Tuesday, July 29, 2008
Dari pertemuan kabila dan mimpi Indah Irak
Ketika mencari-cari bahan untuk latihan penulisan feature, saya menemukan tulisan ini di folder saya. Sudah lama sekali tulisan ini saya buat, sekitar tanggal 19 atau 20 April 2003.
Rasanya baru kemarin saya pulang dari Bagdad. Masih teringat bagaimana rambut saya gondrong tidak pernah dicukur selama tiga bulan. Begitu dekat dalam ingatan bagaimana orang-orang Arab yang begitu ramah menyambut kami di sebuah perkampungan di pinggiran kota Bagdad, Irak.
Dari pertemuan kabila dan mimpi Indah Irak
SELURUH tamu berdiri. Seperti berbaris. Ruang pertemuan di tata begitu rupa membentuk barisan. Tidak ada meja moderator untuk rapat sepenting itu. Peserta rapat yang baru tiba mengelilingi hadirin, menyalami satu demi satu. Ada sekitar 30 tamu. Semua tamu disalami, sambil mengucapkan “assalammualaikum”. Tiga puluh kali.
Tersedia enam meja kecil. Dua asbak dari tembaga tergeletak di atasnya. Hadirian merokok, mengisap aroma rokok Sumer atau Hammurabi. Kedua merek itu adalah rokok khas Irak yang terseok-seok mengejar popularitas rokok Amerika dan Inggris seperti Fisher dan L&M.
Sebagian besar yang hadir mengenakan pakaian gamis. Tokoh shiah, yang memakai gamis warna hitam, menutup kepala dengan surban. Warna hitam dan putih. Yang sunni memakai kafayeh warna merah motif putih. Ada pula yang menutup kepalanya dengan kafayeh putih polos.
Begitu si tamu duduk di atas kursi sofa warna cokelat yang empuk, seorang pria langsung menghampiri. Membawa teh sloki kecil khas Arab yang habis sekali teguk. Di susul air putih. Semua tamu meminum air segar itu dari gelas yang sama. Puluhan bibir menyentuh bibir gelas itu. Tapi tidak ada masalah. Begitulah memang adat Arab.
Ruangan pertemuan Modif milik Sayed Jamal Abdul Thahi, pemimpin kabila Messara di pinggiran barat kota Baghdad, mirip aula. Udara segar mengalir dari pintu dan jendela.
Saat pertemuan berlangsung, dua helikopter Amerika terbang rendah melintas di atas gedung. Suaranya menggelegar. Pertemuan terhenti sejenak. Helikopter itu terbang rendah pertanda tidak ada lagi perlawanan berarti dari tentara Irak. Pagi yang cerah itu 16 April. Sembilan hari sudah tentara AS menduduki Baghgad.
Tetamu yang hadir semuanya orang penting. Semuanya pemimpin kabila, pemimpin etnik tradisional. Pengikutnya menyebar di seantero Irak. Sayed Jamal, pria tua dengan badan yang besar, bertindak sebagai tuan rumah. Para pemimpin kabila duduk berderet membicarakan masa depan Irak pasca jatuhnya Saddam Hussein, the Great Leader.
Letkol Polisi Faakh Hasan Ali Thaib nampak di antara hadirin. Ia kelihatan menonjol bukan hanya karena perutnya yang gendut. Thaib hadir dalam pakaian dinas lengkap. Bukan sebagai polisi, melainkan sebagai pemimpin kabila A'tai.
Ada pula Ahmad Mahdi Al Hamdani, pensiunan kolonel tentara dari rejim Saddam. Ia diberhentikan dari militer setelah dipecat sebagai anggota Partai Baath.
Sayed Ali Fawadi, tokoh muda dengan wajah yang segar, membuka pertemuan dengan ucapan “bismillahirrahmanirrahim”. Dengan pakaian hitam dan sorban putih serta kaca mata minus, ulama shiah itu tampak berwibawa. Saat berbicara, semua hadirin yang kebanyakan orang tua diam.
***
SAATNYA kita bersatu, seru Sayed Fawadi. Kita harus segera memulihkan keadaan. Jangan ada lagi penjarahan. Rumah sakit harus segera berfungsi. Jalan-jalan harus dibersihkan.
Sayed Zaher Salami, pemimpin kabila dari Kadzimiyah, tak mau kalah. Dengan berapi-api, ia menyerukan muslim suni, shiah, dan Kristen harus bersatu membentuk pemerintahan. Sambil menyitir ayat Al Quran, pemimpin kharismatik itu berkata, “Kita harus membantu pemerintah karena pemerintah menolong rakyat.”
Amir Abud, pemimpin kabila Kinani, menjelaskan, pemerintah yang dimaksud bukan rejim Saddam dan bukan pula pemerintahan Amerika. “Kami ingin pemerintahan yang dipimpin oleh Irak sendiri. Seorang Muslim, bukan kafir seperti Saddam Hussein,” tandasnya.
Syeik Jamal, tuan rumah, mengingatkan hadirin yang tampak semuanya bersemangat. Mereka seperti menemukan alam baru, dunia tanpa Saddam. “Kita sekarang punya kebebasan berbicara. Pemerintahan baru harus melibatkan semua kelompok di masyarakat,” ucapnya yang disambut anggukan hadirin.
Menurut Syeik Jamal, Irak membutuhkan demokrasi. Pemerintahan baru harus segera dibentuk melalui pemilihan umum. Rakyat Irak kini sedang bersemangat, kendati negeri mereka dijajah AS, karena menemukan udara kebebasan yang telah lama hilang.
Pemilihan umum disambut baik kelompok shiah. Mereka adalah mayoritas di Irak. Pemimpin kharismatik shiah, Syeik Husein Sadr, tidak hadir. Tokoh tua itu sedang terbaring sakit. Ia diperkirakan akan menjadi pesaing kuat Ahmad Chalabi, pemimpin Iraqi National Conggres dukungan Amerika, dan pemimpin Kurdi Masoud Barzani.
Setelah Saddam pergi, kelompok sunni kesulitan mencari figur pemimpin. Sebagian besar tokoh sunni direkrut Saddam memperkuat pemerintahannya. Ketika dia tumbang, tumbang pulalah generasi terbaik kaum sunni.
Figur Chalabi mengundang kontroversi di Irak. Intelektual Irak itu melarikan diri ke Inggris 20 tahun lampau. Belakangan saja ia muncul setelah AS mengkampanyekan penyerbuan Irak dan penggulingan Saddam.
Adapun Barzani tidak populer di Baghdad. Bagaimanapun, suku Kurdi -yang bermukim di Irak utara-- bukanlah bangsa Arab, etnis dominan bukan saja di Baghdad tapi di seluruh Irak tengah dan selatan. Untuk menghadang Barzani, sunni dan shiah kemungkinan akan bersatu.
Tokoh shiah, sebaliknya, akan mengancam kepentingan strategis Amerika di Timur Tengah. Umumnya kelompok shiah, seperti di Iran, membenci Amerika. Bersatunya pemimpin shiah di Iran dan Irak akan merepotkan AS.
Masalah itu bukannya tak disadari para pemimpin Irak. Di sela-sela pertemuan kabila, Amir Abud menjelaskan, rakyat Irak sekarang membutuhkan pemerintahan nasional. Pemerintahan yang melibatkan seluruh kelompok berpengaruh.
Rakyat Irak, katanya, terbiasa hidup toleran. Sunni, shiah, dan Kurdi serta minoritas Kristen akan elok kalau bahu membahu membangun Irak yang hancur berantakan.
Rejim Saddam, kata dia, bukan cuma menindas, tapi menghancurkan tatanan harmoni bangsa Irak. Suku Kurdi dan shiah ditindas. Ahmad Milhani, pemimpin shiah, tahu bagaimana kejamnya Saddam. Tiga anaknya di penjara. Sampai sekarang tidak pernah jelas di mana rimbanya.
“Kami punya mimpi tentang masa depan yang indah,” tutur Amir Abud. “Masa depan tanpa ada lagi kecurigaan antara sunni dan shiah. Kami semua bangsa Irak. Saddam Hussein telah membunuh mimpi kami.”
Tuesday, July 8, 2008
Catatan Harian Menuju Timur Tengah
Di kantor Persda, Jakarta, menjelang berangkat ke Timur Tengah, Januari 2003.
Teman-teman Persda foto bareng sebelum berangkat: Yulis, Ari, Windu, Dayat, Abang Fikar, dan ehemmm... istrinya Daeng Ewa.

Saya meliput di Amman (Jordania), daerah yang berbatasan langsung dengan Irak karena kesulitan paspor, Cairo (Mesir), dan akhirnya ke Bagdad, Irak, setelah negara itu bisa dimasuki tanpa identitas apapun segera setelah patung Saddam Hussein ditumbangkan di Firdaus Square, Bagdad.
Laporan jurnalistik saya diterbitkan oleh koran-koran daerah yang kelola Persda, anak perusahaan Kompas Gramedia.
Sewaktu di Timur Tengah, teman-teman TV 7 (kini Trans 7) dan Radio Sonora sering meminta untuk menyampaikan laporan langsung (live).Saya menemukan nuansa nostalgia yang luar biasa bila membaca lagi laporan-laporan dari Amman, Cairo, dan Bagdad.
Mula-mula saya arsipkan laporan-laporan itu, berikut sejumlah foto yang masih bisa diselamatkan, di komputer. Ada rencana menulis buku, tapi belum kesampaian.Maka saya putuskan menshare tulisan-tulisan jurnalistik tersebut ke blog. Moga-moga ada manfaatnya.
Catatan Harian:
Jakarta, 25 Januari 2003
KUWAIT Airways take off dari Bandara International Soekarno-Hatta, Jakarta, menjelang tengah malam pukul 23.35. Jam itu dipilih supaya bisa tiba di Kuwait pagi hari. Perjalanan Jakarta-Kuwait, setelah transit di Bandara Changi, Singapura, selama satu jam memakan waktu 11 jam.
Dari rumah, saya rencana berangkat sehabis shalat Magrib. Paling telat, kalau toh jalanan ke bandara macet seperti biasanya, saya akan tiba di bandara pukul 21.00. Masih ada waktu sekitar dua jam untuk boarding, membayar air port taksi, dan membayar fiscal.
Sekitar pukul 14.00, handphone saya berdering. Mas Becki, teman saya, menelepon saya dari Surabaya. Ia mengabarkan, saya harus segera menyetor foto baru. Bukan pas foto, tapi foto action “wartawan perang” untuk dimuat di halaman depan pada koran edisi besok.
Sebelumnya, Mas Ano, pimpinan saya, sudah memintanya. Saya menduga, Mas Becki hanya meneruskan perintah Mas Ano. Dalam hati, saya sebenarnya tidak senang dengan publikasi seperti ini. Saya belum tahu medan liputan di Timur Tengah seperti apa. Saya buta. Saya takut gagal, sementara koran saya telah menjanjikan sesuatu yang terlalu banyak kepada pembaca.
Saya sadar, perusahaan telah mengeluarkan biaya yang terlalu banyak untuk membiayai liputan ini. Saya akan diekspos untuk memancing pembaca agar membaca liputan saya dari Timur Tengah. Untuk tujuan bisnis, tentu saja. Okelah, saya bilang. Sekali-sekali nggak apa-apa menjadi mata dagangan.
Saya akhirnya harus pamit lebih cepat kepada istri dan anak-anak saya. Anak pertama saya, Oki, masih di sekolah, ketika akhirnya saya berangkat ke kantor.
Di kantor, teman-teman sudah menunggu. Ada fotografer, Sapto. Windu, Yulis, dan Ary siap-siap mengantar saya ke bandara.
“Mana anak-anaknya. Mereka kan harus ke bandara,” kata mereka. Sesuai scenario, saya harus membawa anak dan istri ke bandara, berpisah dalam suasana sedih, kalau perlu bercucuran air mata. Cerita, plus foto, dari adegan itu akan menjadi bahan tulisan tentang saya.
“Tidak,” kata saya. “Saya tidak ingin mereka terlalu sedih.” Saya katakan begitu, karena saya sudah tahu, judul apa gerangan yang akan dipakai untuk “menjual saya”. Sebelumnya, Mas Ano sudah menemukan judul yang pas: kontrak mati (untuk meliput perang Irak). Kata-kata seperti itu tentu saja akan membuat istri dan anak-anak saya sedih melepaskan saya ke “medan perang”.
Sebelumnya, berkali-kali saya yakinkan mereka bahwa saya akan aman di Timur Tengah. Namanya perang, tapi saya akan meliput di hotel. Begitulah saya selalu menghibur mereka. Saya tidak ingin mereka cemas selama saya pergi.
***
SETIBA di bandara, diantar Windu, Ary, dan Yulis, saya segera mencium aroma calo. Seorang petugas cleaning service menghampiri saya. Kendati saya sudah pernah terbang ke Seoul, Singapura, maupun ke Sabah, Malaysia, serta ke Seoul, Korea Selatan, anak muda itu agaknya tahu saya jarang ke bandara internasional itu.
Dia menawarkan jasa pembayaran fiscal. Katanya, kalau saya berangkat sebagai turis, saya akan dikenakan fiscal Rp 1 juta. Tapi bila sebagai TKI, bebas visa.
“Kalau lewat saya, cukup bayar Rp 800 ribu,” katanya.
“Bagaimana caranya?”
”Beres, saya akan atur. Saya punya kenalan di dalam,” katanya, berusaha membujuk.
Saya menolak. Bukan karena saya orang suci, tidak. Saya tahu, lewat dia biayanya lebih murah, cuma dia pasti tidak punya kwitansi. Artinya, saya akan sulit mempertanggungjawabkannya ke kantor.
Waktu menunjukkan pukul 21.00 ketika saya mulai masuk ke dalam untuk boarding. Yulis cs belum langsung pulang. Mereka memperhatikan saya dari balik kaca transparan saat melakukan boarding.
“Bapak mau ke Amman. Mau tinggal dimana,” petugas Kuwait Airways, seorang wanita muda, bertanya. Nada bicaranya penuh selidik.
“Di hotel, tentu saja.”
Saya belum tahu di hotel mana. Teman koresponden Kompas di Cairo, Musthafa Abdul Rahman, merekomendasikan Hotel Amra. Katanya dekat KBRI di Amman. Saya mencatat alamat hotel tersebut.
“Bapak baru pertama kali ke Timur Tengah. Untuk apa?” Wanita itu bertanya seperti polisi.
Yulis rupanya memperhatikan saya “diinterogasi”. Dia mengirim SMS: “
“Tidak. Dia hanya butuh sedikit perhatian,” saya membalas SMS Yulis.
Wanita itu membawa paspor dan tiket saya kepada petugas Kuwait Airways, seorang anak muda, putih, memakai surban. Agaknya dia orang
Di samping tempat saya boarding, seorang ibu dan anak kecilnya nampak gelisah. Dari wajahnya, dia orang
Dia sudah memegang tiket OK ke
Kegalauan ibu muda itu belum hilang, ketika petugas menyampaikan, dia harus menyiapkan sekian juta untuk membayar denda over stay. “Ibu punya uang cash sekarang?” saya mendengar petugas itu bertanya. Pura-pura saya tidak memperhatikannya. Saya hanya coba mendengar percakapan mereka.
Dalam bayangan saya, ibu ini bukanlah korban perang di Irak. Dia hanya korban dari pemerintahnya di Indonesia yang tidak pernah peduli akan nasib orang-orang kecil seperti dia. Mungkin dia ke Kuwait, menjadi pembantu rumah tangga, sebelum mendapatkan pria Kuwait.
Yulis mengirim SMS lagi. “Kasih aja kedipan mata kalau dia masih bertanya macam-macam.” Petugas itu datang, sambil membawa blanko yang harus saya isi. Katanya, blanko seperti itu diisi oleh setiap orang Indonesia yang baru ke luar negeri. Saya tidak tahu apakah dia benar. Yang penting, saya harus terbang ke Jordania. Saya isi blanko tersebut seperti yang dia minta.
Dia masih belum yakin dengan alasan saya pergi ke Jordania. Dia tidak percaya saya seorang turis. Mungkin dia melihat penampilan saya lebih tepat sebagai calon TKI, bukan pelancong yang banyak duit.
“Okelah,” kata saya kemudian. “Saya seorang wartawan.” Saya lalu menunjukkan kartu pers yang dikeluarkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Barulah dia menyerah. Tapi kemudian, ia bertanya, “Bapak meliput apa di Timur Tengah?
“Perang”.
“Perang?” matanya terbelalak. “Perang Irak?” Saya bilang ia, dan, dengan nada simpatik, ia bertanya, apakah saya tidak takut.
Jawaban saya mantap. “Tentu tidak. Saya tidak takut. Kematian ada di mana-mana, bukan cuma di medan perang. Banyak orang mati di tempat tidur.”
Benar juga sih, pikir dia. Dia mengambil kartu pers saya, memperhatikannya sejenak. Akhirnya ia berkata, “Hati-hati, Pak.”
***
MELANGKAH menuju bagian dalam bandara mengingatkan saya pada petugas cleaning service tadi. Dia menawarkan jasa jalan tikus untuk membayar fiscal lebih murah. Petugas yang mensortir setiap penumpang untuk membayar fiscal adalah seorang anak muda. Ia tampak tampan, rapi, dan necis. Saya selalu mengira, pegawai bergaji kecil yang berpenampilan seperti itu pastilah seorang yang korup. Mustahil ia membiayai gaya hidupnya yang wah dari gaji yang pas-pasan.
Dia memperhatikan paspor saya. Masih baru, kata dia. Agaknya dia merasa sayalah sasaran baru. Paspor saya memang masih baru, diurus seorang calo di Kantor Imigrasi Jakarta Timur. Sebelumnya, saya punya paspor keluaran Kantor Imigrasi Makassar. Paspor itu sudah kedaluarsa. Saya tidak pernah memperpanjangnya lagi, sebab, dengan uang sendiri, saya tidak pernah bermimpi akan terbang lagi ke luar negeri.
Kecuali TKI, semua pemegang paspor baru harus membayar fiscal. Dia meminta saya menuju counter di sampingnya. Baru melangkah beberapa meter, seorang lelaki, tinggi agak kurus, menghampiri saya. Bak seorang petugas, dia minta paspor saya. Tanpa basa basi, dia menawarkan biaya fiscal yang lebih murah.
“Kalau Bapak ke sana, Bapak harus membayar satu juta.”
“Lantas?”
“Ya, terserah Bapak.”
”Oke. Saya ingin membayar satu juta. Asal ada kwitansi.”
Lelaki itu kemudian pergi. Ia tampak kecewa karena gagal mendapatkan apa yang dia inginkan dari saya. Saya merasa, dia bukan orang sembarangan. Dia pasti bagian mata rantai calo di bandara.
Sebagai calo, tentu ia mengenal lika liku bandara, juga mengenal secara pribadi para petugas yang terkait. Mungkin juga dia menyetor upeti untuk mempermulus urusannya.
Orang-orang seperti dia amat banyak di Indonesia. Tidak terkecuali di kantor kedutaan besar asing di Jakarta. Saya ingat pengalaman mengurus visa di Kedubes Mesir. Saya hanya membawa uang Rp 400.000 ketika datang ke kantor itu. Saya kira, biaya pengurusan visa hanya Rp 300-an ribu. Di Kedubes Jordan, biaya visa paling mahal, multiple entry untuk enam bulan, hanya Rp 315 ribu. Ke Mesir, saya hanya mengurus visa sekali masuk, bukan multiple entry. Jadi, pikir saya, biayanya mesti lebih murah.
Rupanya saya keliru. Saya diminta membayar Rp 480.000. Terus menyetor paspor dan tiket pp asli, plus pas foto berwarna satu lembar. Saya terpaksa harus lari ke ATM.
Setelah membayar biaya visa, saya menyetor seluruh persyaratan, termasuk paspor dan tiket Jakarta-Amman pp (Rencananya, dari Amman, saya ke Mesir lewat jalan darat atau pesawat. Jadi, saya cukup menyerahkan tiket Jakarta-Amman, bukan Jakarta-Cairo).
Ke Markas Al Jazeera di Bagdad Setelah Tariq Ayoub Dibunuh Helikopter Amerika Serikat
Al Jazeera, setelah generator dibom
JASIM, 52, bukan polisi seperti Abu Farrah. Orang tua bertubuh tinggi dan agak kurus ini menemukan suasana psikologis untuk melawan, bukan untuk bertekuk lutut. Pasalnya, ia menyaksikan sendiri bagaimana kejamnya tentara AS.
Jasim bekerja sebagai tenaga non redaksi di kantor perwakilan stasiun televisi Al Jazeera. Terdiri atas bangunan dua lantai, kantor itu terletak persis di tepi Sungai Tigris. Di sinilah reporternya, Tariq Ayoub, melaporkan perkembangan perang dari jam ke jam.
Di lantai paling atas, stasiun yang berbasis di Qatar itu membangun studio mini. Di tepi pagar, karung-karung berisi pasir disusun, membentuk lingkaran. Di sanalah Tariq bersembunyi manakala ia merasa dalam bahaya, ketika pesawat-pesawat tempur AS memuntahkan bom-bom pencabut nyawa.
Selasa pukul tujuh pagi, beberapa menit setelah Tariq Ayoub melaporkan secara live, pesawat tempur AS tanpa diduga menggempur kantor Al Jazeera. Hanya terpaut sekitar 10 meter, kantor Abu Dhabi TV juga ikut digempur.
Kedua stasiun ini, bersama Al Arabiya, melaporkan perkembangan perang dari sudut yang tidak mengenakan AS. Ketiga stasiun itu seringkali melaporkan sisi kemanusian perang, menayangkan gambar-gambar korban di pihak sipil, sesuatu yang dengan sengaja amat jarang ditayangkan televisi Barat seperti CNN dan Fox News.
Jasim bercerita, sambil menunjukkan ceceran darah Tariq Ayoub di lantai yang sudah mengering, mula-mula AS mengebom sebuah bangunan kecil sekitar dua meter dari bangunan utama kantor Al Jazeera. Bangunan mirip WC itu adalah pusat generator. Begitu digempur, lampu padam total.
AS belum puas dengan hanya melumpuhkan aliran listrik. Dinding-dinding kantor Al Jazeera penuh lubang-lubang besar bekas tembakan. Salah satu tembakan mengenai bagian perut Tariq Ayoub. Jurnalis ayah satu putri itu mengerang kesakitan, dan mati. Ia terlahir 34 tahun lalu dan mati menjadi saksi kekejaman tentara AS.
Bagi Jasim dan kru Al Jazeera lainnya, sulit mempercayai pengeboman kantor Al Jazeera itu sebagai kecelakaan. Di sekitar kantor Al Jazeera sama sekali tidak ada target militer seperti bangunan pemerintah, istana Saddam, pusat telekomunikasi atau instalasi militer.
Sebelum kantornya dibom, mobil Al Jazeera diberondong tembakan. Sopirnya luka-luka.
Stasiun Al Jazeera juga digempur pasukan AS pada perang Afganistan tahun 2001. Stasiun itu, yang disebut juga sebagai CNN-nya Arab, merupakan penyebar berita yang memiliki kredibilitas tinggi di tanah Arab.
***
MUHANAD, 43, tinggal tak jauh dari kantor Al Jazeera. Ia senang karena bermukim tak jauh dari pabrik berita pro Arab. Namun ia ketakutan lantaran, semasa perang, kantor tersebut dijadikan sasaran militer AS.
“Di sini tidak ada kantor pemerintah dan bangunan militer sehingga tidak perlu takut akan dibom Amerika. Tapi setelah Al Jazeera dibom, kami mulai ketakutan,” tuturnya saat ditemui di depan rumahnya, duduk di kursi sambil memegang AK 47.
Keluarga Muhanad tahu benar artinya perang. Ahmad, anggota keluarganya, menghuni penjara Iran di Teheran selama 22 tahun sebagai tawanan Perang Irak-Iran. Bersama 971 tahanan lainnya, pria jangkung itu dibebaskan dalam program tukar menukar tahanan dua hari sebelum AS menyerang Irak, 20 Maret lalu.
“Tidak semua tahanan yang dibebaskan bisa bertemu keluarganya di Irak. Sebab rombongan kami ditembaki orang Iran,” tuturnya. Sebagian rekan Ahmad mati karena saling membunuh diantara mereka.
Di tahanan Teheran, Ahmad mengaku sering dicambuk. Paha kirinya terdapat bekas luka cambukan.
Keluarga Ahmad pendukung Saddam, sampai sekarang. Di dinding rumah keluarga itu masih terpampang jam dinding yang dihiasi gambar Saddam Hussein. Ada juga arloji bergambar Saddam, seperti biasa, dengan kumis tebal, rambut yang dicukur rapi, dan tersenyum.
Khalil, 20, saudara bungsu Muhannad, tidak menyembunyikan kekagumannya pada Saddam. Pemimpin Irak yang kini bersembunyi itu dianggap berani melawan AS sekaligis membenci Israel. “Ia punya rasa kemanusiaan yang tinggi dan menyayangi orang kecil,” tambah anak muda yang memakai kafayeh merah bermotif kotak-kotak putih.
“Perang ini untuk Israel,” ujar Muhammad Khalil, kakaknya. Ayah tiga anak itu melihat, jatuhnya Irak ke tangan AS akan membuat Israel semakin leluasa melaksanakan politik zionisnya di Timur Tengah.
Muhammad Halim, masih anggota keluarga Ahmad, mengaku mendukung Saddam karena pemimpin Irak sejak 1979 yang beraliran sosialis itu memperhatikan rakyat kecil. Saddam, misalnya, memberikan pendidikan gratis, suatu kebijakan yang tentu saja amat laku kalau dijual di Indonesia, negeri yang lebih 30 juta rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan.
Halim pensiunan tentara. Ia meninggalkan dinas militer setelah usainya perang Irak-Iran pada tahun 1988. Istrinya seorang pegawai pemerintah.
“Ada memang yang senang Amerika,” tutur Muhanad. “Rakyat Irak sudah lama menderita. Orang-orang yang berpikir pendek akan mendukung Amerika,” ia mengeluh.
Wednesday, July 2, 2008
Era baru mimpi Irak
Era baru mimpi Irak
RAKYAT Irak mulai menemukan udara kebebasan. Atmosfir seperti itu sudah lama hilang di sapu rejim Saddam Hussein dari langit Irak. Bahkan di tengah suasana perang, mereka bisa leluasa menggelar demonstrasi. Pada masa 24 tahun rejim Saddam, demonstrasi diijinkan tapi hanya untuk menerikkan puja-puji pada pemerintah atau mengadakan unjukrasa anti AS.
Hampir setiap hari, belasan rakyat Irak menggelar demonstrasi di depan Palestine Hotel di jantung kota Baghdad, di tengah penjagaan ketat tentara AS yang menenteng M 16.
“Never let the Saddam’s fellows to join in anything,” begitu antara lain bunyi poster mereka yang ditulis dengan spidol merah di atas keras putih dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab. Yang lainnya berbunyi, “The Iraqi people choose their ruler by them selves.” Poster lainnya melukiskan keadaan sosial: “Give a full chance for Iraqi people to join their job”. Demonstran lain membawa poster “Iraqi oil for Iraqi people”.
Pada barisan lain, sekelompok demonstran membawa kertas-kertas buku tulis. “No USA,” tulis pemrotes, tanpa takut sedikitpun di tembak tentara AS.
Kelompok lainnya membawa poster Masoud Barzani. Poster pemimpin Kurdi itu di tempelkan di tembok-tembok di tepi jalan. Sore harinya, puluhan poster telah dicabut kelompok lainnya.
Rakyat Irak sedang belajar berdemokrasi. Di tengah kebencian pada Amerika, rakyat Irak menemukan momentum mengekpresikan kemauan mereka lewat cara-cara yang demokratis.
Demonstran dengan aspirasi yang berbeda, dengan bunyi spanduk yang berbeda, bisa akur membentuk kelompok-kelompok sendiri. Di depan tentara Amerika, para pengunjukrasa meneriakkan aspirasinya. Mereka berbeda, tapi tidak bentrok.
Di jalan-jalan, mulai muncul bendera-bendera kelompok politik. Mereka membuka kantor, memasang bendera, dan spanduk. Foto dan poster Saddam Hussein yang menghiasi setiap sudut jalan, setiap dinding kantor, bahkan setiap jam dinding milik penduduk, kini pelan-pelan mulai hilang.
Mulai muncul gambar tokoh-tokoh politik lain. Di Masjid Kazimiyah, tempat ibadah kaum shiah, dindingnya dihiasi gambar-gambar besar Sayid Husein Sadr, pemimpin shiah yang dihormati. Ia adalah calon pemimpin masa depan Irak.
Pada zaman Saddam, bahkan masjid itu diharuskan menulis “masjid ini atas bantuan Saddam Hussein”. Kini tulisan di dinding kiri persis sebelum pintu masuk itu dicoret dengan cat hijau. Saddam telah pergi.
***
SETIDAKNYA ada tiga kelompok yang membawa aspirasi yang berbeda. Aspirasi itu tampaknya menunjukkan berbagai harapan rakyat Irak pasca Saddam.
Kelompok pertama menerikan nyanyian “birruh, biddam, li ajlik ya Saddam.” Mereka ini masih menyimpan perasaan cinta pada Saddam Hussein, pemimpin digambarkan berani (melawan AS dan Israel) dan peduli pada rakyat kecil. Sebagian besar rakyat Irak hidup miskin, menggantung hidup dari ransum pemerintah, dan menikmati sekolah gratis bahkan sampai pendidikan doktoral.
Kelompok kedua, yang memekikkan “birruh, biddam, li ajlik ya Irak”, membenci Saddam, tapi juga membenci AS. Kelompok shiah termasuk dalam kelompok ini. Suara mereka terdengar dalam hinggar binggar demonstrasi. Misalnya mereka mengusung gagasan “sistem multi partai” dan “pemilu yang demokratis”. Masih dalam kelompok ini, cukup kuat juga suara-suara yang menginginkan tampilnya seorang ulama sebagai pemimpin Irak.
Mayoritas rakyat Irak menganut shiah, suatu aliran agama dan komunitas politik yang ditekan selama pemerintahan rejim sunni Partai Baath. Bila pemilu digelar secara demokratis, kelompok shiah yang anti AS kemungkinan akan meraih kemenangan.
Kelompok ketiga apatis secara politik. Mereka pragmatis. Di depan tentara AS, mereka mengusung spanduk “we want peace”, bahkan ada yang berteriak “kami ingin roti”. Kelompok ini tidak terlalu peduli siapa kelak yang akan memimpin Irak.
Muhtar Muhsin, seorang pria yang mengenakan baju koko warna cokelat, ketika mengetahui berbicara dengan wartawan di kawasan pasar Karrada yang ramai, berkata, “Saya ingin presiden yang baik…” Ia tidak melanjutkan pernyataannya, segera berlari kecil berbau dengan warga Irak lainnya di warung kopi yang menyajikan teh dalam sloki-sloki kecil sambil mengisap Sumer, “bentoel biru” (karena bungkusnya berwarna biru) made in Irak.
Zarkom bin Said, ayah dua anak dan seorang shiah, merumuskan dengan baik bagaimana kemauan komunitas shiah. “Saddam adalah Ali Baba (penjarah) dan Amerika adalah Ali Baba kabir (besar),” ujar sopir taksi ini yang menikmati bayaran 40 dolar AS sehari dari para wartawan asing yang memakai taksinya, sebuah mobil Volkswagen tua buatan tahun 1970-an, yang kalau berjalan selalu oleng bak diterpa gelombang besar.
Zarkom, pria tinggi dengan tubuh atletis yang tak pernah mengganti kaos putihnya selama empat lima melayani PERSDA dan wartawan Indonesia lainnya, hidup sederhana dengan orang istri yang sedang hamil. Istri kedua mengandung bayi kembar.
Zarkom sudah mempersiapkan tiga nama untuk calon anak-anaknya. Semuanya diambil dari nama-nama panggilan Sayidina Ali, tokoh pemberani yang dilukiskannya amat ditakuti Amerika. Anak pertama akan diberi nama Ali Sajad, seterusnya Ali Karar, dan Ali Akbar.
“Saddam tidak memberikan kebebasan. Amerika juga tidak akan memberikan kebebasan. Mereka hanya ingin petrol, petrol,” ujar Zarkom, mantap, dan berjanji akan mengajari anaknya cara menembak, cara menembak tentara Amerika.
Saad, 45, mewakili pandangan kelompok ketiga. Pria yang tampak necis ini ditemui di depan Baghdad Backery, satu-satunya perusahaan roti yang tetap berproduksi kendati pada masa perang di kawasan Zayuna City.
Saat ratusan orang antri membentuk dua barisan (satu barisan laki-laki, satu barisan perempuan) untuk mendapatkan dua bungkus roti berisi 40 potong roti, Saad mengatakan, rakyat Irak sudah letih hidup dalam masa perang sejak tahun 1980. “Sederhana saja. Rakyat Irak sekarang ini ingin hidup tenang dan damai,” tutur insinyur yang bekerja pada PCP, sebuah perusahaan India di Baghdad. Ia pernah ke India dua bulan dan menemukan “orang-orang yang ramah dalam damai”.
Dari penampilannya, pakaian koko cokelat tua yang tampak bagus dan sedan Toyota buatan tahun 1983 miliknya, Saad kelihatannya berasal dari kalangan menengah atas. Dan, ia pun berkata: “Rakyat tidak senang tanah airnya diduduki Amerika. Tapi kami menginginkan era baru.”
Tuesday, July 1, 2008
Perang Irak: Siang di flat, malam di bunker
22 Maret 2003
Siang di flat, malam di bunker
ASSAD Khalid, bersama istri, seorang putri dan seorang putranya keluar dari bunker ketika fajar menjelang. Pada malam hari, keluarga sederhana itu kembali ke tempat persembunyian di sebuah bunker yang terletak di bawah flat.
Sejak Amerika menyerang Baghdad, Assad tak pernah keluar rumah. Mereka tinggal di lantai tiga apartemen sederhana, yang disubsidi pemerintah.
Kendati pria berusia 67 tahun itu hanya seorang tukang cat bangunan, ia beruntung tinggal di sebuah flat di kawasan pusat pemerintahan Irak, sekitar 400 meter dari Istana Saddam Hussein.
Jumat (21/2) malam sekitar pukul 09.00 rasanya seperti neraka. Lima enam kali ledakan bom besar terdengar. “Terasa sangat dekat,” katanya ketika ia dihubungi Abu Assad alias Khosin, anaknya yang berusia 30 tahun yang bekerja sebagai pramusaji Al Habaib, restoran Irak di kawasan Balad City, Amman.
Seperti kehidupan rakyat Irak lainnya yang menikmati subsidi pemerintah, Assad memiliki satu line telepon di apartemennya. Melalui telepon itulah, ia berbicara dengan Khosin dalam percakapan penuh suasana haru selama 20 menit, percakapan pertama sejak Amerika menebarkan bom maut di kota Baghdad.
“Terima kasih, Anda telah meminjami handphone,” tuturnya, seusai berbicara dengan ayahnya, dengan wajah yang terlihat murung.
Dari ayahnya Khosin mendapat informasi, keluarganya berlindung di sebuah bunker yang terletak persis di bawah flat berlantai tiga. Di tempat perlindungan itu, ada 400 orang lainnya, sebagian besar wanita dan anak-anak.
Assad mengaku mendengar suara histeris yang menyayat hati, berkali-kali, setiap terjadi ledakan besar. Kemudian ia tahu, ledakan besar itu berasal dari Istana Saddam Hussein, yang dibombardir pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat (AS). Menurut Assad, sekitar 300 orang warga sipil yang tinggal di flat dekat Istana Saddam menderita luka-luka dan terbakar, delapan meninggal.
Di dalam bunker, Assad seperti tinggal di neraka. Hanya lampu penerangan seperlunya, tanpa telepon, tanpa televisi. Orang-orang itu tidur di lantai beralas kasur dengan selimut-selimut tebal. Komunikasi dengan dunia luar benar-benar terputus. Setiap kali terdengar ledakan, mereka hanya berdoa dan berdoa. Maut setiap saat mengintai ketika serangan dahsyat itu diluncurkan.
Assad tentu saja tidak mengerti apa yang dikatakan Presiden Bush bahwa serangan militer ke Irak dimaksudkan untuk “memerdekakan rakyat Irak.” Bagi Assad, serangan itu tidak lain dari malaikat buta pencabut nyawa, yang siap menghentikan kehidupan siapa saja, tak peduli tentara, tak penduli Saddam Hussein, tak peduli wanita dan anak-anak.
***
HERANNYA, Saad dan sebagian besar rakyat Irak memilih mati di tanah airnya. Gelombang pengungsi dari Irak yang diperkirakan mencapai lebih dua juta orang, baik ke Iran, Suriah, maupun Jordania, justru belum terjadi sejauh ini. Kamp-kamp pengungsi UNHCR masih kosong belaka.
Sebaliknya, rakyat Irak di luar negeri berbondong-bondong kembali ke kampung halamannya. Di Karama Border, perbatasan Jordania-Irak, tercatat lebih 500 warga Irak yang melintasi perbatasan selama perang berlangsung.
“Keluarga saya sudah hidup di Irak puluhan tahun. Kamu orang Indonesia, apakah kamu akan meninggalkan negaramu, meninggalkan saudara-saudaramu, pada saat perang,” tanya Khosin, anak muda yang terpaksa meninggalkan hobi main bolanya karena harus bekerja di restoran “from ten to ten” (dari jam 10 pagi hingga jam 10 malam).
Seorang pengusaha yang mengungsi ke Amman, ditanya soal ini, menjawab, “Memang sulit. Saya meninggalkan anak dan istri saya di Baghdad. Tapi mungkin akan segera kembali ke sana.” Ia ditemui Jumat malam setelah menyaksikan siaran super eksklusif Al Jazeerah yang menayangkan bom-bom maut menyinari kota Baghdad di malam yang gelap.
Menolak disebutkan namanya, pria gemuk itu mengatakan, rakyat Irak sudah cukup menderita. Pada perang delapan tahun melawan Iran, katanya, “Hampir setiap keluarga memiliki anggota keluarga yang cacat. Apakah ayah atau anak-anak. Ini membuat semua orang Irak trauma.”
“Kami ingin seperti rakyat di negara lain, yang menikmati kehidupan normal, pergi ke pasar, berlibur, dan menikmati pendidikan yang baik. Rakyat Irak merindukan kehidupan yang normal,” tuturnya.
Ali, seorang resepsionis Shatha Petra Suites di kawasan Um Uthainah, menyaksikan perang dengan perasan bangga dan khawatir. Ia bangga, karena ayahnya termasuk pejuang sipil yang masuk ke Irak untuk berjihad. Tapi Ali, pemuda ganteng berusia 25 tahun, mengkhawatirkan keselamatan ayahnya.
Fuad, seorang satpam di suites yang terletak tak jauh dari KBRI, juga ingin berjihad, namun kesulitan karena sebagai pemegang paspor Jordania, kerajaan menutup pintu jihad.
Dan, ia berkata, “Saya ingin Saddam menyerang Israel.” Fuad yang tinggi kurus dan menggemari pemain bola Zinedine Zidane mewakili perasaan dendam dua bangsa yang bermusuhan dengan Amerika: ayahnya seorang Palestina dan ibunya seorang Irak.
Munir tampak sedih ketika ditemui di Mahata, terminal bus jurusan Amman-Baghdad. Tidak seperti orang tua yang akan segera berkumpul dengan keluarganya (seorang istri dan dua orang anak), rona ceria hilang dari wajah pria asal Basra itu.
“Saya ingin berkumpul bersama keluarga saya. Saya ingin mati bersama mereka,” ujarnya, yang baru tiga bulan mencari kerja di Amman. Sebagai Muslim shiah, ia tidak mau berjihad mendukung rejim Saddam. Satu-satunya impian pria 53 tahun ini hanyalah ingin mati bersama sanak saudaranya di Basra.
“Kehidupan kami sangat sulit. Tapi insya Allah, Allah akan menolong kami,” tuturnya, yang menyebutkan kecelakan helikopter pasukan sekutu sebagai “campur tangan Allah” dalam perang Irak.
Rakyat Irak seperti Munir atau Saad sepertinya memang tinggal mengharapkan pertolongan Tuhan, sembari pada malam hari bersembunyi di bunker. (Dahlan, Laporan dari Bagdad, Irak)
* Laporan ini dimuat di harian Surya, Surabaya, dan sejumlah koran daerah Kompas Gramedia yang dikelola Persda. Saya berangkat ke Timur Tengah menjelang Perang Irak atas biaya Persda. Sejak 2004, sepulang dari Irak, saya ditugaskan Persda di surat Tribun Timur, Makassar, www.tribun-timur.com
Perang Irak: Saddam pergi, Ali Baba datang
Saddam pergi, Ali Baba datang
SADDAM Hussein tersenyum. Presiden Irak itu menutup kepalanya dengan kafayeh putih dihiasi renda kuning emas. Foto diri pemimpin Irak yang kini bersembunyi itu akan segera kelihatan begitu memasuki wilayah Irak dari arah Jordania. Sayang, sejak Jumat (12/4) pagi, pintu masuk ke teritori Irak itu tidak lagi dijaga pasukan Pengawal Republik. Pos penting itu sudah dikuasai tentara berpakaian loreng cokelat muda, tentara AS.
Masuk ke bagian dalam tampak sebuah kompleks perkantoran. Foto-foto Saddam Hussein yang tersenyum atau yang mengangkat tangan kanannya belum dirusaki. Layaknya kantor perbatasan, ada kantor imigrasi dan ruang tamu VIP khusus untuk para pejabat. Di wilayah ini, hanya terpaut sekitar 50 meter dari pintu masuk yang dijaga tentara AS, muncul penguasa baru: Ali Baba.
Ali Baba tidak punya tank, apalagi pesawat pengebom B2. Mereka hanya membawa truk atau mobil kap terbuka. Agar tak diserang tentara AS, kendaraan mereka dihiasi bendera putih. Misi Ali Baba sama dari hari ke hari: menjarah semua barang berharga di kantor-kantor pemerintah di seluruh Irak, tak terkecuali di pos perbatasan itu.
Tentara AS, penguasa de facto di Irak saat ini, membiarkan saja para penggarong itu beraksi. Di beberapa tempat, bahkan, tentara AS terkesan membuka jalan bagi Ali Baba, kaum penjarah. Dengan tank, tentara AS mendobrak pintu pagar kantor-kantor pemerintah, termasuk Istana Utama Saddam Hussein dan rumah kediamannya. Selanjutnya, Ali Baba dengan leluasa menjarah barang apa saja: kursi, meja, AC, heater (pemanas), bahkan wastafel.
Fenomena penjarahan besar-besaran ala Peristiwa Mei 1998 di Jakarta kini menjadi pemandangan sehari-hari di Baghdad. Kaum penggarong itu disebut warga setempat sebagai Ali Baba, tokoh sejarah yang berwatak buruk.
Antara Ali Baba dan AS saling memanfaatkan. Ali Baba, yang umumnya dari kaum miskin, melakukan penjarahan lebih banyak karena motif ekonomi. Beberapa motif politik memang kelihatan juga, manakala Ali Baba menjarah kantor-kantor kedutaan Barat pro AS. Namun motif ekonominya lebih kelihatan, terutama di wilayah luar Baghdad.
Bagi AS, penjarahan itu dimanfaatkan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Irak memang membenci Saddam. Rakyat menjarah kantor pemerintah sebagai simbol protes politik. Fenomena lain yang ingin ditunjukkan adalah bahwa Saddam menyengsarakan rakyatnya. Bahwa Saddam menjerumuskan rakyatnya ke jurang kemiskinan.
Tapi, menariknya, kaum Ali Baba itu hanya menjarah. Di kompleks perkantoran di perbatasan, misalnya, simbol-simbol Saddam sama sekali tidak disentuh. Foto-foto berukuran besar tidak dirusak. Demikian pula patung Saddam.
Di kota Baghdad, gambar Saddam masih nampak di mana-mana. Beberapa memang dirusak, dibakar, atau dilempari batu. Atau ditendang kepalanya. Namun, Saddam masih masih tampak dimana-mana. Pemimpin Irak sejak 1979 itu konon memiliki enam juta foto dan patung di seantero Baghdad. Hanya sebagian kecil saja yang dirusak massa.
***
FOTO atau patung tidak punya otoritas. Kekuasaan Saddam praktis tidak terasa lagi di seantero Irak. Sepanjang jalan hampir 1.000 km dari perbatasan Irak-Jordania ke Baghdad, tidak terlihat lagi pegawai, polisi, atau tentara Irak. Kantor-kantor pemerintah kosong melompong. Pegawainya tidak ada, barang inventarisnya pun melayang.
Beberapa ruas jalan dipasangi barikade dari timbunan pasir gurun. Di situlah Ali Baba berpos. Mobil harus berjalan berkelok, pelan. Mereka, yang bersenjata, tiba-tiba muncul dari balik bukit. Dengan senjata api di tangan kanan. Mereka tak segan-segan merampok wartawan asing.
Di Baghdad, hampir semua kantor pemerintah yang penting telah diluluhlantahkan oleh bom. Istana Utama Saddam dan rumah dinasnya bahkan sudah menjadi markas tentara AS. Kantor polisi dan pengadilan tutup. Tidak ada hukum, kecuali hukum rimba.
Di jalan-jalan, tidak ada polisi lalulintas. Jalanan sepi dari tentara Irak. Tak nampak warga yang memakai pakaian pegawai negeri. Rakyat bebas berteriak memaki Saddam, menonjok posternya yang selama 24 tahun diagung-agungkan, atau melambaikan tangan ke arah tentara Amerika.
Baghdad seperti kota tak bertuan. Tentara AS hanya mengendalikan perlawanan rakyat dan tentara. Sementara urusan warga sipil diabaikan. Listrik dan telepon dibiarkan mati. Ibu-ibu rumah tangga kini kesulitan mencari gas untuk memasak. Bahan makanan sulit diperoleh. Sebagian besar warung dan toko tutup, takut dijarah Ali Baba.
Pada titik-titik di luar jangkauan tentara AS, kaum Ali Baba berkuasa penuh, bebas melakukan apa saja. Di wilayah tanpa hukum dan tentara itu, berkuasa pula para milisi.
Warga yang tinggal di kawasan pemukiman memasang perintang di mulut-mulut gang. Mereka tidak mau dirampok Ali Baba.
Ali Baba bergerak leluasa, tanpa ada yang mau menghentikan. Tentara AS membiarkannya, sementara milisi tidak mau bertempur melawan saudara mereka sendiri.
Walhasil, Ali Baba, yang terkadang membawa senjata api saat melakukan aksi penjarahan, leluasa melakukan kejahatan.
Rumah sakit tak luput dari sasaran aksi Ali Baba. Rumah Sakit Yarmuk, misalnya, lumpuh total, setelah kasur dan tempat tidur pasien dijarah. Sekitar 1.000 pasien rumah sakit terbesar kedua di Baghdad itu terpaksa dialihkan ke Al Khaer Emergency Hospital dan RS Baghdad. Nasib serupa menimpa RS Al Kindi.
“Irak sekarang menjadi negara tanpa hukum,” kata dr Imad Ali Salaum, doker di RS Yarmuk yang menempuh perjalanan 70 km setiap hari dari rumahnya di Iskandaria City menuju Baghdad.
RS Yarmuk, yang beberapa kali dihantam rudal Tomahawk AS, setelah penjarahan itu kini dijaga Muhammad, seorang anak muda 18 tahun. Dia membawa senjata AK 47, tanpa perlu merasa takut ditangkap tentara AS atau rejim Saddam.
“Bagaimana kami bisa mengamankan rumah sakit ini,” sahut dr Raad Kayat. “Kami kan harus mengamankan keluarga kami dari kejahatan Ali Baba,” pria gemuk dengan badan yang agak pendek itu menambahkan, sembari menunjukkan bekas-bekas pengeboman di bagian belakang kantornya.
Di kantor kedutaan Indonesia, tak jauh dari pasar Karada, pos polisi di depan kantor itu tak berpenghuni. Walid, staf lokal KBRI asal Irak, terpaksa berperan sekaligus sebagai penjaga kantor. Ia melengkapi dirinya dengan dua senjata AK 47.
Pernah sekali, kantor bercat putih itu hendak dijamah Ali Baba. Walid, pria yang ramah dan cukup lancar berbicara dalam bahasa Indonesia, mengeluarkan senjata dan penjarah itu pun kabur.
Saddam memang telah pergi. Rakyat Irak saat ini menghadapi penguasa baru. Selain tentara AS yang berpos di jalan-jalan strategis, lengkap dengan tank dan senjata mesin, berkuasa pula Ali Baba yang bermodalkan truk atau mobil terbuka dan bendera putih. (Dahlan, Laporan dari Bagdad, Irak)
* Laporan ini dimuat di harian Surya, Surabaya, dan sejumlah koran daerah Kompas Gramedia yang dikelola Persda. Saya berangkat ke Timur Tengah menjelang Perang Irak atas biaya Persda. Sejak 2004, sepulang dari Irak, saya ditugaskan Persda di surat Tribun Timur, Makassar, www.tribun-timur.com
Perang Irak: Polisi pencundang dan Jose yang merindukan pacar
Polisi pencundang dan Jose yang merindukan pacar
ABU Farrah. Begitu pria gendut dengan tiga bintang di pundak itu memperkenalkan diri. Dia ditemui di halaman Palestine Hotel, Baghdad, dalam pakaian hijau polos, tanpa topi. Ia dikawal seorang ajudan, pemuda tinggi besar berpakaian sipil. Rambutnya yang lurus dicukur cepak dengan jenggot dan kumis yang dicukur rapi.
“Dia seorang perwira polisi. Pangkatnya kolonel,” ujar ajudan itu dalam bahasa Inggris yang lumayan fasih, seperti berbisik. Si kolonel yang hanya bisa cakap Arab tersenyum, memamerkan barisan gigi yang rapi. Seperti umumnya orang Irak, pria itu memelihara kumis yang senantiasa dicukur rapi. Satu dua lembar kumisnya sudah memutih, pertanda tua. Tapi ia belum cukup tua untuk bertekuk lutut kepada tentara AS.
Abu Farrah adalah satu dari belasan perwira polisi Irak yang menghianati rejim Saddam Hussein. Dalam pakaian dinas, mereka berjalan berkelompok memasuki Palestine Hotel setelah melewati pemeriksaan yang ketat. Melewati kerumunan rakyat Irak, mereka menundukkan muka. Kepada tentara sekutu, mereka menyatakan siap bekerjasama memulihkan keamanan kota Baghdad. Perwira tertinggi yang menyerah adalah Letnan Jenderal Ali Zaki.
Proses penyerahan diri para perwira tersebut berjalan mulus berkat lobi orang-orang Irak yang bekerja untuk tentara AS. Dalam operasi, pecundang rejim Saddam itu memakai seragam militer AS warna cokelat gurun pasir, tak beda dengan tentara AS lainnya. Istimewanya, mereka mahir berbahasa Arab dan bahasa Inggris sekaligus.
Tentu saja, kebencian pada Saddam menggerakan mereka untuk berjabat tangan dengan musuh. “Saya tidak mengerti, kenapa orang Islam di Indonesia mendukung Saddam. Dia itu kejam, membunuh saudara Muslim-nya di Kurdi dan Basra (basis shiah),” ujar pria Irak berseragam tentara AS dalam suatu kesempatan makam malam di Palestina Hotel. Menunya roti dan daging kambing plus air putih. Menu hotel bintang lima itu amat sederhana karena kesulitan pasokan bahan makanan pada masa perang.
Jatuhnya rejim Saddam membuat para perwira polisi itu, yang semula ditakuti rakyat Irak, kehilangan seluruh kehormatan. Abu Farrah tampak terlihat kesepian di tengah kerumunan orang-orang Irak yang bekerja sebagai penerjemah atau guide untuk wartawan asing. Tidak terlihat sikap respek dari orang-orang Irak itu terhadap Abu Farrah dan kawan-kawan.
“Apakah Anda punya telepon satelit,” tanya ajudannya, seperti mengemis. Perwira itu ingin menelepon, tapi sejak jaringan komunikasi dihancurkan AS, tidak ada lagi saluran telepon di Baghdad. Komunikasi hanya mungkin dengan telepon satelit.
Perwira polisi itu terlihat mondar mandir di beberapa studio stasium televisi asing yang dibangun secara darurat di halaman Palestine Hotel. Di studio stasium televisi Al Jazeera, televisi Arab yang terkenal itu, ia berhenti cukup lama. Ia menonton televisi, barang mewah bagi rakyat Irak yang tak pernah bisa menyaksikan siaran televisi selain TVRI-nya Irak.
Polisi yang telah menyerah mulai bekerjasama dengan tentara AS memulihkan keamanan hari Selasa (15/4). Inilah untuk pertama kalinya, ketertiban coba ditegakkan di Baghdad setelah kota bersejarah ini diduduki tentara AS 9 April lalu.
Pekerjaan itu tentu saja tidak enteng. Tidak seluruh polisi menyatakan bertekuk lutut pada AS. Kalau melihat mereka yang datang menyerahkan diri ke Palestine Hotel, markas sementara pasukan sekutu, jumlahnya kurang dari 50 orang.
Belum ada seorang pun perwira tentara yang menyerah. “Tidak ada. Tentara belum ada yang menyerah,” ujar ajudan Abu Farrah.
Beberapa polisi yang ditemui mengatur lalulintas di jalan-jalan kota Baghdad yang tanpa lampu penerangan jalan secara terbuka mengungkapkan kebenciannya pada AS. “Kami bekerja untuk rakyat Irak, bukan untuk Amerika,” begitu selalu kata mereka, dalam pakaian warna putih.
Kota Baghdad dikuasai tentara AS. Tapi tidak seluruhnya. Beberapa titik dikuasai milisi bersenjata. Memang tidak terlihat lagi tentara Irak, apakah itu Pengawal Republik ataupun pasukan khusus Pengawal Republik. Namun diduga, tentara andalan Saddam itu mencopoti pakaian dinas mereka, mengangkat senjata dalam pakaian sipil.
***
TIDAK tampak nada girang di wajahnya. Anak muda berusia 20 tahun itu duduk sendirian, memperhatikan orang-orang yang lalulalang di halaman Palestine Hotel, sambil menyantap biskuit.
Orangnya ramah, dengan jiwa anak muda yang masih polos. Ia adalah anggota marinir AS. Ketika ditanya tentang pacarnya, Jose, begitu ia memperkenalkan diri, segera meraih dompetnya.
Terlihat dua lembaran 100 dolar AS dan beberapa lembar foto di dalam dompet kulitnya. Ia menunjukkan sebuah foto anak muda, rambut plontos, memeluk pundak gadis montok, hidung mancung, dan rambut lurus hitam yang bagian depannya di cat kuning. Shane masih kuliah di sebuah college di Amerika.
“Ini pacar saya. Namanya Shane,” ujar Jose, tersenyum. Jose kangen pada pacarnya, seorang gadis berdarah Meksiko. Orang tua Jose juga berasal dari Meksiko.
“Sudah tiga bulan saya tidak pernah menelepon dia,” katanya. Mukanya yang memerah terlihat sedih. Jose termasuk gelombang pertama pasukan AS yang dikirim Presiden Bush ke Kuwait. Mereka menunggu dua bulan di gurun pasir Kuwait yang panas sebelum merangsek masuk dari perbatasan Kuwait ke Irak, 20 Maret lalu.
Dari Kuwait, iring-iringan tank Jose langsung menuju Basra, kota terbesar kedua. Mereka mengelilingi kota shiah itu tiga hari. Setelah itu, sebagian pasukan merangsek masuk, sebagian lainnya menuju Baghdad.
“Perjalanan dari Kuwait ke pinggiran Baghdad makan waktu 20 hari,” katanya. “Tiga hari kami mengepung Baghdad sebelum masuk dan menguasai kota ini.” Nada suaranya terdengar datar, tanpa rasa bangga.
Tank melaju dengan kecepatan 30 kilometer perjam. Beberapa kali berhenti untuk istrihat dan menghadapi perlawanan milisi dan tentara Irak. Beberapa rekan Jose mati dalam pertempuran. Mati untuk suatu misi memenuhi keinginan Presiden Bush.
Umumnya anggota marinir AS muda-muda seperti Jose. Malah terkadang terlihat seperti anak kecil, dengan raut muka innocent. Ada yang keturunan Afrika, Filipina, bahkan Malaysia.
Ridwan Abdul Azis, 21, adalah contoh tentara AS keturunan Asia. Bapaknya seorang Malaysia, ibu Amerika. Anak muda tinggi langsing itu lancar bercakap Melayu.
“Ini bukan perang agama,” katanya, yang mengaku beragama Islam, ketika ditemui di cafĂ© Palestine Hotel.
Ridwan bercerita, dalam medan perang Irak, tentara AS sulit membedakan musuh. Sebab, serangan datang dari mereka yang berpakaian sipil. Gadis-gadis berpakaian sipil terkadang bisa pula menyebarkan maut.
“Teman saya ditarik cewek lalu ditembak,” kenang Ridwan. Tangan kanannya menggenggam senapan mesin, sementara tangan kirinya mengangkat cangkir teh. (Dahlan, Laporan dari Bagdad, Irak)
* Laporan ini dimuat di harian Surya, Surabaya, dan sejumlah koran daerah Kompas Gramedia yang dikelola Persda. Saya berangkat ke Timur Tengah menjelang Perang Irak atas biaya Persda. Sejak 2004, sepulang dari Irak, saya ditugaskan Persda di surat Tribun Timur, Makassar, www.tribun-timur.com
Perang Irak: “Please, bantu saya”
“Please, bantu saya”
SETIAP hari, ratusan orang Irak, tua muda, laki perempuan, mendatangi Palestine Hotel, markas sementara tentara AS. Mereka hanya bisa mendekat sampai tepi jalan yang dibatasi gulungan kawat berduri. Pasukan AS bersenjata berjaga dengan tatapan mata yang nyaris tak pernah berkedip, sementara di belakang mereka siaga tank-tank tempur dalam kondisi siaga.
Orang-orang Irak itu mengadukan berbagai hal. Seorang wanita setengah baya yang memakai kerudung hitam, sambil menangis, meminta tentara AS menemukan suaminya yang hilang beberapa tahun lalu.
“Please, bantu saya,” pintanya. “Suami saya seorang insinyur, bekerja untuk proyek khusus pemerintah. Setelah proyek itu selesai, ia hilang. Tolong temukan suami saya.”
Ibu setengah baya itu seperti hendak menangis saat mengemis bantuan pada tentara AS. Matanya terlihat memerah dan kulitnya yang putih mulus memerah. Tentara AS yang menerima pengaduannya tak bisa berbuat banyak. Anak muda itu terlihat dapat memahami penderitaan ibu itu, tapi ia tak mampu berbuat banyak. Ia mengambil pulpen yang diselipkan di saku depannya, dan dengan sobekan kertas yang kotor, ia mencatat alamat. Ia berharap dapat menghubungi kembali wanita malang itu, kelak kalau ia bisa memberikan bantuan.
Husam Al Musawi, seorang insinyur dan manajer pabrik, mengaku tahu tempat persembunyian 55 wanted list yang berkaitan dengan proyek senjata pemusnah massal. Ia menyampaikan laporannya itu melalui tulisan tangan pada selembar kertas.
Seorang pria lainnya membawa informasi lebih seru. Katanya, tiga menteri kepercayaan Saddam bersembunyi di sebuah desa di Nasiriyah. “Tolong tangkap mereka. Mereka membunuh ribuan orang Irak,” teriak pria itu, sudah cukup tua dengan rambut yang beruban. Tangan kanannya menggenggam sebuah buku dan topi baret hitam. Tampaknya ia seorang pegawai negeri.
Dengan suara yang berisik, kerumunan di depan tentara AS tidak hanya menyampaikan dukungan atau laporan yang memojokkan rejim Saddam. Seorang pria yang mengaku dari Iraqi Satelite Channel, sambil memperlihatkan identitas dirinya, berseru dengan nada lantang: “Kami cinta AS dan Inggris, tapi mereka tak peduli rakyat Irak. Mana listrik, air, dan telepon.” Suaranya tenggelam begitu saja seperti sebiji kerikil yang dilemparkan ke tengah samudera.
Tentara AS memang hanya menduduki kota Baghdad, setelah melakukan pengeboman secara gencar selama lebih 20 hari. Sementara pengamanan kota diabaikan. Jaringan listrik, telepon, dan air bersih dibiarkan terbengkalai.
Khaidar, pria dengan kaca mata bening, memakai jas hitam, dengan rambut yang tersisir rapi, nampak lain penampilannya dari rakyat Irak lainnya. Ia tampak lebih necis.
Dalam bahasa Inggris yang lumayan bagus, ia meminta tentara AS melakukan sesuatu. “Tolong buka pintu penjara. Tiga hari ini tidak ada air, tidak ada makanan. Kalau tidak ditolong, mereka akan mati satu demi satu,” teriaknya.
***
SEPERTI pemandangan di Somalia, negeri miskin yang selalu dilanda perang. Tua muda antri membentuk barisan panjang. Wanita, gadis-gadis berhidung mancung, dan anak-anak wanita berpakaian kumal, membentuk barisan sendiri. Mereka berdiri di depan pintu besi Baghdad Backery, sebuah pabrik roti, menunggu giliran mendapatkan dua bungkus roti.
Hari itu matahari terik. Angin bertiup kencang, menebarkan debu gurun warna cokelat. Namun, orang-orang itu tidak peduli. Stok makanan sudah habis. Baghdad Backery adalah satu-satunya pabrik roti yang beroperasi kendati pada masa perang.
“Kami ingin menolong rakyat Irak. Semua orang yang bekerja di sini orang Irak,” tutur Kamal Ahmadi, pria kurus berusia 46 tahun dengan nada bangga. Tubuhnya yang mungil dibungkus rompi warna cokelat tua yang kusut.
Baghdad Backery memiliki tiga mesin Werner & Pfleiderer buatan Jerman. Hanya satu mesin saja yang beroperasi. Lainnya rusak.
Sebelum perang, Jerman adalah salah satu importir penting mitra Irak, selain Perancis, China, dan Rusia. Keempat negara itu sama menentang agresi AS, tapi tak melakukan apapun saat perang berkecamuk dan ribuan rakyat sipil Irak terbunuh.
Pabrik itu mempekerjakan 50 karyawan. Sehari mampu memproduksi 42.000 buah roti. Sebagian teknisinya alumni Baghdad Institue of Technology, sekolah tinggi yang menghasilkan puluhan ribu insinyur. Sehari mampu memproduksi 42.000 buah roti.
Kamal Ahmadi, satu-satunya pekerja yang fasih berbahasa Inggris, mengatakan, Irak membutuhkan pemimpin yang hidup dan menderita bersama rakyat Irak. Hal itu ditunjukkan untuk menunjukkan penolakan terhadap para tokoh Iraqi National Conggres, kelompok oposisi boneka dukungan AS yang nanti dipersiapkan untuk menduduki pos-pos penting pada pemerintahan transisi. Pemimpin kelompok ini yang terkenal adalah Ahmad Chalabi.
“Dia tinggal di apartemen mewah di London selama 20 tahun. Tahu apa dia tentang penderitaan rakyat Irak,” tuturnya, sembari menunjuk Abbas Obeid Azis, General Manajer Baghdad Backery yang turun ke bawah mengawasi anak buahnya membungkus roti.
“Dia pemimpin di sini,” katanya, di samping tumpukkan roti yang masih hangat. “Semua orang suka dia karena dia ada di sini.” (Dahlan, Laporan dari Bagdad, Irak)
* Laporan ini dimuat di harian Surya, Surabaya, dan sejumlah koran daerah Kompas Gramedia yang dikelola Persda. Saya berangkat ke Timur Tengah menjelang Perang Irak atas biaya Persda. Sejak 2004, sepulang dari Irak, saya ditugaskan Persda di surat Tribun Timur, Makassar
Perang Irak: Mimpi Zakaria, tangisan Tamara
Mimpi Zakaria, tangisan Tamara
SUDAH lebih sebulan, Zakaria Abd Amir tidak masuk sekolah seperti anak-anak lainnya di negeri yang aman. Lincah, energik, dan nyerocos terus tanpa henti, Zakaria mengungsi ke kantor KBRI di Baghdad sejak perang dimulai 20 Maret lalu.
Bersama adiknya, Tamarah yang baru berusia lima tahun, Zakaria dan kedua orang tuanya tinggal di KBRI setelah beberapa rumah di dekat kediamannya hancur diterjang bom. Ia masih termasuk anggota keluarga Walid, staf lokal KBRI yang ditugasi Dubes Dachlan Abdul Hamid untuk menjaga kantor berbendera merah putih tersebut.
"Saddam dulu bagus," tutur anak kecil itu. "Amerika sekarang sudah datang dan Saddam kabur," ia menambahkan. Tamarah yang berdiri disampingnya tersenyum.
"Amerika membunuh orang Irak. Mereka punya bom," tutur Zakaria yang gemar berbicara soal politik. "Amerika memiliki banyak sekali tayara (pesawat terbang). Di jalan-jalan, banyak sekali mayat."
Tinggal di KBRI relatif bagus. Malam hari ada penerangan generator, sementara rumah-rumah penduduk gelap gulita tanpa listrik. Air bersih tersedia dalam jumlah yang cukup.
Tapi Zakaria tetap tidak betah. Dia ingin segera pulang ke rumahnya, menjalani kehidupan normal. Dan, kalau bisa, segera ke Nams Al Ummah, sekolah dasar tempatnya menimba ilmu.
Siswa kelas empat itu barangkali akan segera pulang karena situasi kota sudah relatif aman. Namun impiannya untuk segera masuk sekolah agaknya harus ditunda dulu. "Sekolah saya kena bom," tuturnya dengan nada sedih.
Serangan Amerika memang membawa malapetaka besar bagi Baghdad. Bangunan-bangunan pemerintah hancur lebur. Sekolah-sekolah, termasuk Baghdad University, sebagian besar luput dari bom. Tapi setelah AS menduduki Baghdad, rakyat menjarah bangku dan kursi di bangunan-bangunan pemerintah, tak terkecuali di kampus-kampus.
Setelah perang, Baghdad membutuhkan ratusan ribu kursi dan meja untuk memenuhi puluhan kantor pemerintah, universitas, sekolah, bahkan taman kanak-kanak. Kertas-kertas berserakan di mana-mana. Praktis, bangunan-bangunan publik harus memulai lagi dari nol. Bagi perkantoran yang hancur, bangunan baru harus segera dibangun. Sementara, bagi bangunan yang luput dari bom, pemerintahan baru harus segera menyediakan kursi, bangku, kertas, dan seluruh kebutuhan kantor.
Pekerjaan seperti itu tidak kalah beratnya dengan membangun kepercayaan rakyat Irak kepada penguasa baru, si bule Amerika.
***
NURIAH meraung-raung. Ibu berambut ikal 45 tahun itu menangis, menjerit, menepuk-nepuk dadanya, seperti orang kesurupan. "Amerika, Amerika….," teriaknya, menangis, terkadang bahkan terdengar seperti menyanyi.
Wanita-wanita di sekelilingnya, yang berpakaian hitam-hitam, tak kuasa menahan tangis. Mereka menangis bersama-sama, mendengangkan nyanyian pilu menyayat hati di teras tempat permandian mayat persis di samping Masjid Abdul Kadir Jaelani, Baghdad.
Di dalam ruangan, mayat Mustafa Abdul Razak terbujur kaku. Pria 25 tahun itu mati ditembak tentara Amerika pada hari Selasa (15/4) pagi ketika ia sedang mengendarai taksinya. Mayatnya, bersama mayat seorang Irak lainnya, dibiarkan begitu saja tergeletak di tepi jalan selama beberapa jam.
Sekelompok orang merampok sebuah bank tidak jauh dari kantor KBRI Baghdad. Razak kebetulan melintas. Peluru itu menembus tubuhnya yang ringgih dan mencabut nyawanya.
Nuriah, ibunya yang kurus, tidak mengerti apa yang terjadi. Belasan tahun ia membesarkan putranya dengan penuh kesabaran sebagai seorang ibu, menikahkannya, kemudian hanya mati sia-sia di tangan tentara Amerika, bangsa yang dimusuhinya puluhan tahun.
"Kami ingin, Amerika segera pergi dari sini," tutur Kasim, 60, ayahnya. Mata orang tua ini terlihat sembab. Ia tidak sanggup lagi bahkan untuk menangis. "Amerika tidak tulus mencintai rakyat Irak. Mereka hanya menginginkan minyak."
Nuriah menangis, Tamara menangis. Tamara, wanita berusia 16 tahun, cantik dengan kulit yang putih mulus, hidung mancung, dan bibir yang tipis, adalah istri Mustafa. Pasangan ini menikah sembilan bulan lalu. Wanita malang berpakaian hitam-hitam itu sedang mengandung anak pertama. Usia kandungnya enam bulan.
Tiga bulan lagi, anak tak berdosa itu akan lahir. Ia akan lahir, tanpa ayah. Ia akan lain dalam pendidikan dendam. Ibunya akan bercerita, ayahnya dibunuh tentara Amerika. Suatu proses terciptanya dendam turun temurun.
Tahun 1920, tentara Inggris masuk dan menjajah Irak. Lima tahun bertahan sebagai penjajah sebelum Inggris pergi dan Irak menyatakan kemerdekannya. Orang-orang tua Irak belum lupa bagaimana kejamnya tentara Inggris. Kini, dengan bersembunyi di balik punggung tentara Amerika, Inggris datang lagi. Sebagai penjajah.
Inggris angkat kaki dari Irak dengan menyimpan bom waktu. Kuwait, yang tadinya wilayah Irak, dipisah. Pada tahun 1990, Saddam Hussein ingin meluruskan sejarah. Ia gagal, suatu kegagalan yang harus dipikul akibatnya oleh seluruh rakyat Irak. Sampai hari ini. Dan, Mustafa mati. Nuriah meraung-raung menangisi kepergiannya.
Kasim, ayahnya, kemudian berkata: "Inilah hidup. Amerika membunuh dimana-mana. Di Afganistan, dan kini di Irak…" (Dahlan, Laporan dari Bagdad, Irak)
* Laporan ini dimuat di harian Surya, Surabaya, dan sejumlah koran daerah Kompas Gramedia yang dikelola Persda. Saya berangkat ke Timur Tengah menjelang Perang Irak atas biaya Persda
-- Tribun Timur, Makassar
Ask the Tribun Timur Editor
dahlandahi.blogspot.com
Perang Irak: Main piano di tengah dentuman bom
Main piano di tengah dentuman bom
JAM tujuh malam hari Jumat (11/4). Palestine Hotel agak gelap. Lampu-lampu utama padam. Setelah Baghdad dibombardir sekian hari, aliran listrik mati total. Hotel yang berubah jadi markasnya para wartawan asing itu hanya menggunakan generator. Tiba-tiba, terdengar rentetan tembakan. Ada pertempuran sporadis. Beberapa menit kemudian, terdengar ledakan amat keras. Hotel guncang, seperti gempa bumi besar.
Tidak terdengar suara panik. Para wartawan rupanya sudah terbiasa mendengar dentuman bom. Maut seolah menjadi cerita sehari-hari. Kalau maut mengintai setiap saat, kematian tidak lagi terasa menakutkan.
Di ujung café Hotel Palestina yang tutup pada malam hari, seorang anak muda Irak memainkan piano. Dari bunyi pianonya, tampak ia tidak piawai. Bunyi-bunyi tuts tak beraturan meramaikan dentuman bom. Ia sama sekali tidak menunjukkan perasaan kaget mendengar desingan peluru dan dentuman bom. Ia sudah terbiasa.
Di luar hotel, di sebuah taman, beberapa wartawan tidur di tenda. Selain membawa peralatan kerja seperti laptop, telepon satelit, mereka membawa tenda. Keputusan mereka benar: seluruh kamar Palestine Hotel dan Sheraton Hotel, dua hotel bintang lima yang bertahun-tahun sebelum perang selalu kosong, kali ini penuh. Wartawan tidur di lobi, di café, di halaman.
Tentara AS tidur di halaman terbuka, di sebuah taman yang hijau. Menggelar tikar, membungkus tubuh dengan selimut tebal. Senjata otomatis diletakan di samping, bak bantal guling.
Beberapa anak-anak Irak terlihat dilobi bersama orang tua mereka. Mereka mengungsi ke hotel. Mereka beruntung. Kebanyakan rakyat Irak yang ditemui di jalan-jalan berteriak-teriak, "Kami lapar, kami lapar. Tolong air minum." Mereka tidak punya uang. Persediaan makanan sudah habis.
"Ibu saya lapar. Saya terpaksa menjual bir," tutur Khatim, seorang pemuda berusia 17 tahun yang menjual bir Tiger kepada wartawan asing. Harganya sekaleng 5 dolar AS.
Henry Omaga Diaz, wartawan televisi ABS-CBN dari Filipina tidak mendapatkan kamar hotel. Bersama kameramennya, dia bingung mau tidur di mana. "Ini benar-benar perang," kata pria 40-an tahun itu melukiskan keadaan yang serba sulit ketika antri untuk makan malam: lima enam potong kecil daging kambing, tiga helai roti, dan air putih. Harganya 5 dolar AS. Tidak ada sajian teh, sajian rutin bangsa Arab.
Pukul sembilan malam, seorang wartawati datang ke café. "Apakah di sini restoran," ia bertanya. Seorang wartawan bilang, "Tidak. Turun, terus ke kiri." Wanita itu, yang tampak kusut karena belum mandi, pergi.
Restoran sudah tutup. Tidak ada lagi makanan di restoran bintang lima itu. Dalam satu jam, persediaan makanannya habis.
Sejak jam enam, wartawan antri di pintu restoran yang tertutup rapat. Warung baru buka dua jam kemudian. Sementara di luar, tentara AS menjaga pintu hotel. Mereka bersenjata. Tamu yang keluar tak diijinkan. "Di luar bahaya. Sebaiknya Anda tinggal di hotel," ujar seorang sersan, mencoba ramah.
Bagi yang tak kebagian dinner, terpaksa menunggu makan keesokan harinya. Pengganjal perut hanya biscuit, roti, dan air putih. Beres. Lapar, tegang, dan maut yang senantiasa mengintai menyatu. Dalam kesulitan, terkadang muncul kenikmatan.
Belum ada warung atau restoran yang buka di Baghdad. Kalau toh ada, para wartawan tidak berani keluar. Milisi pro Saddam masih mengancam dimana-mana.
***
Tentara AS memang telah menguasai jalan-jalan utama. Tapi milisi masih berkeliaran, dalam kelompok-kelompok kecil, sambil menenteng senjata AK 47.
Seorang wartawan Jordania, Sabil, yang bekerja untuk Los Angeles Times bercerita, kawannya yang orang Jordania terpaksa pulang lebih cepat. Dia keliling kota hendak meliput mengendarai mobil plat Hongaria.
Mobil mereka diberondong tembakan. Untung wartawan itu menghindari. Peluru menembus lengan kanannya. "Dia sudah pulang sekarang. Dia tidak mau lagi mengambil risiko," tutur Sabil, pria atletis dengan rambut lurus yang disisir rapi.
Wartawan asing, terutama yang bule, menjadi sasaran kemarahan orang Irak. Sebagian orang Irak memang tampak melambai-lambaikan tangan kepada rombongan wartawan asing dan tentara AS. Tapi pesan yang mereka kirim misterius: apakah sambutan hangat atau ungkapan perasaan tidak berdaya menghadapi tank, pesawat tempur, dan kedigdayaan kemampuan militer AS.
Bagaimanapun, rakyat Irak tetap membenci Amerika. "Sekarang memang tidak ada lagi perlawanan keras. Tapi saya yakin akan ada. Bukan hari ini atau besok, tapi nanti," ujar seorang pria Irak yang bekerja menjadi guide wartawan Perancis.
Seorang wartawan Barat dirampok. Uang disikat, berikut paspornya. Peralatan kerjanya seperti kamera dan tape recorder juga diembat. Mengapa orang Irak itu merampas paspor, apa gunanya? Sabil menjawab, "Mereka ingin mengerjai orang Barat."
Walau begitu, sulit dipungkiri ada juga yang membenci Saddam. Seorang pria 50-an tahun, dalam pakaian Arab warna putih, berteriak-teriak di depan wartawan, "Pergi Saddam, selamat datang Bush."
"Saddam telah bersembunyi entah dimana. Tapi ia telah membawa banyak uang rakyat Irak. Sementara rakyatnya ditinggalkan, kelaparan," teriaknya, sambil memaksa para wartawan merekam pernyataannya.
Palestine Hotel bukan tempat yang nyaman. Kamar mandinya kotor, bau. Toilet penuh dengan, maaf, kotoran yang tidak disiram. Baunya menyengat hidung.
Seorang wartawan Singapura kena sial. Dia menyembunyikan uangnya 1.000 dolar di celana dalam. Seusai buang hajat, ia sadar uangnya telah tercecer di kamar mandi. Segera ia berlari, tapi tak menemukan apa-apa lagi.
Menghindari nasib apes, wartawan harus pintar-pintar mengatur siasat. Uang dipecah-pecah, di simpan di dompet, di saku celana, di tas, dan bahkan di celana dalam. Maksudnya agar kalau toh dirampok, ada uang yang tersisa. Namun wartawan Singapura itu tidak dirampok. Ia termakan siasatnya sendiri.
***
KOTA Baghdad berubah menjadi kota bangkai. Satu bangkai manusia yang terbakar tergeletak begitu saja di depan Istana Saddam. Sementara, di depan istana itu, ratusan tentara AS dan tank berjaga-jaga. Di beberapa tempat, jalan-jalan dipenuhi bangkai mobil, tank dan selongsong peluru. Sementara rakyat, yang melambai-lambaikan tangan kepada tentara AS, terus melakukan penjarahan.
Awan hitam terus menyelimuti kota Baghdad. Bekas kebakaran dan bekas bom. Sebagian bangunan pemerintah dibakar, setelah isinya dikuras.
Belasan tank AS di parkir di depan hotel, sementara tentara AS yang memegang senjata otomatis mondar-mandir di aula hotel yang tak jauh dari istana Saddam dan markas Partai Baath.
Wartawan PERSDA yang mengitari kota Baghdad dari Waluja, pinggiran Barat, hingga ke Al Mansur di selatan menyaksikan setidaknya enam titik sumber asap tebal. Beberapa bangunan terlihat terbakar.
Perjalanan memasuki kota Baghdad dari arah Waluja terpaksa putar haluan karena ada pertempuran sengit di jalan-jalan. Mobil-mobil memutar haluan secara tergesa-gesa, Sebagian nyaris tabrakan.
Terpaksa mobil diarahkan ke selatan dan langsung masuk ke jantung kota Baghdad. Di beberapa tempat masih terlihat gambar besar ataupun patung raksasa Saddam.
Di bundaran Al Mansur, tempat Saddam beberapa hari lalu tiba-tiba muncul menemui rakyatnya, tidak terlihat tentara AS. Beberapa milisi bersenjata terlihat di jalan-jalan di kawasan tersebut.
Sementara, sekitar 500 meter dari kawasan itu, puluhan tentara AS bersiaga-siaga di jalan, lengkap dengan tank. Penjara utama Saddam, yang luasnya lebih tiga kali lapangan bola, dikuasai tentara AS. Beberapa warga mengatakan penjara itu telah kosong.
Lokasi deploy pasukan AS ke Al Mansur dihubungkan jalan utama yang rusak-rusak akibat dilindas tank atau kena bom. Jalan ini menghubungkan kota Baghdad dengan Saddam International Airport.
Suasana kota Baghdad mirip kota tak bertuan, kecuali di beberapa kawasan dikuasai tentara AS dan milisi. Tidak terlihat pasukan Pengawal Republik ataupun pasukan khusus Pengawal Republik.
Listrik mati, tidak ada telepon. Lampu lalulintas di jalan-jalan mati. Pengendara mobil seenaknya memakai jalan. Tidak ada polisi lalulintas. Jalan-jalan utama di dalam kota diwarnai pemandangan tentara AS dan warga yang menjarah bangunan-bangunan pemerintah.
Wartawan PERSDA yang ikut rombongan pertama wartawan asing yang masuk ke Irak dari Jordania tanpa visa menemukan tentara AS mulai menguasai kantor perbatasan Irak-Jordania. Tentara AS memerika paspor wartawan satu demi satu. Tidak seorang pun yang dihadang masuk wilayah Irak meski tidak pakai visa. Kantor tersebut telah ditinggalkan tentara Irak sejak beberapa hari lalu.
Dari perbatasan ke Baghdad sejauh hampir 600 km, tidak ada kawasan perumahan yang padat. Hanya ada satu dua kompleks perkantoran pemerintah. Semua benda berharga di kantor-kantor tersebut telah dijarah warga.
Di km 400 sebelum Baghdad, empat tank tentara AS dan Korea terlihat berjaga di tepi jalan. Praktis sepanjang jalan tidak ditemukan lagi otoritas rejim Saddam. Kendati begitu, sekelompok milisi tetap menguasai sebagian wilayah. Di km 94 sebelum Baghdad, tepat di sebuah pompa bensin, para wartawan asing dikejutkan ulah milisi. Mereka melemparkan batu ke kendaraan yang ditumpangi wartawan.
Beberapa mobil yang terlambat kabur ditimpuki kacanya dengan popor senjata. Kelompok milisi itu memasang barikade di jalan-jalan, terutama menjelang memasuki Baghdad.
***
SADDAM pergi, Ali Baba datang. Kekuasaan Saddam Hussein tak terasa lagi di kota Baghdad. Sebagian besar gambar dan patungnya memang belum dirusak massa atau tentara AS. Namun, kekuasaannya tidak lagi terasa di sebagian besar wilayah Irak, termasuk di jantung kota Baghdad.
Namun bagaimanapun, Saddam masih memiliki pengikut setia, rakyat maupun tentara. Mereka inilah, termasuk milisi, yang terus memberikan perlawanan sporadic kepada tentara sekutu.
Di luar Saddam, penguasa lain di Irak tentu saja pasukan sekutu yang berintikan tentara AS. Seorang tentara AS mengungkapkan, jumlah keseluruh personil yang kini berada di Irak 750.000 orang. Mereka menjaga jalur-jalur penting di luar kota untuk mencegah masuknya pasukan jihad dan suplai senjata. Kota Baghdad diduduki dan dikeliling marnir dan tentara AS.
Toh, jumlah personil sebanyak itu tidak mampu menguasai seluruh Irak. Di luar jangkauan kekuasaan mereka, berkuasalah para Ali Baba. Ali Baba seringkali berjabatan tangan dengan tentara AS. Sebab, mereka tidak melawan AS, melainkan melakukan penjarahan di kantor-kantor pemerintah. Ali Baba beroperasi hampir di seluruh Irak, mengendarai truk dan mobil bak terbuka berbendera putih, penuh barang hasil jarahan: kursi, kipas angin, AC, dan lemari.
Bangkai-bangkai mobil di jalan-jalan mereka preteli. Sebagian Ali Baba terlihat mendorong mobil, membawanya pergi. "Bukan main, Ali Baba banyak sekali," tutut Khatim Umar, sopir mobil angkutan umum Amman-Baghdad.
Seperti milisi, Ali Baba juga punya pistol. Seorang Ali Baba mengarahkan pistolnya kepada PERSDA ketika pria gemuk itu hendak difoto. "No, no…," teriaknya sembari menggertak dengan pistol.
Tujuh juta rakyat Irak diperkirakan memegang senjata. Baik yang diberikan gratis oleh pemerintah maupun yang dibeli sendiri. Rakyat yang membenci Saddam kini menjadi Ali Baba. Sementara yang tetap setia kepada pemimpin Irak itu menjadi milisi.
Kota Baghdad berpenduduk sekitar 5 juta orang. Mereka yang keluar rumah, sebagai milisi atau sebagai Ali Baba, sangat sedikit. Sebagian besar jalan-jalan utama terlihat sepi. Sebagian besar rakyat bersembunyi di bungker atau tinggal di rumah mereka. Apakah mayoritas rakyat itu menyambut hangat AS atau mendukung Saddam, masih sulit ditebak. (Dahlan, Laporan dari Bagdad, Irak)
* Laporan ini dimuat di harian Surya, Surabaya, dan sejumlah koran daerah Kompas Gramedia yang dikelola Persda. Saya berangkat ke Timur Tengah menjelang Perang Irak atas biaya Persda
--
Tribun Timur, Makassar
dahlandahi.blogspot.com