Showing posts with label marketing. Show all posts
Showing posts with label marketing. Show all posts

Monday, September 16, 2013

Trik Marketing: Tukang Urut Pasang Nomor Handphone di Baju

Naik sepeda keliling kota. Di bajunya ada pesan marketing: tukang urut, nomor telepon.

Foto di pertigaan Jl Pettarani-Sultan Alauddin Makassar.

Bakso Malang: Mendekati Calon Pembeli


KISAH INSPIRATIF

Sunday, December 18, 2011

Kopi Toraja di Pasar Toddopuli Makassar

Kopi Toraja dijual kiloan dalam kemasan sederhana di pasar tradisional Toddopuli, Makassar. Pasar ini tidak jauh dari Carrefour Panakkukang.

Sekilo dijual seharga Rp 50 ribu (belum ditawar).

Harga itu jelas lebih murah dari Toko Ujung, pusat penjualan oleh-oleh khas Makassar di Jl Somba Opu.

"Banyak pembeli dari Malaysia," kita ibu penjual kopi terkenal dari Makassar ini.

Model Becak Makassar

Becah bertenaga manusia secara berangsur digantikan becak bermesin sepeda motor.

Becak motor inilah yang ikut memadatkan jalan-jalan protokol di Makassar sementara becak tradisional tergusur ke kawasan perumahan.

Seperti juga pada becak tradisional, tukang becak motor (betor) menyicil moda angkutan baru ini kepada juragan. Cicilan dirancang sebegitu rupa sehingga pendapatan tukang becak cukup untuk makan dan membayar angsuran.

Jagung Segar

Jagung segar yang pas untuk direbus dijajakan di pinggir Jl Pettarani, Makassar. Harganya Rp 25 ribu per satu ikat (50 buah).

Jagung rebus siap santap banyak dijajakan di Pattalasang, Kabupaten Gowa (jalan poros ke Malino, dan Takalar (jalan poros ke Sinjai).

Udang dan Ikan Boy-boy

Pagandeng, bahasa Makassar untuk penjual ikan keliling, membawa udang dan ikan boy-boy (ikan selar).

"Musim hujan begini susah ikan," kata si pagandeng sambil menjelaskan ikan boy-boy (sebutan lokal) yang enak digoreng.

Sunday, November 27, 2011

Cara Branding Ala CocaCola

Soto Betawi di Jl KS Tubun, Petamburan, Jakarta, selalu ramai dikunjungi. Karena itulah, CocaCola mamasang merek di warung yang tak seberapa luas ini.

Warna merah CocaCola berikut merek dari Amerika Serikat itu menghiasi warung Soto Betawi tersebut.

Axis: Tak Mau Kalah dari XL

Axis mengecat dinding rumah di Tanah Abang, Jakarta. Tak mau kalah dari XL.

XL: Cat Saja Rumah Orang

Sebuah rumah di kawasan Tanah Abang, Jakarta, dicat dengan warna dan simbol-simbol XL.

Jaguar Flying Spur

Jaguar Flying Spur dipamerkan di Plaza Senayan, Jakarta.

Saturday, November 19, 2011

Bilboard Gempar Toyota

Bilboard Toyota di Jl Pettarani, Makassar. Toyota Hadji Kalla, Minggu, secara resmi meluncurkan Avanza Veloz di Trans Studio Mal Makassar.

Hadji Kalla merupakan main dealer Toyota di Indonesia Timur. Adapun Trans Studio merupakan mal dan theme park hasil patungan Chairul Tanjung dan Jusuf Kalla.

Kalla memiliki sejumlah properti hasil patungan maupun milik sendiri di Makassar seperti Hotel Sahid, Mal Ratu Indah, dan Wisma Kalla.

Saturday, December 25, 2010

Timnas Indonesia is Business

Public is business. Ada kerumunan ada bisnis. Ada peluang mendapatkan uang, langsung (lewat penjualan) atau tidak langsung (melalui building brand).

Hotel Santika Jakarta, juga lembaga bisnis lainnya, memanfaatkan duel Timnas Indonesia vs Malaysia pada semifinal pertama Piala AFF sebagai kiat bisnis.

Di Makassar, Tribun Timur menggelar nonton bareng bekerja sama dengan Suzuki.

Tribunnews.com mengirimkan satu wartawan ke Kuala Lumpur untuk mendapatkan updating berita pertandingan tersebut.

Media is public. So, it is a business.

Dahlan Dahi

dahlandahi.blogspot.com
tribun-timur.com
tribun-medan.com
tribunnews.com

Monday, May 17, 2010

Co-creation Ala Soto Betawi

Pantang saya makan daging apalagi jeroan. Tapi tidak jeroan Soto Betawi.
Jeroan Soto Betawi di Jl KS Tubun, jalan kaki saja dari Hotel Santika Jakarta, bukan sembarang jeroan. Dia jeroan pilihan.

Cara menyeleksinya: harus segar. Tanpa lemak. Inilah yang berbeda dari jeroan Coto Makassar.

Bukan cuma jeroannya yang asyik punya. Cara menyajikannya juga. Pak Betawi yang mengelola sajian ini sudah mengenai konsep co-creation.

Pak Betawi tidak memaksa pembelinya menyantap potongan-potongan jeroan pilihan penjual. Ia menyerahkan pembeli memilih sendiri pada dua level.

Satu, pembeli memilih jeroan mana yang dirasa lezat. Satu jenis saja atau berjenis-jenis. Silakan. Mau campur dengan jeroan ayam, pun silakan.

Kedua, takarannya sesuaikan dengan isi kantong atau takaran perut Anda, pembeli. Ambil banyak boleh, sepotong juga tidak apa-apa. Pokoknya tugas pengelola warung adalah menyiapkan piring, sendok, dan kuah. Tugas pembeli memilih dan menikmati.

Co-creation ala Soto Betawi ini ramai diulas dalam dua buku terakhir pakar pemasaran Indonesia, Hermawan Kartajaya: New Wave Marketing dan Connect.

Sayang, Hermawan mengambil contoh yang jauh sekali: Starbuck di Amrik sono atau Fiat 500 di Italia.

Soto Betawi ini sangat dekat dengan kita. Karya budaya kita.

Pak Betawi bahkan lebih hebat karena menerapkan prinsip co-creation --salah satu nilai dasar bawaan web 2.0-- tanpa bersentuhan dengan internet sama sekali. Warung sederhana yang laris ini bahkan tak punya cash register.

Inovasi Pak Betawi layak masuk buku. Hidup jeroan.


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Air Asia Mendarat

Pesawat penumpang Air Asia barusan mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar. Cuaca di bandara saat ini agak mendung. Satu penerbangan ke Kendari delay. Menurut pengumuman petugas bandara, pesawat delay karena cuaca buruk.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Thursday, May 13, 2010

Promosi Surabaya di Bandara Hasanuddin

Pemkot Surabaya memasang bilboard promosi wisata di terminal kedatangan Bandara Hasanuddin Makassar seperti terlihat pada foto, Kamis.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Monday, May 10, 2010

Makassar: Beda Penjual Ikan dari Penjual Tahu

Di Makassar, penjual ikan dan penjual tahu menggambarkan suku. Penjual ikan dari Makassar. Anda sudah bisa tebak dari mana penjual tahu. Ya, dari Jawa.

Urusan ikan atau tahu, Makassar atau Jawa, melebar ke soal teriakan. Penjual tahu berteriak dengan sopan: tahu, tempe, ayam. Wuiiiihhh, halus sekali. Saking halusnya nyaris tak terdengar.

Sebaliknya dengan penjual ikan. Satu kompleks langsung bangun mana kala penjual ikan lewat. Bunyi motornya saja sudah beda. Cara gasnya, wow, jangan tanya: seperti pembalap yang siap-siap start. Sudah begitu pakai klakson pula. Maka pagi hari menjadi ramai. Ramai sekali.

Ada lagi bedanya. Penjual ikan berteriak "kaaaaaaaaaaa......" sekencang dan senyaring yang dia bisa. "Ka" maksudnya dia menjual ikan. Entah bagaimana ceritanya huruf demi huruf itu dipenggal-penggal.

Dia juga berteriak "sambalu" (artinya saudara). Karena cara teriaknya kencang sekali, seperti angin ribut, tetangga saya yang Jawa mengira "Sambalu" itu ajakan berantem.

Maka tetangga yang Jawa ini tidak pernah beli ikan lewat pagadeng di kompleks. Dia lebih senang ke pelelangan.

Takut, katanya. Ibu-ibu kan gemar sekali menawar. Urusan Rp 500 perak bisa panjang debartnya. Ya, kira-kira seramai debat di Pansus Bank Century.

Tetangga Jawa ini tidak cuma membeli ikan. Ia juga membeli cara menjualnya.

Banyak dari kita sekarang ini membeli seperti cara tetangga Jawa saya membeli. Membeli barangnya juga cara menjualnya. Satu paket.

Rumusan menjadi: harga=barang/jasa + cara menjual.

Kaaaaaaaaaaa..... Sambalu.

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Beras Merah Takalar Tulisan China

Ada yang berubah di Makro Makassar. Pusat perkulakan ini menjual beras merah kemasan 5 kg dan 10 kg.

Coba saya perhatikan, kaget juga melihat tulisan China di kemasan beras merah tersebut.

Ah, beras China pun menyerbu Makassar. Bukan cuma ponsel, perkakas, pakaian. Beras juga. Beras China masuk di lumbung beras Indonesia.

Ternyata saya keliru. Beras merah itu dari Takalar, Sulawesi Selatan. Tulisan China itu untuk apa?

Beras Takalar masuk pasar China? Wah, hidup Takalar! Rewako!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Saturday, May 8, 2010

Bus Bandara Rp 15 Ribu

Bandara Hasanuddin Makassar mengoperasikan bus bandara seperti terlihat di pelataran parkir, Sabtu (08/05/2010).

Bus ini melintasi Jl Perintis Kemerdekaan, Urip Sumohardjo, Bawakaraeng, Sudirman (depan Karebosi), menuju bundaran Makassar Mall.

Menunggu penumpang sekitar 15 menit di bundaran Makassar Mall, bus merek Hyundai ini kembali ke Bandara Hasanuddin dengan rute Jl Bulusaraung, Masjid Raya, Urip Sumohardjo, Perintis Kemerdekaan.

Tarifnya Rp 15 ribu. Anda yang ingin menggunakan jasa bus bandara, silakan menunggu di rute tersebut.

Atau, bila Anda dari bandara, dapatkan bus ini stand by di titik penjemputan penumpang, satu tempat dengan taksi bandara.

Untuk amannya, bertanyalah ke petugas dinas berhubungan berseragam biru atau petugas bandara. Hindari bertanya ke calo atau tukang ojek yang sangat mengganggu kenyamanan penumpang di sekitar titik penjemputan.

Bus ini beroperasi pukul 06.00 sampai pukul 18.00. Anda tentu tidak bisa menggunakan jasa bus bandara ber-AC ini di luar jam tersebut.

Bagaimanapun, tarif bus bandara lebih murah dibanding taksi. Tarif taksi paling kurang Rp 100 ribu dari Bandara Hasanuddin ke Kota Makassar.

Bus ini bermanfaat bagi calon penumpang, murah, nyaman. Tapi tidak banyak yang tahu. Seorang teman mengabari bahwa pernah ia naik bus ini dengan penumpang tiga biji doang termasuk dirinya.

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...