Showing posts with label Laporan dari Cina. Show all posts
Showing posts with label Laporan dari Cina. Show all posts

Wednesday, July 2, 2008

Shenzhen, Kota yang Dikunjungi Wapres

Sepeda, warisan budaya masa lalu Cina, masih tetap eksis di kota modern Shenzhen, salah satu kota besar di Cina modern.



shenzhen, kota yang dikunjungi wapres

Satu Laki-laki, Sembilan Perempuan


Dahlan,

Wartawan Tribun Timur,

Melaporkan

dari

Hongkong

KOTA Shenzhen yang dikunjungi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kamis (20/4), merupakan salah satu keajaiban ekonomi Cina selain kota-kota industri di bibir pantai dataran seperti Shanghai dan Tianjin. Ketika Deng Xiaoping mengunjungi kawasan yang bergunung-gunung dan selalu berkabut ini tahun 1970-an, penduduknya hanya 30 ribu orang. Itu pun mereka orang-orang miskin, yang rela menyambung nyawa melintasi sungai menuju Hongkong, untuk menyambung hidup.

Sekarang, lebih 20 tahun kemudian, kota ini berpenduduk hampir 10 juta, dari berbagai suku bangsa.

Perusahaan-perusahaan multinasional juga menghiasi kota yang setingkat kabupaten ini, termasuk warung kopi kelas dunia Starbuck di kawasan pusat kota, dekat Kingglori Plaza.

Sebelum disulap menjadi kawasan ekonomi kelas dunia, Shenzhen dihuni wanita-wanita berpakaian tradisional khas Cina. Sekarang, di alun-alun kota depan supermarket kelas dunia, Mal Mart, wanita-wanita Cina langsing berpakaian minim ala Barat lalu lalang dengan pacarnya, sambil berpelukan.

Tak jauh dari situ, berkibar bendera merah berlambang palu arit, perlambang yang kebingungan menjelaskan fenomena ekonomi kapitalis di negeri yang menghirup udara komunisme ala Mao sejak tahun 1921.

Pada tahun 1970-an, Presiden Deng Xiaoping mengunjungi Shenzhen, kampung yang dikenal menghasilkan buah leci lezat kegemaran keluarga kekaisaran di Beijing.

Visi besar Deng memberinya ilham penting yang menjadi awal kebangkitan Shenzhen menjadi salah satu kota industri kelas dunia: daerah ini dekat dengan Hongkong. Tanahnya luas, tentu saja harganya murah meriah. Tersedia

banyak calon buruh dengan upah rendah. Dia satu-satunya daerah potensial yang paling dekat ke Hongkong.

Pada saat yang sama, Hongkong telah menjadi kota metropolitan dunia, lengkap dengan industri kelas dunia. Untuk membangun pabrik, investor harus membeli tanah yang sangat mahal. Sekadar membangun rumah, mahalnya minta ampun. Dunia hiburan juga menguras isi kantong.

Shenzhen dibangun dengan semangat memberikan kepada investor apa yang tidak mereka dapatkan di Hongkong. Karena belum menarik, otoritas Shenzhen diberi keleluasaan untuk memberikan keringanan pajak superistimewa kepada calon investor. Proses pembebasan tanah dipermudah birokrasinya.

Proses imigrasi masuk Shenzhen juga dipermudahShenzhen dan Hongkong dipisahkan sebuah sungai. Untuk mempermudah akses transportasi, dibuatlah jalur bebas hambatan delapan jalur. Jalan itulah yang mengawinkan Hongkong dan Shenzhen. Jarak tempuhnya pendek, hanya sekitar satu jam.

Masalahnya, tanah Shenzhen berbukit-bukit. Investor menginginkan lahan yang rata, yang siap pakai. Deng Xiaoping tidak kehabisan akal. Ia mengerahkan 30 ribu tentara merah untuk merobohkan gunung menjadi lahan industri.

Berbekal status spesial economic zone (SEZ, atau free trade center seperti yang ingin dikembangkan Jusuf Kalla di sembilan daerah di Indonesia, termasuk Makassar), pemerintah lokal Shenzhen diberi keleluasan untuk membuat aturan yang menggoda investor.

Di antaranya, pembebasan dari tiga persen pajak pendapatan lokal dan keringanan pajak bagi perusahaan berbasis teknologi tinggi. Perusahaan berorientasi ekspor diberi keringanan biaya tanah 50 persen. Sudah murah, didiskon pula. Pajak bangunan dibebaskan selama lima tahun.

Bank asing diundang masuk dengan insetif bebas pajak selama lima tahun asal menggandeng mitra lokal. Investor juga dibebaskan dari pembayaran pajak pertambahan nilai (PPN).

Semua fasilitas itu tentu saja sulit dicari samanya di dunia, apalagi di Indonesia yang terus terbelenggu dalam krisis politik, politisi yang "cerewet", pajak ini dan itu, birokrasi yang menyulitkan masalah yang mudah, dan pungutan dari segala penjuru mata angin.

Dengan segala kemudahan dan fasilitas yang ditawarkan Shenzhen, investor berlomba-lomba masuk ke kota yang selalu diselimuti kabut ini. Daya tarik utamanya tentu saja harga lahan yang murah. Secara sederhana dapat digambarkan, bila ingin membangun pabrik di Shenzhen, maka seluruh biaya membebaskan lahan, membangun bangunan pabrik, dan mendatangkan mesin-mesin sampai perusahaan operasional setara nilainya dengan harga tanah di Hongkong.

Ketika para pengusaha datang, Shenzhen didorong menjadi kota jasa: harus ada hotel dan tempat hiburan. Saat ini, kendati jaraknya hanya satu jam dari Hongkong, biaya investasi di Shenzhen empat kali lebih murah daripada Hongkong.

Demikian pula sewa hotel dan aneka hiburan. Di Shenzhen, tukang pijat "sederhana" dibayar 100-an yuan (sekitar Rp 110 ribu). Tarif di Hongkong lima kali lipat lebih mahal.

Investasi Hongkong merupakan 70 persen dari seluruh investasi di Shenzhen, 90 persen di antaranya berorientasi ekspor. Kota ini dikenal sebagai kawasan industri yang menghasilkan produk-produk teknologi tinggi (high tech) di bidang komputer dan piranti lunak, peralatan telekomunikasi, elektronik mikro, dan rekayasa hayati.

Pembangunan gedung-gedung jangkung terus berpacu dengan kebutuhan dunia industri. "Kalau Bapak datang lagi tahun depan, lahan-lahan kosong ini pasti sudah diisi gedung jangkung," kata seorang pemandu. Ayahnya seorang Jawa dan ibu Sunda, tapi ia lebih senang bekerja di Shenzhen.

***

LEDAKAN urbanisasi yang besar mulai dirasakan sebagai masalah Shenzhen dewasa ini. Seorang pemandu wisata sambil tertawa mengatakan, lebih sulit mencari laki-laki ketimbang gadis di Shenzhen. Katanya, perbandingannya, satu laki-laki berbanding sembilan wanita.

Sulit menjumpai para penjaga toko laki-laki. Di kantor Singapore Airlines, misalnya, dijaga dua orang wanita muda. Tidak ada laki-laki. Pekerja rendahan yang mengelola gedung jangkung tempat maskapai asal Singapura itu berkantor juga kebanyakan perempuan.

Dunia maksiat juga tumbuh subur. Hotel-hotel menyediakan "mandi kucing", satu lelaki dilayani tiga empat wanita, tergantung tebal-tipisnya isi kantor.

***

SEPERTI halnya kota-kota industri lainnya di Cina, Shenzhen juga merupakan pusat industri barang-barang bermerek yang palsu, mulai dari arloji Cartier dan Rollex hingga aneka tas mereka Bally.

Menghadapi sikap Pemerintah Cina yang gencar merazia penjualan barang-barang palsu, para pengusaha tidak kehabisan akal.

Ada sebuah toko yang terletak di lantai sembilan sebuah bangunan. Bila masuk ke gedung ini, tidak ada tanda-tanda akan ada toko di sana.

Ke luar dari lift di lantai sembilan, ada sebuah ruangan. Pintunya terbuat dari aluminium. Toko itu tertutup rapat. Tak ada tanda-tanda ada aktivitas di sana.

Setelah bel berbunyi, terdengar suara pintu terbuka kayu terbuka. Ternyata toko itu memiliki dua lapis pintu. Seorang wanita sambil tersenyum mempersilakan pemandu yang sudah dikenalnya untuk masuk.

Setelah itu, pintu ditutup rapat. Pembeli dengan leluasa membeli arloji atau tas bermerek yang dipalsukan. Sebiji jam tangan Cartier hanya dijual 800 yuan (sekitar Rp 900 ribu). Harga aslinya sekitar Rp 6 juta!

“Ini barang palsu kelas A. Palsu, tapi bahkan lebih bagus dari yang asli,” kata seorang pemandu sambil tertawa.

Barang-barang palsu made in China ternyata berkelas-kelas, tergantung kualitasnya. Makin rendah kualitasnya, makin cepat rusak. Harganya tentu murah. Barang-barang Cina yang masuk ke Indonesia umumnya kelas C, yang murah meriah dengan kualitas seadanya.

Setelah transaksi berjalan, label-label harga barang, pertanda bahwa ia masih baru, dicopoti semua agar kelak bila ke luar dari gedung yang ramai itu, orang-orang tidak curiga.

***

KEMARIN, Wapres Jusuf Kalla dan rombongan meninggalkan Shanghai menuju Shenzhen dengan pesawat kepresidenan. Penerbangan berlangsung sekitar satu jam 45 menit.

Wapres mengunjungi Suzhou Industrial Park (SIP), kawasan industri hasil kerja sama Singapura-Cina.

Didirikan tahun 1995, SIP berkembang sangat pesat sebagai kawasan baru untuk berinvestasi. Majalah Newsweek menyebut Suzhou dan koran The New York Time menjuluki Suzhou sebagai satu dari sembilan kota teknologi baru di dunia dan merupakan eksperimen yang "baru dan berhasil".

Kalla, yang juga seorang pengusaha papan atas Indonesia, ingin mengembangkan kawasan perdagangan bebas di sembilan daerah di Indonesia, antara lain, Bintan, Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Kunjungan wapres diharapkan dapat memberikan masukan yang bersifat teknis untuk membangun kawasan industri, suatu ide besar yang perlu kerja keras untuk mengakselerasi jalannya pembangunan ekonomi Indonesia.

Syukur-syukur kalau bisa seperti Cina, yang dalam tempo sekitar kurang dari 30 tahun, telah mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia yang penting. ***

Tuesday, July 1, 2008

Rumah Toraja di Pintu Dunia

Rumah ada Tana Toraja, Tongkonan, di kawasan wisata Window of the World, Shenzhen, Cina.



melancong ke cina

Rumah Toraja di Pintu Dunia


Laporan

Dahlan

Wartawan Tribun Timur

dari

Shenzhen,

Cina


TIDAK banyak yang tahu bahwa ada tiga rumah Tana Toraja, Sulawesi Selatan, di Window of the World, taman wisata di Shenzhen, Cina.

Rumah adat Toraja tersebut berdiiri sejajar dan mendapat tempat terhormat di antara 102 item tempat, bangunan, dan patung bersejarah dari seluruh dunia.

Window of the World adalah kawasan wisata tempat miniature berbagai bangunan dan lokasi ternama di seluruh dunia. Datang ke lokasi wisata ini seolah berkunjung ke seluruh tempat wisata eksotik di seluruh dunia.

Ada Menara Eiffel, menara jangkung di Paris yang dibangun Alexander Eiffel untuk mengenal 100 tahun Revolusi Perancis, ada Piramid Mesir lengkap dengan patung Spinx-nya, ada pula hutan Amazon lengkap dengan replikasi binatang raksasa dinosaurus.

Bila Taman Mini Indonesia Indah adalah miniatur Indonesia, Benteng Somba Opu sebagai miniature Sulawesi Selatan, maka Window of the World merupakan miniature dunia.

Selain Eiffel, ada juga Gedung Putih, twin tower, lengkap dengan Patung Liberty yang dibangun di atas danau.

Yang menajubkan adalah air terjun Niagara yang dibangun mirip aslinya. Air putih meluncur dari ketinggian, memancarkan kesegaran, bunyi alam percikan air.

Di kawasan situs-situs sejarah dunia itulah tiga bangunan rumah Toraja berdiri. Di kawasan wisata jendela dunia itu, Indonesia yang kaya budaya dan situs sejarah hanya diwakili dua saja: rumah Toraja dan miniatur Candi Borobudur.

Candi Borobodur, yang terletak tak jauh dari pintu masuk, memang benar-benar miniatur. Bangunan bersejarah yang luas itu dibangun dalam ukuran mini, sekitar 5x5 meter.

Berapa luas rumah Toraja? Lebih besar dari rumah aslinya. Pengelola Window of the World membangun tiga unit rumah Toraja dengan ukuran sekitar 8x15 meter. Jadi bisa dibayangkan, Borobodur yang pernah menjadi salah satu keajaiban dunia hanya mendapatkan tempat sekitar 5x5 meter, sedangkan tiga rumah Toraja menempati areal sekurang-kurangnya tiga kali 8x15 meter!

***

Di sekitar rumah Toraja ada café dan rumah makan. Café menjual es kelapa muda. Ada kopi dengan harga tujuan yuan, sekitar Rp 9.300 per cangkir.

Penjualnya tidak terlalu mengerti bahasa Inggris, seperti kebanyakan generasi tua Cina. Yang lumayan putrinya. Ia bisa berbicara bahasa Inggris kendati tidak terlalu lancer.

Meski bentuknya rumah Toraja, tak ada suvernir Toraja di sana. Pernak-pernik bercorak Cina cukup dominan dipajang di “kolong” rumah Toraja: patung, kain yang dominan warna merah, maupun aneka suvenir Cina lainnya.


Hongkong dan Pertanyaan untuk Calon Wali Kota Makassar

Di Disneyland, Hongkong.



melancong ke cina

Hongkong dan Pertanyaan untuk Calon Wali Kota

Laporan

Wartawan Tribun Timur,

Dahlan,

dari Hongkong

HARGA bensin di Hongkong sekitar Rp 25 ribu. Itu bukan masalah besar karena pemilik mobil memang kebanyakan hanya orang kaya. Sebaliknya, sepertiga penduduk Hongkong menggunakan jasa transportasi massal seperti kereta api dan bus. Sebagian kecil saja yang memakai taksi.

Pemerintah otonomi Hongkong menggunakan kekuasaan regulasinya untuk menjamin sistem transportasi yang nyaman buat si kaya maupun rakyat kebanyakan.

Mobil dibatasi berusia maksimal 10 tahun. Harga mobil mungkin terjangkau tapi plat mobil yang dikeluarkan pemerintah dijual mahal. Bensin juga mahal. Tidak boleh parkir sembarangan. Sebulan, biaya parkir sekitar Rp 3 juta.

Di Indonesia, pemilik mobil pribadi cukup nyaman karena bisa parkir di mana saja. Kemewahan itulah yang sulit ditemukan di Hongkong. Pinggir jalan bersih dari mobil yang diparkir.

Pemilik mobil harus memiliki sopir pribadi. Soalnya, tempat parkir selalu jauh dari tempat tujuan Anda. Sopir mendrop majikannya di titik yang dikehendaki dan maksimal tiga menit kemudian sudah harus pergi. Bila lebih dari tiga menit, polisi akan datang dan memberi denda yang jumlahnya minta ampun.

Regulasi ketat itu diberlakukan dengan tujuan menjamin sistem transportasi yang nyaman untuk si kaya serta nyaman dan murah untuk rakyat kebanyakan.

Penduduk Hongkong hampir tujuh juta. Lahannya yang sempit memaksa tumbuhnya bangunan pencakar langit. Bila seluruh penduduk Hongkong tumpah semuanya ke jalan, maka seluruh ruas jalan akan dipenuhi manusia.

Hebatnya, jalan-jalan di Hongkong termasuk yang paling nyaman di dunia. Di jalanan hanya satu dua saja kendaraan pribadi dan angkutan umum seperti shuttle bus dan taksi. Ke manakah orang-orang Hongkong yang lain?

***

HONGKONG adalah kota pulau. Hongkong Island (Pulau Hongkong) merupakan kota tua tempat gedung pemerintah dan pusat bisnis. Di sinilah letaknya land mark Hongkong, gedung 88 lantai setinggi 426 meter atau hampir setengah kilometer.

Di luar Hongkong Island, ada Kowloon, Lantau, dan New Territories. Pulau-pulau itu dihubungkan jembatan serta jalur kereta dan terowongan mobil bawah laut.

Kowloon dan Hongkong, misalnya, dihubungkan jalur kereta api dan terowongan bawah laut sepanjang 1,8 kilometer.

Jalur transportasi itu dibangun di kedalaman 28 meter sehingga tetap aman dilewati kapal-kapal besar yang keluar-masuk pelabuhan.

Sistem transportasi utama adalah MTR atau Mass Transit Railway. Di Singapura, sistem transportasi massal ini diberi nama MRT, mass rapid transportation.

Dirintis sejak tahun 1979, MTR kini menjadi andalan sistem transportasi Hongkong. Sekitar 2,4 juta orang setiap hari menggunakan jasa MTR pergi-pulang ke tempat kerja, sekolah, tempat hiburan, atau tempat belanja.

Ke luar dari apartemen (di Hongkong hanya orang kaya raya yang memiliki rumah), warga menyusuri jalur pedestrian yang cukup nyaman ke 150 stasiun di seantero Hongkong.

Tidak ada pedagang kaki lima yang mengganggu kelancaran arus pejalan kaki. Mobil-mobil pun dilarang parkir di tepi jalan. Dengan demikian, pejalan kaki sangat nyaman.

Lewat jalur pedestrian itu, warga Hongkong berjalan ke stasiun. Tempat pemberhentian dan pemberangkatan kereta sangat nyaman, mirip mal. Bersih, ruangan full AC, aman.

Petunjuk jalan di mana-mana memudahkan pengguna MTR. Orang baru pun bisa menggunakan jasa transportasi ini tanpa khawatir tersesat atau ditipu calo (di sini memang tidak ada calo dan pencopet).

Di stasiun, pengguna MTR membeli tiket di mesin otomatis. Tidak ada penjual tiket sehingga pasti tidak ada calo. Kalau kesulitan membeli di mesin, beli saja di outlet yang memang disediakan. Jalur ini jarang dipakai. Warga Hongkong terbiasa berinteraksi dengan mesin.

Di mesin penjualan tiket yang mirip ATM, masukan uang kertas atau koin, sesuai petunjuk. Misalkan Anda membeli tiket seharga tujuh dolar, masukkan saja lembaran 10 dolar. Nanti akan akan keluar tiket yang diminta plus kembaliannya.

Tiket kereta berbentuk kartu SIM card telepon mobile tapi lebih tipis. Kartu ini nanti dimasukkan di pintu masuk untuk membuka pintu.

Cara lain, membeli kartu berlangganan. Kartu ini disimpan di dompet. Anda cukup mendekatkan dompet ke mesin di pintu, akan bunyi tuuut, dan pintu segera terbuka. Warga Hongkong banyak memilih sistem berlangganan karena kartu itu bisa dipakai berbelanja di mal. Buat yang berusia di atas 60 dapat diskon 50 persen.

Ke luar dari pintu masuk, pengguna MTR selanjutnya antre di pintu masuk (mirip busway) di Jakarta. Anda tidak perlu keringatan karena menunggu. Ruangannya dingin, bahkan sebaiknya pakai jaket atau sweater bagi yang tidak tahan udara dingin.

Setiap dua menit, kereta datang. Antrean tidak pernah panjang. Keretanya bersih. Di bagian atas setiap pintu terpampang rute kereta. Anda akan tahu posisinya di mana, menuju ke mana, di stasiun mana Anda akan turun.

Menjelang stasiun yang dituju, perhatikan papan rute di atas pintu, kiri maupun kanan. Bila menyala lampu hijau, berarti penumpang akan turun melalui pintu itu.

Begitu ke luar, cari papan petunjuk di stasiun untuk memandu penumpang ke lokasi yang dituju.

Ke luar dari stasiun, penumpang berjalan kaki di pedestrian menuju lokasi yang dituju. Begitulah seterusnya. Kereta beroperasi 24 jam. Menjelang tengah malam hingga dini hari, frekwensi kedatangan kereta berkurang.

Begitulah setiap hari 2,4 juta warga Hongkong melewati hari-harinya yang sibuk. Dengan sistem transportasi massal yang nyaman seperti itu, warga tidak merasa perlu membeli kendaraan pribadi. Maka jangan heran bila penumpang MTR berpakaian jas dan dan dasi yang rapi. Seorang dokter senior pun lebih senang memakai MTR daripada kendaraan pribadi.

Di Hongkong, sangat jarang orang naik taksi. Mereka yang naik taksi umumnya pendatang yang tidak mau repot dengan urusan kereta.

Naik taksi pun mahal harganya. Taxi dari Tsing Yi di New Territories ke Causeway Bay di Pulau Hongkong, misalnya, sekitar 200 dolar Hongkong (sekitar Rp 250 ribu). Dengan MTR hanya 11,8 dolar Hongkong atau Rp 14.750.

Naik MTR bukan cuma urusan warga kelas bawah, anak sekolah, dan mahasiswa. Pekerja kelas menengah juga naik kereta cepat yang nyaman dan murah tersebut.

Anda, misalnya, akan naik MTR ke Harbour City, tempat belanja barang-barang bermerek di Kowloon, lalu masuk ke restoran yang menyajikan sup sirip ikan hiu dari laut Indonesia seharga Rp 2.000 dolar Hongkong sekali makan untuk enam orang. Tidak masalah.

Dengan MRT, jalan raya Hongkong tidak pernah macet. Kesibukan justru terlihat di stasiun-stasiun kereta api yang umumnya di bawah tanah. Maka ada guyonan, warga Hongkong lebih banyak menghabiskan waktunya di bawah tanah bila bepergian dan lebih banyak menghabiskan waktunya di udara bila sedang berada di apartemen.

Hidup di rumah yang bersentuhan dengan tanah, punya halaman dan taman, serta menikmati jalan raya merupakan barang mewah di Hongkong. Di kita sebaliknya: transportasi yang nyaman dan murah adalah barang mewah.

Sebagian karena para pemimpin pemerintah kita tidak mampu atau belum mau atau tidak tahu membangun sistem transportasi terpadu yang murah dan nyaman. Karena para politisi kita hanya terampil berdebat berjam-jam, hanya jago bicara di koran, hanya pintar menghitung anggaran studi banding. Mereka hanya terampil mengelola demonstrasi, tidak punya pengalaman mengelola masyarakat.

Sebagian lagi karena budaya bangsa kita yang tidak tertib, yang tidak sabar berdiri di antrean, yang tangannya gatal bila tidak merusak fasilitas umum.

Sebagian lainnya karena mental aparat pemerintah kita yang lebih sering menyusahkan ketimbang menjalankan tugas melayani rakyatnya, yang lebih senang memungut rente daripada melayani dengan tulus, yang hanya mampu bersikap tegas kepada orang lemah.

Untuk calon wali kota, apa yang Anda bisa lakukan selain mengotori kota dengan baliho dan spanduk? Apa yang Anda bisa lakukan selain mengumumkan program hampa tanpa visi? ***

Bila A Sung dari Patunuang Jadi Pemandu di Shenzhen


A Sung, pemandu wisata kelahiran Makassar, di Shenzhen, Cina.


melancong ke cina

Bila A Sung dari Patunuang Jadi Pemandu di Shenzhen


Laporan

Wartawan Tribun Timur,

Dahlan,

dari Shenzhen,

Cina


BAHASA Indonesia A Sung –begitu ia memperkenalkan diri-- cukup lancar, tapi seringkali kacau. Ia menyebut lantai dengan “rantai”. Katanya lewat pengeras suara di dalam bus, “Nanti kita dinner (makan malam) di rantai dua, ya.”

Naik sepeda atau duduk sepeda? Buat A Sung, pemandu wisata di salah satu kota terbesar di Cina, Shenzhen, bukan “naik sepeda” yang benar melainkan “duduk sepeda”.

“Tahun 1960-an, orang-orang Cina menjadikan Shenzhen sebagai tempat favorit menyeberang ke Hongkong. Waktu itu Cina masih miskin. Mereka datang dengan jalan kaki berhari-hari atau duduk sepeda menuju Shenzhen, melintasi perbatasan dengan berenang di sungai, lalu masuk Hongkong yang makmur untuk mencari kerja,” begitu A Sung bercerita.

“Pemerintah Cina sangat malu sehingga mengerahkan petugas untuk menjaga sepanjang sungai. Semua yang nekat melintas ditembak. Setiap pagi, banyak mayat di sungai ini,” kata ayah dua anak itu tentang Sungai Shenzhen, sungai yang lebarnya kira-kira 10 meter yang memisahkan Hongkong dengan Shenzhen di Cina daratan.

Di kiri kanan sungai tumbuh lebat pohon yang sengaja dipelihara untuk menjadi hutan kota di kawasan gedung-gedung jangkung. Sangat pas untuk berjalan mengendap-endap melewati hutan kota sebelum masuk ke wilayah Hongkong.

Beberapa kali ia mengulangi “duduk sepeda” sehingga saya yakin, yang dia maksudkan adalah apa yang kita pahami sebagai “naik sepeda”. Kadang pula ia bilang “duduk di taksi” untuk apa yang kita pahami sebagai “naik taksi”.

“Di Shenzhen sini, tidak boleh orang duduk sepeda motor. Dilarang. Motor hanya boleh di daerah minimal 80 kilometer dari pusat kota,” kata pria 48 tahun itu tentang Shenzhen yang bersih dari sepeda motor, kota yang tertib dengan pedestrian di kiri-kanan jalan yang teduh dilindungi pepohonan hijau mirip kota-kota makmur di Eropa.

Sering pula ia bilang begini: “Di sini, kalau duduk di taksi hanya boleh empat penumpang.” Ketika ia mengatakan itu, atau sesuatu yang berkaitan dengan transaksi, pria yang menyisir rambutnya selicin Harmoko ini selalu mengingatkan untuk waspada menerima uang kembalian karena di Shenzhen, uang palsu berkeliaran. Ali Baba cukup banyak di sini.


A Sung lahir di Makassar. Rumah keluarganya di Patunuang. Ayahnya merantau ke Makassar ketika berusia tujuh tahun. Kawin di Makassar, lalu memboyong keluarganya ke Shenzhen ketika Pemerintah Cina sedang gencar-gencarnya menggalang pembangunan kota yang mendapat status zona ekonomi khusus ini.

“Waktu itu saya delapan bulan. Ibu menggendong saya ke sini,” katanya. Bila mengerti dan fasih berbahasa Indonesia kendati meninggalkan Makassar saat masih bayi, itu karena, “Di rumah kami sering memakai bahasa Indonesia. Tapi saya tidak mengerti bahasa Makassar”.

Di rumahnya, A Sung belajar bahasa Indonesia, yang kelak menjadi modal utamanya --selain pengetahuan sejarah-- menjadi tour leader (pemandu wisata). A Sung tidak fasih berbahasa Inggris, sebagaimana generasi Cina yang tumbuh sebelum 30 tahun lalu. Ketika itu, Republik “Tirai Bambu” Rakyat Cina tertutup untuk pengaruh asing, termasuk bahasa.

Bahasa Inggris dilarang diajarkan di sekolah-sekolah yang seluruhnya dikontrol pemerintah. A Sung belajar bahasa Indonesia, sebagai bahasa asing di Cina, di rumah sambil bisik-bisik takut ketahuan tetangga.

Menurut A Sung, bahasa Indonesia masih merupakan bahasa favorit di rumahnya kendati keluarga itu sudah meninggalkan Makassar sekitar 48 tahun yang lalu atau hampir setengah abad yang lampau.

“Keluarga saya masih ada yang di Makassar,” katanya, tapi lupa alamat persisnya kecuali menyebut Patunuang.

***

DI Bandara Internasional Hongkong, petugas imigrasi juga mengerti bahasa Indonesia. Dia berteriak, “Tunggu….” ketika, seperti biasa, seorang Indonesia yang tidak tertib mencoba menerobos antrean.

No, I cann’t speak Indonesia but I can understand if you speak Indonesia,” kata petugas imigrasi itu, seorang wanita muda kira-kira berusia 25 tahun.

Di kawasan wisata Puncak, Jawa Barat, ada restoran yang unik: bangunannya berupa perahu dari kayu yang “berlabuh” di tepi jalan.

Restoran serupa itu ada juga di pusat kota Shenzhen. Ia dijumpai tidak jauh dari kawasan wisata Window of the World, tempat miniatur seluruh tempat dan bangunan budaya dan bersejarah dunia.

“Dulu, banyak orang Indonesia yang datang ke sini membangun usaha,” katanya tentang restoran kapal kayu.

Wajah-wajah Indonesia sangat dikenal, bahkan oleh para pedagang di Louwa, satu dari dua pusat perbelanjaan terbesar di Shenzhen.

Begitu melihat wajah-wajah Indonesia, sejumlah pedagang berteriak, “Ayo… mulah, mulah….” Mereka membujuk calon pembeli layaknya pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta, yang menjadi model di banyak pasar di Indonesia.

Suasana Tanah Abang memang sangat terasa di Louwa. Anda boleh menawar serendah-rendahnya. Tawarlah sampai 70 persen. Bila pedagangnya tidak mau, pura-puralah tidak membeli. Dia akan mengejar Anda bila memang harga yang diminta memang demikianlah adanya.

Si pedagang akan marah bila barang sudah ditawar dan disetujui tapi pembeli membatalkan transaksi. Demikian itulah yang juga terasa di pasar-pasar tradisional di Indonesia. Di Shenzhen, belanja tawar menawar itu bahkan masih bertahan di pusat perbelanjaan modern.

Pada saat bertranksasi, hati-hatilah. Misalnya Anda membeli barang seharga 20 yuan (satu yuan sama dengan Rp 1.350). Si penjual akan membalikkan badan begitu menerima uang Anda, lalu merobek bagian pinggirnya. Kemudian ia bilang, “Wah, uang Anda tidak bisa diterima. Robek.”

Begitu Anda memberi uang pecahan 100 yuan, si pembeli akan menukar uang itu dengan uang palsu lalu memberi tahu Anda bahwa dia tidak punya kembalian setelah uang itu ditukar dengan uang palsu. Ia kemudian meminta uang 20 yuan yang disobek tadi, sambil berkata, “Tak apalah. No problem.” Bila si pembeli tidak waspada, ia telah telah mengantongi uang 100 yuan palsu.

Modus seperti ini, menurut A Sung, juga seringkali dijumpai tamunya ketika berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar lainnya, yang oleh wisatawan Indonesia dikenal sebagai Pasar Malam.

***

CERITA tentang aroma Indonesia di Shenzhen dan Hongkong rasanya tidak lengkap tanpa menyebut A Sing. Tubuhnya pendek, rambut cepak dicukur rapi. Ia sangat ramah.

Bila A Sung memandu wisata di Shenzhen, A Sing di Hongkong. A Sing lahir di Aceh sebelum mencari sesuap nasi di Hongkong, salah satu kota termahal di dunia.

“Banyak orang Indonesia di Hongkong,” A Sing bercerita. Sebagian kecil menjadi pengusaha. Sebagian terbesar menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI), nama yang halus untuk babu alias pembantu rumah tangga.

Di level menengah, yang biasanya diisi tenaga terdidik, sangat jarang orang Indonesia. Sekali dia kaya, ya kaya, sekali babu ya babu.

Diperkirakan, 300 ribu TKI mengadu nasib di Hongkong. Gaji mereka rata-rata Rp 4 juta sebulan, angka yang diyakini jauh lebih tinggi ketimbang gaji pembantu di Arab Saudi yang konon hanya Rp 1,5 juta sebulan. Itulah kenapa TKI di Hongkong lebih “bergaya” dibanding TKI di negara lain. Di Indonesia, gaji Rp 4 jutaan biasanya untuk kalangan manajer atau supervisor di perusahaan yang lumayan bagus.

Masalah utama TKI adalah kemampuan bahasa. Karena itu, mereka umumnya hanya bisa jadi pembantu rumah tangga.

Tidak demikian dengan tenaga kerja dari Filipina. Mereka rata-rata terbiasa dengan bahasa Inggris. Dapat dimaklumi bila jenis pekerjaan tenaga kerja dari Filipina lebih “berkelas”, seperti menjadi pelayan restoran.

Orang dengan keterampilan seperti A Sung atau A Sing, yang memiliki jaringan dengan travel di Indonesia, melakoni pekerjaan sebagai pemandu wisata. Setiap bulan ada saja satu atau dua rombongan yang terdiri atas 20-30 orang tamunya dari Indonesia.

Kebetulan, Hongkong dan Shenzhen merupakan lokasi favorit berwisata dan berbelanja di Asia bagi warga Indonesia selain Singapura dan Kualalumpur.

Afiaty, pemandu wisata dari Indonesia, memperkirakan, setiap bulan sekitar 3.000 wisatawan Indonesia berlibur ke Hongkong atau Shenzhen. Daya tariknya selain atraksi budaya adalah shopping.

A Sung dan A Sing sering jadi bahan tertawaan tamu-tamunya bila salah menggucapkan bahasa Indonesia. Toh keduanya tetap menikmati pekerjaan, berbahasa Indonesia dengan bangga, tetap bangga pernah bersentuhan dengan Indonesia, kendati “lantai” harus berbunyi “rantai”, murah lalu terdengar “mulah”, atau “naik sepeda” diubah menjadi “duduk sepeda”.***

Kapten John dari Makassar dan Hongkong Jewelry


Pak John di Hongkong Jewelry, Hongkong.



melancong ke cina

Kapten John dari Makassar dan Hongkong Jewelry



Laporan

Wartawan Tribun Timur

Dari

Hongkong


HAI apa kabar, John menyapa turis Indonesia di Hongkong, Senin (19/5). “Assalamualaikum,” ia memberi salam.

Wajahnya terlihat muda dalam usia di atas 60. Ia lincah menyambut tamu-tamunya, menjelaskan soal perhiasan emas, giok, dan mutiara –apa yang menjadi keahliannya. Ia hidup dengan penuh gairah. Sikap optimisme tercermin dari gaya bicaranya yang bersemangat dan wajahnya yang segar bugar.

“Panggil saja Kapten John,” ia menyahut tatkala ditanya nama lengkapnya di sebuah show room perhiasan yang ramai oleh turis. Ada wisatawan dari Indonesia, India, Pakistan, Cina, bahkan bule.

“Saya dikenal teman-teman di Makassar, di Losari. Sudah tiga teman saya jadi menteri, salah satunya Ibu Witoelar (Erna Witoelar). Anda kenal Hasan Walinono, kan? Dia teman kecil saya” tuturnya lagi.

“Rudy Lontoh (pengacara ternama di Jakarta) adik kelas saya. Pak Andi Mattalatta… beliau orang hebat. Kami sering main di Pantai Losari,” ujar John.

Rumah keluarganya di pertigaan Losari-Lamadukelleng, dekat Rumah Sakit Stella Maris. John menghabiskan masa kecilnya di Losari, menikmati pantai dan mandi air laut.

John muda menjadi pelaut. Ia mengelilingi Nusantara dan sebagian besar kota pelabuhan di dunia. “Pangkat” terakhirnya kapten kapal atau nakhoda. Makanya ia senang dipanggil Kapten John. Ada romantisme di sana. Romantisme seorang pelaut dari Makassar.

Tahun 1960-an, ia meninggalkan Makassar menuju Hongkong. Di salah satu kota bisnis utama di dunia ini, John kini bekerja di Hong Kong Jewelry Co Ltd. Ini perusahaan pengolahan dan penjualan perhiasan yang direkomendasi Pemerintah Administratif Hongkong sebagai daerah tujuan wisatawan.

“Pak John…, ya. Beliau orang Indonesia. Masih WNI,” komentar koleganya di Hongkong Jewelry yang lebih yunior, Maggie Lioe.

Wanita muda ini juga masih WNI, tinggal di Jakarta. Satu dari dua anak Kapten John bekerja di Jakarta, di salah satu perusahaan rokok terbesar di Tanah Air.

Sebagai WNI, John dan Maggie harus memperpanjang visa kerja dua tahun sekali. Mereka bisa membeli apartemen (tidak ada rumah di Hongkong), asalkan tunai. Tapi untuk yang tunai, harganya sangat mahal. Hongkong dikenal sebagai salah satu kota termahal di dunia. Harga bensin seliter, misalnya, 20 dolar Hongkong (sekitar Rp 25 ribu).

***

KAPTEN John menyambut tamunya di pintu, membimbing mereka ke ruang Sapphire (safir atau batu nilam). Ruangnya sekitar 4x4 meter, cukup sempit untuk menerima tamu sekitar 25 orang. Di papan terpampang gambar yang memvisualkan proses pembuatan perhiasan sejak dari pemilihan bahan hingga quality control.

“Sebagai eksportir perhiasan, kami sangat memperhatikan kualitas. Semuanya dikendalikan tim pengendali kualitas,” ucapnya.

Kantor dan show room perhiasan tempat John bekerja terletak di lantai satu sebuah bangunan jangkung di kawasan Aberdeen.

Kawasan ini, dulunya, sebelum pabrik-pabrik pindah ke Shenzhen karena tidak kuat memikul beban sewa dan biaya operasional yang terus meroket, dikenal sebagai kawasan industri. Di sana, misalnya, ada pabrik lampu Petromax merek Butterfly. Ini lampu yang pernah begitu popular di Indonesia tahun 1980-an.

Nama kawasan itu, Aberdeen, diambil dari nama gubernur jenderal Inggris yang berkuasa di Hongkong sebelum kota itu diserahkan ke RRC tahun 1997. Sebagian nama-nama jalan dan kawasan di Hongkong memang diambil dari nama gubernur jenderal.

“Kami memproduksi perhiasan kelas dunia,” begitu John memulai presentasinya tentang Hongkong Jewelry. “Produk kami diekspor ke Amerika Serikat, Eropa…”

Untuk menjamin mutu produk, perusahaan itu mengambil bahan baku terbaik dari berbagai belahan dunia. Batu giok, misalnya, dari Myanmar. Batu giok dari negeri Aun San Suu Ki ini keras, warnanya hijau tua. Sedangkan batu giok dari Cina dan Taiwan agak lembek, warnanya hijau muda. “Hanya bagus untuk patung,” katanya.

Bagi orang Cina, giok dipercaya membawa keberuntungan, kekayaan, dan kesehatan. Karena itu, perhiasan dari giok memiliki pasar yang besar.

John menjelaskan perbedaan mutiara asli dari yang palsu. Yang asli berat. Bunyinya pun “lebih berat” bila saling gesek.

Dari sumbernya, ada tiga jenis mutiara. Di antaranya, mutiara air tawar dan mutiara natural. Warnanya ada yang putih, ada yang hitam.

“Mutiara putih kami ambil dari Australia. Itu yang terbaik. Sedangkan mutiara hitam didatangkan dari Tahiti (Afrika),” jelas John.

Seusai presentasi, John mengajak tamunya melihat secara singkat proses pembuatan aneka perhiasan mulai dari cincin hingga kalung.

Dari sana, tibalah saatnya berbelanja. Turis dibimbing melihat aneka perhiasan yang dipajang di lemari. Indah dan bagus tentu saja. Harganya pun bagus. Satu cincin emas 18 karat bertahta berlian , misalnya, dihargai 3.998 dolar Hongkong atau sekitar Rp 4,9 juta.

Di pintu keluar Hongkong Jewelry, terpampang tulisan besar “Pintu Keluar”. Ada juga tulisan “Exit” dan kata lain yang sama maknanya dalam lima bahasa lainnya.

Waktu kunjungan hampir habis ketika Kapten John muncul. “Anda dari mana saja,” ia bertanya pada wisatawan Indonesia.

Begitu ia mendengar, “dari Makassar”, Kapten John seolah tak percaya, dan berteriak, “Hai… Makassar, aga kareba. Baji-baji?” Ia berbicara dalam bahasa Makassar yang lancar.(*)

Shenzhen, Surganya Lelaki Nerakanya Wanita

Wisatawan foto bersama di Window of the World, Shenzhen.

Laporan
Wartawan Tribun Timur,
Dahlan,
dari Hongkong

Surganya Lelaki Nerakanya Wanita

SHENZHEN adalah kota surga untuk lelaki berduit. Peraturan kependudukan mendorong Anda menikah berkali-kali. 

Wanita berlimpah jumlahnya. Tujuh perempuan berbanding satu pria. Setiap kali seorang lelaki menikah, enam wanita kehilangan peluang mendapatkan pasangan.

Banyak wanita yang rela jadi istri kedua. Istri simpanan pun bolehlah.

Kota indah ini dihuni sekitar tujuh juta orang. Dia tumbuh dari daerah nelayan dan petani. Dari kampung empang menjadi kota metropolitan kelas dunia.

Dalam tempo hanya 28 tahun, kota di Cina yang berbatasan langsung dengan Hongkong ini berkembang sangat pesat menjadi kota industri dan pariwisata dunia.

***

Tahun 1978, Deng Xiaoping membuka pintu negara raksasa, Cina, bagi dunia luar. Komunisme cukup menjadi cara mengatur politik, sedangkan kapitalisme menjadi cara mengatur ekonomi.

Modal asing yang tadinya dianggap virus yang akan mematikan komunisme tiba-tiba disembah. 

Para investor asing diberlakukan seperti berhala. Pengusaha mendapatkan keringanan yang jarang ditemukan di planet ini: penghapusan pajak, pemberian tanah gratis, hingga proteksi hukum bila perlu. 

Ada cerita, bila pengusaha menabrak orang Cina, jangan hukum dia sebab dia membuka lapangan kerja, menghidupi ribuan orang, membangun kota, bahkan memberikan kebanggaan tidak saja bagi Shenzhen tapi bagi Cina.

Deng mula-mula membuka Cina dari luar terbatas di lima kota, salah satunya Shenzhen, melalui penerapan kawasan ekonomi khusus.

***

TIGA puluh tahun lalu, orang-orang Cina berlomba-lomba mencari kerja di Hongkong yang makmur di bawah kendali Kerajaan Inggris.

Hongkong tumbuh menjadi kota dagang, industri, jasa, dan pariwisata kelas dunia. Pelabuhan kota yang terdiri dari banyak pulau ini salah satu yang terbaik di dunia. 

Karena itulah Hongkong tidak hanya memberi lapangan kerja tapi juga gaji yang tinggi.
Maka, berbondong-bondonglah warga Cina yang miskin menyambung hidup ke Hongkong. Ada yang berjalan kaki beratus-ratus kilometer ke Shenzhen karena kampung nelayan ini hanya dipisahkan oleh Sungai Senzhen dari Hongkong. Sungai itu gampang diseberangi, jaraknya cuma sekitar 10 meter.

Pemerintah komunis sangat malu dan tersinggung karena warganya yang komunis dan miskin harus mengadu nasib sebagai kuli di negeri kapitalis.

Pelintas batas haram itu dianggap ancaman bagi mitos komunisme. Bahwa ternyata lebih penting sebiji nasi daripada segudang ideologi, seabrek pidato berapi-api. Satu butir nasi lebih baik dari bahkan dari sejuta politisi. 

Karena itu Cina mengerahkan ribuan prajurit untuk menjaga garis perbatasan, menjaga wibawa ideologi komunis. Tidak sedikit warga yang mati melintasi perbatasan itu pada malam hari, sebagian karena ditembak petugas penjaga perbatasan Cina.

Seorang warga Shenzhen, sebut saja A Lu, mengaku, dia dulu kabur ke Hongkong menjadi pekerja illegal. Hongkong yang kekurangan tenaga kerja diam-diam menampung pekerja illegal untuk sektor pekerja rendahan.

Sehari dia mendapatkan upah 5.000 dolar Hongkong (sekitar Rp 6,2 juta) sebulan. Dengan gaji begitu besar, keyakinan A Lu tentang komunisme goncang. Di Shenzhen ketika itu, kalaulah bisa, uang sebanyak itu dia peroleh setelah banting tulang selama setahun.

Kini situasi berubah. Warga tak berpendidikan seperti A Lu tidak bisa lagi leluasa mendapatkan pekerjaan di Hongkong.

Sementara, warga lokal Hongkong yang tidak beruntung seperti A Lu mulai kesulitan mencari kerja. Padahal biaya hidup sangat mahal, salah satu yang termahal di dunia.

Pada saat yang sama, industri tumbuh pesat di Shenzhen, kota yang mamasok sembako hingga air bersih ke Hongkong.

Maka berbondong-bondonglah warga Hongkong mencari kerja di Shenzhen, kota yang secara politik dikelola terpusat ala komunis namun ekonominya pasar bebas ala kapitalisme.

Kapitalisme dan demokrasi barat di Hongkong telah dikalahkan oleh kapitalisme-komunisme di Shenzhen, terutama di bidang pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja.

***

PEKERJA tidak hanya datang dari Hongkong. Warga kota maupun desa di kota-kota lainnya di Cina yang masih miskin, yang selama ini hanya mengerti komunisme dan ekonomi yang dimonopoli negara, ramai-ramai mencari kerja di Shenzhen. 

Di sini, pemerintah bertugas memutar roda ekonomi, dan supaya cepat, harus melewati jalan kapitalisme. Pelaku ekonomi menjadi dua, pemerintah dan swasta. Mereka bahu membahu membangun industri, membuka sektor jasa, pariwisata --dan karena itu, membuka lapangan kerja, sesuatu yang sulit ditemukan di jalan komunis.

Rakyat Cina yang ramai-ramai ke Shenzhen menemukan gairah baru, gairah bekerja di pabrik, sektor jasa, pariwisata. Bekerja di swasta. Gajinya besar dengan sistem dan cara-cara baru, cara kapitalisme, cara yang memutlakan persaingan terbuka, yang tidak ditemukan atau coba dihindari dalam lembaran sejarah dan budaya Cina yang adiluhung. 

Industri banyak membutuhkan wanita. Itulah yang menjelaskan mengapa wanita negeri berpenduduk 1,3 miliar ini banyak yang bekerja di Shenzhen.

Komposisi penduduk berkembang sangat timpang seiring dengan besar kebutuhan pasar akan tenaga kerja wanita. Saat ini, 28 tahun setelah melewati jalan ekonomi kapitalisme, tujuh dari delapan penduduk Shenzhen adalah wanita.

Kondisi itu diperburuk oleh kebiasaan perusahaan Shenzhen yang sering mem-PHK karyawan wanita yang berusia di atas 40 tahun dengan alasan tidak produktif lagi.

Masa menjelang 40 tahun bagi wanita Shenzhen adalah saat-saat yang sulit. Mereka getir membayangkannya sebagaimana hantu datangnya masa menopause.

***

PENGUSAHA Hongkong, yang kebanyakan memiliki bisnis di Shenzhen, tahu betul betapa banyak wanita di daerah tetangganya, Shenzhen. Mereka seringkali menjadikan wanita Shenzhen sebagai istri kedua atau wanita simpanan.

Shenzhen dan Hongkong hanya ditempuh sekitar satu jam jalan darat dengan melewati dua pos imigrasi di perbatasan Cina dan pos perbatasan Hongkong, kota Cina yang memiliki otonomi khusus.
Karena Shenzhen adalah kota wisata, setiap weekend, ribuan warga Hongkong berkunjung ke Shenzhen. Waktu itulah yang dimanfaatkan lelaki Hongkong mengunjungi istri kedua atau wanita simpanan.

"Wanita yang dikawini itu tetap tinggal di Shenzhen, biasanya bersama anak hasil perkawinan mereka. Anak-anak itu sekolah di Hongkong. Setiap hari pulang-pergi Shenzhen-Hongkong," ujar seorang pemandu wisata.

***
PEMERINTAH Cina, negeri raksasa berpenduduk 1,3 miliar (atau lebih tiga kali lipat penduduk bangsa Arab yang terdiri atas 22 negara), membatasi jumlah kelahiran.

Setiap keluarga hanya boleh satu anak. Bila lebih, dendanya minta ampun.

Banyak lelaki yang ingin tambahan anak memilih kawin lagi untuk mendapatkan anak daripada harus didenda bila mendapatkan anak dari istri pertama.

Para wisatawan merasakan betul bagaimana para wanita nakal mengoda terang-terangan di pintu-pintu masuk hotel berbintang.

"Young girl, young girl ...," begitu mereka menggoda setiap turis yang lewat di dekat Felicity Hotel di Heping Road.

Mereka juga menawarkan tukang pijat. "Very cheap,Sir," mereka menggoda. Murah sekali, kata mereka.
Begitulah. Shenzhen tidak hanya kota. Ia laboratorium hidup tentang bagaimana para pemimpin mengelola masyarakatnya. ***

 Haji dan Umroh (112)  
Perang Irak (15)  

Profesor U, Obat Cina, dan Guruh Soekarno

Tulisan ini dimuat di surat kabar Tribun Timur, Makassar

melancong ke cina

Profesor U, Obat Cina, dan Guruh Soekarno

ANDA kenal Guruh Soekarno, kan? Begitu tanya Profesor U Yen. Wanita yang kelihatan sehat di usianya yang sudah cukup tua ini ahli obat-obatan tradisional Cina. Ia sangat fasih berbahasa Indonesia.

Prof U menyebut putra Soekarno untuk mempromosikan Toko Tien Kung Fan kepada wisatawan Indonesia. Toko ini terletak di kota Shenzhen, Cina, dan merupakan tempat tujuan “resmi” bagi wisatawan yang dikelola perusahaan travel.

Namanya toko tapi sebenarnya mirip rumah sakit untuk obat tradisional Cina. Bangunannya satu lantai, lebih mirip rumah tinggal. Para pegawainya lumayan ramah kepada para tamu. Toko ini menyatu dengan penjual kain sutra, salah satu komoditi andalan Cina. Di situ ada pakaian, selendang, maupun sprei.

Ke luar dari Toko Tien, wisatawan diarahkan ke toko sutera. Pemerintah Shenzhen menjadikannya obyek wisata. No picture alias dilarang mengambil gambar.

Wisatawan yang berminat bisa memeriksakan diri sebelum mendapat resep. Cara mengidentifikasi penyakit cukup dengan melihat dan meraba-raba telapak tangan.

Para “dokter” itu meyakini, penyakit dapat dideteksi dari telapak tangan. Dari sana dapat diketahui kondisi hati dan ginjal, dua organ tubuh yang vital bagi kesehatan.

Rombongan turis berbaris. Prof U memperhatikan satu demi satu, lalu yang “mencurigakan” diminta memisahkan diri. Umumnya orang tua atau mereka yang dari wajahnya tergambar sedang sakit.

Prof U lalu memeriksa mereka. Sebagian ditangani “dokter” lain yang siaga. Para “perawat” dengan ramah membimbing pasien ke kamar pemeriksaan. Banyak dari mereka yang mengucapkan “selamat datang, lewat sini…”

Pemeriksaan dan konsultasi berlangsung cukup singkat, sekitar 15 menit. Seorang Indonesia mengagumi kemampuan Prof U.

“Dia tahu tekanan darah saya dengan persis, padahal hanya dengan memeriksa telapak tangan,” komentarnya. Ia membeli obat tradisional atas anjuran (resep) Prof U kira-kira seharga 350 yuan (Rp 472.500). Ada pasangan suami-istri yang menebus obat Rp 2 juta.

Bila Anda tidak berminat membeli obat juga tidak apa-apa. Cukup jalani pemeriksaan dan lakukan konsultasi. Gratis tapi sangat berguna.

Bagi yang ingin membeli, petugas meracik obat secara langsung dari bahan-bahan alami. Obat dari dokter modern diminta agar dihentikan pemakaiannya, sambil melihat reaksi obat Cina.

***

MENURUT Prof U, Toko Tien Kung Fan sudah menangani pasien tokoh-tokoh ternama. Salah satunya Guruh Soekarnoputra, yang sempat kawin dengan wanita asal Uzbekistan, Guseynova Sabina Padmavati, pada 19 Oktober 2002.

Ketika itu usia Guruh 49 sedangkan Sabina masih muda, 23 tahun. Pada pesta perkawinan di Jakarta, para tamu diterima barisan pagar ayu berpakaian tradisional, salah satunya pakaian Bugis.

Prof U tidak mengabarkan bagaimana hasil pengobatan tradisional Cina yang dijalani Guruh.

Pemimpin Cina, Deng Xiaoping, menderita sakit parkison. Sempat berobat di rumah sakit modern di Shenzhen, kemudian beralih ke Toko Tien. “Beliau mengonsumsi obat dari Tibet,” kata Prof U tentang Deng yang sembuh dan sempat menjalani hidup hingga usia 92 tahun.

Deng Xiaoping lahir di sebuah desa di Provinsi Sichuan, daerah yang dilanda gempa bumi dahsyat 7,8 skala Richter pada 12 Mei lalu. Gempa ini meminta korban lebih dari 40 ribu orang.

Meninggal karena infeksi paruparu dan Parkinson pada 1997, Deng merupakan salah satu tokoh utama Cina modern. Ia membuka isolasi Cina tahun 1978 setelah revolusi kebudayaan. Berkat kebijakannya itu, kota pantai seperti Shanghai dan Shenzhen tumbuh sangat cepat dan masuk deretan kota-kota utama di dunia.

Sejumlah toko memberi diskon besar untuk disumbangkan ke korban bencana di Sichuan. Salah satunya Shenzhen Xingyu Mineral Museum yang menjual berbagai barang kerajinan dari batu giok.

Selain Deng, kata Prof U, mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kwan Yew juga pernah berobat di Toko Tien. Pemimpin yang juga membawa Singapura menjadi salah satu kota terpenting di dunia itu menderita kanker limpah.

Prof U melayani tamu-tamu Indonesia dengan ramah. Ia dan obat tradisional Cina menjadi salah satu daya tarik Shenzhen, selain kotanya yang indah dan rapi, tempat shopping-nya yang oke, lapangan kerja yang terbuka lebar, dan atraksi budaya di Spelendid China yang luar biasa.***

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...