Belakangan kami dengar kabar, satu mobil wartawan Indonesia terjebak, dan dirampok. Satu lagi korban lainnya adalah wartawan media elektronik Jepang. Kameranya dirampas. Untungnya, tidak ada korban jiwa maupun luka.

Di sini pulalah, seorang wartawan Indonesia ditikam di kakinya dan uangnya dirampas dalam perjalanan pulang dari Bagdad menuju Jordania.

Ramadi memang kota basis Suni yang relatif bergolak sampai saat ini. Seperti kota-kota lainnya di Irak, sebagian kecil kota ini dikuasai polisi Irak dan tentara AS, tapi sebagian besar lainnya dikuasai milisi.

***

SEBELUM Saddam jatuh, Karama Border termasuk wilayah yang angker. Di sana ada poster diri Saddam Hussein ukuran raksasa. Ia tersenyum.

Di Karama, ada bangunan tempat petugas imigrasi mengecek semua orang yang hendak masuk ke wilayah Irak. Pemegang paspor Israel atau yang memiliki stempel Israel dilarang masuk, demikian bunyi peraturan imigrasi Irak di zaman Saddam.

Seisi bangunan itu, termasuk jam dinding dan ranjang, habis dijarah Ali Baba.

Ali Baba memang tidak punya tank, apalagi pesawat pengebom B2. Mereka hanya membawa truk atau mobil kap terbuka. Agar tak diserang tentara AS, kendaraan mereka dihiasi bendera putih. Misi Ali Baba sama dari hari ke hari: menjarah semua barang berharga di kantor‑kantor pemerintah di seluruh Irak, tak terkecuali di pos perbatasan itu.

Tentara AS, penguasa de facto di Irak, membiarkan saja para penggarong itu beraksi. Di beberapa tempat, bahkan, tentara AS terkesan membuka jalan bagi Ali Baba, kaum penjarah.

Dengan tank, tentara AS mendobrak pintu pagar kantor‑kantor pemerintah, termasuk Istana Utama Saddam Hussein dan rumah kediamannya. Selanjutnya, Ali Baba dengan leluasa menjarah barang apa saja: kursi, meja, AC, heater (pemanas), bahkan wastafel.

Fenomena penjarahan besar‑besaran ala Peristiwa Mei 1998 di Jakarta itu menjadi pemandangan sehari‑hari ketika itu.

Kaum penggarong itu disebut warga setempat sebagai Ali Baba, tokoh sejarah yang berwatak buruk.

Antara Ali Baba dan AS saling memanfaatkan. Ali Baba, yang umumnya dari kaum miskin, melakukan penjarahan lebih banyak karena motif ekonomi. Beberapa motif politik memang kelihatan juga, manakala Ali Baba menjarah kantor‑kantor kedutaan Barat pro AS. Namun motif ekonominya lebih kelihatan, terutama di wilayah luar Baghdad.

Bagi AS, penjarahan itu dimanfaatkan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Irak memang membenci Saddam.

Rakyat menjarah kantor pemerintah sebagai simbol protes politik. Fenomena lain yang ingin ditunjukkan adalah bahwa Saddam menyengsarakan rakyatnya. Bahwa Saddam menjerumuskan rakyatnya ke jurang kemiskinan.

Ali Baba berbeda dari milisi, meski sama-sama memegang senjata api sebagaimana mayoritas warga Irak. Bedanya, milisi memiliki tujuan politis --kendati, terkadang mereka juga merampok. Sedangkan Ali Baba hanya merampok atau menjarah.

Cukup banyak warga asing menjadi korban milisi ataupun Ali Baba. Karena mesin hukum tidak berjalan, maka korban demi korban terus berjatuhan, entah pelakunya Ali Baba atau milisi.

Semoga Meutya dan Budianto aman-aman saja dan sehat walafiat. Amin! ***

Perang Irak: Jenderal Amerika pemimpin Irak



Jenderal Amerika pemimpin Irak

 

ENAK ya, kata Takami Hanzawa, wartawan senior Kyodo News, Jepang. Ia makan teka sambil berdiri. Lehernya dikalungi tustel. Tubuhnya di bungkus rompi anti peluru. Tangan kirinya tanpa henti mengipasi lalat yang terus mengerubungi santapannya.

Takami spesialis wartawan perang. Ia pernah meliput perang Afganistan, pembantaian di Kosowo, dan kini perang Irak. Ia beruntung menyaksikan berbagai tragedy kemanusiaan dari dekat. Tragedi ciptaan orang-orang gila yang berkuasa.

Sebagian wartawan yang meliput perang Irak pernah ke Indonesia. Ada yang datang meliput peristiwa jatuhnya Soeharto pada Mei 1998. Takami, yang menyambut PERSDA dengan salam "apa kabar", termasuk diantaranya. "Saya empat bulan meliput di Jakarta," tuturnya dalam bahasa Indonesia logat Jepang.

Christopher Johnson, wartawan International Herald Tribune, beberapa kali ke Jakarta dan Timor Timur. Ia berpos di Bangkok.

Umumnya wartawan memiliki pandangan pesimis tentang masa depan Irak. Saddam Hussein pergi, bersama tentara setianya, entah kemana. Sementara milisi yang jumlahnya diperkirakan jutaan masih berkeliaran di jalan-jalan di Irak, di sela-sela penjagaan ketat tentara AS.

Setelah tertekan selama 24 tahun, kedatangan AS dimanfaatkan kelompok shiah, penduduk mayoritas di Irak, untuk mengaktualisasikan aspirasi politiknya. Baik kelompok Saddam maupun shiah anti Amerika.

Takami memaparkan pandangan menarik. Dia melihat fenomena Palestinanisasi bangsa Irak. Tentara asing berjaga di jalan-jalan, sementara rakyat Irak sebagai pemilik sah negara Irak diperlakukan sebagai tamu di rumah mereka sendiri. Irak telah menjadi tanah pendudukan kedua di Timur Tengah setelah Palestina. Tidak ada lagi contoh negara seperti itu di kolom manapun di dunia ini kecuali di Timur Tengah.

Tentu saja amat sulit menerima kenyataan itu. Bayangkanlah, sekelompok preman bersenjata memasuki rumah Anda, mengatur apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Anda mungkin akan menerima, tapi tidak dengan perasaan tulus. Penjajahan tidak pernah kekal.

AS menyadari rakyat Irak tidak dengan suka cita menerima kehadiran mereka. Hal itu tampak pada selembar selebaran yang dikeluarkan dari markas mereka, nama resminya Civil Military Operations Centre, di Palestine Hotel.

"Kami menyadari sebagai tamu…" tulis selebaran berbahasa Inggris dan bahasa Arab tersebut. Isi selebaran sebenarnya tentang pengumuman jam malam. Rakyat Irak dilarang keluar rumah setelah shalat Magrib hingga terdengar adzan subuh.

Pada malam hari, milisi masih sering melancarkan serangan sporadis kepada tentara AS. AS menyebut serangan itu sebagai "teroris" dan anasir yang berasosiasi dengan rejim lama, rejim Saddam Hussein. Sementara, serangan militer illegal AS yang membunuh ribuan rakyat Irak tidak disebut sebagai "state terrorism" tapi sebagai "Iraqi liberation".

 

***

 

15 April 2003. Dua orang wartawan The Newpaper, Singapura, pulang ke Amman, Jordania. Mereka, seorang reporter dan fotografer, kesal setengah mati karena telepon satelitnya tidak berfungsi sama sekali. Mereka menghabiskan waktu lima enam jam hari itu untuk mencoba mencari sinyal, tapi tanpa hasil.

Tengah malam, listrik di Sheraton Hotel padam total. Air berhenti mengalir. Lift tak berfungsi. Hotel bintang lima ini berubah jadi neraka bagi ratusan wartawan peliput perang Irak.

Pagi-pagi, tidak ada air untuk mandi. Kamar mandi bau oleh air kencing dan hajat besar. Closet ngadat. Bau busuk menyebar kemana-mana. Benar-benar menjijikkan.

Ke lantai dasar, harus melewati tangga yang gelap gulita. Beruntunglah mereka yang membawa senter kecil atau perokok yang membawa gadaha (korek api).

Tapi terkadang ada saja sialnya. Seorang wartawan bule, dengan nafas yang terengah-engah menuruni anak tangga, sambil dibimbing nyala lampu korek api. Di lantai tiga, ia terjatuh menimbulkan bunyi besar bak ledakan bom. Orang-orang ingin tertawa terbahak-bahak, tapi mana tega. Si bule itu segera berdiri dan pergi tanpa sepatah kata pun. Ia kesakitan.

Tengah malam, saat lampu padam, kota Baghdad gelap gulita. Satu dua titik terlihat terang, karena jasa penerangan generator. Bulan yang bersinar lembut membantu menyinari kota Baghdad yang gelap.

Gelap bukan berarti pertempuran harus istrirahat. Dua tiga bunyi letusan besar terdengar mengiringi rentetan bunyi senjata api. Seorang atau beberapa milisi terus saja memberikan perlawanan hit and run. Tentara AS yang diperkuat ratusan tank dan berbagai persenjataan modern terlalu kuat untuk ditaklukan. Perlawanan terus saja ada karena sebagian rakyat Irak masih saja tidak bisa menerima tanah air mereka diduduki musuh.

Suasana di sekitar Palestina Hotel dan Sheraton Hotel tidak biasanya. Tentara AS yang menjadikan hotel itu sebagai markas sementara meningkatkan kewaspadaan.

Ada rumor, Saddam Hussein memberikan ultimatum 3x24  jam dari tanggal 13 April kepada tentara sekutu untuk meninggalkan Palestine Hotel. Sulit mengkonfirmasikan isu yang beredar dari mulut ke mulut, tapi bagaimanapun kewaspadaan harus ditingkatkan.

Puluhan tank mengelilingi Palestine Hotel. Moncong meriam diarahkan ke seluruh arah mata angin. Sementara, tentara membangun benteng pertahanan dari karung-karung pasir.

Para wartawan, yang biasanya leluasa, harus melewati pemeriksaan ketat sebelum memasuki kawasan hotel. Tas digeledah, seluruh tubuh "digerayangi". Tentara wanita memeriksa wanita-wanita berjilbab. Mereka cukup sopan.

Pemeriksaan ketat itu dikaitkan pula dengan rencana kedatangan Jay Garner, Gubernur Jenderal AS yang akan memimpin pemerintahan transisi di Baghdad. Dia adalah pemimpin di tanah pendudukan Irak. (Dahlan, Laporan dari Amman, Jordania) 

 

 -- Tribun Timur, Makassarwww.tribun-timur.com

Ask the Tribun Timur Editor
dahlandahi.blogspot.com

Perang Irak: Era baru mimpi Irak

 Era baru mimpi Irak

 

RAKYAT Irak mulai menemukan udara kebebasan. Atmosfir seperti itu sudah lama hilang di sapu rejim Saddam Hussein dari langit Irak. Bahkan di tengah suasana perang, mereka bisa leluasa menggelar demonstrasi. Pada masa 24 tahun rejim Saddam, demonstrasi diijinkan tapi hanya untuk menerikkan puja-puji pada pemerintah atau mengadakan unjukrasa anti AS.

Hampir setiap hari, belasan rakyat Irak menggelar demonstrasi di depan Palestine Hotel di jantung kota Baghdad, di tengah penjagaan ketat tentara AS yang menenteng M 16.

"Never let the Saddam's fellows to join in anything," begitu antara lain bunyi poster mereka yang ditulis dengan spidol merah di atas keras putih dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab. Yang lainnya berbunyi, "The Iraqi people choose their ruler by them selves."  Poster lainnya melukiskan keadaan sosial: "Give a full chance for Iraqi people to join their job". Demonstran lain membawa poster "Iraqi oil for Iraqi people".

Pada barisan lain, sekelompok demonstran membawa kertas-kertas buku tulis. "No USA," tulis pemrotes, tanpa takut sedikitpun di tembak tentara AS.

Kelompok lainnya membawa poster Masoud Barzani. Poster pemimpin Kurdi itu di tempelkan di tembok-tembok di tepi jalan. Sore harinya, puluhan poster telah dicabut kelompok lainnya.

Rakyat Irak sedang belajar berdemokrasi. Di tengah kebencian pada Amerika, rakyat Irak menemukan momentum mengekpresikan kemauan mereka lewat cara-cara yang demokratis.

Demonstran dengan aspirasi yang berbeda, dengan bunyi spanduk yang berbeda,  bisa akur membentuk kelompok-kelompok sendiri. Di depan tentara Amerika, para pengunjukrasa meneriakkan aspirasinya. Mereka berbeda, tapi tidak bentrok.

Di jalan-jalan, mulai muncul bendera-bendera kelompok politik. Mereka membuka kantor, memasang bendera, dan spanduk. Foto dan poster Saddam Hussein yang menghiasi setiap sudut jalan, setiap dinding kantor, bahkan setiap jam dinding milik penduduk, kini pelan-pelan mulai hilang.

Mulai muncul gambar tokoh-tokoh politik lain. Di Masjid Kazimiyah, tempat ibadah kaum shiah, dindingnya dihiasi gambar-gambar besar Sayid Husein Sadr, pemimpin shiah yang dihormati. Ia adalah calon pemimpin masa depan Irak.

Pada zaman Saddam, bahkan masjid itu diharuskan menulis "masjid ini atas bantuan Saddam Hussein". Kini tulisan di dinding kiri persis sebelum pintu masuk itu dicoret dengan cat hijau. Saddam telah pergi.

 

***

 

SETIDAKNYA ada tiga kelompok yang membawa aspirasi yang berbeda. Aspirasi itu tampaknya menunjukkan berbagai harapan rakyat Irak pasca Saddam.

Kelompok pertama menerikan nyanyian "birruh, biddam, li ajlik ya Saddam." Mereka ini masih menyimpan perasaan cinta pada Saddam Hussein, pemimpin digambarkan berani (melawan AS dan Israel) dan peduli pada rakyat kecil. Sebagian besar rakyat Irak hidup miskin, menggantung hidup dari ransum pemerintah, dan menikmati sekolah gratis bahkan sampai pendidikan doktoral.

Kelompok kedua, yang memekikkan "birruh, biddam, li ajlik ya Irak", membenci Saddam, tapi juga membenci AS. Kelompok shiah termasuk dalam kelompok ini. Suara mereka terdengar dalam hinggar binggar demonstrasi. Misalnya mereka mengusung gagasan "sistem multi partai" dan "pemilu yang demokratis". Masih dalam kelompok ini, cukup kuat juga suara-suara yang menginginkan tampilnya seorang ulama sebagai pemimpin Irak.

Mayoritas rakyat Irak menganut shiah, suatu aliran agama dan komunitas politik yang ditekan selama pemerintahan rejim sunni Partai Baath. Bila pemilu digelar secara demokratis, kelompok shiah yang anti AS kemungkinan akan meraih kemenangan.

Kelompok ketiga apatis secara politik. Mereka pragmatis. Di depan tentara AS, mereka mengusung spanduk "we want peace", bahkan ada yang berteriak "kami ingin roti". Kelompok ini tidak terlalu peduli siapa kelak yang akan memimpin Irak.

Muhtar Muhsin, seorang pria yang mengenakan baju koko warna cokelat, ketika mengetahui berbicara dengan wartawan di kawasan pasar Karrada yang ramai, berkata, "Saya ingin presiden yang baik…" Ia tidak melanjutkan pernyataannya, segera berlari kecil berbau dengan warga Irak lainnya di warung kopi yang menyajikan teh dalam sloki-sloki kecil sambil mengisap Sumer, "bentoel biru" (karena bungkusnya berwarna biru) made in Irak.

Zarkom bin Said, ayah dua anak dan seorang shiah, merumuskan dengan baik bagaimana kemauan komunitas shiah. "Saddam adalah Ali Baba (penjarah) dan Amerika adalah Ali Baba kabir (besar)," ujar sopir taksi ini yang menikmati bayaran 40 dolar AS sehari dari para wartawan asing yang memakai taksinya, sebuah mobil Volkswagen  tua buatan tahun 1970-an, yang kalau berjalan selalu oleng bak diterpa gelombang besar.

Zarkom, pria tinggi dengan tubuh atletis yang tak pernah mengganti kaos putihnya selama empat lima melayani PERSDA dan wartawan Indonesia lainnya, hidup sederhana dengan orang istri yang sedang hamil. Istri kedua mengandung bayi kembar.

Zarkom sudah mempersiapkan tiga nama untuk calon anak-anaknya. Semuanya diambil dari nama-nama panggilan Sayidina Ali, tokoh pemberani yang dilukiskannya amat ditakuti Amerika. Anak pertama akan diberi nama Ali Sajad, seterusnya Ali Karar, dan Ali Akbar.

"Saddam tidak memberikan kebebasan. Amerika juga tidak akan memberikan kebebasan. Mereka hanya ingin petrol, petrol," ujar Zarkom, mantap, dan berjanji akan mengajari anaknya cara menembak, cara menembak tentara Amerika.

Saad, 45, mewakili pandangan kelompok ketiga. Pria yang tampak necis ini ditemui di depan Baghdad Backery, satu-satunya perusahaan roti yang tetap berproduksi kendati pada masa perang di kawasan Zayuna City.

Saat ratusan orang antri membentuk dua barisan (satu barisan laki-laki, satu barisan perempuan) untuk mendapatkan dua bungkus roti berisi 40 potong roti, Saad mengatakan, rakyat Irak sudah letih hidup dalam masa perang sejak tahun 1980. "Sederhana saja. Rakyat Irak sekarang ini ingin hidup tenang dan damai," tutur insinyur yang bekerja pada PCP, sebuah perusahaan India di Baghdad. Ia pernah ke India dua bulan dan menemukan "orang-orang yang ramah dalam damai".

Dari penampilannya, pakaian koko cokelat tua yang tampak bagus dan sedan Toyota buatan tahun 1983 miliknya, Saad kelihatannya berasal dari kalangan menengah atas. Dan, ia pun berkata: "Rakyat tidak senang tanah airnya diduduki Amerika. Tapi kami menginginkan era baru." (Dahlan, Laporan dari Bagdad, Irak)


* Laporan ini dimuat di harian Surya, Surabaya, dan sejumlah koran daerah Kompas Gramedia yang dikelola Persda. Saya berangkat ke Timur Tengah menjelang Perang Irak atas biaya Persda


--
Tribun Timur, Makassar
www.tribun-timur.com

Ask the Tribun Timur Editor
dahlandahi.blogspot.com

Perang Irak: Dari pertemuan kabila dan mimpi Indah Irak

Dari pertemuan kabila dan mimpi Indah Irak

 

SELURUH tamu berdiri. Seperti berbaris. Ruang pertemuan di tata begitu rupa membentuk barisan. Tidak ada meja moderator untuk rapat sepenting itu. Peserta rapat yang baru tiba mengelilingi hadirin, menyalami  satu demi satu. Ada sekitar 30 tamu. Semua tamu disalami, sambil mengucapkan "assalammualaikum". Tiga puluh kali.

Tersedia enam meja kecil. Dua asbak dari tembaga tergeletak di atasnya. Hadirian merokok, mengisap aroma rokok Sumer atau Hammurabi. Kedua merek itu adalah rokok khas Irak yang terseok-seok mengejar popularitas rokok Amerika dan Inggris seperti Fisher dan L&M.

Sebagian besar yang hadir mengenakan pakaian gamis. Tokoh shiah, yang memakai gamis warna hitam, menutup kepala dengan surban. Warna hitam dan putih. Yang sunni memakai kafayeh warna merah motif putih. Ada pula yang menutup kepalanya dengan kafayeh putih polos.

Begitu si tamu duduk di atas kursi sofa warna cokelat yang empuk, seorang pria langsung menghampiri. Membawa teh sloki kecil khas Arab yang habis sekali teguk. Di susul air putih. Semua tamu meminum air segar itu dari gelas yang sama. Puluhan bibir menyentuh bibir gelas itu. Tapi tidak ada masalah. Begitulah memang adat Arab.

Ruangan pertemuan Modif milik Sayed Jamal Abdul Thahi, pemimpin kabila Messara di pinggiran barat kota Baghdad, mirip aula. Udara segar mengalir dari pintu dan jendela.

Saat pertemuan berlangsung, dua helikopter Amerika terbang rendah melintas di atas gedung. Suaranya menggelegar. Pertemuan terhenti sejenak. Helikopter itu terbang rendah pertanda tidak ada lagi perlawanan berarti dari tentara Irak. Pagi yang cerah itu 16 April. Sembilan hari sudah tentara AS menduduki Baghgad.

Tetamu yang hadir semuanya orang penting. Semuanya pemimpin kabila, pemimpin etnik tradisional. Pengikutnya menyebar di seantero Irak. Sayed Jamal, pria tua dengan badan yang besar, bertindak sebagai tuan rumah. Para pemimpin kabila duduk berderet membicarakan masa depan Irak pasca jatuhnya Saddam Hussein, the Great Leader.

Letkol Polisi Faakh Hasan Ali Thaib nampak di antara hadirin. Ia kelihatan menonjol bukan hanya karena perutnya yang gendut. Thaib hadir dalam pakaian dinas lengkap. Bukan sebagai polisi, melainkan sebagai pemimpin kabila A'tai.

Ada pula Ahmad Mahdi Al Hamdani, pensiunan kolonel tentara dari rejim Saddam. Ia diberhentikan dari militer setelah dipecat sebagai anggota Partai Baath.

Sayed Ali Fawadi, tokoh muda dengan wajah yang segar, membuka pertemuan dengan ucapan "bismillahirrahmanirrahim". Dengan pakaian hitam dan sorban putih serta kaca mata minus, ulama shiah itu tampak berwibawa. Saat berbicara, semua hadirin yang kebanyakan orang tua diam.

 

***

 

SAATNYA kita bersatu, seru Sayed Fawadi. Kita harus segera memulihkan keadaan. Jangan ada lagi penjarahan. Rumah sakit harus segera berfungsi. Jalan-jalan harus dibersihkan.

Sayed Zaher Salami, pemimpin kabila dari Kadzimiyah, tak mau kalah. Dengan berapi-api, ia menyerukan muslim suni, shiah, dan Kristen harus bersatu membentuk pemerintahan. Sambil menyitir ayat Al Quran, pemimpin kharismatik itu berkata, "Kita harus membantu pemerintah karena pemerintah menolong rakyat."

Amir Abud, pemimpin kabila Kinani, menjelaskan, pemerintah yang dimaksud bukan rejim Saddam dan bukan pula pemerintahan Amerika. "Kami ingin pemerintahan yang dipimpin oleh Irak sendiri. Seorang Muslim, bukan kafir seperti Saddam Hussein," tandasnya.

Syeik Jamal, tuan rumah, mengingatkan hadirin yang tampak semuanya bersemangat. Mereka seperti menemukan alam baru, dunia tanpa Saddam. "Kita sekarang punya kebebasan berbicara. Pemerintahan baru harus melibatkan semua kelompok di masyarakat," ucapnya yang disambut anggukan hadirin.

Menurut Syeik Jamal, Irak membutuhkan demokrasi. Pemerintahan baru harus segera dibentuk melalui pemilihan umum. Rakyat Irak kini sedang bersemangat, kendati negeri mereka dijajah AS, karena menemukan udara kebebasan yang telah lama hilang.

Pemilihan umum disambut baik kelompok shiah. Mereka adalah mayoritas di Irak. Pemimpin kharismatik shiah, Syeik Husein Sadr, tidak hadir. Tokoh tua itu sedang terbaring sakit. Ia diperkirakan akan menjadi pesaing kuat Ahmad Chalabi, pemimpin Iraqi National Conggres dukungan Amerika, dan pemimpin Kurdi Masoud Barzani.

Setelah Saddam pergi, kelompok sunni kesulitan mencari figur pemimpin. Sebagian besar tokoh sunni direkrut Saddam memperkuat pemerintahannya. Ketika dia tumbang, tumbang pulalah generasi terbaik kaum sunni.

Figur Chalabi mengundang kontroversi di Irak. Intelektual Irak itu melarikan diri ke Inggris 20 tahun lampau. Belakangan saja ia muncul setelah AS mengkampanyekan penyerbuan Irak dan penggulingan Saddam.

Adapun Barzani tidak populer di Baghdad. Bagaimanapun, suku Kurdi –yang bermukim di Irak utara-- bukanlah bangsa Arab, etnis dominan bukan saja di Baghdad tapi di seluruh Irak tengah dan selatan. Untuk menghadang Barzani, sunni dan shiah kemungkinan akan bersatu.

Tokoh shiah, sebaliknya, akan mengancam kepentingan strategis Amerika di Timur Tengah. Umumnya kelompok shiah, seperti di Iran, membenci Amerika. Bersatunya pemimpin shiah di Iran dan Irak akan merepotkan AS.

Masalah itu bukannya tak disadari para pemimpin Irak. Di sela-sela pertemuan kabila, Amir Abud menjelaskan, rakyat Irak sekarang membutuhkan pemerintahan nasional. Pemerintahan yang melibatkan seluruh kelompok berpengaruh.

Rakyat Irak, katanya, terbiasa hidup toleran. Sunni, shiah, dan Kurdi serta minoritas Kristen akan elok kalau bahu membahu membangun Irak yang hancur berantakan.

Rejim Saddam, kata dia, bukan cuma menindas, tapi menghancurkan tatanan harmoni bangsa Irak. Suku Kurdi dan shiah ditindas. Ahmad Milhani, pemimpin shiah, tahu bagaimana kejamnya Saddam. Tiga anaknya di penjara. Sampai sekarang tidak pernah jelas di mana rimbanya.

"Kami punya mimpi tentang masa depan yang indah," tutur Amir Abud. "Masa depan tanpa ada lagi kecurigaan antara sunni dan shiah. Kami semua bangsa Irak. Saddam Hussein telah membunuh mimpi kami." (Dahlan, Laporan dari Bagdad, Irak)


* Laporan ini dimuat di harian Surya, Surabaya, dan sejumlah koran daerah Kompas Gramedia yang dikelola Persda. Saya berangkat ke Timur Tengah menjelang Perang Irak atas biaya Persda


 



--
Tribun Timur, Makassar
www.tribun-timur.com

Ask the Tribun Timur Editor
dahlandahi.blogspot.com

Perang Irak: Bom waktu made in America



14 April 2003  

Bom waktu made in America

 

HASIM Khalil mengeluh. Persediaan uangnya makin menipis. Stok makanan semakin sedikit untuk dia, istri, dan tiga anaknya yang masih kecil. Air bersih sudah habis. Ia mengandalkan air sumur bor yang dipompa oleh mesin generator.

"Hidup semakin sulit," tutur pria berusia 35 tahun, dengan jenggot dan rambut ikal yang tercukur rapi. Tubuhnya dibungkus pakaian koko warna putih yang mulai menguning terkena kotoran debu gurun.

Khalil bukan orang miskin. Di garasi mobilnya terparkir sebuah mobil Toyota Hilux baru warna putih dan sebuah mobil mini van Hyundai warna biru tua. Di Irak, negeri yang menderita setelah Perang Teluk tahun 1991, Khalil termasuk kelompok menengah atas.

Rumahnya yang sederhana, dengan dinding putih yang tampak mulai rapuh, terletak sekitar 400 meter saja dari Hotel Al Mansour, Baghdad. Di utara, ada April Supermarket yang sudah gosong dimakan api. Salah satu pasar serba ada terbesar di Baghdad itu dibakar setelah isinya dikuras Ali Baba, sebutan para penjarah yang leluasa beraksi setelah tentara AS masuk kota Baghdad.

"Saya seorang pengusaha," kata penggemar burung merpati ini, tanpa mau menyebutkan jenis usahanya. Di dinding ruang tamu rumahnya bertengger sebuah jam dinding yang dihiasi gambar Saddam Hussein yang sedang tersenyum. Ia juga memiliki jam tangan bergambar pemimpin Irak tersebut.

Kalau Khalil saja sudah merasakan kesulitan hidup, bagaimana dengan 60 persen rakyat Irak yang menggantungkan hidup dari bahan makanan gratis dari rejim Saddam. Kelompok masyarakat ini tidak memiliki uang tunai yang cukup untuk menjalani kehidupan normal berkecukupan. Setelah Saddam pergi bersembunyi entah dimana, suplai bahan makanan pun terhenti total.

Hari-hari ini, rakyat Irak semakin membutuhkan kehadiran sebuah pemerintahan. Sebab tentara AS hanya mengontrol perlawanan milisi dan tentara Irak. Setidaknya sampai hari kelima pendudukan Baghdad, mereka sama sekali tidak peduli dengan kebutuhan jutaan warga sipil.

Sebagian besar rakyat Baghdad harus hidup dalam gulita di malam hari. Sebab tidak ada lagi penerangan listrik. Saluran air bersih juga telah dirusak perang. Sehingga, untuk sekadar mendapatkan air minum, rakyat harus menimba air di sumur umum, mengangkutnya dengan jerigen, berjalan kaki, layaknya kehidupan pada masa pra peradaban.

Saluran telepon terputus total. Rakyat Baghdad benar-benar terisolasi, bukan saja dari dunia di luar Irak, melainkan juga dari saudara-saudara mereka yang tinggal berjauhan. Mereka tidak tahu bagaimana kabar mereka. Kehidupan semakin sulit karena rakyat lebih banyak memilih tinggal di dalam rumah. Keamanan masih merupakan barang mahal di kota 1001 malam ini.

Surat kabar, alat komunikasi penting di era modern, tak bisa lagi dinikmati warga Baghdad. Harian Babil, koran milik Uday Saddam Hussein, sudah lama meninggalkan pembaca.

Televisi pun tak bisa dinikmati. Di zaman normal, rakyat Irak hanya bisa menonton satu-satunya siaran televisi pemerintah. Sekarang ini, pesawat televisi menjadi barang yang tak berguna sama sekali, bahkan di hotel-hotel berbintang seperti Sheraton Hotel ataupun Palestine Hotel, markasnya ribuan wartawan asing dan tentara AS.

Punya uang pun tidak berarti persoalan telah selesai. Khawatir terhadap penjarahan, sebagian besar pemilik toko belum berani menggelar jualannya. Hanya beberapa warung saja yang berani buka.

"Persediaan gas sudah menipis. Daging pun sulit diperoleh," kata Muhammad Falah, pria yang lancar berbahasa Inggris yang membuka warung di kawasan Karrada. Ia menjual kabab (sate) yang lumayan lezat.

Saat menyantap kabab, para tamu harus puas berlomba makan dengan lalat-lalat besar yang tampak kelaparan. Kotor, kalau tak mau dibilang menjinjikkan. Tapi mau apa. Restoran di Palestine Hotel hanya buka pada jam-jam tertentu. Itu pun harus antri, berebutan dengan ratusan wartawan dan tentara AS yang antri makan sambil menenteng senjata otomatis.

Di Sheraton Hotel, restorannya bahkan tidak pernah buka sama sekali. Pegawai hotel banyak yang minggat, takut perang.

 

***

 

RIBUAN wartawan asing, mulai dari Australia, Asia, Amerika, Eropa hingga Rusia, bekerja di Baghdad meliput perang. Mereka membawa ribuan bahkan ratusan ribu dolar AS.

Di Baghdad, kota yang dilanda perang, uang bukanlah segalanya. Tengoklah kehidupan di Sheraton Hotel. Lift di hotel bintang lima ini lebih banyak tak berfungsi. Para tamu harus naik tangga darurat.

Generator listrik biasanya dipadamkan pada pukul 12.00 sampai pukul 14.00 untuk mendinginkan mesin generator. Pada saat itu, semua tamu terpaksa naik turun tangga darurat.

Anwar Hasan, 42, seorang kameramen dari Malaysia, turun naik tangga setidaknya empat kali sehari. Bersama wartawan Malaysia dan tim relawan dari MERCY, mereka menempati suit room di lantai 17.

"Inilah perang," tutur Omar, yang beruntung selamat setelah mobilnya diberondong senjata AK 47 oleh milisi Irak. Fotografer dan kameramen sering berlarian ke lantai 17 untuk mengabadikan gambar manakala AS mulai melancarkan serangan atau pada saat terdengar rentetan tembakan dari medan pertempuran di sekitar hotel.

Persedian air bersih untuk mandi lumayan bagus. Tapi jangan tanya air minum. Hotel tidak menyediakan air minum. Para wartawan yang datang dari Amman membawa bergalon-galon air minum ke Baghdad.

Yang repot lagi, kamar tidur. Sejak hari kedua (Kamis, 10/4) tentara AS menduduki kota Baghdad, dua hotel bintang yang memiliki hampir 600 kamar ini telah penuh. Setiap kamar diisi tiga empat orang, sebagian tidur di atas karpet.

Puluhan wartawan lainnya tidur di sofa atau karpet di lobby hotel. Mereka mandi di toilet umum yang bau apek. Closet terkadang penuh dengan kotoran yang sudah berhari-hari tidak pernah dibersihkan.

Palestine Hotel dan Sheraton Hotel menjadi idola karena hanya dua hotel inilah yang relatif aman. Kedua hotel telah dikuasai sepenuhnya oleh tentara AS. Setiap orang yang masuk dicek identitasnya. Orang-orang Irak tak diperkenankan masuk, kecuali membawa identitas yang jelas.

Namun tentu saja tidak sepenuhnya aman. Karena, sudah pasti akan menjadi sasaran empuk milisi atau tentara Irak.

Sebagian besar hotel lainnya masih tutup. Kalau toh beroperasi, warga asing mengkhawatirkan keselamatan. Milisi bersenjata masih berkeliaran di dalam kota. Milisi menembaki semua kendaraan yang dicurigai, kemudian lari bersembunyi di rumah-rumah penduduk. Ketika tentara AS datang, mereka menyembunyikan senjata, keluar membaur dengan warga sipil lainnya menyanjung-nyanjung tentara AS.

Kecuali karena bersenjata, sulit membedakan milisi dari rakyat biasa. Milisi memakai pakaian sipil dan berpenampilan sipil, mulai dari rambut, pakaian, dan sepatu. Mereka juga membaur dengan rakyat biasa.

 

***

 

KEHIDUPAN kalangan berduit yang susah, termasuk yang dirasakan para wartawan asing, merupakan salah satu gambaran betapa menderitanya rakyat Irak sekarang ini. Dalam kondisi vakum pemerintahan, semua kebutuhan vital seperti listrik, telepon, air bersih, dan bahan makan tidak bisa terpenuhi secara normal.

Sangat gampang menemukan anak-anak Irak yang mengemis "water, water" atau sekadar meminta sebiji roti. Pada beberapa toko yang buka terlihat antrian panjang ibu-ibu yang hendak membeli roti. Sebagian harus pulang dengan tangan hampa karena setelah antri berjam-jam, persediaan roti sudah habis.

"Amerika tidak peduli pada rakyat Irak. Mereka hanya mau menggulingkan Saddam lalu mengontrol minyak Irak," ujar seorang pemuda Irak, tinggi besar dengan hidung mancung dan bola mata cokelat. Bahasa Inggris-nya lancar, ia pernah hidup beberapa tahun di California, AS. Dia bekerja sebagai guide wartawan Perancis.

Amerika terkesan lamban membentuk pemerintahan baru pasca Saddam. Akibatnya, roda pemerintahan praktis macet total sejak perang dimulai 20 Mei lalu. Rakyat hidup dalam bayang-bayang kematian dan kelaparan.

Selama perang, pasokan barang kebutuhan sehari-hari dari Amman, Jordania, praktis berhenti total. Sopir-sopir truk takut dibom Amerika, tapi juga takut dijarah Ali Baba atau para milisi yang memang sangat membenci Jordania, negeri kerajaan kecil yang dilukiskan pro Amerika.

Sangat sulit menemukan sebotol Pepsi di Baghdad. Bukan saja karena minuman segar itu produk Amerika. Tapi juga karena pasokannya yang berhenti total.

"No Pepsi, sir," ujar pemuda yang mengaku bernama Khatib yang menjajakan minuman di dekat pintu masuk Palestine Hotel. Ia hanya menjual orange dan minuman energi yang sebagian besar sudah kadaluarsa. Satu gelas orange dijual setengah dolar AS.

Hidup dalam kesulitan membuat perasaan anti Amerika semakin memuncak. Setelah Baghdad jatuh, sebagian rakyat sudah mulai melupakan Saddam. Tapi mereka juga tidak menerima begitu saja kehadiran Amerika di tanah air mereka.

"Saddam berbahaya, tapi Amerika lebih berbahaya lagi," bisik Muhammad Fallah. Pandangan seperti itu sangat umum dijumpai di kalangan rakyat Irak. Tak terkecuali mereka yang setiap hari berkumpul di depan Palestine Hotel, tempat pasukan Amerika bermarkas.

Hari Minggu lalu, seorang pria yang mengenakan seragam tentara Irak datang ke depan Palestine Hotel, mencium kaki tentara AS yang sedang berjaga. Pemandangan itu disaksikan puluhan orang Irak yang berkerumun di kawasan itu. Spontan mereka menariknya beramai-ramai, memukulinya. Ketika para wartawan asing datang, orang-orang Irak itu berteriak "dia gila, dia bukan tentara Irak."

Rakyat Irak sedang menunggu bagaimana wajah pemerintahan baru pasca Saddam. Kelak bila AS salah memilih pemerintahan boneka, penderitaan rakyat selama hari-hari pertama pendudukan akan menjadi bom waktu bagi Amerika. Sebuah bom waktu made in America. (Dahlan, Laporan dari Bagdad, Irak)


* Laporan ini dimuat di harian Surya, Surabaya, dan sejumlah koran daerah Kompas Gramedia yang dikelola Persda. Saya berangkat ke Timur Tengah menjelang Perang Irak atas biaya Persda

 


--
Tribun Timur, Makassar
www.tribun-timur.com

Ask the Tribun Timur Editor
dahlandahi.blogspot.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...